Archive

Blog

Yang tak Terlupakan

5 November 2010, 02:00 dini hari, erupsi besar gunung Merapi mengguncang Jogja dan sekitarnya, ratusan ribu penduduk yang tinggal di sekitar lereng Merapi seketika berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang relatif aman. Tapi malam itu aku memutuskan menantang bahaya dengan naik mengendarai mobil pick up, melawan arus pengungsi, menuju ke lereng Merapi untuk membantu evakuasi. Aku tidak tega membayangkan nasib saudara-sudara kita yang terjebak di desa-desa terpencil di lereng Merapi itu. Sekitar pukul 04:00 aku bertemu dengan Kebo, sapaan akrab Yoga Cahyadi alias Bobby Yoga, di depan kecamatan Pakem yang berubah menjadi kota mati. Kita menunggu fajar di sana untuk kembali menyisir kampung-kampung yang dilanda bencana.

Sekitar puku 05:00, Matahari belum terlihat tapi langit sudah semburat, kami menuju ke kali Gendol yang dari kejauhan nampak seperti garis bara api karena menjadi jalur utama muntahan material panas Merapi. Kami merangsek hingga kira-kira 100 meter dari kali itu. Bau belerang dan segala benda terbakar begitu menyengat. Bersama teman-teman SAR yang lain, kami menyisir rumah-rumah di sekitar bantaran sungai itu, desa Argomulyo tepatnya. Puluhan mayat kami angkat ke dalam mobil yang aku kendarai. Ketika sirine bahaya berbunyi dari radio yang kubawa, Kebo memintaku untuk tetap bertahan dan hanya bersiap di mobil, sementara yang lain mundur ke tempat yang lebih aman. “Tenang. Itu hanya angin lalu” katanya waktu itu.

Itu kenapa dia disapa Kebo (Kerbau, Jawa), disamping badannya relatif gemuk, dia laksana banteng yang ketika mengambil keputusan, tidak akan mundur sejengkal pun. Teman-temannya di Mapala Setrajana dan SAR tahu persis akan karakter ‘ngebo’ ini.

Puluhan mayat-mayat itu (saya tidak tahu persis jumlahnya) kami bawa ke RS Sardjito, kami bolak-balik naik-turun beberapa kali. Aktivitas berhenti karena aku harus berangkat ke Jakarta melalui perjalanan darat untuk taping di Metro TV hari berikutnya, waktu itu air port Yogyakarta ditutup oprasinya.

Setiap tahun di hari dan tanggal yang sama, Kebo selalu mengajakku untuk kembali ke bantaran kali Gendol untuk memperingati peristiwa itu. Kami nge-beer sambil ngobrol ngalor-ngidul mengenang akan hal-hal …

Cerita lengkap tentang peristiwa ini saya susun dalam tulisan; My Evacuation Timeline. Dan sekarang nama Kebo yang mempunyai akun twitter @effort_creative tercetak warna merah.

Masa Indah

Aku mengenal Kebo di Fisipol UGM tahun 1996, meskipun aku tidak pernah kuliah dan menjadi mahasiswa, aku selalu nongkrong di sana. Waktu itu, sebelum Soeharto lengser, Fisipol UGM adalah habitat yang penuh semangat dan pergesekan gagasan yang kuat lagi hangat. Bukan saja gerilya politik melawan orde baru, tapi juga dipenuhi oleh enerji-enerji kreatif yang luar biasa.

Kami mendirikan Forum Musik Fisipol (FMF) dan Kebo adalah salah satu inisiatornya, menjadi basis lahirnya legenda electronic music movement, Parkinsound (1998 – 2004). Bahkan pesta hip hop yang menggunakan nama Jogja Hip Hop Foundation (JHF) aku selenggarakn pertama kali di sana. Banyak band-band hebat yang lahir di sana, salah satu yang masih aktif hingga kini adalah Melancholic Bitch. Jangan lupa, teater Garasi yang moncer itu juga lahir dalam lingkungan ini. Juga ada Kunci Cultural Studies yang sangat penting untuk diakses wacananya hingga kini. Aku tidak bisa menyebutkan semua hal hebat yang lahir di Fisipol UGM di era itu, tapi tentu perlu menyebutkan Performance Fucktory, sebuah wadah di mana Jompet, Ugo, Yosi, Wulu, dan aku bergesekan melahirkan beberapa karya performance dan musik.

Tentu saja juga melahirkan cerita-cerita khas anak muda di jaman itu; ganja, alkohol, berantem dan kisah cinta.

Aku memang selalu mengkritik berbagai pemikiran dan keputusan Kebo sejak kita masih membangun FMF, bahkan Kebo dan beberapa teman pernah melabrak rumahku ketika berselisih pendapat tentang penyelenggaraan Parkinsound 4 (terakhir). Waktu itu aku memutuskan untuk menerapkan logika bisnis dengan tetap mengandalkan basis komunitas dalam penyelenggaraan setelah rugi hampir seratus juta di Parkinsound 3 (2001). Tapi rupanya itu tidak bisa diterima khalayak, aku menjadi musuh nomer satu di FMF waktu keputusan itu kuambil.

Hanya waktu yang bisa memberikan pelajaran dan jawaban akan hal-hal…

Ketika generasi Kebo banyak yang sudah lulus dan menjadi alumni, aku juga tidak setuju keterlibatan para alumni secara langsung di FMF. Alasanku, setiap generasi mempunyai gaya dan ekspresi khasnya sendiri sabagi penanda jaman. Itu kenapa aku kemudian memutuskan untuk tidak mau ikut campur FMF selama alumni masih terlibat secara langsung.

Quot dari kata-kata Kebo yang paling terkenal dan selalu terngiang di kepala teman-teman pun aku kritik; “piye carane kudu isa” (bagaimana caranya harus bisa), karena seharusnya “kudu isa piye carane” (harus bisa bagaimana caranya), dengan demikian kita masih bisa membuka diri untuk terus berkembang, belajar, dan menjadi murid seumur hidup.

Hingga kemudian dia mendirikan EO bernama Effort Creative, aku selalu merasa tidak sreg dan mengkritik cara, pemikiran, dan keputusan Kebo ketika menjadi promotor. Karena itu logika bisnis yang sunggung berbeda. EO hanya jasa penyelenggaraan event dan seharusnya tidak bisa rugi, sementara promotor adalah investasi. Hingga kemudian aku memutuskan untuk tidak mempunyai relasi bisnis dengannya agar pertemanan kita tidak hancur.

Ini semua hanya soal waktu …

Jebakan Gerakan Kebudayaan

Sebagai sebuah perusahaan event organizer, Effort Creative sebenarnya cukup menguntungkan, tapi Kebo selalu mempunyai semangat yang besar untuk menjadi promotor untuk memajukan musik independen di Yogyakarta. Generasi kami di Yogyakarta memang banyak terjebak dengan gagasan ‘gerakan kebudayaan’ dari pada sekedar event, termasuk Kebo. Berbagai acara untuk itu diciptakan, seperti; Youthfest, The Parade, Lockstock dll. Semua keuntungan sebagai EO bisa jadi dia curahkan sebagai promotor untuk membangun acara-acara itu yang kebanyakan sepi sponsor.

Dari semua acara-acara itu, Lockstock (akronim dari Local Stock) digadang-gadang oleh Kebo sebagai wadah yang mampu mendukung kemajuan skena musik independen di Yogyakarta. Dia bercita-cita menjadi “kaki” untuk teman-teman musisi Independen. Lockstock pertama digelar tahun 2009 dan berakhir dengan kegagalan secara bisnis. Mulai saat itulah Kebo mulai kelabakan gali lubang – tutup lubang. Menggunakan uang event yang akan datang untuk menutup event sebelumnya.

Ada beberapa nama yang diminta Kebo sebagai team penggagas Lockstock; Djaduk Ferianto (Kua Etnika), Aji Wartono (Warta Jazz), Wotowibowo (Yes No Wave), Andy Yulfan (Memet Dubyouth, ex. Manager Shaggydog dan sekarang Endank Soekamti), dan aku sendiri. Segala muatan tema dan band yang dipilih Kebo selalu berkonsultasi dan meminta rekomendasi kepada kami. Tapi secara bisnis orang-orang ini tidak ada keterlibatannya sama sekali.

Pada Lockstock pertama, berbagai rekomendasi kami sampaikan. Diantaranya, bahwa sebuah gerakan kebudayaan harus disepakati secara kolektif, event tidak perlu besar dan berbiaya tinggi tapi cukup menjadi penanda semangat zaman yang akan selalu dikenang. Saya sendiri tidak setuju dengan nama Lockstock yang kurang membumi dan mewakili ciri khas Yogyakarta. Tapi Kebo tetap mendirikan beberapa panggung dan selalu menaruhkan harapan menjadi festival yang besar pada Lockstock. Sudah bisa ditebak, dia akhirnya bangkrut.

Setelah 4 tahun berselang dengan diselingi berbagai event yang lain yang dipromotori oleh Effort Creative, seperti the Parade dan Youthfest, Kebo datang lagi dan menyampaikan niat untuk kembali menggelar Lockstock. Team penggagas ini kembali dikumpulkan sebatas memberikan rekomendasi muatan tema dan band-band yang dipilih. Yang jauh lebih penting, bahwa secara tegas, justru team ini menyarankan Kebo untuk berpikir ulang untuk menunda penyelenggaraan Lockstock 2 karena relatif hanya dipersiapkan selama satu bulan.

Aku sendiri belum pernah mengikuti rapat team penggagas atas prakarsa Kebo. Kebetulan saya selalu berhalangan karena jadwal manggung dan opname untuk oprasi usus buntu. Tapi sebelum itu, Kebo menemuiku secara personal dan menyampaikan niat untuk menggelar Lockstock 2.

“Aku ra iso mandeg, kudu mlaku terus, kudu tangi meneh (aku tidak bisa berhenti, harus terus berjalan, harus bagun lagi)” katanya waktu itu.

Saya tahu secara umum kondisi Effort Creative dan pribadi Kebo saat itu, disamping hutang yang menumpuk kepada beberapa vendor dan rental, Kebo juga ditinggal oleh hampir semua partner dan staffnya. Dia sendirian. Karenanya aku secara tegas menyampaikan tidak bisa mendukung jika Kebo tetap grusa-grusu dan tidak memperhitungkan semua logika bisnisnya.

Kira-kira waktu itu aku katakan kepadanya seperti ini; “Satu, aku tetap tidak suka nama Lockstock. Diganti saja yang lebih membumi. Dua, mempersiapkan acara sebesar cita-citamu terhadap format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan, itu namanya ‘bunuh diri’ secara bisnis”.

Sebulan setelah  pertemuan itu, aku baru sadar seminggu sebelum hari H, bahwa acara Lockstock 2 tetap diselenggarakan. Aku menelpon Kebo untuk meyakinkan hal itu dan berusaha menyarankan untuk membatalkannya.

Tapi itulah Kebo! Dan Lockstock 2 tetap diselenggarakn.

Hari pertama penyelenggaraan aku tidak hadir, aku memilih tinggal di rumahku di desa utara candi Prambanan sambil menikmati suasana perayaan Waisak di Candi Sewu yang relatif lebih nyaman dibandingkan dengan perayaan Waisak di Borobudur yang sudah terkomodifikasi secara banal itu. Tapi hujan besar yang mengguyur hampir seluruh wilayah Yogyakarta malam itu membuatku tak nyaman dan segera bergegas kembali ke rumah, kondisi ini juga membuatku bertanya-tanya bagaimana situasi hari pertama Lockstock 2.

Tak lama sesampainya di rumah, saya mendapatkan beberapa telpon dari teman-teman band luar kota yang komplain dalam hal administrasi dan penyelenggaraan Lockstock 2 yang semrawut. Kebanyakan dari mereka mundur dan membatalkan tampil karena fee belum terbayar. Beberapa menyangka bahwa aku terlibat secara langsung penyelenggaraan event ini dan namaku menjadi dasar mereka mau datang ke Jogja dengan fee yang murah. Mungkin hal ini juga dialami oleh Djaduk Ferianto, Aji Wartono, Wotowibowo, dan Memet.

Ketika membuka twitter, timeline dipenuhi dengan caci-maki atas penyelenggaraan Lockstock 2. Kemudian aku berusaha menelpon beberapa band luar kota untuk memastikan akomodasi dan hospitality mereka baik-baik. Paling tidak mereka bisa kembali ke kota masing-masing dengan nyaman. Aku juga berusaha menelpon beberapa teman yang ada di venue untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan.

“Hancur… Lockstock Hancur… ” Begitulah kira-kira secara umum komentar yang aku dapat dari teman-teman akan event yang diberi tagline ‘the biggest annual music movement’ itu.

Aku selelu berkomunikasi dengan manajerku di Jogja Hip Hop Foundation (JHF), memastikan hingga detik-detik terakhir apakah besok JHF jadi manggung di acara Lockstock 2. Aku menelpon Erick dari band Endank Soekamti yang besok rencananya manggung bersama JHF untuk menutup acara Lockstock 2. Erick menyampaikan ajakan yang sangat simpatik;

“Aku tidak peduli orang mau ngomong apa tentang Lockstock, Ayo kita menyelamatkan nama Jogja, kita harus manggung bareng besok! Mungkin kita akan rugi secara materiil, tapi secara moril kita akan bangga, juga untuk menyapa fans kita yang datang dari luar kota”.

Akhirnya JHF memutuskan membatalkan konser hari kedua setelah tahu dari beberapa teman di venue dini hari itu, bahwa acara hari kedua tidak mungkin lagi diselenggarakan.

Setelah itu, aku berusaha mencari Kebo dan gagal.

IMG_1798

Kabar Getir

26 Mei 2013, dulu kita begitu perkasa mengangkut puluhan mayat-mayat di lereng Merapi, tapi hari ini aku tidak mampu melihat jenazahmu yang ditemukan terberai dilindas kereta api. Tubuhku bergetar hingga aku tak kuasa mengendalikannya. Aku menjauhi meja dimana tubuhmu tergeletak.

Sejak mendengar kabar kamu hilang hingga dini hari dari acara Lockstock 2 yang kamu selenggarakan itu, aku berusaha mencarimu malam itu, Bajingan! Ketika membaca tweet terakhirmu pagi itu, aku disergap kepanikan yang dahsyat, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kabar, yang dalam doa yang jarang aku lakukan itu, aku berharap akan ada berita baik.

Aku sangat menyesal kenapa aku tidak cukup mampu mengendalikanmu untuk menunda acara itu hingga setelah lebaran. Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa, mempersiapkan acara sebesar format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan. Iya, sebulan yang lalu aku mengatakan kepadamu bahwa itu ‘bunuh diri’ secara bisnis. Tapi bukan ‘bunuh diri’ seperti ini, Bo. Asu!

Tapi kamu memang Kebo! Sekali mengambil keputusan pantang mundur. Dengan cula nyali yang besar kamu selalu menyeruduk segala rintangan termasuk hitung-hitungan logis, apa pun resikonya itu.  Meskipun, karena semangat dan keberanianmu yang besar, aku tidak pernah membayangkan kamu akan ‘bunuh diri’ meninggalkan keluarga dan sahabat yang menyayangimu.

Di sisi gundukan tanah kuburmu, di seberang istri, anakmu, ayah, ibu, dua adikmu, dan keluarga besarmu yang terguncang hebat, aku meletakkan telapak tanganku ke tanah yang masih basah itu, tubuhku bergetar dan air mata deras mengalir, aku membisikkan kepadamu;

“Bajingan Asu! Kowe ngrepoti! Ning kowe cen Kebo! Angel dikandani, masiyo ngono kowe tetep kancaku. Aku mung isa ndereke sugeng tindak, sikiko, dipenake, aku isih sabar, mengko aku yo nyusul ngancani kowe”.

(Bajingan Asu! Kamu membikin repot! Tapi kamu memang Kebo! Susah diomongin, meskipun demikian kamu akan selalu menjadi temanku. Aku cuma bisa mengucapkan selamat jalan, silahkan kamu duluan, buatlah nyaman, aku masih sabar koq, nanti juga akan menyusulmu dan menemanimu).

Perjalanan Kecil di Taman

Berbagai teori dan dugaan muncul di banyak berita kematian tragis Kebo. Yang menjadi highlight adalah caci-maki di media sosial yang membuat Kebo memutuskan untuk bunuh diri. Kemudian terkenal dengan hashtag #cyberbullying yang di-mention ke akun twitter Kebo, @effort_creative. Apalagi jika kemudian khalayak membaca tweet terakhirnya..

“Terima kasih atas sgala caci maki @lockstockfest2.. ini gerakan.. gerakan menuju Tuhan.. Salam..” Status pamitan juga bisa ditemukan di Facebook-nya.

Aku sendiri mencoba berpikir jernih, bahwa seseorang boleh komplain dan marah ketika hak-haknya tidak terpenuhi. Aku membayangkan ketika diriku bersama JHF tour ke luar kota dan tiba-tiba tidak ada pembayaran dan eventnya berantakan. Dari sisi profesionalitas, kita punya hak untuk komplain dan menuntut penyelenggara. Juga berhak menyampaikan akar permasalahan ke publik, terutama kepada para fans kita, apalagi mereka yang datang dari luar kota hanya untuk menonton konser kita. Tapi aku juga sadar, bahwa industri musik di Indonesia sudah sangat busuk, hampir semua musisi kebanyakan bersandar pada fee manggung di mana para promotor dan EO bekerja keras untuk para musisi. Demikianlah kiranya kita juga harus bijak menyampaikan tuntutan dan gugatan itu.

Karena twitter, dan segala jenis media sosial yang lain, sesungguhnya adalah ruang publik. Itu bisa menjadi seperti podium orasi atau panflet mutakhir yang bisa membakar amarah publik untuk turut campur menghujat tanpa tahu akar permasalahannya. Bahkan beberapa publik figur yang aku anggap cukup bijak bisa terbawa arus ikut campur menghujat Lockstock 2 malam itu, meskipun mungkin dilakukan dari Jakarta dan tanpa konfirmasi. Okelah, kemudian kita bisa menghapus apa yang sudah di-publish di timeline, tapi bola panas telah digulirkan.

Aku perlu menjelaskan bahwa pemegang admin @JHFcrew harus menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak offensive. Pun ketika komplain dengan panitia penyelenggara atau membatalkan manggung. Kami perlu menekankan moral agar tidak menyulut amarah terutama kepada fans kami. Hal serupa aku yakini berlaku pada akun @ShaggydogJogja yang ngetweet pembatalan secara formal tanpa ditambahi amunisi yang membakar amarah publik; “Mohon maaf, dengan berat hati, kami terpaksa membatalkan show di Lockstock fest. YK malam ini, dikarenakan terjadinya miskomunikasi dengan panitia”.

Perlu diketahui, sesungguhnya Kebo tidak melarikan uang seperti banyak dituduhkan di twitter, karena sesungguhnya memang tidak ada uangnya. Kebo menggunakan uang dari event Astra Honda di tgl 28 Mei untuk menutupi event Lockstock yang digadang-gadang oleh Kebo mampu menjadi representasi dan penanda pergerakan musik independen di Yogyakarta pada tgl 25 dan 26 Mei itu. Tapi uang itu tidak cukup, juga running penjualan tiket tidak seperti yang diharapkan karena hujan deras mengguyur venue semalaman. Dua panggung utama tidak bisa beroprasi. Penotnon tidak seperti yang diharapkan. Selanjutnya bisa ditebak

Akhirnya dia pergi meninggalkan venue karena kelabakan mencari hutangan untuk menutupi kekurangan di hari itu. Sesungguhnya tidak ada sponsor yang masuk. Ketika seminggu sebelum hari H aku telpon dan masih berusaha menyarankan dia untuk menunda penyelenggaraan, Kebo menyampaikan sudah mendapatkan uang untuk menggelar Lockstock 2. Juga tidak ada lagi teman yang bisa menalangi atau memberikan hutang kepadanya. Mungkin pintu-pintu memang sudah tertutup untuknya malam itu.

Dan sekali lagi, dia memang Kebo! Sekali melangkah tidak akan mundur…

Aku sendiri tidak yakin bahwa dia memutuskan bunuh diri hanya karena dicaci-maki di media sosial. Kiranya dia sudah membuat perhitungan dan janjian sendiri dengan Tuhannya atas segala masalah-masalah yang dihadapinya malam itu atau pun masalah-masalah sebelumnya. Aku hanya bisa menyarankan kita untuk ikhlas melepas kepergiannya dan legawa atas segala keruwetan yang ditimbulkannya berkaitan dengan penyelenggaraan Lockstock 2 maupun event-event sebelumnya.

Aku sungguh sangat berbangga, bahwa kita teman-teman dekatnya, tetap bergotong-royong untuk menyelesaikan hutang event terakhirnya atas Astra Honda yang menampilkan Cherry Belle dua hari setelah kepergiannya. Aku kembali meneteskan air mata, ketika teman-teman menyampaikan Gwen, anak satu-satunya datang bersama Arini istrinya, menari-nari mengikuti lagu “kamu cantik, cantik, dari hatimuuuu..”

Kita berteman sudah lama dan akan selalu seperti itu

Kebo, bagaimana pun kamu telah menorehkan sejarah, menjadi kaki yang menyokong perkembangan industri kreatif dan musik independen di Yogyakarta seperti cita-citamu, meskipun belum tuntas dan akhirnya jalan yang kau pilih adalah meninggalkan semua goresan yang telah kamu buat secara tragis.

Aku dan teman-teman yang kau tinggal akan mengambil pelajaran atas semua rangkaian peristiwa ini. Terima kasih untuk semua hal yang sudah kita lalui bersama. Baik, buruk, aku tidak peduli karena bagaimana pun kamu adalah temanku. Pun jika kamu memang benar-benar bunuh diri dan memilih sirna karena ‘malu’, kamu mengajarkan hal yang saat ini tidak dimiliki bangsa ini.

Lalu, adakah yang lebih penting dari semua pencapaian dan gemuruh tepuk tangan dari pada sebuah perjalanan kecil sore hari di taman?

Selamat jalan Bo!

Prambanan, 29 Mei 2013

Kill the DJ

*kiranya aku perlu menambahkan capture foto ini, bacalah dari bawah..

Download Song of Sabdatama
Download Song of Sabdatama (feat Akala)

Berikut saya posting sebuah single terbaru dari Jogja Hip Hop Foundation (JHF) berjudul Song of Sabdatama (2012), sebuah lagu dengan nafas dan semangat sama dengan Jogja Istimewa (2010) yang didedikasikan untuk seluruh warga Yogyakarta, soundtrack perjuangan dan persaudaraan, penyebar semangat untuk warga dalam memperjuangkan hak-haknya dan juga menjaga harmoni kehidupan yang bhineka.

Judul lagu ini mengambil dari Sabdatama (Sabda Utama) yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengkubhuwono X pada bulan Mei 2012 lalu, selaku raja Yogyakarta, untuk meneguhkan sikap terhadap kusutnya status keistimewaan Yogyakarta. Sabdatama kemudian juga dibaca oleh warga Yogyakarta sebagai simbol penolakan atas beberapa tindak kekerasan atas nama suku dan agama yang bermotif konspirasi politik yang terjadi di Yogyakarta beberapa bulan terakhir. Sebagai catatan; Sabdatama biasanya hanya dikeluarkan sekali oleh seorang raja, Sultan HBIX mengeluarkan Sabdatama ketika menyatakan begabungnya kraton Yogyakarta dengan Republik Indonesia.

Song of Sabdatama ditulis dalam tiga bahasa; Jawa, Indonesia dan Inggris, sebagai kabar kepada publik luar tentang tekad yang membara, berbeda dengan Jogja Istimewa yang lebih ditujukan ke dalam. Seperti banyak komentar terhadap lagu Jogja Istimewa, kebanggaan kadang bisa dilihat sebagai arogansi bagi mereka yang tidak mengenal akar permasalahannya.

Song of Sabdatama dirilis dalam dua versi, yang kedua versi kolaborasi dengan rapper Inggris, Akala (The Hip Hop Shakespeare), yang akan dirilis oleh British Council dalam rangka Seminar Bahasa Internasional pada bulan Juni 2012. Beberapa lagu dengan lirik tiga bahasa juga akan terus diproduksi JHF sebagai persiapan tour 10 kota di Amerika bulan November 2012.


Lyric Song of Sabdatama

Hook
We are from Jogja
The heart of Java
Our rhyme is mantra
Flows down like lava

We are from Jogja
The heart of Java
Our culture is weapon
Yeah, this Song of Sabdatama

Verse M2MX
Merapi ya iku, Keraton ya iku, Segara ya iku, Pancer ing Tugu
Mijil tuwuh saka kono dumunungku
Yo Ngayogyokarto Hadiningrat Negeriku
Nagari gemah ripah kang merdika
Kaya kang kaserat ing Sabdatama
Merapi ngelingake marang ing gusti
Segara ngelingake kudu ngidak bumi

Verse Balance
Ngono kuwi jiwa Jawi
Manunggaling kawula Gusti
mBalung sungsum pada diugemi
Minangka tekad dadi sesanti
Sadumuk bathuk sanyari bumi,
Ditohi pecahing dada luntaking ludira nganti pati
Negeri merdika bakal tak belani

Hook

Verse Kill the DJ
Merapi horeg, laut kidul gedeg
Angin ribut, udan bledek
Tanda bumi reresik nandang gawe
Marang donya lan manungsane
Marang sedulur sikep kudu ngajeni lan ngopeni
Bumi pertiwi adalah saudara kami
Yang harus dijaga dan dihormati
Menerima sekaligus memberi
Budaya adalah senjata
Memanusiakan manusia
Bangun jiwanya, Bangun raganya
Sentausa dalam puspa warna

Hook

Verse Ki Ageng Gantas & Radjapati
In our land where we stand
Never afraid coz we all friends
We may vary but hand in hand
Appreciate and understand
Why democracy if occupied by oligarchy?
Nggo opo demokrasi nek mung ngapusi?
Why religion if only to kill humanity?
Nggo apa agama nek mung mateni
Hey oxymoron, you don’t need to teach me
Rasah nggurui merga ora migunani
What Jogja want is harmony in diversity
Urip iku amrih nemu harmoni
We don’t care of what you say
Your ridiculous words will go away
Coz in this land where we stand
We’ll fight to the death until the end

Hook

Naskah Aseli Sabdatama:

Saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) tahun 2003 dengan mimpi yang sederhana, membantu teman-teman raper berbahasa Jawa di Yogyakarta untuk lebih berkembang dan dikenal dalam konteks kesenian dan wacana yang pas, waktu itu saya masih bekerja sebagai perupa dan musisi electronic, tidak terbayang jika setahun kemudian akhirnya saya ikut nge-rap. Demikian juga ketika JHF yang awalnya adalah komunitas saat ini kemudian berkembang menjadi semacam kolektif group, band, atau crew dalam hip hop. Semua berjalan dengan natural. Apa yang kita capai sekarang adalah buah dari konsistensi pada jalur yang kita pilih; investasi komitmen dan integritas hampir satu dekade berkarya kolektif dalam jalur hip hop jawa.

Newyorkarto adalah konser restropeksi perjalanan kami, dari panggung-panggung kecil di kampung-kampung kota Jogja hingga ke panggung-panggung internasional yang prestisius dan menjadi group hip hop pertama dari Indonesia yang berkesampatan menggelar konsernya secara ekslusif di kota kelahiran hip hop; New York –yang kami sendiri sesungguhnya tidak pernah berani memimpikannya. Semua elemen baik musikal maupun artistik merepresentasikan background sosial dan cultural yang membentuk dan menginspirasi kami; gamelan, wayang, penari dll. Demikian juga orang-orang yang terlibat dalam konser Newyorkarto ini, mereka adalah teman setia yang menemani perjalanan kami selama ini. Sesungguhnya tradisi bukan sesuatu yang kaku layaknya post card pariwisata, tapi tradisi terus tumbuh dan bersinggungan dengan kekinian untuk membentuk dirinya.

Newyorkarto adalah nama yang kami temukan ketika kami hendak menggelar konser di New York. Undangan itu datang dengan alasan, bahwa energi dan spirit asli rap/hip hop ketika pertama kali muncul di New York, sesungguhnya bisa ditemui di kota Yogyakarta dalam bentuk yang lain. Kita akan mencoba menggelar sebuah dunia cerita bernama Newyorkarto layaknya cerita pewayangan dalam konser ini.

Akhirnya, saya dan teman-teman JHF mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua orang yang telibat dalam konser ini, kepada para sponsor dan donatur yang telah memungkinkan acara ini terwujud, dan tentu saja kehadiran teman-teman yang menonton konser ini.

Selamat menikmati.

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Founder Jogja Hip Hop Foundation

*diambil dari tulisan pengantar katalog pertunjukan

Tanggal 5 dan 6 November 2011 adalah hari yang sangat penting buatku.

Pada tanggal 5 November dini hari, bersama @masgufi @effort_creative @AndyKrebo, aku melakukan napak tilas peristiwa setahun yang lalu ketika membantu evakusi erupsi Merapi. Kami kembali mengenang dimana setahun yang lalu kami bahu-membahu tanpa rasa takut (entah apa yang membuat kami begitu berani) mencoba menolong warga dari terjangan awan dan material panas Merapi yang sedang marah. Malam itu kami duduk di pinggiran kali Gendol – Argomulyo, tepat setahun yang lalu kami berada di sana, di mana saat itu garis antara hidup dan mati begitu dekat. Ditemani beberapa botol beer kami berdoa dengan cara kami untuk mengenang apa yang sudah kami lakukan dan mengenang relawan-relawan yang terkubur di sana (selengkapnya bisa dibaca di My Evacuation Timeline).

Kami tirakatan dengan cara kami hingga pukul 5 dini hari, kemudian kami pulang. Peristiwa sesungguhnya, kami berada di lokasi itu hingga pukul 10:00. Oh iya, di malam tirakatan itu aku juga menulis sebuah surat penting untuk seseorang, mungkin suatu saat akan aku publikasikan seperti Every Single Night.

Kemudian aku bangun jam 11:00 dan mendadak ingat besok, tgl 6 November, adalah hari raya Idhul Adha atau Hari Raya Kurban. Mungkin karena masih dalam suasana romantis, tiba-tiba aku mencoba menelpon Mas Asih, putera mbah Maridjan yang sekarang menjadi juru kunci Merapi, bersama warga Kinahredjo dia masih tinggal di Shelter (hunian sementara) Ploso Kerep.

“Besok kambingnya sudah cukup, pak?” Tanyaku.

“Baru ada lima, tidak cukup untuk Shelter, kalau ada tambahan bagus, mas” Jawab Mas Asih lirih.

“Ok. Aku bawa satu besok” Timpalku tanpa berpikir panjang.

Masih teringat bahwa setahun yang lalu ton-tonan daging Kurban terkirim ke lereng Merapi untuk para pengungsi hingga bingung mengolahnya dan saat ini mereka kekurangan. Membantu memang trend!

Kemudian aku menelpon @ganisrumpoko; teman yang selalu bersamaku saat ini, mengajaknya untuk berbagi dan mengerjakannya bersama. Teknisnya dibantu mas @putraptot untuk mencari kambing terbaik dan mengangkutnya ke Shelter Ploso Kerep di lereng Merapi. Paginya, kami berangkat pukul 08:00, kambing yang kami beri nama Mohamad Didier Drogba itu kami angkut dengan mobilnya @TalkinAndy yang setahun yang lalu aku bawa untuk mengevakuasi  ratusan warga dan puluhan mayat.

Di tengah jalan kami berhenti untuk memotret spanduk ini;

Kurban Bukti Cinta. Lebay tapi memang benar adanya.

Sampai di Shelter Ploso Kerep, warga Kinahredjo bergembira menyambut kedatangan kami. Karena sejarah yang mengharu-biru sejak erupsi 2006, mereka selalu spesial buatku. Tapi mendadak @ganisrumpoko merasa tidak rela Mohamad Didier Drogba disembelih karena dia sangat ganteng. Dasar jomblo konyol! Tentu saja akhirnya tetap disembelih.

Tibalah moment yang paling special, ketika kami menunggu waktu pembagian daging kurban, sungguh aku sangat bersyukur dikaruniai kesempatan bermain gamelan #GugurGunung bareng anak-anak Kinah Redjo. Gamelan itu adalah hasil sumbangan sebuah konser amal musisi-musisi Jogja bernama #GugurGunung yang aku terlibat menginisiasi bersama @ErixSoekamti dkk.

#GugurGunung; hashtag twitter yang abadi karena terukir di seperangkat gamelan

Sebuah kebahagiaan yang sempurna. Setahun yang lalu aku ikut mengevakuasi anak-anak ini dari erupsi Merapi, tidak akan pernah membayangkan bahwa kemudian kami bisa punya kesempatan bermain gamelan bersama saat ini.

Tentang Kurban, #GugurGunung, dan segala apa yang telah aku lakukan bersama teman-teman di lereng Merapi, bukanlah tentang pahala dan surga. Ini adalah ekspresi kemanusiaan yang jujur, sebagai manusia aku sangat menikmati berbagi bersama mereka.

Terima kasih sudah berbagi bersamaku. Semoga cerita ini bermanfaat

@killthedj

Suasana shooting Block Party Jogja Hip Hop Foundation oleh Intel Inside, dulu sering dinamakan Angkringan Hip Hop. Foto by @inudnud

Dibalik dunia yang semakin global, yang menggiring manusia pada selera yang cenderung seragam, sesungguhnya setiap orang mempunyai peluang masing-masing terhadap berbagai hal dalam hidupnya yang menjadikan dirinya unik, khas, otentik. Kesadaran akan potensi itulah yang paling penting, karena di sanalah peluang yang tersisa.

Namun kabanyakan orang tidak cukup sadar akan potensi itu. Sejak jaman nabi-nabi pun, ‘bagus’ saja tidak cukup, kita dituntut untuk mampu mengkomunikasikan dan membuktikan bahwa kita layak disebut ‘bagus’.

Selain kesenangan dan cinta yang menuntun kita pada ketekunan dan konsistensi untuk menghasilkan karya-karya terbaik yang paling mungkin kita bisa hasilkan, kesadaran akan apa yang kita kerjakan lah yang akan membuat kita mempunyai nilai lebih. Karena kesadaran akan memaksa kita untuk mencari alasan, yang akan membuat kita mampu menyampaikan nilai, komitmen, dan statement yang kita anut atau miliki.

Seorang seniman tanpa statement hanyalah orang trampil yang tidak mempunyai tanggung jawab artistik. Setelah itu, karya akan berbicara dengan sendirinya, karya adalah representasi diri kita, karya adalah proposal terbaik.

Namun ada variable lain, yaitu pilihan, seperti apa kita ingin menjadi dan seperti apa kita ingin dikenang. Ini bukan hanya seberapa besar uang yang bisa kita hasilkan dan seberapa terkenal kita, ‘sukses’ sesungguhnya sangat personal dan otentik, kita sendiri yang menentukan dan merumuskannya.

Ijinkan saya bercerita;

Sebelum pergi ke New York, bersama Jogja Hip Hop Foundation, saya mendapatkan tawaran iklan dua kali menggunakan lagu Jogja Istimewa. Namun tawaran itu kami tolak, alasannya lagu itu dibuat khusus untuk kami dedikasikan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta, meskipun kami yang menulis lagunya, domainnya milik Yogyakarta. Tawaran semacam itu secara moral tidak bisa kami terima, kecuali menggunakan lagu baru khusus untuk iklan tersebut. Kami bukan anti iklan dan anti duit, bahkan manggung di kampanye Pilkada pun bisa kami lakukan. Sebulan setelah pulang dari New York, saya mendapat tawaran dari Intel Inside Corp untuk membuat feature yang bercerita tentang kehidupan saya sebagai seniman. Akhirnya saya melibatkan seluruh teman-teman Jogja Hip Hop Foundation dan menerima tawaran prestisius namun sopan ini.

Dari cerita ini, saya ingin menyampaikan sebuah kalimat yang sudah sering saya sampaikan; “setiap pilihan punya peluang dan resikonya masing-masing”.

Sebagai penutup, kembali saya mengutip judul buku Paul Arden; “It’s not how good you are, It’s how good you want to be”.

Salam

Kill the DJ

Ijinkan saya upload sebuah surat yang saya kirimkan ke teman-teman Maluku Hip Hop Community, yang ternyata kemudian dimuat di cover album Beta Maluku yang dilaunching bulan Mei 2011 kemarin. Berikut isi suratnya;

18 November 2010

Dear Maluku Hip Hop Community,

Nilai-nilai hip hop tidak penting lagi untuk dibicarakan, tapi apa yang bisa kita perbuat dengan hip hop untuk lingkungan sosial dan kebudayaan kita. Teruslah bekerja, lupakan negara, kita mulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita.

Yang muda, yang rukun, yang membangun, dan kelak memetik hasilnya…

Maximum Respect!

Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ

JHF Crew Hit Time Square NYC

Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York.

Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011.

Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif ini kepada publik di New York, mengingat JHF menggunakan lirik dan musik hip hop yang berpijak pada akar tradisi Jawa.

Namun dengan komitmen yang tinggi dari Asia Society, sebuah institusi prestisius pertukaran seni dan budaya antara Asia – USA, akhirnya berhasil menghadirkan JHF di New York, sebuah group hip hop Indonesia pertama yang konser secara ekslusif di kota kelahiran musik hip hop.

New York bukanlah kota yang mudah untuk ditaklukkan. Namun New York juga kota yang sangat multikultur, dimana orang dari seluruh dunia ada di sana, dengan demikian New York bisa menerima dan menghargai perbedaan.

Rachel Cooper, sebagai direktur program seni pertunjukkan Asia Society, mengkonfirmasikan kepada saya seusai pentas;

“Awalnya saya sempat khawatir dengan publik Amerika yang skeptis terhadap program ini, Java Hip Hop? So what? Tapi setelah pertunjukan merasa lega, karena JHF sangat pandai mengikis perbedaan dengan komunikasi yang dibangun diatas panggung”.

Mendengar hal itu, saya kemudian melihat diri kami sendiri. Bagi kami, JHF adalah realitas, bukan sekedar produk yang diciptakan, kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami selalu percaya, bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukkan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa.

Seluruh penonton di auditorium itu menangkap energi yang kami berikan, hingga meninggalkan kursi dan berdiri untuk bergoyang mengikuti hentakan musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa. Seni selalu bisa menjebatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri.

Seperti halnya seniman tradisional yang agraris, kepada musik, kepada panggung, kami selalu percaya. Bukan kepada yang lain.

Seminggu di New York, adalah bingkai waktu yang spesial bagi kami, ini adalah kota dimana rap musik dan kultur hip hop lahir. Orang menyebutnya perjalanan ke New York adalah naik haji ala hip hop.

Seluruh crew JHF sangat senang bisa menghadiri block party di distrik Bronx, dimana rap musik lahir di sana, berfoto bersama legenda, dan menikmati attitude yang kasar khas distrik tersebut.

Selain itu kami juga menyempatkan diri membuat klip dengan mengambil lokasi di Time Square NYC, bernyanyi di tengah kerumunan dan mengundang perhatian publik. Kami benar-benar menguasai ruang publik itu. Sebuah komentar twitter saya pinjam untuk menggambarkan situasi ini;

“a Java Hip Hop Crew with Batik shirt, oversized pant, with no lots of jet leg, hit Time Square NYC”.

Pada dua hari terakhir, teman-teman berbelanja seperti orang gila. Membeli aneka cindera mata untuk orang-orang tersayang. Seolah tidak ada hari esok, seolah kami tidak akan bisa kembali lagi ke New York.

Namun oleh-oleh yang paling menggembirakan adalah proposal dari Center Stage US, sebuah program yang menawarkan proposal tour 10 kota untuk JHF tahun 2012.

Sepulang dari New York, kami merencanakan sebuah konser di tengah kampung dengan sound system seadanya, dari sana kami berasal.

Kill the DJ

repost from; http://www.hiphopdiningrat.com/2011/05/mantra-mantra-jawa-di-new-york-sebuah-catatan-perjalanan/

Hasil foto saya sebagai oleh-oleh dari Sydney

Logic takes you A to B. Imagination takes you everywhere (Albert Einstein)

Sungguh bahagia berada di tengah-tengah Jogja Hip Hop Foundation dengan energi kreasi yang luar biasa. Tanpa tendensi kesenimanan yang ndakik-ndakik, bertele-tele, atau kontemporer. Semuanya biasa saja, berjalan dengan menyenangkan, karena apa yang ingin kita kerjakan dilandasi dengan nilai kejujuran yang sungguh susah ditawar. Terkenal, atau jalan-jalan ke luar negeri, bukanlah tujuan, meskipun tentu saja kita senang dengan hal itu, karena berarti apa yang kita kerjakan mendapat apresiasi. Yang paling penting dari semuanya adalah kejujuran dalam berekspresi dan menikmatinya dengan hasrat.

Saya bukanlah orang yang begitu tertarik dengan dunia marketing dan promosi secara umum, karena saya sangat mengerti, bahwa setiap pilihan mempunyai resiko dan jalannya sendiri, dalam hal ini tentang Java hip hop yang sudah mendarah daging dan kami geluti lebih dari 8 tahun secara bersama-sama. Pada akhrinya waktu akan selalu memberikan jawaban kepada kita. Setelah dari Canberra dan Sydney, bersama teman-teman Jogja Hip Hop Foundation, saya akan berangkat ke New York pada tanggal 8 Mei 2011.

It’s not how good you are, but how good you want to be (Paul Arden)

Kill the DJ


MARET YANG SIBUK
Hai teman-teman, apa kabar? Sudah hampir sebulan aku tidak update blog. Bulan Maret 2011 adalah bulan yang super sibuk, lebih dari 10 kali show bersama Jogja Hip Hop Foundation, 2 kali talkshow, latihan dan pementasan drama musikal Laskar Dagelan, juga aplikasi visa untuk tour Hiphopdiningrat di Canberra Australia (April 2011) dan New York USA (Mei 2011).

INFLIGHT BLOGGING
Susah meluangkan waktu untuk menulis blog di tengah jadwal padat seperti diatas. Padahal banyak hal yang menarik yang bisa dibagi untuk teman-teman semua. Saat aku menulis tulisan ini, aku sedang berada di atas pesawat, mengisi waktu hingga mendarat.

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) baru saja selesai melakukan screening tour di Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Sambutannya sangat meriah. Merchandise dan album OST Hiphopdiningrat habis terjual dalam waktu dua minggu. Sekarang sedang cetak ulang dan begitu selesai penjualan online via http://www.hiphopdiningrat.com sudah bisa dilayani.

Saat ini aku sedang terbang menuju Canberra, Australia, juga untuk screening tour Hiphopdiningrat atas undangan National Film & Sound Archive (NFSA) dan Australian National University (ANU). Selain screening, juga akan ada show bersama rapper Australia, yang juga dikenal sebagai pujangga; Omar Musa.

Hiphopdiningrat sendiri rencananya akan kami edit ulang di bulan Juni, untuk memasukkan data dari 2010 s/d 2011, dimana disana ada dua peristiwa penting; Jogja Istimewa dan tour JHF ke USA. Setelah itu baru kami akan release ulang dan diproduksi untuk konsumsi publik.

Jadi mohon untuk bersabar. Beruntunglah kalian yang pernah menonton Hiphopdiningrat sebelumnya.

LASKAR DAGELAN
Sebuah pengalaman yang menarik untuk teman-teman di JHF karena bisa bermain bersama aktor-aktor dan penari-penari tradisional. Buat aku sendiri, bukanlah pengalaman yang baru, karena dari kecil aku sudah latihan theater. Tapi aku selalu berpikir tentang medium apa yg bisa semakin membuka wawasan teman-teman JHF untuk proyek-proyek kreatif kedepanSebuah cerita seru ketika 7 crew dari JHF mendaftar aplikasi visa USA. Konon aplikasi ke USA sungguh sangat ribet dan ketat. Tapi kami bukanlah selebritis TV Indonesia yang diundang untuk show oleh Masyarakat Indonesia di Amerika. Kami diundang oleh Asia Society, sebuah institusi yang salah satu visinya adalah pertukaran seni dan kebudayaan Asia-Amerika. Jadi seluruh crew sudah dapet petisi dari departemen imigrasi Amerika.

Issue yang dibawakan Laskar Dagelan adalah Keistimewaan Jogja yang dibalut secara jenaka (dagelan mataram), namun tetap mempunyai bobot, layaknya kesenian tradisional ketoprak dan ludruk yang sejatinya penuh kritik. Tugas JHF adalah membalutnya dengan gaya Java Hip Hop dibantu para penari-penari yang tubuhnya lihai mengawinkan gaya urban dan tradisi Jawa.

Pementasan Laskar Dagelan sendiri sungguh di luar dugaan, tiket sold out dan bahkan harus membuat show tambahan. Ratusan pengunjung bahkan rela menonton live screening diluar gedung Graha Bhakti Budaya -Taman Ismail Marzuki. Rencananya, Laskar Dagelan akan dipentaskan ulang pada pertengahan Juni di Yogyakarta.

VISA USA
Setelah aplikasi online, kemudian kami melakukan janjian interview, kami tidur di sebuah hotel di Jakarta, bangun jam5 pagi, pada jam6:30 sudah berada di US Embassy Jakarta.

Setelah antre sekitar 1 jam, kami masuk ke ruang interview. Di sana kami discan sidik jari dan retina. Kemudian kami menunggu giliran inteview secara kelompok.

Kami dipanggil dan aku sebagai pimpinan kelompok maju berada di urutan paling depan. Mbaknya yang interview kulit hitam dan cantik, namanya Clara (kalau tidak salah)

Clara: How are you?
Aku: Fine, and you?
Clara: I’m fine. Hi, I heard you a rapper that will perform at NY?
Aku: Yes I am
Clara: So I want to hear you rap

Kemudian saya ngerap memperkenalkan diri saya dalam bahasa Jawa.

Clara: Ok. You got your visa to US! Congratulation! Next!

Kemudian satu persatu dari kami diinterview, dengan cara yang hampir sama. Sayang, ada satu dari kami yang masih belum disetujui dan harus crosscheck data-datanya, namanya Lukman Hakim a.k.a Radjapati. Dia memang selalu bermasalah dengan namanya ketika passportnya discan. Waktu JHF manggung di Esplanade-Singapore, dia juga bermasalah. Dia bisa masuk setelah aku menelpon direktur Esplanade untuk klarifikasi. Usut punya usut, ternyata nama Lukman Hakim sama dengan seorang terorist yang sedang dicari di kawasan Asia Tenggara.

Kasihan dia, tapi tentu saja aku akan berjuang mendapatkannya.

Well, sementara sampa di sini dulu, pesawat sebentar lagi mendarat di Sydney. Semoga teman-teman senang membacanya.

Salam
Kill the DJ

Pagi ini, 14 Februari 2011, tepat di hari Valentine dan pengumuman Grammy Award, saya dikejutkan oleh seorang pegawai Kraton yang datang ke rumah dan mengantarkan surat penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Jogja Hip Hop Foundation atas penciptaan dan dipopulerkannya lagu Jogja Istimewa. Mewakili teman-teman Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanam, Rotra), saya menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada Kraton Yogyakarta Hadiningrat atas apresiasi ini.

Penghargaan ini juga keunikan tersendiri bagi Kraton, dibalik kesan tradisional, mereka memberikan ruang apresiasi dan ekspresi untuk jenis musik hip-hop yang kami usung. Sesungguhnya, tradisi justru akan terus menemukan ruang eksistensinya ketika mampu bersinggungan dengan kekinian.

Menjadi sesuatu hal yang luar biasa ketika kami berada di atas panggung, dimana Raja dan Rakyat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bersama menyanyikan lagu Jogja Istimewa. Kami haru dan bangga, bahwa lagu ini bisa menjadi lagu rakyat Yogyakarta dan telah dinyanyikan di berbagai acara besar dan bersejarah bagi rakyat Yogyakarta.

Semoga tujuan lagu Jogja Istimewa selamanya abadi, yaitu sebagai penyemangat sekaligus pengingat akan nilai-nilai kerakyatan.

 

Tembusan Surat:
1. Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubhuwono X
2. KGPH Hadiwinoto, Penghageng KHP Parasrayabudya Karaton
3. GBPH H Prabukusumo SPsy, Penghageng KHP Nityabudaya Karaton
4. Drs GBPH H Yudaningrat MM, Penghageng KHP Parwabudaya Karaton

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers