Akhirnya video Intel Visibly Smart yang bercerita tentang Jogja Hip Hop Foundation (JHF) secara singkat ini diluncurkan juga. Kami sangat berbangga atas kerjasama mutualis dengan Intel Inside ini, dimana telah menempatkan kami tetap sebagai diri kami sendiri dengan segala kemandirian dan idealisme yang kami percaya dan telah kami bangun selama ini. Sebuah apresiasi atas dedikasi yang membanggakan.
Semoga video ini bisa bermanfaat bagi yang melihatnya.
Saya, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ, Founder Jogja Hip Hop Foundation (JHF), dengan segala kerendahan hati me-release sebuah single berjudul ‘Nagera dalam Keadaan Bahaya’. Secara singkat, lagu ini adalah semacam surat saya sebagai rakyat Indonesia untuk para penyelenggara negara agar benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyatnya. Terus terang saya lelah, dan kehilangan selera ngoceh perihal berbagai wacana dan isu besar melalui social media. Melalui lagu ini, saya kembali mengambil peran saya sebagai seniman, yaitu berbicara dengan karya.
Tema single ini meneruskan single-single sosial politik saya sebelumnya; ‘Cicak Nguntal Boyo’ dan ‘Busung Lapar di Lumbung Padi’, yang memang sengaja diciptakan untuk mendukung sebuah gerakan. Seperti juga saya menulis lirik ‘Jogja Istimewa’ yang kemudian menjadi soundtrack bagi berbagai gerakan rakyat Yogyakarta.
Dari sisi musikalitas, ini adalah proyek solo yang saya gunakan untuk sejenak beristirahat dan mengambil jarak dari berbagai proyek JHF yang selalu mengulik literatur Jawa dan musik hip hop bernuansa tradisional Jawa. Saya butuh sesuatu yang segar untuk bisa kembali suntuk dengan bahasa dan tradisi Jawa. Saya memilih energy old school hip hop yang didominasi suara real drum, string, dan piano dengan menghindari nada-nada pentatonis. Saya juga memilih refrain, bukan hook hip hop seperti biasanya.
Artinya, ijinkan saya sedikit menyanyi, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak mempunyai suara bagus untuk menyanyi. Semua liriknya juga berbahasa Indonesia, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya juga memilih menyusun kalimat yang sangat verbal, karena tanda-tanda dan symbol sudah sedemikian membosankan dalam tema sosial-politik.
Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa lagu untuk sebuah album solo dengan gaya dan tema seperti tersebut diatas, yang semula saya rencanakan untuk di-release akhir tahun 2011 ini, sebelum kembali sibuk dengan jadwal padat untuk berbagai proyek dan tour di luar negeri bersama JHF tahun depan. Tapi dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, saya merasa mendesak untuk segera merilis single ‘Negara dalam Keadaan Bahaya’ terlebih dahulu. Ini sudah menjadi resiko dari cara saya berkarya, karena hampir semua inspirasi diambil dari situasi sosial di lingkungan sekitar saya.
Semoga lagu yang saya ciptakan berguna.
Salam
Kill the DJ
LIRIK
NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA
Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu
HOOK: Negara dalam keadaan bahaya Penguasa lupa amanat rakyatnya Menutup mata derita bangsanya Pertiwi manangis merintih dan berdoa
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena penguasa dan mafia bekerjasama
Demokrasi digadaikan dan tersandra
Di mimbar mengumbar janji
Janji bohong dan bohong lagi
Rakyat sudah lelah memaklumi
Mau dibawa kemana negeri ini?
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Politisi tan moral dan etika, pamer kebusukan di media, rakyat hanya bisa mengelus dada
Wakil miring di gedung rakyat
Bersatu padu dalam kongsi jahat
Musyawarah mufakat untuk menipu rakyat
Lupa siapa yang memberi amanat
HOOK:
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan Bahaya
Karena penguasa lupa dasar negara
Di balik jubah agama menipu tuhan pun bisa
Minoritas beribadah dalam ancaman
Negara gagal memberi rasa aman
Bhineka Tunggal Ika mati di Jalanan
Inilah orde pembangunan jalan menuju kehancuran
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena tanah kaya bukan lagi milik rakyatnya
Mereka tersingkir dari tanah leluhurnya
Warga mendesak perubahan di Jakarta
Tapi di daerah ada yang ingin merdeka
NKRI adalah omong kosong belaka
Tanpa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
HOOK
Lagu ini adalah surat dari rakyat
Kepada para pemegang amanat
Cinta rakyat pada negeri ini tanpa syarat
Hingga badan dikandung hayat
Lihatlah rakyat terus bekerja
Susah payah terus memupuk asa
Bercerminlah di kalbu mereka
Maka akan kau pahami apa itu Indonesia
HOOK
Anak negeri yang mati di lumbung padi
Mengirim kabar pada pertiwi
Negara gagal melindungi kami
Masyarakat adil makmur hanya mimpi
SEJARAH KATA-KATA
Seperti dalam lagu Busung Lapar di Lumbung Padi, dalam lagu kali ini pun saya juga meminjam beberapa kalimat dari timeline twitter atau dari sumber lain yang pernah dipublikasikan oleh seseorang. Dan atas nama etika, saya selalu menyampaikan bahwa saya menggunakan kata-kata tersebut kepada yang bersangkutan.
Judul “Negara dalam Keadaan Bahaya” juga pernah digunakan oleh Melancholic Bitch ( @simelbi ) sebelumnya. Tapi masih berupa draft/demo. Saya pernah bertukar pikiran denga Ugoran Prasad ( vokalis @simelbi ) tentang hal ini sebelum Ugo akanmenulis lagu itu dan ketika saya menulis lagu versi saya. Sebenarnya reffrainnya saya meminta dia untuk mengisi, tapi karena mis-koordinasi, dia keburu pergi ke Amsterdam. Dalam hal lirik, dalam tema sosial-politik saya selalu memilih kalimat verbal dan frontal, bahkan hingga berusaha untuk menghindari istilah-istilah intelek, dengan tujuan agar bisa dipahami oleh orang awam sekali pun. Dalam hal ini Ugo memberikan dukungan sepenuhnya berkaitan dengan urgensi komunikasi.
Kalimat ini dari twit @lantip “Jangan bertanya apa yang negara berikan padamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu” pas seorang TKI dipancung di Arab Saudi
Kalimat ini dari @roysayur “Wakil miring di gedung rakyat” pas ramai-ramainya kasus Bank Century.
“Kongsi Jahat” itu nama semacam organizer underground dari kota Yogyakarta ( @dasojie@masgufi )
“Lihatlah rakyat terus bekerja, tiada kata putus asa, cintanya pada negeri tanpa syarat” itu dari tulisan @aniesbaswedan di harian Kompas (25 Juli 2011) berjudul ‘Peringatan Untuk Pemimpin’.
Suasana shooting Block Party Jogja Hip Hop Foundation oleh Intel Inside, dulu sering dinamakan Angkringan Hip Hop. Foto by @inudnud
Dibalik dunia yang semakin global, yang menggiring manusia pada selera yang cenderung seragam, sesungguhnya setiap orang mempunyai peluang masing-masing terhadap berbagai hal dalam hidupnya yang menjadikan dirinya unik, khas, otentik. Kesadaran akan potensi itulah yang paling penting, karena di sanalah peluang yang tersisa.
Namun kabanyakan orang tidak cukup sadar akan potensi itu. Sejak jaman nabi-nabi pun, ‘bagus’ saja tidak cukup, kita dituntut untuk mampu mengkomunikasikan dan membuktikan bahwa kita layak disebut ‘bagus’.
Selain kesenangan dan cinta yang menuntun kita pada ketekunan dan konsistensi untuk menghasilkan karya-karya terbaik yang paling mungkin kita bisa hasilkan, kesadaran akan apa yang kita kerjakan lah yang akan membuat kita mempunyai nilai lebih. Karena kesadaran akan memaksa kita untuk mencari alasan, yang akan membuat kita mampu menyampaikan nilai, komitmen, dan statement yang kita anut atau miliki.
Seorang seniman tanpa statement hanyalah orang trampil yang tidak mempunyai tanggung jawab artistik. Setelah itu, karya akan berbicara dengan sendirinya, karya adalah representasi diri kita, karya adalah proposal terbaik.
Namun ada variable lain, yaitu pilihan, seperti apa kita ingin menjadi dan seperti apa kita ingin dikenang. Ini bukan hanya seberapa besar uang yang bisa kita hasilkan dan seberapa terkenal kita, ‘sukses’ sesungguhnya sangat personal dan otentik, kita sendiri yang menentukan dan merumuskannya.
Ijinkan saya bercerita;
Sebelum pergi ke New York, bersama Jogja Hip Hop Foundation, saya mendapatkan tawaran iklan dua kali menggunakan lagu Jogja Istimewa. Namun tawaran itu kami tolak, alasannya lagu itu dibuat khusus untuk kami dedikasikan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta, meskipun kami yang menulis lagunya, domainnya milik Yogyakarta. Tawaran semacam itu secara moral tidak bisa kami terima, kecuali menggunakan lagu baru khusus untuk iklan tersebut. Kami bukan anti iklan dan anti duit, bahkan manggung di kampanye Pilkada pun bisa kami lakukan. Sebulan setelah pulang dari New York, saya mendapat tawaran dari Intel Inside Corp untuk membuat feature yang bercerita tentang kehidupan saya sebagai seniman. Akhirnya saya melibatkan seluruh teman-teman Jogja Hip Hop Foundation dan menerima tawaran prestisius namun sopan ini.
Dari cerita ini, saya ingin menyampaikan sebuah kalimat yang sudah sering saya sampaikan; “setiap pilihan punya peluang dan resikonya masing-masing”.
Sebagai penutup, kembali saya mengutip judul buku Paul Arden; “It’s not how good you are, It’s how good you want to be”.
Jula-Juli Lolipop ditulis oleh Sindhunata SJ, aransemen oleh Rotra, Klip sederhana ini dibuat di New York, Mei 2011. Terima kasih untuk bantuan teman-teman di New York; Ugoran Prasad, Mohamad Riza, Boy Avianto, juga untuk X-CODE film atas editingnya.
Ijinkan saya upload sebuah surat yang saya kirimkan ke teman-teman Maluku Hip Hop Community, yang ternyata kemudian dimuat di cover album Beta Maluku yang dilaunching bulan Mei 2011 kemarin. Berikut isi suratnya;
18 November 2010
Dear Maluku Hip Hop Community,
Nilai-nilai hip hop tidak penting lagi untuk dibicarakan, tapi apa yang bisa kita perbuat dengan hip hop untuk lingkungan sosial dan kebudayaan kita. Teruslah bekerja, lupakan negara, kita mulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita.
Yang muda, yang rukun, yang membangun, dan kelak memetik hasilnya…
Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York.
Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011.
Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif ini kepada publik di New York, mengingat JHF menggunakan lirik dan musik hip hop yang berpijak pada akar tradisi Jawa.
Namun dengan komitmen yang tinggi dari Asia Society, sebuah institusi prestisius pertukaran seni dan budaya antara Asia – USA, akhirnya berhasil menghadirkan JHF di New York, sebuah group hip hop Indonesia pertama yang konser secara ekslusif di kota kelahiran musik hip hop.
New York bukanlah kota yang mudah untuk ditaklukkan. Namun New York juga kota yang sangat multikultur, dimana orang dari seluruh dunia ada di sana, dengan demikian New York bisa menerima dan menghargai perbedaan.
Rachel Cooper, sebagai direktur program seni pertunjukkan Asia Society, mengkonfirmasikan kepada saya seusai pentas;
“Awalnya saya sempat khawatir dengan publik Amerika yang skeptis terhadap program ini, Java Hip Hop? So what? Tapi setelah pertunjukan merasa lega, karena JHF sangat pandai mengikis perbedaan dengan komunikasi yang dibangun diatas panggung”.
Mendengar hal itu, saya kemudian melihat diri kami sendiri. Bagi kami, JHF adalah realitas, bukan sekedar produk yang diciptakan, kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami selalu percaya, bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukkan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa.
Seluruh penonton di auditorium itu menangkap energi yang kami berikan, hingga meninggalkan kursi dan berdiri untuk bergoyang mengikuti hentakan musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa. Seni selalu bisa menjebatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri.
Seperti halnya seniman tradisional yang agraris, kepada musik, kepada panggung, kami selalu percaya. Bukan kepada yang lain.
Seminggu di New York, adalah bingkai waktu yang spesial bagi kami, ini adalah kota dimana rap musik dan kultur hip hop lahir. Orang menyebutnya perjalanan ke New York adalah naik haji ala hip hop.
Seluruh crew JHF sangat senang bisa menghadiri block party di distrik Bronx, dimana rap musik lahir di sana, berfoto bersama legenda, dan menikmati attitude yang kasar khas distrik tersebut.
Selain itu kami juga menyempatkan diri membuat klip dengan mengambil lokasi di Time Square NYC, bernyanyi di tengah kerumunan dan mengundang perhatian publik. Kami benar-benar menguasai ruang publik itu. Sebuah komentar twitter saya pinjam untuk menggambarkan situasi ini;
“a Java Hip Hop Crew with Batik shirt, oversized pant, with no lots of jet leg, hit Time Square NYC”.
Pada dua hari terakhir, teman-teman berbelanja seperti orang gila. Membeli aneka cindera mata untuk orang-orang tersayang. Seolah tidak ada hari esok, seolah kami tidak akan bisa kembali lagi ke New York.
Namun oleh-oleh yang paling menggembirakan adalah proposal dari Center Stage US, sebuah program yang menawarkan proposal tour 10 kota untuk JHF tahun 2012.
Sepulang dari New York, kami merencanakan sebuah konser di tengah kampung dengan sound system seadanya, dari sana kami berasal.