Yang tak Terlupakan

5 November 2010, 02:00 dini hari, erupsi besar gunung Merapi mengguncang Jogja dan sekitarnya, ratusan ribu penduduk yang tinggal di sekitar lereng Merapi seketika berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang relatif aman. Tapi malam itu aku memutuskan menantang bahaya dengan naik mengendarai mobil pick up, melawan arus pengungsi, menuju ke lereng Merapi untuk membantu evakuasi. Aku tidak tega membayangkan nasib saudara-sudara kita yang terjebak di desa-desa terpencil di lereng Merapi itu. Sekitar pukul 04:00 aku bertemu dengan Kebo, sapaan akrab Yoga Cahyadi alias Bobby Yoga, di depan kecamatan Pakem yang berubah menjadi kota mati. Kita menunggu fajar di sana untuk kembali menyisir kampung-kampung yang dilanda bencana.

Sekitar puku 05:00, Matahari belum terlihat tapi langit sudah semburat, kami menuju ke kali Gendol yang dari kejauhan nampak seperti garis bara api karena menjadi jalur utama muntahan material panas Merapi. Kami merangsek hingga kira-kira 100 meter dari kali itu. Bau belerang dan segala benda terbakar begitu menyengat. Bersama teman-teman SAR yang lain, kami menyisir rumah-rumah di sekitar bantaran sungai itu, desa Argomulyo tepatnya. Puluhan mayat kami angkat ke dalam mobil yang aku kendarai. Ketika sirine bahaya berbunyi dari radio yang kubawa, Kebo memintaku untuk tetap bertahan dan hanya bersiap di mobil, sementara yang lain mundur ke tempat yang lebih aman. “Tenang. Itu hanya angin lalu” katanya waktu itu.

Itu kenapa dia disapa Kebo (Kerbau, Jawa), disamping badannya relatif gemuk, dia laksana banteng yang ketika mengambil keputusan, tidak akan mundur sejengkal pun. Teman-temannya di Mapala Setrajana dan SAR tahu persis akan karakter ‘ngebo’ ini.

Puluhan mayat-mayat itu (saya tidak tahu persis jumlahnya) kami bawa ke RS Sardjito, kami bolak-balik naik-turun beberapa kali. Aktivitas berhenti karena aku harus berangkat ke Jakarta melalui perjalanan darat untuk taping di Metro TV hari berikutnya, waktu itu air port Yogyakarta ditutup oprasinya.

Setiap tahun di hari dan tanggal yang sama, Kebo selalu mengajakku untuk kembali ke bantaran kali Gendol untuk memperingati peristiwa itu. Kami nge-beer sambil ngobrol ngalor-ngidul mengenang akan hal-hal …

Cerita lengkap tentang peristiwa ini saya susun dalam tulisan; My Evacuation Timeline. Dan sekarang nama Kebo yang mempunyai akun twitter @effort_creative tercetak warna merah.

Masa Indah

Aku mengenal Kebo di Fisipol UGM tahun 1996, meskipun aku tidak pernah kuliah dan menjadi mahasiswa, aku selalu nongkrong di sana. Waktu itu, sebelum Soeharto lengser, Fisipol UGM adalah habitat yang penuh semangat dan pergesekan gagasan yang kuat lagi hangat. Bukan saja gerilya politik melawan orde baru, tapi juga dipenuhi oleh enerji-enerji kreatif yang luar biasa.

Kami mendirikan Forum Musik Fisipol (FMF) dan Kebo adalah salah satu inisiatornya, menjadi basis lahirnya legenda electronic music movement, Parkinsound (1998 – 2004). Bahkan pesta hip hop yang menggunakan nama Jogja Hip Hop Foundation (JHF) aku selenggarakn pertama kali di sana. Banyak band-band hebat yang lahir di sana, salah satu yang masih aktif hingga kini adalah Melancholic Bitch. Jangan lupa, teater Garasi yang moncer itu juga lahir dalam lingkungan ini. Juga ada Kunci Cultural Studies yang sangat penting untuk diakses wacananya hingga kini. Aku tidak bisa menyebutkan semua hal hebat yang lahir di Fisipol UGM di era itu, tapi tentu perlu menyebutkan Performance Fucktory, sebuah wadah di mana Jompet, Ugo, Yosi, Wulu, dan aku bergesekan melahirkan beberapa karya performance dan musik.

Tentu saja juga melahirkan cerita-cerita khas anak muda di jaman itu; ganja, alkohol, berantem dan kisah cinta.

Aku memang selalu mengkritik berbagai pemikiran dan keputusan Kebo sejak kita masih membangun FMF, bahkan Kebo dan beberapa teman pernah melabrak rumahku ketika berselisih pendapat tentang penyelenggaraan Parkinsound 4 (terakhir). Waktu itu aku memutuskan untuk menerapkan logika bisnis dengan tetap mengandalkan basis komunitas dalam penyelenggaraan setelah rugi hampir seratus juta di Parkinsound 3 (2001). Tapi rupanya itu tidak bisa diterima khalayak, aku menjadi musuh nomer satu di FMF waktu keputusan itu kuambil.

Hanya waktu yang bisa memberikan pelajaran dan jawaban akan hal-hal…

Ketika generasi Kebo banyak yang sudah lulus dan menjadi alumni, aku juga tidak setuju keterlibatan para alumni secara langsung di FMF. Alasanku, setiap generasi mempunyai gaya dan ekspresi khasnya sendiri sabagi penanda jaman. Itu kenapa aku kemudian memutuskan untuk tidak mau ikut campur FMF selama alumni masih terlibat secara langsung.

Quot dari kata-kata Kebo yang paling terkenal dan selalu terngiang di kepala teman-teman pun aku kritik; “piye carane kudu isa” (bagaimana caranya harus bisa), karena seharusnya “kudu isa piye carane” (harus bisa bagaimana caranya), dengan demikian kita masih bisa membuka diri untuk terus berkembang, belajar, dan menjadi murid seumur hidup.

Hingga kemudian dia mendirikan EO bernama Effort Creative, aku selalu merasa tidak sreg dan mengkritik cara, pemikiran, dan keputusan Kebo ketika menjadi promotor. Karena itu logika bisnis yang sunggung berbeda. EO hanya jasa penyelenggaraan event dan seharusnya tidak bisa rugi, sementara promotor adalah investasi. Hingga kemudian aku memutuskan untuk tidak mempunyai relasi bisnis dengannya agar pertemanan kita tidak hancur.

Ini semua hanya soal waktu …

Jebakan Gerakan Kebudayaan

Sebagai sebuah perusahaan event organizer, Effort Creative sebenarnya cukup menguntungkan, tapi Kebo selalu mempunyai semangat yang besar untuk menjadi promotor untuk memajukan musik independen di Yogyakarta. Generasi kami di Yogyakarta memang banyak terjebak dengan gagasan ‘gerakan kebudayaan’ dari pada sekedar event, termasuk Kebo. Berbagai acara untuk itu diciptakan, seperti; Youthfest, The Parade, Lockstock dll. Semua keuntungan sebagai EO bisa jadi dia curahkan sebagai promotor untuk membangun acara-acara itu yang kebanyakan sepi sponsor.

Dari semua acara-acara itu, Lockstock (akronim dari Local Stock) digadang-gadang oleh Kebo sebagai wadah yang mampu mendukung kemajuan skena musik independen di Yogyakarta. Dia bercita-cita menjadi “kaki” untuk teman-teman musisi Independen. Lockstock pertama digelar tahun 2009 dan berakhir dengan kegagalan secara bisnis. Mulai saat itulah Kebo mulai kelabakan gali lubang – tutup lubang. Menggunakan uang event yang akan datang untuk menutup event sebelumnya.

Ada beberapa nama yang diminta Kebo sebagai team penggagas Lockstock; Djaduk Ferianto (Kua Etnika), Aji Wartono (Warta Jazz), Wotowibowo (Yes No Wave), Andy Yulfan (Memet Dubyouth, ex. Manager Shaggydog dan sekarang Endank Soekamti), dan aku sendiri. Segala muatan tema dan band yang dipilih Kebo selalu berkonsultasi dan meminta rekomendasi kepada kami. Tapi secara bisnis orang-orang ini tidak ada keterlibatannya sama sekali.

Pada Lockstock pertama, berbagai rekomendasi kami sampaikan. Diantaranya, bahwa sebuah gerakan kebudayaan harus disepakati secara kolektif, event tidak perlu besar dan berbiaya tinggi tapi cukup menjadi penanda semangat zaman yang akan selalu dikenang. Saya sendiri tidak setuju dengan nama Lockstock yang kurang membumi dan mewakili ciri khas Yogyakarta. Tapi Kebo tetap mendirikan beberapa panggung dan selalu menaruhkan harapan menjadi festival yang besar pada Lockstock. Sudah bisa ditebak, dia akhirnya bangkrut.

Setelah 4 tahun berselang dengan diselingi berbagai event yang lain yang dipromotori oleh Effort Creative, seperti the Parade dan Youthfest, Kebo datang lagi dan menyampaikan niat untuk kembali menggelar Lockstock. Team penggagas ini kembali dikumpulkan sebatas memberikan rekomendasi muatan tema dan band-band yang dipilih. Yang jauh lebih penting, bahwa secara tegas, justru team ini menyarankan Kebo untuk berpikir ulang untuk menunda penyelenggaraan Lockstock 2 karena relatif hanya dipersiapkan selama satu bulan.

Aku sendiri belum pernah mengikuti rapat team penggagas atas prakarsa Kebo. Kebetulan saya selalu berhalangan karena jadwal manggung dan opname untuk oprasi usus buntu. Tapi sebelum itu, Kebo menemuiku secara personal dan menyampaikan niat untuk menggelar Lockstock 2.

“Aku ra iso mandeg, kudu mlaku terus, kudu tangi meneh (aku tidak bisa berhenti, harus terus berjalan, harus bagun lagi)” katanya waktu itu.

Saya tahu secara umum kondisi Effort Creative dan pribadi Kebo saat itu, disamping hutang yang menumpuk kepada beberapa vendor dan rental, Kebo juga ditinggal oleh hampir semua partner dan staffnya. Dia sendirian. Karenanya aku secara tegas menyampaikan tidak bisa mendukung jika Kebo tetap grusa-grusu dan tidak memperhitungkan semua logika bisnisnya.

Kira-kira waktu itu aku katakan kepadanya seperti ini; “Satu, aku tetap tidak suka nama Lockstock. Diganti saja yang lebih membumi. Dua, mempersiapkan acara sebesar cita-citamu terhadap format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan, itu namanya ‘bunuh diri’ secara bisnis”.

Sebulan setelah  pertemuan itu, aku baru sadar seminggu sebelum hari H, bahwa acara Lockstock 2 tetap diselenggarakan. Aku menelpon Kebo untuk meyakinkan hal itu dan berusaha menyarankan untuk membatalkannya.

Tapi itulah Kebo! Dan Lockstock 2 tetap diselenggarakn.

Hari pertama penyelenggaraan aku tidak hadir, aku memilih tinggal di rumahku di desa utara candi Prambanan sambil menikmati suasana perayaan Waisak di Candi Sewu yang relatif lebih nyaman dibandingkan dengan perayaan Waisak di Borobudur yang sudah terkomodifikasi secara banal itu. Tapi hujan besar yang mengguyur hampir seluruh wilayah Yogyakarta malam itu membuatku tak nyaman dan segera bergegas kembali ke rumah, kondisi ini juga membuatku bertanya-tanya bagaimana situasi hari pertama Lockstock 2.

Tak lama sesampainya di rumah, saya mendapatkan beberapa telpon dari teman-teman band luar kota yang komplain dalam hal administrasi dan penyelenggaraan Lockstock 2 yang semrawut. Kebanyakan dari mereka mundur dan membatalkan tampil karena fee belum terbayar. Beberapa menyangka bahwa aku terlibat secara langsung penyelenggaraan event ini dan namaku menjadi dasar mereka mau datang ke Jogja dengan fee yang murah. Mungkin hal ini juga dialami oleh Djaduk Ferianto, Aji Wartono, Wotowibowo, dan Memet.

Ketika membuka twitter, timeline dipenuhi dengan caci-maki atas penyelenggaraan Lockstock 2. Kemudian aku berusaha menelpon beberapa band luar kota untuk memastikan akomodasi dan hospitality mereka baik-baik. Paling tidak mereka bisa kembali ke kota masing-masing dengan nyaman. Aku juga berusaha menelpon beberapa teman yang ada di venue untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan.

“Hancur… Lockstock Hancur… ” Begitulah kira-kira secara umum komentar yang aku dapat dari teman-teman akan event yang diberi tagline ‘the biggest annual music movement’ itu.

Aku selelu berkomunikasi dengan manajerku di Jogja Hip Hop Foundation (JHF), memastikan hingga detik-detik terakhir apakah besok JHF jadi manggung di acara Lockstock 2. Aku menelpon Erick dari band Endank Soekamti yang besok rencananya manggung bersama JHF untuk menutup acara Lockstock 2. Erick menyampaikan ajakan yang sangat simpatik;

“Aku tidak peduli orang mau ngomong apa tentang Lockstock, Ayo kita menyelamatkan nama Jogja, kita harus manggung bareng besok! Mungkin kita akan rugi secara materiil, tapi secara moril kita akan bangga, juga untuk menyapa fans kita yang datang dari luar kota”.

Akhirnya JHF memutuskan membatalkan konser hari kedua setelah tahu dari beberapa teman di venue dini hari itu, bahwa acara hari kedua tidak mungkin lagi diselenggarakan.

Setelah itu, aku berusaha mencari Kebo dan gagal.

IMG_1798

Kabar Getir

26 Mei 2013, dulu kita begitu perkasa mengangkut puluhan mayat-mayat di lereng Merapi, tapi hari ini aku tidak mampu melihat jenazahmu yang ditemukan terberai dilindas kereta api. Tubuhku bergetar hingga aku tak kuasa mengendalikannya. Aku menjauhi meja dimana tubuhmu tergeletak.

Sejak mendengar kabar kamu hilang hingga dini hari dari acara Lockstock 2 yang kamu selenggarakan itu, aku berusaha mencarimu malam itu, Bajingan! Ketika membaca tweet terakhirmu pagi itu, aku disergap kepanikan yang dahsyat, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kabar, yang dalam doa yang jarang aku lakukan itu, aku berharap akan ada berita baik.

Aku sangat menyesal kenapa aku tidak cukup mampu mengendalikanmu untuk menunda acara itu hingga setelah lebaran. Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa, mempersiapkan acara sebesar format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan. Iya, sebulan yang lalu aku mengatakan kepadamu bahwa itu ‘bunuh diri’ secara bisnis. Tapi bukan ‘bunuh diri’ seperti ini, Bo. Asu!

Tapi kamu memang Kebo! Sekali mengambil keputusan pantang mundur. Dengan cula nyali yang besar kamu selalu menyeruduk segala rintangan termasuk hitung-hitungan logis, apa pun resikonya itu.  Meskipun, karena semangat dan keberanianmu yang besar, aku tidak pernah membayangkan kamu akan ‘bunuh diri’ meninggalkan keluarga dan sahabat yang menyayangimu.

Di sisi gundukan tanah kuburmu, di seberang istri, anakmu, ayah, ibu, dua adikmu, dan keluarga besarmu yang terguncang hebat, aku meletakkan telapak tanganku ke tanah yang masih basah itu, tubuhku bergetar dan air mata deras mengalir, aku membisikkan kepadamu;

“Bajingan Asu! Kowe ngrepoti! Ning kowe cen Kebo! Angel dikandani, masiyo ngono kowe tetep kancaku. Aku mung isa ndereke sugeng tindak, sikiko, dipenake, aku isih sabar, mengko aku yo nyusul ngancani kowe”.

(Bajingan Asu! Kamu membikin repot! Tapi kamu memang Kebo! Susah diomongin, meskipun demikian kamu akan selalu menjadi temanku. Aku cuma bisa mengucapkan selamat jalan, silahkan kamu duluan, buatlah nyaman, aku masih sabar koq, nanti juga akan menyusulmu dan menemanimu).

Perjalanan Kecil di Taman

Berbagai teori dan dugaan muncul di banyak berita kematian tragis Kebo. Yang menjadi highlight adalah caci-maki di media sosial yang membuat Kebo memutuskan untuk bunuh diri. Kemudian terkenal dengan hashtag #cyberbullying yang di-mention ke akun twitter Kebo, @effort_creative. Apalagi jika kemudian khalayak membaca tweet terakhirnya..

“Terima kasih atas sgala caci maki @lockstockfest2.. ini gerakan.. gerakan menuju Tuhan.. Salam..” Status pamitan juga bisa ditemukan di Facebook-nya.

Aku sendiri mencoba berpikir jernih, bahwa seseorang boleh komplain dan marah ketika hak-haknya tidak terpenuhi. Aku membayangkan ketika diriku bersama JHF tour ke luar kota dan tiba-tiba tidak ada pembayaran dan eventnya berantakan. Dari sisi profesionalitas, kita punya hak untuk komplain dan menuntut penyelenggara. Juga berhak menyampaikan akar permasalahan ke publik, terutama kepada para fans kita, apalagi mereka yang datang dari luar kota hanya untuk menonton konser kita. Tapi aku juga sadar, bahwa industri musik di Indonesia sudah sangat busuk, hampir semua musisi kebanyakan bersandar pada fee manggung di mana para promotor dan EO bekerja keras untuk para musisi. Demikianlah kiranya kita juga harus bijak menyampaikan tuntutan dan gugatan itu.

Karena twitter, dan segala jenis media sosial yang lain, sesungguhnya adalah ruang publik. Itu bisa menjadi seperti podium orasi atau panflet mutakhir yang bisa membakar amarah publik untuk turut campur menghujat tanpa tahu akar permasalahannya. Bahkan beberapa publik figur yang aku anggap cukup bijak bisa terbawa arus ikut campur menghujat Lockstock 2 malam itu, meskipun mungkin dilakukan dari Jakarta dan tanpa konfirmasi. Okelah, kemudian kita bisa menghapus apa yang sudah di-publish di timeline, tapi bola panas telah digulirkan.

Aku perlu menjelaskan bahwa pemegang admin @JHFcrew harus menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak offensive. Pun ketika komplain dengan panitia penyelenggara atau membatalkan manggung. Kami perlu menekankan moral agar tidak menyulut amarah terutama kepada fans kami. Hal serupa aku yakini berlaku pada akun @ShaggydogJogja yang ngetweet pembatalan secara formal tanpa ditambahi amunisi yang membakar amarah publik; “Mohon maaf, dengan berat hati, kami terpaksa membatalkan show di Lockstock fest. YK malam ini, dikarenakan terjadinya miskomunikasi dengan panitia”.

Perlu diketahui, sesungguhnya Kebo tidak melarikan uang seperti banyak dituduhkan di twitter, karena sesungguhnya memang tidak ada uangnya. Kebo menggunakan uang dari event Astra Honda di tgl 28 Mei untuk menutupi event Lockstock yang digadang-gadang oleh Kebo mampu menjadi representasi dan penanda pergerakan musik independen di Yogyakarta pada tgl 25 dan 26 Mei itu. Tapi uang itu tidak cukup, juga running penjualan tiket tidak seperti yang diharapkan karena hujan deras mengguyur venue semalaman. Dua panggung utama tidak bisa beroprasi. Penotnon tidak seperti yang diharapkan. Selanjutnya bisa ditebak

Akhirnya dia pergi meninggalkan venue karena kelabakan mencari hutangan untuk menutupi kekurangan di hari itu. Sesungguhnya tidak ada sponsor yang masuk. Ketika seminggu sebelum hari H aku telpon dan masih berusaha menyarankan dia untuk menunda penyelenggaraan, Kebo menyampaikan sudah mendapatkan uang untuk menggelar Lockstock 2. Juga tidak ada lagi teman yang bisa menalangi atau memberikan hutang kepadanya. Mungkin pintu-pintu memang sudah tertutup untuknya malam itu.

Dan sekali lagi, dia memang Kebo! Sekali melangkah tidak akan mundur…

Aku sendiri tidak yakin bahwa dia memutuskan bunuh diri hanya karena dicaci-maki di media sosial. Kiranya dia sudah membuat perhitungan dan janjian sendiri dengan Tuhannya atas segala masalah-masalah yang dihadapinya malam itu atau pun masalah-masalah sebelumnya. Aku hanya bisa menyarankan kita untuk ikhlas melepas kepergiannya dan legawa atas segala keruwetan yang ditimbulkannya berkaitan dengan penyelenggaraan Lockstock 2 maupun event-event sebelumnya.

Aku sungguh sangat berbangga, bahwa kita teman-teman dekatnya, tetap bergotong-royong untuk menyelesaikan hutang event terakhirnya atas Astra Honda yang menampilkan Cherry Belle dua hari setelah kepergiannya. Aku kembali meneteskan air mata, ketika teman-teman menyampaikan Gwen, anak satu-satunya datang bersama Arini istrinya, menari-nari mengikuti lagu “kamu cantik, cantik, dari hatimuuuu..”

Kita berteman sudah lama dan akan selalu seperti itu

Kebo, bagaimana pun kamu telah menorehkan sejarah, menjadi kaki yang menyokong perkembangan industri kreatif dan musik independen di Yogyakarta seperti cita-citamu, meskipun belum tuntas dan akhirnya jalan yang kau pilih adalah meninggalkan semua goresan yang telah kamu buat secara tragis.

Aku dan teman-teman yang kau tinggal akan mengambil pelajaran atas semua rangkaian peristiwa ini. Terima kasih untuk semua hal yang sudah kita lalui bersama. Baik, buruk, aku tidak peduli karena bagaimana pun kamu adalah temanku. Pun jika kamu memang benar-benar bunuh diri dan memilih sirna karena ‘malu’, kamu mengajarkan hal yang saat ini tidak dimiliki bangsa ini.

Lalu, adakah yang lebih penting dari semua pencapaian dan gemuruh tepuk tangan dari pada sebuah perjalanan kecil sore hari di taman?

Selamat jalan Bo!

Prambanan, 29 Mei 2013

Kill the DJ

*kiranya aku perlu menambahkan capture foto ini, bacalah dari bawah..

Download Song of Sabdatama
Download Song of Sabdatama (feat Akala)

Berikut saya posting sebuah single terbaru dari Jogja Hip Hop Foundation (JHF) berjudul Song of Sabdatama (2012), sebuah lagu dengan nafas dan semangat sama dengan Jogja Istimewa (2010) yang didedikasikan untuk seluruh warga Yogyakarta, soundtrack perjuangan dan persaudaraan, penyebar semangat untuk warga dalam memperjuangkan hak-haknya dan juga menjaga harmoni kehidupan yang bhineka.

Judul lagu ini mengambil dari Sabdatama (Sabda Utama) yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengkubhuwono X pada bulan Mei 2012 lalu, selaku raja Yogyakarta, untuk meneguhkan sikap terhadap kusutnya status keistimewaan Yogyakarta. Sabdatama kemudian juga dibaca oleh warga Yogyakarta sebagai simbol penolakan atas beberapa tindak kekerasan atas nama suku dan agama yang bermotif konspirasi politik yang terjadi di Yogyakarta beberapa bulan terakhir. Sebagai catatan; Sabdatama biasanya hanya dikeluarkan sekali oleh seorang raja, Sultan HBIX mengeluarkan Sabdatama ketika menyatakan begabungnya kraton Yogyakarta dengan Republik Indonesia.

Song of Sabdatama ditulis dalam tiga bahasa; Jawa, Indonesia dan Inggris, sebagai kabar kepada publik luar tentang tekad yang membara, berbeda dengan Jogja Istimewa yang lebih ditujukan ke dalam. Seperti banyak komentar terhadap lagu Jogja Istimewa, kebanggaan kadang bisa dilihat sebagai arogansi bagi mereka yang tidak mengenal akar permasalahannya.

Song of Sabdatama dirilis dalam dua versi, yang kedua versi kolaborasi dengan rapper Inggris, Akala (The Hip Hop Shakespeare), yang akan dirilis oleh British Council dalam rangka Seminar Bahasa Internasional pada bulan Juni 2012. Beberapa lagu dengan lirik tiga bahasa juga akan terus diproduksi JHF sebagai persiapan tour 10 kota di Amerika bulan November 2012.


Lyric Song of Sabdatama

Hook
We are from Jogja
The heart of Java
Our rhyme is mantra
Flows down like lava

We are from Jogja
The heart of Java
Our culture is weapon
Yeah, this Song of Sabdatama

Verse M2MX
Merapi ya iku, Keraton ya iku, Segara ya iku, Pancer ing Tugu
Mijil tuwuh saka kono dumunungku
Yo Ngayogyokarto Hadiningrat Negeriku
Nagari gemah ripah kang merdika
Kaya kang kaserat ing Sabdatama
Merapi ngelingake marang ing gusti
Segara ngelingake kudu ngidak bumi

Verse Balance
Ngono kuwi jiwa Jawi
Manunggaling kawula Gusti
mBalung sungsum pada diugemi
Minangka tekad dadi sesanti
Sadumuk bathuk sanyari bumi,
Ditohi pecahing dada luntaking ludira nganti pati
Negeri merdika bakal tak belani

Hook

Verse Kill the DJ
Merapi horeg, laut kidul gedeg
Angin ribut, udan bledek
Tanda bumi reresik nandang gawe
Marang donya lan manungsane
Marang sedulur sikep kudu ngajeni lan ngopeni
Bumi pertiwi adalah saudara kami
Yang harus dijaga dan dihormati
Menerima sekaligus memberi
Budaya adalah senjata
Memanusiakan manusia
Bangun jiwanya, Bangun raganya
Sentausa dalam puspa warna

Hook

Verse Ki Ageng Gantas & Radjapati
In our land where we stand
Never afraid coz we all friends
We may vary but hand in hand
Appreciate and understand
Why democracy if occupied by oligarchy?
Nggo opo demokrasi nek mung ngapusi?
Why religion if only to kill humanity?
Nggo apa agama nek mung mateni
Hey oxymoron, you don’t need to teach me
Rasah nggurui merga ora migunani
What Jogja want is harmony in diversity
Urip iku amrih nemu harmoni
We don’t care of what you say
Your ridiculous words will go away
Coz in this land where we stand
We’ll fight to the death until the end

Hook

Naskah Aseli Sabdatama:

Saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) tahun 2003 dengan mimpi yang sederhana, membantu teman-teman raper berbahasa Jawa di Yogyakarta untuk lebih berkembang dan dikenal dalam konteks kesenian dan wacana yang pas, waktu itu saya masih bekerja sebagai perupa dan musisi electronic, tidak terbayang jika setahun kemudian akhirnya saya ikut nge-rap. Demikian juga ketika JHF yang awalnya adalah komunitas saat ini kemudian berkembang menjadi semacam kolektif group, band, atau crew dalam hip hop. Semua berjalan dengan natural. Apa yang kita capai sekarang adalah buah dari konsistensi pada jalur yang kita pilih; investasi komitmen dan integritas hampir satu dekade berkarya kolektif dalam jalur hip hop jawa.

Newyorkarto adalah konser restropeksi perjalanan kami, dari panggung-panggung kecil di kampung-kampung kota Jogja hingga ke panggung-panggung internasional yang prestisius dan menjadi group hip hop pertama dari Indonesia yang berkesampatan menggelar konsernya secara ekslusif di kota kelahiran hip hop; New York –yang kami sendiri sesungguhnya tidak pernah berani memimpikannya. Semua elemen baik musikal maupun artistik merepresentasikan background sosial dan cultural yang membentuk dan menginspirasi kami; gamelan, wayang, penari dll. Demikian juga orang-orang yang terlibat dalam konser Newyorkarto ini, mereka adalah teman setia yang menemani perjalanan kami selama ini. Sesungguhnya tradisi bukan sesuatu yang kaku layaknya post card pariwisata, tapi tradisi terus tumbuh dan bersinggungan dengan kekinian untuk membentuk dirinya.

Newyorkarto adalah nama yang kami temukan ketika kami hendak menggelar konser di New York. Undangan itu datang dengan alasan, bahwa energi dan spirit asli rap/hip hop ketika pertama kali muncul di New York, sesungguhnya bisa ditemui di kota Yogyakarta dalam bentuk yang lain. Kita akan mencoba menggelar sebuah dunia cerita bernama Newyorkarto layaknya cerita pewayangan dalam konser ini.

Akhirnya, saya dan teman-teman JHF mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua orang yang telibat dalam konser ini, kepada para sponsor dan donatur yang telah memungkinkan acara ini terwujud, dan tentu saja kehadiran teman-teman yang menonton konser ini.

Selamat menikmati.

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Founder Jogja Hip Hop Foundation

*diambil dari tulisan pengantar katalog pertunjukan

Teman-teman,

Berikut kami release secara sederhana kumpulan lagu-lagu ‘konyol’, ‘jelek’ dan ‘goblok’ dari Kill the DJ dan Soimah Pancawati yang tidak akan direlease secara resmi. Dulu rencananya kita mau mengumpulkan lagu-lagu ini dalam sebuah album berjudul “Semiotika Pantura”, itu kenapa irama dan liriknya ‘menye-menye’ nggak jelas dan tidak boleh dikritik, baik kualitas rekamannya maupun liriknya. Yang ngritik berarti ngajak berantem!!! Hahaha.

Sesungguhnya karena kesibukan masing-masing yang semakin padat, akhirnya proyek ini terbengkalai. Anyway, karena kita menyikapi proyek ini dengan santai juga, dari pada tersimpan gak jelas, yowis, proyek ini kita gratiskan alakadarnya buat kamu-kamu yang males mengeluarkan duit buat karya-karya musik Indonesia dan hobinya mengkonsumsi bajakan.

Kumpulan Semiotika Pantura sebenarnya terdiri dari banyak lagu, umurnya lagu-lagu tersebut sebenarnya sudah lebih dari empat tahun, tapi yang sudah rekaman di rumah (belum ke studio) baru empat lagu sebagai berikut;

  1. A-A-AKU
  2. Balada Orgen Tunggal
  3. Cinta Mati Cinta
  4. Jangan Ada Anarki di Antara Kita

Silahkan download secara gratis dan disebar secara membabi buta!!!

Link Download: http://www.mediafire.com/?had5iws823hdt5h

Salam Pantura !

Kill the DJ & Soimah

Tanggal 5 dan 6 November 2011 adalah hari yang sangat penting buatku.

Pada tanggal 5 November dini hari, bersama @masgufi @effort_creative @AndyKrebo, aku melakukan napak tilas peristiwa setahun yang lalu ketika membantu evakusi erupsi Merapi. Kami kembali mengenang dimana setahun yang lalu kami bahu-membahu tanpa rasa takut (entah apa yang membuat kami begitu berani) mencoba menolong warga dari terjangan awan dan material panas Merapi yang sedang marah. Malam itu kami duduk di pinggiran kali Gendol – Argomulyo, tepat setahun yang lalu kami berada di sana, di mana saat itu garis antara hidup dan mati begitu dekat. Ditemani beberapa botol beer kami berdoa dengan cara kami untuk mengenang apa yang sudah kami lakukan dan mengenang relawan-relawan yang terkubur di sana (selengkapnya bisa dibaca di My Evacuation Timeline).

Kami tirakatan dengan cara kami hingga pukul 5 dini hari, kemudian kami pulang. Peristiwa sesungguhnya, kami berada di lokasi itu hingga pukul 10:00. Oh iya, di malam tirakatan itu aku juga menulis sebuah surat penting untuk seseorang, mungkin suatu saat akan aku publikasikan seperti Every Single Night.

Kemudian aku bangun jam 11:00 dan mendadak ingat besok, tgl 6 November, adalah hari raya Idhul Adha atau Hari Raya Kurban. Mungkin karena masih dalam suasana romantis, tiba-tiba aku mencoba menelpon Mas Asih, putera mbah Maridjan yang sekarang menjadi juru kunci Merapi, bersama warga Kinahredjo dia masih tinggal di Shelter (hunian sementara) Ploso Kerep.

“Besok kambingnya sudah cukup, pak?” Tanyaku.

“Baru ada lima, tidak cukup untuk Shelter, kalau ada tambahan bagus, mas” Jawab Mas Asih lirih.

“Ok. Aku bawa satu besok” Timpalku tanpa berpikir panjang.

Masih teringat bahwa setahun yang lalu ton-tonan daging Kurban terkirim ke lereng Merapi untuk para pengungsi hingga bingung mengolahnya dan saat ini mereka kekurangan. Membantu memang trend!

Kemudian aku menelpon @ganisrumpoko; teman yang selalu bersamaku saat ini, mengajaknya untuk berbagi dan mengerjakannya bersama. Teknisnya dibantu mas @putraptot untuk mencari kambing terbaik dan mengangkutnya ke Shelter Ploso Kerep di lereng Merapi. Paginya, kami berangkat pukul 08:00, kambing yang kami beri nama Mohamad Didier Drogba itu kami angkut dengan mobilnya @TalkinAndy yang setahun yang lalu aku bawa untuk mengevakuasi  ratusan warga dan puluhan mayat.

Di tengah jalan kami berhenti untuk memotret spanduk ini;

Kurban Bukti Cinta. Lebay tapi memang benar adanya.

Sampai di Shelter Ploso Kerep, warga Kinahredjo bergembira menyambut kedatangan kami. Karena sejarah yang mengharu-biru sejak erupsi 2006, mereka selalu spesial buatku. Tapi mendadak @ganisrumpoko merasa tidak rela Mohamad Didier Drogba disembelih karena dia sangat ganteng. Dasar jomblo konyol! Tentu saja akhirnya tetap disembelih.

Tibalah moment yang paling special, ketika kami menunggu waktu pembagian daging kurban, sungguh aku sangat bersyukur dikaruniai kesempatan bermain gamelan #GugurGunung bareng anak-anak Kinah Redjo. Gamelan itu adalah hasil sumbangan sebuah konser amal musisi-musisi Jogja bernama #GugurGunung yang aku terlibat menginisiasi bersama @ErixSoekamti dkk.

#GugurGunung; hashtag twitter yang abadi karena terukir di seperangkat gamelan

Sebuah kebahagiaan yang sempurna. Setahun yang lalu aku ikut mengevakuasi anak-anak ini dari erupsi Merapi, tidak akan pernah membayangkan bahwa kemudian kami bisa punya kesempatan bermain gamelan bersama saat ini.

Tentang Kurban, #GugurGunung, dan segala apa yang telah aku lakukan bersama teman-teman di lereng Merapi, bukanlah tentang pahala dan surga. Ini adalah ekspresi kemanusiaan yang jujur, sebagai manusia aku sangat menikmati berbagi bersama mereka.

Terima kasih sudah berbagi bersamaku. Semoga cerita ini bermanfaat

@killthedj

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 161 other followers