Archive

Archive

Akhirnya video Intel Visibly Smart yang bercerita tentang Jogja Hip Hop Foundation (JHF) secara singkat ini diluncurkan juga. Kami sangat berbangga atas kerjasama mutualis dengan Intel Inside ini, dimana telah menempatkan kami tetap sebagai diri kami sendiri dengan segala kemandirian dan idealisme yang kami percaya dan telah kami bangun selama ini. Sebuah apresiasi atas dedikasi yang membanggakan.

Semoga video ini bisa bermanfaat bagi yang melihatnya.

Terima kasih.

Kill the DJ

 

Jula-Juli Lolipop ditulis oleh Sindhunata SJ, aransemen oleh Rotra, Klip sederhana ini dibuat di New York, Mei 2011. Terima kasih untuk bantuan teman-teman di New York; Ugoran Prasad, Mohamad Riza, Boy Avianto, juga untuk  X-CODE film atas editingnya.

Satu lagi video klip sederhana tentang anti-korupsi dari saya. Lagu ini dibuat Maret 2010, shooting klip awal Agustus 2010, rencananya pas di hari anti-korupsi kita launching klip ini, tapi ternyata saya terlalu sibuk sama bencana Merapi, kemudian Hiphopdiningrat, Jogja Istimewa, dan segala persiapan tour. Sepulang dari Australia dan di tengah persiapan tour ke New York, saya menyempatkan diri membayar hutang menyelesaikan klip ini. Terima kasih kepada Chandra Hutagaol, Isfansyah, X-Code Film, Teman-teman Cicak, ICW, dan KPK. Semoga klip sederhana ini bermanfaat. Selamat menikmati.

Sejak pertama kali mempublikasikan lagu Jogja Istimewa bersama Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanm, Rotra) dari Jogja Hip Hop Foundation, saya bercita-cita mempunyai video klip dokumenter dari peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah berkaitan dari lagu tersebut. Meskipun tanpa sutradara dan konsep ndakik-ndakik, video klip ini akan selalu mengingatkan kita tentang peristiwa tersebut sepanjang masa. Banyak sekali tawaran untuk membuat video klip lagu Jogja Istimewa ini, tapi saya tidak bisa membayangkan bentuk lain. Terima kasih untuk sumbangan footage teman-teman; X-Code Film, Budi Tobon, Arif, dan Chandra Hutagaol.

Selamat Menikmati

Kill the DJ

Koran Merapi – Jumat Kliwon – 11 February 2011

Sekali-kali masuk Koran Merapi yang berisi berita-berita kriminal dan sejenisnya. Isinya diambil dari kronologi yang saya sampaikan di timeline twitter dengan hastag #bacok. Sang wartawan menelpon dan saya minta copy – paste dari timeline tersebut. Hehe

Kronologi:

1. Baiklah saya coba cerita kejadian tadi dgn hastag #bacok

2. Pada waktu konser dgn glen dkk 4 feb, di backstage aku diceritain soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di daerah jogja selatan #bacok

3. Kata soimah pelakunya anak2 muda naik motor boncengan. Motifnya pemerasan. Aku waktu itu mendengarnya sambil lalu#bacok

4. Tdk mengira hari ini terjadi padaku jam19:30, tepat di jalan depan rumah, pas membuka pintu mobil, waktu akan berangkat interview. #bacok

5. Ketika sedang membuka pintu mobil, 2 orang boncengan motor menghampiriku, pura2 nanya arah alun2 utara, saya menunjukkan arahnya. #bacok

6. Tiba2 saya mendengar suara sajam dicabut dr arah belakang, pedang di sabetkan, seketika saya melompat ke depan. #bacok

7. Aku mengambil batu utk melawan, aku lempar gak kena, mereka lari memacu motor, aku ambil batu lagi dan melempar lagi. #bacok

8. Aku tidak sempat mengamati muka & plat nomor motornya. Setelah itu saya merasa punggung sakit. Ternyata sedikit kesabet.#bacok

9. Aku sempat menunggu 10mnt di lokasi. Pelaku tdk kembali. Kemudian kembali masuk rumah utk mengobati luka & ganti kaos yg robek. #bacok

10. Bersyukur lukanya sangat ringan. Kemudian aku pergi lagi utk janjian interview tadi. Tentunya aku datang terlambat. #bacok

11. Aku gak tahu motifnya apa, apakah ada hubungannya dgn cerita soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di jogja selatan tadi? #bacok

12. Saat ini aku hanya percaya itu kriminal #biyasa. Demikian kronologi #bacok. Sekian.

13. Kejahatan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, kpd siapa saja, setiap kota menyimpan kemungkinannya. tak terkecuali jogja.

14. Aku berbagi cerita #bacok yg aku alami agar kita waspada … Semoga ketentraman selalu terjaga di Jogja.

15. Oh, ya, TKP di Jl Langenarjan Kidul. Sebelah timur Plengkung Gading. #bacok

Waspadalah.. Waspadalah..

Sekian. Terima Kasih.

Hip Hop van Yogyakarta
Felix Dass | Sun, 01/02/2011 10:29 AM | Music

Marzuki Mohammad a.k.a. Kill the DJ probably started the Yogya Hip-Hop Foundation simply to get recognition in Yogyakarta’s artsy environment. But, years later, he has found himself on the front lines, part of the arsenal in his own cultural revolution.

Hiphop Diningrat, a documentary he made with co-director Chandra Hutagaol, shows one side of Yogyakarta’s current cultural revolution: rap music – a genre not often associated with Indonesia – combined with Javanese lyrics.

The hip-hop scene in Yogyakarta is a perfect model for how a community can grow and have a proper breadth of activities. They do everything with their own hands, just like the punks of days gone by. They book their own gigs, make their own recordings and do their own distribution and advertising just so their music will be heard by a wider audience.

“It’s all about honesty. That’s the best thing to be said, right?” Kill the DJ said.

They are proud of being Javanese and living in Yogyakarta, a city which is undoubtedly known for its cultural heritage. But, they also love rap music, something that at some point was imported from the western world. They mix these interests by rapping – but in the Javanese language.

“It’s not traditional, but it is an effort to understand our own culture,” he said.

The documentary shows how members of hip-hop groups survive, pursuing their passion for hip-hop music at all costs. Members of Jahanam, a Yogyakarta-based hip-hop group, tell of hunting for hip-hop outfits in awul-awul, Yogyakarta’s term for a flea market, while members of Rotra discuss their drive to create hip-hop in Javanese.

Rotra’s main reference was G-Tribe, a rap collective from the 1990s that shook the industry with a Javanese language rap album. “G-Tribe was one of my inspirations,” Kill the DJ said.

Hiphop Diningrat also features commentary from Indonesia’s first major label rapper from the early 90s Iwa K, professor of culture Sindhunata, Yogyakarta’s greatest world music artist Djaduk Ferianto, monologue maestro Butet Kertaredjasa and Batak-born poet and Yogyakarta resident Landung Simatupang.

They all speak respectfully about the amalgamation of west and east created by the Yogya Hip-Hop Foundation.

Upon the movie’s conclusion, one realizes a marvelous picture of this group of people was just unveiled. Hiphop Diningrat is scheduled for public screening sometime in 2011. The film will also be shown on a United States tour, when the friends will visit San Francisco and New York in January.

However, Kill the DJ was entirely correct when he said, “These are all simple processes. The movie is an effort to shoot a document of what we have done. We let the movie speak, not ourselves.”

Kill the DJ can also be followed on Twitter at http://www.twitter.com/KILDDJ.

*) At a Glimpse is all about the local music scene. Give us a shout at sundayglimpse@gmail.com. Or friend us athttp://www.facebook.com/sundayglimpse and follow us on Twitter at twitter.com/sundayglimpse.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers