Anak Singkong Belajar Disko

Anak Singkong Belajar Disko
Oleh: Kill the DJ

Parfumu dari Paris
Sepatumu dari Italy
Kau bilang demi gengsi
Semua serba luar negeri
Manalah mungkin, kuikuti caramu
Yang penuh hura-hura

Aku suka singkong, kau suka keju o o o
Aku suka jaipong, kau suka disco o o o
Yang kudambakan seorang gadis yang sederhana
Aku… hanya… Anak Singkong…

(Sidosa a.k.a Masary a.k.a Arie Wibowo)

Dalam sejarah youth clture, sepertinya kita akan kesulitan untuk mencari komparasi atas gegap-gempita revolusi flower generation di tahun 60-an, sebuah gerakan kebudayaan yang mampu mempengaruhi gaya dan ideologi secara masal di hampir seluruh penjuru dunia. Namun diam-diam sebenarnya ada yang mampu menjadi pembanding, mungkin kita tidak akan menganggapnya sebagai revolusi, karena sifat penetrasinya yang halus dan tidak menggebrak secara radikal, pelan-pelan namun pasti, memaksa manusia modern untuk mau tidak mau menghamba kepadanya.

Yaitu ditemukannya komputer, yang kemudian berkembang hingga diciptakannya personal komputer yang lebih murah. Sejak itu teknologi digital dengan segala kemudahan yang dimilikinya terus-menerus menawarkan hal-hal baru kepada peradaban dunia untuk dikonsumsi. Hari ini, terutama untuk masyarakat kosmopolitan, bisa dikatakan hampir seluruh sendi kehidupan bersinggungan dengan gaya hidup digital. Bahkan Anda bisa melakukan setting suara azan dari komputer atau handphone untuk mengingatkan bahwa waktu sholat sudah tiba.

Dalam dunia musik, berkat komputer, kemudian tercipta mesin-mesin elektronik yang memanipulasi suara, sampling, imitasi atas yang imitasi, yang kemudian melahirkan genre disebut electronika. Group musik Kraftwerk (Jerman/awal 70-an) adalah salah satu pioner dalam genre ini. Kemudian klub-klub malam dan dance culture mulai dihiasi suara-suara imitasi elektronika yang disebut disco.

Istilah Rave Party di kemudian hari muncul, bermula dengan cara underground, menggunakan tempat-tempat tidak lazim, mencoba mempertemukan manusia-manusia individual yang sibuk dengan rutinitas hidup dalam kehangatan yang humanis.

Rave di Indonesia

Di Indonesia, nama Jockie Saputra, bisa dijadikan penanda waktu menjamurnya kultur klab malam yang menghiasi kultur anak muda di Indonesia, yang kemudian menawarkan alternatif fashion baru ditengah sisa-sisa romantisme flower generation dan ideologi underground yang mendominasi wacana fashion anak muda Indonesia dekade 80-an hingga 90-an.

Akhir 90-an, di Jakarta beberapa komunitas mulai menggelar acara-acara rave party underground di luar mainstream, taruhlah DJ Anton bersama Future Production sebagai salah satu contoh. Di Bandung, terlahir group elektronik dengan nama Playaz, kemudian menyusul Elektrofux dan Mobil Derek. Di Jogja, setelah melintasi melting pot yang penuh energi, komunitas elektronik musik bergeliat dan berujung digelarnya Parkinsound; Yogyakarta Electronic Music Movement (1999).

Sementara anak-anak yang masih keukeuh dengan ideologi underground mengintip dari kejauhan dan bertanya-tanya, wabah apa yang sedang menyerang fashion kita hari ini?

Gerakan musik elektronik dan dance kultur di Indonesia tahun 90-an menawarkan gaya dan fashion yang berbeda dengan generasi funky house 80-an.

Pada tahun 80-an, belum ada cukup wacana dan ideologi yang menyertai kehadirannya, tapi bukan berarti tidak ada penggemar. Diskotek selalu penuh apalagi di malam minggu dan nama Jockie Saputra tetera di spanduk.

Sementara generasi 90-an, dengan genre musik dan fashion yang lebih beragam, mulai mengusung wacana ideologi dengan spirit rave; celebrate for music, people, peace, love, and respect, yang terkenal itu, yang kemudian oleh group band Slank, entah dengan sengaja atau tidak, digunakan sebagai judul album.

Periode berikutnya adalah lahirnya diskotek-diskotek dalam fashion berbeda dengan model diskotek-diskotek 80-an di berbagai kota besar di Indonesia. Menawarkan acara-acara regular dan program-program spesial. Funky house dan fashion disco 80-an ditinggalkan untuk kemudian eksis di pinggiran bersama techno-dangdut dengan masa dan penggemarnya tersendiri, ini tidak berarti lebih sedikit, cuma jauh dari highlight publisitas –hingga kemudian hari ini mereka menggebrak eksistensinya dengan ‘SMS’ dan ‘Kucing Garong’.

Profesi DJ menjadi primadona, ada yang benar-benar serius, tapi lebih banyak yang karbitan. Event organizer dan sponsors mengalihkan perhatian kepada hal baru yang disebut party ini. Masyarakat kita bingung dan bertanya apa bedanya dengan wedding party? Hakekat dan spirit rave itu sendiri kemudian ditiadakan atas nama pasar dan itu logika industri yang wajar.

Puncak dinamika dan aktivitas terjadi hingga tahun 2004, dimana hampir setiap bulan ada acara rave party out door. Bahkan di peak session 2004, rentang Juni hingga September, dalam satu bulan bisa ada 4 hingga 6 acara rave party out door, dan bisa dikatakan semuanya dipadati pengunjung yang disebut raver; baik yang sejati atau pun sekedar latah. Venue yang dipilih biasanya di luar kota; pegunungan, pantai, dan tempat-tempat pariwisata yang lain. Masyarakat sekitar venue dan pepohonan pun bingung dengan peristiwa-peristiwa asing ini.

Dalam situasi hectic dan latah semacam ini, setelah menggelar Parkinsound 2004 yang tetap saya coba pertahankan dengan idealisme elektronika, saya menyampaikan kekhawatiran kepada teman-teman yang bergerak dalam bisnis rave party ini, bahwa tahun-tahun berikutnya akan sepi dengan acara-acara rave party out door.

Alasannya karena kita tidak bisa menahan diri, terlalu bersemangat, latah,    hingga lupa kita berada di konteks sosial semacam apa. Bayangkan dentuman sound system puluhan ribu watt di hampir setiap pekan hingga matahari terbit, disaat bersamaan masyarakat di sekitar venue sudah mulai pergi menggarap sawah atau ke pasar. Apalagi dengan jenis musik dan attitude yang jauh dari akar kebudayaan mereka.

Demikian halnya dengan masalah perizinan dari pihak yang berwenang, perangkat-perangkat kerjanya belum siap untuk mengakomodasi industri baru yang disebut dengan party ini. Beberapa surat pengaduan dan protes diterima oleh pihak kepolisian setempat tentang gangguan yang disebut rave party ini.

Prediksi itu benar-benar terjadi. Tahun-tahun berikutnya, terutama di pulau Jawa, barisan DJ dan raver terkurung di klub dan diskotek. Sangat susah untuk menggapai sensasi out door seperti rentang 2002 hingga 2004.

Where Do You Come From?

Paris, musim semi 2002, di sebuah café di pinggir sungai Seine depan Theatre de la Ville, saya ngobrol dengan Frie Lesyen, founder dan direktur Kunsten Festival Des Arts Brussels. Perbincangan seputar identitas subyek dan obyek di zaman global. Sangat susah! Tidak cukup hanya bermodal semangat mendobrak nilai-nilai. Sekedar sensasi-sensasi murahan yang sering dijadikan pijakan karya khas anak muda tidak akan menjawab persoalan. Ini tentang hakekat dan alasan, bukan kesempatan.

Ujung dari perbincangan ini adalah sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang membuat saya terdiam dan tidak mampu meneruskan perbincangan;

“Sorry, in this global world people still ask you; where do you come from?”

Hari berikutnya, sepanjang hari saya memikirkan pertanyaan itu. Where doyo come from? Seorang pemuda Prambanan, yang lahir dan tumbuh diantara candi-candi tanpa ritual, sayup-sayup mendengar gamelan, sinden, wayang, atau ketoprak, untuk kemudian menjadi memori bawah sadar sebagai irama dan melodi tanpa pemahaman, karena sejak kecil belajar di madrasah dan pesantren.

Saya tahu, tidak ada yang salah dengan hal itu, dan saya tidak sendirian. Tubuh saya hanyalah representasi dari begitu banyak anak muda di Indonesia segenerasi, yang hidup diantara persilangan peradaban dan kultur. Saya tidak betul-betul global dan kontemporer, sekaligus saya tidak betul-betul tradisional. Tapi tidak kemudian dengan mudah menyebutnya sebagai ‘hybrid’ karena kata itu tidak berarti sama dengan ‘carut-marut’. Pun demikian, saya tidak pernah menyesali identitas ini. Ya, mari kita rayakan ‘carut-marut’ ini.

Dua hari kemudian saya menghadiri undangan konser di sebuah klub, Talvin Singh seorang elektronika India asal London, yang pernah memberikan kontribusi pada album-album artis terkenal mulai Bjork, Massive Attack, hingga Madonna. Groove telah dimainkan, lantai dansa pelan-pelan pecah dalam beat Talvin Singh yang rendah namun sangat groovy, kemudian semua orang berdansa dalam energi yang mempesona.

Kekuatan Talvin Singh adalah hybrid yang kongkret dan kemampuanya dalam memainkan beberapa jenis musik, dari alat musik tradisional India, synthesizer, hingga scratching ala Battle DJ. Dan disitulah persoalan muncul bagi saya, ketika Talvin Singh mulai memainkan scratching kata-kata;

“Where do you… Where do you… Where do… Where do you come from?”

Yeah… seperti itu secara simultan dan berulang-ulang, diantara bebunyian synth pad, ketukan tabla, dan dentuman beat drum n’ bass, membuat saya teringat dengan perbincangan tentang identitas subyek dan obyek tadi. Saya mulai melihat sekeliling, perlahan berhenti bergoyang, melihat orang-orang, identifikasi bagaimana mereka bergoyang, membandingkan yang satu dengan yang lain, juga membandingkannya dengan diri saya sendiri.

Orang kesepian di tengah keramaian dalam keterasingan yang agung.

Tubuh yang Tidak Jujur

Saat ini saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk datang ke klub dangdut di setiap kota di Indonesia yang saya kunjungi, atau sesekali berkunjung ke tempat-tempat seperti Purawisata di Jogjakarta yang memang kandang dangduters sejati di kota ini.

Di tempat-tempat seperti ini, kita bisa menemukan peluh keringat orang-orang yang berjoget mengucur bersama gerakan tubuh yang jujur, menumpahkan segala sumpah serapah dan beban hidup dalam irama dan lagu yang tidak asing di telinga, yang didendangkan oleh penyanyi lokal pujaan. Lengkap dengan bau minuman alkohol murahan dan kemeriahan khas Indonesia.

Fashion bukan yang utama, meskipun bukan berarti tidak peduli, namun kesempatan untuk berjoget lebih penting dari apa pun. Pendeknya, antara alunan musik, atmosfir, dan gerakan tubuh, semuanya selaras dan mempresentasikan kejujuran. Bisa dikatakan sudah menjadi bagian hidup dan mendarah daging. Spiritnya mirip dengan peristiwa pesta tradisonal semacam tari-tari ndolalak, angguk, atau ledekan. Itu pesta! Mau dikategorikan apa lagi?

Hal sebaliknya terjadi di beberapa diskotek dan klub-klub di kota-kota besar di Indonesia hari ini. Hanya sebagian kecil dari pengunjung yang benar-benar mempunyai spirit beat dan groove electronika yang mendarah daging dan mampu membakar dan menggerakan tubuhnya dalam intuisi purba.

Selebihnya adalah tubuh yang menyimpan memori irama dan joget agrikultur khas Indonesia dalam balutan fashion kosmopolit; tubuh-tubuh yang pura-pura berpesta; tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa yang sebenarnya baik-baik saja; tidak punya persoalan dengan rutinitas khas manusia modern yang memaksanya menjadi manusia multi tasking dan individual, untuk kemudian diistirahatkan dalam kehangatan rave yang hakiki.

Oke, barangkali kita adalah termasuk manusia kosmopolitan yang hidup di kota besar dengan kesibukan dan rutinitas ekstra, yang membutuhkan kompensasi-kompensasi liar untuk menghilangkan stress, tapi apakah sebenarnya tubuh dan mindset kita sudah tune in dengan groove dan party model dance culture semacam ini?

Bagaimana kita akan merasa terbebas dan berpesta jika semuanya masih terkendali, selalu berpikir dan melakukan koreksi, apakah gerakannya sudah cukup cool dan sexy; atau berjaga-jaga agar jangan sampai keringat terlalu kuyup membasahi tubuh dan melunturkan make-up; atau selalu resah karena salah kostum?

Begitulah kebutuhan diciptakan dan kebudayaan masa terbentuk. Situasi dimana trend dan fashion mengkooptasi otonomi individu atas identitas dan karakter. Selalu seperti itu.

Dalam kasus disko dan party ini, bagi saya tidak ada yang salah atau benar. Juga tidak ada anjuran seharusnya bagaimana. Barangkali ini bukan persoalan yang begitu penting untuk diperbincangkan. Kita adalah anak-anak dari zaman yang berlari kencang; karya agung dari waktu yang terus melaju.

Kita adalah generasi anak singkong, dan kita boleh saja belajar disko dan berpesta! Tapi bagi kita, anak-anak singkong ini, there’s no DJ saved our life!

republished from Kompas 2007, July, 27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers

%d bloggers like this: