Archive

Press

Koran Merapi – Jumat Kliwon – 11 February 2011

Sekali-kali masuk Koran Merapi yang berisi berita-berita kriminal dan sejenisnya. Isinya diambil dari kronologi yang saya sampaikan di timeline twitter dengan hastag #bacok. Sang wartawan menelpon dan saya minta copy – paste dari timeline tersebut. Hehe

Kronologi:

1. Baiklah saya coba cerita kejadian tadi dgn hastag #bacok

2. Pada waktu konser dgn glen dkk 4 feb, di backstage aku diceritain soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di daerah jogja selatan #bacok

3. Kata soimah pelakunya anak2 muda naik motor boncengan. Motifnya pemerasan. Aku waktu itu mendengarnya sambil lalu#bacok

4. Tdk mengira hari ini terjadi padaku jam19:30, tepat di jalan depan rumah, pas membuka pintu mobil, waktu akan berangkat interview. #bacok

5. Ketika sedang membuka pintu mobil, 2 orang boncengan motor menghampiriku, pura2 nanya arah alun2 utara, saya menunjukkan arahnya. #bacok

6. Tiba2 saya mendengar suara sajam dicabut dr arah belakang, pedang di sabetkan, seketika saya melompat ke depan. #bacok

7. Aku mengambil batu utk melawan, aku lempar gak kena, mereka lari memacu motor, aku ambil batu lagi dan melempar lagi. #bacok

8. Aku tidak sempat mengamati muka & plat nomor motornya. Setelah itu saya merasa punggung sakit. Ternyata sedikit kesabet.#bacok

9. Aku sempat menunggu 10mnt di lokasi. Pelaku tdk kembali. Kemudian kembali masuk rumah utk mengobati luka & ganti kaos yg robek. #bacok

10. Bersyukur lukanya sangat ringan. Kemudian aku pergi lagi utk janjian interview tadi. Tentunya aku datang terlambat. #bacok

11. Aku gak tahu motifnya apa, apakah ada hubungannya dgn cerita soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di jogja selatan tadi? #bacok

12. Saat ini aku hanya percaya itu kriminal #biyasa. Demikian kronologi #bacok. Sekian.

13. Kejahatan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, kpd siapa saja, setiap kota menyimpan kemungkinannya. tak terkecuali jogja.

14. Aku berbagi cerita #bacok yg aku alami agar kita waspada … Semoga ketentraman selalu terjaga di Jogja.

15. Oh, ya, TKP di Jl Langenarjan Kidul. Sebelah timur Plengkung Gading. #bacok

Waspadalah.. Waspadalah..

Sekian. Terima Kasih.

Hip Hop van Yogyakarta
Felix Dass | Sun, 01/02/2011 10:29 AM | Music

Marzuki Mohammad a.k.a. Kill the DJ probably started the Yogya Hip-Hop Foundation simply to get recognition in Yogyakarta’s artsy environment. But, years later, he has found himself on the front lines, part of the arsenal in his own cultural revolution.

Hiphop Diningrat, a documentary he made with co-director Chandra Hutagaol, shows one side of Yogyakarta’s current cultural revolution: rap music – a genre not often associated with Indonesia – combined with Javanese lyrics.

The hip-hop scene in Yogyakarta is a perfect model for how a community can grow and have a proper breadth of activities. They do everything with their own hands, just like the punks of days gone by. They book their own gigs, make their own recordings and do their own distribution and advertising just so their music will be heard by a wider audience.

“It’s all about honesty. That’s the best thing to be said, right?” Kill the DJ said.

They are proud of being Javanese and living in Yogyakarta, a city which is undoubtedly known for its cultural heritage. But, they also love rap music, something that at some point was imported from the western world. They mix these interests by rapping – but in the Javanese language.

“It’s not traditional, but it is an effort to understand our own culture,” he said.

The documentary shows how members of hip-hop groups survive, pursuing their passion for hip-hop music at all costs. Members of Jahanam, a Yogyakarta-based hip-hop group, tell of hunting for hip-hop outfits in awul-awul, Yogyakarta’s term for a flea market, while members of Rotra discuss their drive to create hip-hop in Javanese.

Rotra’s main reference was G-Tribe, a rap collective from the 1990s that shook the industry with a Javanese language rap album. “G-Tribe was one of my inspirations,” Kill the DJ said.

Hiphop Diningrat also features commentary from Indonesia’s first major label rapper from the early 90s Iwa K, professor of culture Sindhunata, Yogyakarta’s greatest world music artist Djaduk Ferianto, monologue maestro Butet Kertaredjasa and Batak-born poet and Yogyakarta resident Landung Simatupang.

They all speak respectfully about the amalgamation of west and east created by the Yogya Hip-Hop Foundation.

Upon the movie’s conclusion, one realizes a marvelous picture of this group of people was just unveiled. Hiphop Diningrat is scheduled for public screening sometime in 2011. The film will also be shown on a United States tour, when the friends will visit San Francisco and New York in January.

However, Kill the DJ was entirely correct when he said, “These are all simple processes. The movie is an effort to shoot a document of what we have done. We let the movie speak, not ourselves.”

Kill the DJ can also be followed on Twitter at http://www.twitter.com/KILDDJ.

*) At a Glimpse is all about the local music scene. Give us a shout at sundayglimpse@gmail.com. Or friend us athttp://www.facebook.com/sundayglimpse and follow us on Twitter at twitter.com/sundayglimpse.

Hip Hop Jawa Juga Istimewa

Lahir dari jalanan, musik hip hop berbahasa Jawa terus berkembang. Saat ini, jenis musik itu menjadi bagian keistimewaan Yogyakarta. Lagu mereka, ”Jogja Istimewa” berkumandang di hadapan puluhan ribu rakyat Yogyakarta untuk meneguhkan dukungan terhadap keistimewaan Yogyakarta.

Holobis kuntul baris, Jogja tetap istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja istimewa untuk Indonesia,” demikian syair pembuka ”Jogja Istimewa” mengumandang dari panggung di depan Gedung DPRD DIY, Senin lalu.

Lagu rap itu dinyanyikan kelompok musik hip hop Jawa Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) untuk mendorong DPRD DIY mendukung penetapan Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Senin siang itu, ”Jogja Istimewa” mengalun di radio-radio di Yogyakarta. Lagu itu dinilai pas mewakili perasaan warga Yogyakarta di tengah polemik pemilihan-penetapan kepala daerah DIY.

Meski dinyanyikan selengekan, lagu itu mengandung filosofi kuat. Sepenggal liriknya, ”Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan,”. Lirik itu ajaran kerendahhatian.

Ki Jarot adalah kelompok musik gabungan penyanyi hip hop Jawa Marzuki Mohammad alias Kill The DJ alias Chebolang, Jahanam, dan Rotra. Mereka konsisten menyanyikan lagu rap dengan lirik berbahasa Jawa. Mereka mempertemukan musik afro-amerika dengan tradisi Jawa. Lagu Jahanam berjudul ”Tumini” sempat diputar berulang di televisi nasional.

”Hiphopdiningrat”

Perjalanan komunitas direkam pada film dokumenter ”Hiphopdiningrat”. Film berbahasa Jawa itu diputar pertama pada Festival Film Dokumenter (FFD) 2010, pekan lalu.

Film karya Marzuki dan Chandra Hutagaol tersebut merupakan kumpulan dokumentasi kegiatan komunitas Jogja Hip Hop Foundation 2003-2009. Isinya, perjalanan komunitas anak muda Yogyakarta yang bertahan dengan identitas ndesonya di tengah kuatnya pengaruh budaya Barat.

Hip hop bahasa Jawa muncul tahun 90-an dengan salah satu pentolannya, G-Stripe. Tahun 2003, Marzuki membentuk komunitas Jogja Hip Hop Foundation mewadahi kelompok musik hip hop Jawa itu. Ia menggandeng sinden terkenal Soimah, mempertebal sentuhan tradisi Jawa pada lagu-lagu mereka.

Saat menyanyi, gaya mereka khas penyanyi rap. Kacamata hitam, sepatu kets, dan topi terbalik. Namun, mereka selalu berbaju batik sebagai identitas. Musik hip hop itu pun sarat petuah dan filosofi Jawa. Bukan sumpah serapah.

Komunitas mereka khas. Sebagian besar anggota komunitas datang dari perkampungan dan teman nongkrong di jalanan. Lahirnya hip hop Jawa pun alami dan sederhana. ”Tak ada tendensi apa-apa saat menyanyi hip hop Jawa ini. Hanya ingin ngerap, tapi dengan bahasa yang kami kenal sehari-hari, bahasa Jawa,” kata Marzuki.

Poetry Battle

Eksistensi hip hop Jawa ditandai hajatan Poetry Battle (2006 dan 2009) yang diadakan Jogja Hip Hop Foundation. Peserta ditantang menyanyikan puisi-puisi Indonesia dalam musik rap. Kegiatan itu menggerakkan generasi muda menggeluti puisi-puisi yang lama terasing dari publiknya sendiri.

”Ini luar biasa, anak-anak muda ini berpuisi, menggali sastra yang lama terasing dari masyarakatnya sendiri, tanpa mereka sendiri menyadarinya,” kata Landung Simatupang, budayawan yang juga narasumber film ”Hiphopdiningrat”.

Lalu, lahirlah lagu ”Ngelmu Pring” yang liriknya diambil dari puisi Sindhunata. Bait-bait Serat Chentini pun lahir kembali.

Kini, pengaruh komunitas hip hop Jawa itu berkembang. Anggotanya dari anak SD sampai anak kuliahan. Tak sedikit dari kalangan tak mampu.

Muhammad Setiawan (15), anggota kelompok musik hip hop di Kampung Sayidan, mengatakan, di kampungnya ada dua kelompok beranggota belasan orang. ”Kami pada mulanya teman nongkrong, akhirnya jadi kelompok rap karena suka,” kata anak pedagang gorengan itu.

Di kancah internasional, hip hop Jawa kian dikenal. Pada 2009, Ki Jarot tampil di Singapura. Januari 2011, ia diundang tampil di Amerika Serikat.

Menurut budayawan Sindhunata, fenomena hip hop bahasa Jawa ini wujud kerinduan generasi muda kembali ke akar budayanya.

”Selama ini ada kekosongan di sini. Hip hop Jawa merupakan cara anak-anak muda menjawab kekosongan ini,” katanya.

Penulis dan peneliti budaya Elizabeth Inandiak mengatakan, komunitas itu salah satu keistimewaan Yogyakarta. Dari komunitas anak-anak muda, hip hop Jawa menyatukan Yogyakarta dalam Jogja Istimewa.(IRENE SARWINDANINGRUM)

Foto dari Suara Merdeka ketika Kill the DJ ngerap Jogja Istimewa, artikel dari Kompas.com

Rakyat Sudah Menabuh Tambur…

Tambur wis ditabuh, suling wis muni. Holopis kuntul baris, ayo dadi siji. Bareng para prajurit lan senopati. Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti. Menyerang tanpa pasukan. Menang tanpa merendahkan. Kesaktian tanpa ajian. Kekayaan tanpa kemewahan. Tenang bagai ombak. Gemuruh laksana Merapi.” (Jogja Istimewa)

Syair lagu itu dinyanyikan Marzuki Mohammad alias Kill the DJ di panggung menghadap ribuan warga DI Yogyakarta di halaman Gedung DPRD DIY, Senin (13/12/2010). Semua kemudian ikut bergoyang dan bernyanyi dengan beragam gaya meskipun musik hip-hop yang dibawakan. Tampilnya kelompok mahasiswa Papua menambah semarak bunyi-bunyian.

Setelah itu yel-yel meminta penetapan bergema diteriakkan ribuan warga saat satu per satu orator tampil. Warga tidak hanya memadati halaman Gedung DPRD DIY, tetapi juga meluber memadati Jalan Malioboro, Yogyakarta, hingga Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Jalan yang menjadi ikon pariwisata Yogyakarta itu ditutup untuk arus kendaraan bermotor. Toko-toko dan kaki lima tutup. Pasar Beringharjo sepi karena para pedagang ikut berunjuk rasa dengan sukarela. Warga lain datang berduyun-duyun dari berbagai pelosok, seperti Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta.

Berbagai elemen masyarakat, seperti siswa SMA, tukang becak, petani, perias salon, dukuh, buruh, kepala desa, perangkat desa, veteran perang, seniman, dan mahasiswa, datang dengan satu sikap dan tekad mendukung penetapan. ”Antusiasme warga ini dari kesadaran mereka sendiri untuk mempertahankan keistimewaan DIY,” ungkap Sunyoto, Ketua Gerakan Semesta Rakyat Jogja (Gentaraja). Puluhan ribu warga datang untuk menyaksikan Rapat Paripurna DPRD DIY dengan agenda penentuan sikap politik DPRD DIY tentang pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur dalam RUU Keistimewaan DIY.

Ikhlas memberi

Warga tak segan mengeluarkan uang, bahkan mau kehilangan pendapatannya, demi penetapan. Tidak ada yang mengomando, toko, warung, salon, bahkan Pasar Beringharjo—pasar terbesar di Yogyakarta—tutup selama aksi massa. ”Duit setiap hari bisa dicari, tetapi ini tidak terjadi setiap hari,” ungkap Yasri, pemilik Salon Yasri.

Massa mulai berdatangan ke Gedung DPRD DIY sejak pukul 11.00, diawali ratusan siswa kelas I-III SMA Kolese De Britto, Yogyakarta. Mereka berjalan kaki sekitar 4 kilometer ke Gedung DPRD DIY. ”Kami menolak pemilihan. Pemilihan itu hanya menghabiskan anggaran saja dan rawan konflik sosial,” ungkap Eduardus, siswa kelas III SMA Kolese De Britto.

Marwan (46), tukang becak, warga Sedayu, Bantul, juga ikhlas tidak menarik becaknya demi Sultan dan Paku Alam. Hari itu ia tidak membawa pulang uang Rp 20.000-Rp 50.000 karena ikut warga lain menyerukan penetapan. ”Yogya itu istimewa bila gubernurnya Sultan dan wakilnya Paku Alam.”

Dukungan keistimewaan juga datang dari mahasiswa Papua dan Nusa Tenggara Timur yang belajar di berbagai perguruan tinggi di DIY. Mereka memakai pakaian tradisional lengkap. ”Pemerintah pusat jangan sentralistik, ini era demokrasi, dengarkan aspirasi rakyat Yogyakarta,” ungkap Holand Abago, mahasiswa asal Papua.

Mantan Ketua DPD Partai Demokrat DIY, yang juga adik Sultan Hamengku Buwono X, tampil berorasi. GBPH Prabukusumo minta jangan ada perbuatan anarki. Aksi dijaga 1.800 polisi gabungan Polda DIY. Atas nama Keraton, Prabukusumo berterima kasih kepada warga DIY karena dukungan pada penetapan. Prabu dielu-elukan karena memilih mundur dari Partai Demokrat DIY.

Kerabat Puro Paku Alaman, Kanjeng Pangeran Haryo Indro Kusumo, mengungkapkan, Paku Alaman dan Keraton Yogyakarta tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, dwitunggal Yogya, Sultan dan Paku Alam, harus tetap utuh memimpin DIY.

Aksi massa itu pun memunculkan simpati warga yang menyumbangkan air minuman kemasan dan roti. Sebuah perusahaan tas lokal mengirimkan 50 dus air mineral kemasan dan 2 keranjang besar berisi roti yang dikemas dalam plastik untuk dibagikan kepada warga.

Pemilik toko di Jalan Malioboro pun ikut membagikan air mineral bagi pengunjuk rasa. ”Ini bagian dari dukungan kami,” ujar anak pemilik toko di Jalan Malioboro.

Untuk menyukseskan gawe, pawang hujan dilibatkan. Ketua Paguyuban Dukuh DIY Sukiman mengaku meminta bantuan pawang hujan. Ini agar dukungan warga tidak bubar diguyur hujan. Meski sejak pagi langit Kota Yogyakarta mendung, setetes air hujan pun tak jatuh. Padahal, sejak beberapa hari terakhir hujan deras selalu mengguyur Yogyakarta. Rapat Paripurna DPRD DIY secara bulat mendukung penetapan. Hanya Fraksi Partai Demokrat yang meninggalkan ruang rapat sebelum keputusan bulat diambil.

Vox populi, Vox dei. Suara itu sangat nyaring, keras namun tetap tidak kehilangan kemerduannya. Suara itu begitu syahdu, namun tetap tidak kehilangan kegagahannya. Rakyat Yogyakarta dengan tegas menyatakan, untuk gubernur wakil gubernur tidak ada opsi lainnya, kecuali penetapan,” kata Totok Hedi, juru bicara Fraksi PDI-P.

Rapat Paripurna DPRD DIY yang dihadiri puluhan ribu orang itu berakhir damai meski sangat marah kepada pemerintah pusat. Kepala Kepolisian Kota Besar Yogyakarta AKBP Atang Heradi masih tersenyum hingga unjuk rasa selesai. ”Tidak ada sejarah aksi di Yogyakarta anarkis,” ujarnya.

(Erwin Edhi Prasetya/Wisnu Nugroho)

Hip Hop untuk Kebangsaan

Tak sekadar berpawai dan berorasi, unjuk rasa dukungan terhadap penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DI Yogyakarta kali ini kental dengan simbol perlawanan rakyat. Demi menarik perhatian pemerintah pusat, bendera Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat pun dikibarkan. Secara spontan, lagu hip hop bertajuk ”Jogja Istimewa” didaulat sebagai lagu kebangsaan.

Sesaat setelah bendera berlambang Keraton Yogyakarta dikibarkan di samping Sang Saka Merah Putih, lagu hip hop ”Jogja Istimewa” segera membawa keceriaan dan kesegaran. Panasnya terik matahari di halaman DPRD DIY pada Senin (13/12) tiba-tiba tak lagi terasa ketika para pengunjuk rasa mulai ikut berjingkrak-jingkrak.

”Jogja Jogja Jogja istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja Jogja Jogja istimewa, Jogja istimewa untuk Indonesia…” Bersama dengan produser Jogja Istimewa Marzuki Mohammad, mantan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat DIY GBPH Prabukusumo turut bergoyang di atas panggung di hadapan puluhan ribu rakyat Yogyakarta pendukung penetapan gubernur dan wakil gubernur.

Diiringi irama hip hop, para pendukung keistimewaan mengangkat spanduk dan menyerukan dukungan terhadap keistimewaan DIY. Sebagian pengunjuk rasa juga melengkapi diri dengan aneka atribut seperti kalung janur atau daun kelapa muda warna kuning. Janur dimaknakan sebagai sejatine nur menjadi simbol harapan datangnya secercah cahaya bagi keistimewaan DIY.

Bendera berlambang Keraton Yogyakarta sengaja dikibarkan karena keistimewaan DIY tak bisa dipisahkan dari eksistensi Keraton. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman pun turut terlibat dalam pawai unjuk rasa dari Alun-alun Utara menuju Gedung DPRD DIY.

Dengan duduk lesehan di halaman DPRD DIY, mereka mencermati jalannya rapat paripurna tentang penentuan sikap politik fraksi-fraksi di DPRD DIY. Seorang peserta unjuk rasa sempat menjalani laku ndodok atau berjalan jongkok sepanjang perjalanan menuju DPRD DIY.

Menurut Marzuki, lagu ”Jogja Istimewa” sudah dirilis sejak satu bulan terakhir. Marzuki mengaku berinisiatif datang sendiri ke gedung DPRD DIY untuk menyumbang lagu. ”Sebagai warga Yogyakarta, saya bisanya cuma nge-rap. Saya sumbangkan lagu ini untuk perjuangan keistimewaaan DIY,” kata Marzuki.

Marzuki menyatakan, ”Sebenarnya 70 persen liriknya saya ambil dari kata-kata Sri Sultan HB X, Soekarno, Hatta, Sastrokartono, Ki Hajar Dewantara. Tiga puluh pesen lagi saya tulis sendiri. Alasannya, memang kata-kata mereka mengingatkan kita akan sejarah bergabungnya Ngayogyakarta Hadiningrat dengan RI. Lagu ini bagian dari album kompilasi yang saya produseri juga, melibatkan 10 band/artis/hip hop crew. Saya sudah menulisnya 4 bulan lalu, kemudian saya ajak teman-teman dari Jogja Hip Hop Foundation untuk nge-rap bareng, sebuah sikap bersama sebagai warga Jogja. Kami hanyalah bagian kecil dari peristiwa besar ini, tapi demikianlah, gerakan besar ada karena kebersamaan”

Marzuki sendiri tidak menyangka jika lagu hip hop itu didaulat sebagai lagu ”kebangsaan”. Baginya, keistimewaan DIY tetap harus dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia. Lagu ”Jogja Istimewa” ini sudah mulai akrab di telinga masyarakat Yogyakarta karena sering diputar di radio.

Usai menyanyikan lagu ”kebangsaan”, seniman ketoprak Marwoto Kawer turut berorasi. Marwoto menilai sikap pemerintah pusat terkait keistimewaan DIY bisa diibaratkan seperti dagelan ora pupuran atau pelawak tanpa bedak. ”Pernyataan-pernyataan Presiden lucu! Tidak pernah tegas terkait penetapan,” ujar Marwoto.

Selain harapan dukungan keistimewaan, masyarakat di sepanjang Jalan Malioboro menjadikan pawai unjuk rasa ini sebagai tontonan. Peserta pawai antara lain menyuguhkan tari-tarian tradisional. Masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tinggal di Yogyakarta menyuguhkan tarian likurai serta musik sasando.

Penari angguk dari Kulon Progo juga meramaikan pawai keistimewaan. Pertunjukan reog di Jalan Malioboro semakin menambah meriahnya suasana. Seluruh kemeriahan di tengah terik matahari ini demi satu tujuan, ditegakkannya keistimewaan DIY, bahwa Sultan harus ditetapkan sebagai gubernur dan Paku Alam wakilnya. (WKM/INU)

06 Desember 2010 | Majalah Tempo

Perlawanan Hip Hop Centhini

Ono cicak nguntal boyo
Boyo coklat nyekel godo

Ojo seneng nguntal negoro

Mundak rakyatmu dadi sengsoro

DATANGLAH ke kampung-kampung di Yogya. Di sepanjang bantaran Kali Code atau Nitiprayan, tanyakan kepada anak-anak tentang lagu hip- hop yang menyumpah-serapahi Anggodo ini. Pasti mereka hafal.

“Bahasa Jawa punya potensi hip- hop. Suluk Jawa, yang penuh aliterasi, persamaan bunyi di akhir kalimat, cocok untuk rap.” Pendapat Elizabeth Nandiak, seorang perempuan Prancis peneliti Serat Centhini yang dahulu peneliti hip- hop dalam film dokumenter Hiphopdiningrat, dapat sedikit-banyak menjelaskan fenomena ini.

Inilah salah satu film paling bagus yang disajikan Jiffest 2010. Film ini bercerita tentang pengalaman Marzuki, pendiri Jogja Hip Hop Foundation, bersama teman-temannya memelopori rap berbahasa Jawa. Film ini bisa mengingatkan kita akan film Wim Wender: Buena Vista, yang mereportasekan jazz Kuba.

Sementara Wender memperlihatkan bagaimana jazz Kuba sesungguhnya mencerminkan penderitaan sosial Kuba, Marzuki, yang tersohor dengan nama samaran Kill The DJ atau The Cebolang, juga bisa memperlihatkan bagaimana gerakan hip-hop-nya memiliki akar kultural Yogya.

“Awal hip-hop Jawa adalah kelompok G Tribe. Hitnya adalah: Jelangkung dan Menek Jambe,” kata Marzuki. “Kemudian kelompok Jahanam pada 2003 yang melahirkan Tumini. Laku 20 ribu kopi di Yogya.”

Selama 65 menit, kita disuguhi perjalanan kelompok-kelompok hip-hop Jawa antara 2003 dan 2009, dari manggung di ajang lokal Angkringan Hip Hop sampai Poetry Battle di Taman Ismail Marzuki. Dan kemudian di Esplanade, Singapura. Marzuki menekankan lahirnya hip-hop Jawa bukan semacam eksperimen kontemporer yang disengaja tapi apa adanya, alamiah.

“Sederhana saja. Kami merasa lebih bebas bila nge-rap dalam bahasa Jawa,” ujar Marzuki. Ia mengaku tidak belajar gaya atau teknik rap ala Amerika. “Tidak pas di mulut.” Bahkan sering bahasa Indonesia, menurut Marzuki, kurang nyaman di-hip-hop-kan. Ia berpendapat ada bunyi-bunyi dalam bahasa Jawa yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, misalnya, sering membuat bunyi sehari-hari menjadi kata. Bunyi orang membuka pintu mak regedeg…, misalnya, bisa jadi kata. Dalam bahasa Jawa juga sering sebuah kata tidak bermakna satu.

Apalagi tradisi suluk Jawa menyediakan irama-irama yang luar biasa. Marzuki rajin mengumpulkan kitab atau serat Jawa seperti Centhini, Gatholoco, Darmogandul, dan Babad Tanah Jawi. Dari situ ia belajar bunyi. Di rumahnya ia mengoleksi “serat aneh-aneh”. Dia pernah berkeliling Jawa. Di setiap kota ia menyambangi masjid, gereja, dan kelenteng untuk mencari babad setempat. “Di Ponorogo, misalnya, di sebuah kelenteng saya menemukan babad Ponorogo versi Cina,” katanya. Berbagai babad itu menginformasikan bahwa pembentukan Jawa itu sesungguhnya sangat pluralis.

Adapun bagian Centhini yang kerap di-hip-hop-kan adalah ketika tokoh-tokoh secara khusus menembang. Tatkala Among Raga bersanggama, agar Gusti Allah hadir dalam persetubuhan, ia menembang. Sewaktu Cebolang mengembara, setiap diundang siapa saja ia menembang. “Semua tembang di Centhini, baik yang religi maupun yang erotik, saya kumpulkan,” kata Marzuki.

Menurut Marzuki, khazanah Jawa juga banyak memiliki mantra, dari mantra menidurkan orang, mantra memelet perempuan, sampai mantra anak hilang yang dicuri wewe gombel. “Semua itu, menurut saya, mengandung unsur rap,” katanya.

Yang membuat film ini tak membosankan adalah banyaknya footage pertunjukan yang disajikan. Para penyanyi rap Jawa yang diwawancarai juga lucu. Obrolan mereka jujur dan tak dibuat-buat. Kita bisa tersenyum, misalnya, manakala menyaksikan adegan bagaimana awak komunitas rap Jahanam dan anggota kelompok Hip Hop Rotra membeli pakaian bekas dan batik yang murah meriah di Pasar Beringharjo untuk keperluan pentas.

***

Elizabeth bahkan melihat gerakan Marzuki bersama Jogja Hip-Hop Foundation persis seperti yang dilakukan orang-orang Bronx. Hip hop Yogya berjuang untuk bahasa Jawa yang dimarginalkan negara karena diganti bahasa Indonesia. Kesamaan lainnya dengan Bronx, seiring dengan tumbuhnya hip-hop Jawa, subur pula seni mural di Yogya.

Mengamati gerakan Marzuki, ingatan Elizabeth melayang ke tahun 1981, ketika dirinya berusia 19 tahun dikirim Actuel-majalah musik terkemuka di Prancis-ke New York. Ia ditugasi melihat perkembangan musik dan sosial setelah gerakan antirasial yang dipimpin muslim Afro-Amerika, Malcolm X., dan gerakan Black Panther.

Elizabeth ingat ia berjumpa dengan Fab 5 Freddy, lelaki kulit hitam yang menciptakan lagu buat Blondie, penyanyi cewek kulit putih yang populer saat itu. Keduanya menciptakan klip video Rapture, yang merupakan karya kolaborasi kulit hitam dan kulit putih pertama di Amerika. Karya itu merupakan hit paling melegenda dalam sejarah musik hip-hop, menjadi tonggak rekonsiliasi masyarakat yang terbelah. “Rapture adalah jembatan kulit putih dan hitam,” tutur Elizabeth kepada Tempo.

Masih segar dalam kenangan Elizabeth bagaimana Freddy mengajaknya ke jantung Bronx. Dinding Kota Bronx tak ada yang luput dari goresan kuas dan cat semprot warna-warni. Mereka menyeberang sungai, menuju bangunan kumuh penuh orang menceracau: menyanyi seperti membaca mantra. Tak ada alat musik apa pun. Mereka menabuh kaleng dan senjata, mulut mereka komat-kamit, sumpah-serapah. “Itulah cikal bakal hip-hop.”

Elizabeth juga bertemu Afrika Bambata, salah satu god father penyanyi rap di Bronx. Di kawasan kelam penuh kekerasan, perang antargeng, dan perang narkoba itu, Bambata disegani para jawara kriminal.

Menjelang 1990, Elizabeth berkunjung ke Indonesia. Ketika berjalan-jalan di Solo, ia melewati pergelaran wayang kulit: kakinya terpaku. Ia seperti terhipnotis, mendengar suluk sang dalang. “Saya seperti terlempar ke sudut Kota Bronx. Itu benar-benar hip-hop,” kata Elizabeth kepada Tempo.

Sejak saat itu Elizabeth seolah tak berdaya untuk meninggalkan tanah Jawa. Ia kemudian memilih Yogyakarta sebagai tempat bermukim, tempat dia berkenalan dengan Serat Centhini dan membuat adaptasi dalam buku berjudul Centhini-Les chants de l’ile a dormir debout. Ia banyak membantu Marzuki memilih bagian mana dari tembang Centhini yang enak di-hip-hop-kan.

***

Adanya akar kultural dan sosial itulah yang agaknya juga menggerakkan hati rohaniwan Sindhunata,SJ, secara khusus menciptakan lirik-lirik Jawa untuk di-rap-kan Marzuki dan kawan-kawan. Lirik-lirik Romo berupa karangan sendiri dan syair-syair tradisional Jawa yang dihadirkan kembali oleh Romo.

Bagian yang paling mengesankan dari film adalah saat menyaksikan bagaimana saat para rapper Jawa ini manggung di kampung-kampung dan pesta perkawinan, para penonton tua- muda berebutan menyanyikan salah satu puisi garapan Romo Sindhu, Suro Gambleh. Pring-pring petung, Anjang-anjang peli buntung, Ojo menggok ojo noleh, Ono turuk gomblah-gambleh.

“Itu sesungguhnya tembang tolak bala, meredam berahi,” kata Marzuki. Menurut Marzuki,-sampai sekarang lagu ini ditolak di radio-radio karena agak erotis. Namun lagu ini dikampung-kampung Yogya sangat terkenal dan banyak yang hafal.

Tembang ciptaan Romo Sindhu lain yang berbau sosial seperti Ngelmu Pring, Ora Cucul Ora Ngebul juga sekarang dikenal luas. Ada lirik Romo Sindhu yang isinya menyindir kehidupan perupa Yogya yang kini demikian kaya raya. Judulnya Jula-juli Lolipop. Jula-juli adalah tembang dari tradisi ludruk Jawa Timur. Tembang ini kini juga sangat dikenal luas di kampung-kampung Yogya.

Ngemut permen, permen Lolipop, bunder tur gepheng, kepengin beken, kepengin dadi ngetop, karyane laris, senine mati.

Sementara di kota lain rap sepenuhnya urban, di Yogyakarta rap menjadi senyawa antara global dan lokal. “Hip- hop Jawa menyajikan bagaimana Jawa yang membuka diri terhadap pergaulan dunia, tapi juga Jawa yang memberi.” Kalimat budayawan Landung Simatupang dalam film itu terasa tepat.

Jawa dalam sejarah ibarat spons besar. Ia menyerap tradisi-tradisi agama besar dunia dan menjadikan tradisi itu berbeda dengan tanah asalnya. Demikian juga hip-hop di Yogyakarta. Keunikan hip-hop Jawa itu diakui misalnya oleh pionir hip-hop di Indonesia: Iwa K. “Di Yogya, hip-hop tumbuh dengan benih sendiri,” katanya.

Undangan ke Esplanade, Singapura, adalah bentuk apresiasi orang luar atas keunikan itu. Pada Januari 2011 Jogja Hip Hop Foundation mendapat kesempatan manggung di New York dan San Francisco, Amerika Serikat. “Di New York kami akan pentas di Asia Society dan di San Francisco di kompleks seni Yerba Buena,” kata Marzuki.

Seno Joko Suyono & Dwidjo Maksum

republished from Tempo Magazine
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/06/FL/mbm.20101206.FL135261.id.html
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/06/FL/mbm.20101206.FL135260.id.html

 

Figur Inspiratif; Juki dan Hip Hop Jawa

Oleh Lukas Adi Prasetyo

 

KOMPAS.com- Mohammad Marzuki bisa dikatakan sebagai inspirator bagi musisi hip-hop, terutama di Yogyakarta. Tiga tahun sebelum Jogja Hip Hop Foundation berdiri, dia sudah merambah luar negeri. Setelah itu, bersama Jogja Hip Hop Foundation, tahun lalu mereka tampil di Singapura.

Tahun 2010 ini, rencananya mereka bakal bermain di New York dan San Fransisco, Amerika Serikat. Undangan yang datang dari Singapura dan Amerika Serikat itu menjadi salah satu ukuran bahwa musisi hip-hop jawa diperhitungkan. Meskipun, menurut Juki atau Zuki, panggilan Mohammad Marzuki, untuk mencapainya diperlukan proses panjang dan kemampuan negosiasi yang mumpuni.

Tahun 2003, Juki mendirikan Jogja Hip Hop Foundation. Wadah yang diistilahkan sebagai ”ruang tanpa tembok” itu menjadi kendaraannya. Dari Jogja Hip Hop Foundation tersebut, setidaknya telah ditetaskan dua album bertitel Poetry Battle pada tahun 2007 dan 2008.

Album kompilasi sejumlah musisi hip-hop itu dicetak masing-masing ribuan keping CD dan ludes dalam hitungan bulan. Potensi hip-hop kemudian semakin terlihat. Maka, tidak mengherankan jika publik lalu menanti-nanti dirilisnya Poetry Battle yang ketiga.

Namun, harapan publik itu tampaknya tidak bakal terwujud. ”Aku enggak akan membuat Poetry Battle lagi kok. Aku ingin membuat yang baru saja dan tidak akan aku kasih judul Poetry Battle,” kata Juki, anak keempat dari lima bersaudara keluarga H Soepartijo ini.

Juki rupanya ingin lebih dulu mewujudkan impiannya yang lain. Dia tengah menggarap dan akan segera meluncurkan film dokumenter bertajuk Hip Hop Diningrat. Ini merupakan sebuah film yang memotret perjalanan hip-hop dengan aliran jawa.

Bagaimanapun, Juki telah memberi jalan pada komunitas hip hop Yogyakarta untuk berkiprah. Lewat Poetry Battle dia telah memberikan ”kunci” bagi anak- anak hip-hop untuk bertemu siapa saja di luar jalur musik mainstream.

Ia juga aktif membantu anak-anak hip-hop kala mereka membuat rekaman album. Di samping itu, dia juga bakal membuat album rekaman yang lain. Kali ini Juki berkolaborasi dengan Soimah, pesinden yang namanya meroket sampai Jakarta.

Album itu berjudul Semiotika Pantura. Tidak hanya bergerak dalam dunia musik, Juki pun berusaha mendapatkan penghasilan dari usaha distro Whatever Shop di Yogyakarta. Sebab, sebagian dari pendapatan toko itu menjadi ”tiket” bagi sebagian anak-anak di pinggir Kali Code, Yogyakarta, untuk tetap bersekolah.

Gelisah

Sebenarnya hip-hop bukanlah aliran musik pertama yang dipilih Juki. Lelaki yang tidak lulus Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta itu sebelumnya banyak berteman dengan para seniman jalanan. Lewat cara semacam magang itulah dia, antara lain, belajar seni grafis dan teater.

Di dunia hip-hop, Juki dikenal dengan nama panggung Kill The DJ. Nama itu baru dipakainya tahun 2001. Alasannya, ketika itu dia melihat sebagian kaum muda mendewakan rave party (pesta semalam suntuk dengan elektronik musik yang dimainkan para DJ).

”Mereka terlalu menyanjung DJ-nya,” kata Juki yang lalu ingin ”menjungkirkan” anggapan tersebut lewat namanya, Kill The DJ. Terkadang dia menggunakan nama Chebolang, terutama untuk garapan desain grafisnya. Ini merupakan sosok kontroversial dalam kitab berbahasa Jawa, Serat Centhini, yang selalu gelisah mencari jati diri.

Juki tampaknya merasa kegelisahan seperti dialami Chebolang juga menimpa dirinya. Juki mencontohkan, saat mendengar rekaman telepon Anggodo Widjojo dengan beberapa orang yang diputar dalam sidang Mahkamah Konstitusi, dia merasa harus menyalurkan kegelisahannya. Maka muncullah lagu Cecak Nguntal Boyo, yang dia nyanyikan saat ikut berunjuk rasa di Jakarta.

Lagu itu lalu dia daftarkan menjadi ring back tone (RBT). Dari lima provider yang ditawarinya, dua di antaranya menerima Cecak Nguntal Boyo untuk RBT dan hasilnya menjadi dana kampanye antikorupsi.

Bahasa ibu

Meski hip-hop jawa relatif tak mendatangkan keuntungan materi besar, Juki tetap menekuninya. Untuk mempertahankan keberadaan hip-hop jawa, 40 kitab berbahasa Jawa koleksinya menjadi sumber inspirasi bagi Juki yang tak ada habisnya.

”Menghidupkan bahasa ibu (bahasa Jawa) itu bentuk pertanggungjawaban. Kalau puisi jawa cuma tersimpan dalam lembaran kitab, dia akan berjarak dengan publik. Saya ingin menjadikannya sebagai milik publik,” kata Juki yang tampil dengan hip-hop jawa dalam Urbanfest 2007 di Ancol, Jakarta.

Juki bercerita, dia tertarik pada kitab berbahasa Jawa justru ketika berada di Perancis untuk mendalami musik elektronik pada 2000. ”Mungkin karena saya berada di luar negeri, jadi ada jarak dengan tanah kelahiran maka bahasa dan budaya Jawa menjadi hal penting. Saya malu, ternyata saya tidak tahu apa-apa tentang budaya dan bahasa ibu sendiri,” ujar pria yang dibesarkan di lingkungan pesantren karena sang ayah seorang ustaz.

Dia semakin merasa prihatin ketika mengetahui bahwa bahasa Jawa termasuk yang paling tidak diminati kaum muda. Kondisi ini yang membuat Juki berupaya menjadi ”jembatan” antara kaum muda dengan puisi jawa. Dia menggunakan hip-hop sebagai medianya.

Tidak hanya hip-hop dan distro sebagai fashion kaum muda sebagai pendukung yang dia tekuni, Juki juga berusaha membangkitkan kreativitas kaum muda lewat berbagai festival.

Di Yogyakarta, bekerja sama dengan perupa Jompet dan beberapa seniman lain, dia membentuk ”Performance Fucktory” pada tahun 1990-an. Ini merupakan kegiatan yang menampilkan seni multimedia dengan mengelaborasi panggung musik elektronik, video, dan gerak tubuh.

Lewat ”Performace Fucktory” tersebut, Juki dan kawan-kawan sering kali menggelar pertunjukan seni multimedia di berbagai tempat, baik di Yogyakarta maupun Bandung dan Jakarta. Selain itu, Juki juga menjadi ”motor” kegiatan ”Parkinsound”, yang diikuti rata-rata puluhan band, dengan pengunjung sekitar 4.000 orang.

Ini merupakan festival musik elektronik yang berlangsung di Yogyakarta setiap tahun, mulai 1998 sampai 2004.

MOHAMMAD MARZUKI
Lahir: Klaten, Jawa Tengah, 21 Februari 1975
• Orangtua: H Soepartijo dan Siti Sapariyah
• Istri: Grase Samboh, menikah tahun 2009
• Pendidikan:
- Madrasah Tsanawiyah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah
- Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta (tidak lulus, sampai kelas III)

republished from:
FIGUR INSPIRATIF
Juki dan Hip-hop Jawa
Selasa, 8 Juni 2010 | 15:40 WIB

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 234 other followers