Archive

Tag Archives: Hiphopdiningrat

Pemutaran Film Dokumenter

HIPHOPDININGRAT

a film by Marzuki Mohamad & Chandra Hutagaol

Indonesia 2010 | Digital Color | 65 minutes | Java & Indonesia (with English Subtitle)

Hiphopdiningrat adalah potret perjalanan sederhana sebuah komunitas hip hop dari kota Yogyakarta, dimana mereka mencampurkan musik urban dengan tradisi akar mereka, termasuk bahasa Jawa, tanpa tendensi kontemporer. Jogja Hip Hop Foundation memulainya dengan pentas-pentas di Kampung hingga ke panggung Internasional. Film yang sudah mendapatkan banyak highlight dari berbagai media ini, adalah hasil ketekunan Kill the DJ, sebagai pendiri Jogja Hip Hop Foundation, yang rajin mendokumentasikan berbagai aktivitasnya sejak 2003, kemudian dibantu oleh temannya Chandra Hutagaol sebagai Co-Director untuk menyusunnya menjadi sebuah kisah yang layak untuk ditonton.

JADWAL PEMUTARAN:

JAKARTA
Teater Salihara Jakarta
Jl.Salihara No.16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

18 Maret 2011
Screening Reguler: 14:00 & 16:00 | HTM Rp.10.000,-

18 Maret 2011
Screening & Showcase: 19:00 | HTM Rp 50.000,- | Mahasiswa/Pelajar Rp 25.000,- (tempat terbatas) | Host by: Pandji

more info: www.salihara.org


YOGYAKARTA
Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta
Jl. Sagan No 3 Yogyakarta

22 & 23 Maret 2011
Pemutaran Reguler | Setiap jam 16:00 & 19:00 | Ticket Rp.10.000,-
Pembelian langsung ke Tiket Box Lembaga Indonesia Prancis (LIP) dibuka mulai tanggal 14 Maret 2011

21 Maret 2011 |Screening & Showcase (Invitation Only) | 19:00 | host by: Marie le Sourd


BANDUNG
23 Maret 2011 | Blitz Megaplex, Paris Van Java | Screening & Showcase: 19:00 (Invitation Only) | Host by: Gustaff

24 Maret 2011 | Lou Belle | Jl Setiabudi 56 Bandung | 19:00 | Gratis untuk umum

__________
http://www.hiphopdiningrat.com (will be accessible next March, 15, 2011)

HIPHOPDININGRAT (trailer)


18 Maret
Screening Tour & Show Case film doc. Hiphopdiningrat
Komunitas Salihara (Jakarta)
Screening: 14:00 & 16:00
Screening & Show Case: 19:00

21 Maret s/d 23 Maret
Screening Tour & Show Case film doc. Hiphopdiningrat
Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Jl Sagan No 3 Yogyakarta
Screening & Show Case: 19:00 (Invitation Only)
Screening: Setiap 16:00 & 19:00 (Open for public)

23 Maret
Screening Tour & Show Case film doc. Hiphopdiningrat
Blitz Megaplex Paris van Java Bandung
19:00 (Invitation Only)

24 Maret
Screening film doc. Hiphopdiningrat
Lou Belle Jl Setia Budi 56 Bandung
19:00 (Open for Public)

25 Maret
Menerima Tamu Center Stage USA

26 Maret (Tentative)
Rosi Silalahi Talk Show
UGM
10:00

29 & 30 Maret
Laskar Dagelan (from Republik Jogja with Love)
Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jl Cikini Raya Jakarta
19:00

Hip Hop van Yogyakarta
Felix Dass | Sun, 01/02/2011 10:29 AM | Music

Marzuki Mohammad a.k.a. Kill the DJ probably started the Yogya Hip-Hop Foundation simply to get recognition in Yogyakarta’s artsy environment. But, years later, he has found himself on the front lines, part of the arsenal in his own cultural revolution.

Hiphop Diningrat, a documentary he made with co-director Chandra Hutagaol, shows one side of Yogyakarta’s current cultural revolution: rap music – a genre not often associated with Indonesia – combined with Javanese lyrics.

The hip-hop scene in Yogyakarta is a perfect model for how a community can grow and have a proper breadth of activities. They do everything with their own hands, just like the punks of days gone by. They book their own gigs, make their own recordings and do their own distribution and advertising just so their music will be heard by a wider audience.

“It’s all about honesty. That’s the best thing to be said, right?” Kill the DJ said.

They are proud of being Javanese and living in Yogyakarta, a city which is undoubtedly known for its cultural heritage. But, they also love rap music, something that at some point was imported from the western world. They mix these interests by rapping – but in the Javanese language.

“It’s not traditional, but it is an effort to understand our own culture,” he said.

The documentary shows how members of hip-hop groups survive, pursuing their passion for hip-hop music at all costs. Members of Jahanam, a Yogyakarta-based hip-hop group, tell of hunting for hip-hop outfits in awul-awul, Yogyakarta’s term for a flea market, while members of Rotra discuss their drive to create hip-hop in Javanese.

Rotra’s main reference was G-Tribe, a rap collective from the 1990s that shook the industry with a Javanese language rap album. “G-Tribe was one of my inspirations,” Kill the DJ said.

Hiphop Diningrat also features commentary from Indonesia’s first major label rapper from the early 90s Iwa K, professor of culture Sindhunata, Yogyakarta’s greatest world music artist Djaduk Ferianto, monologue maestro Butet Kertaredjasa and Batak-born poet and Yogyakarta resident Landung Simatupang.

They all speak respectfully about the amalgamation of west and east created by the Yogya Hip-Hop Foundation.

Upon the movie’s conclusion, one realizes a marvelous picture of this group of people was just unveiled. Hiphop Diningrat is scheduled for public screening sometime in 2011. The film will also be shown on a United States tour, when the friends will visit San Francisco and New York in January.

However, Kill the DJ was entirely correct when he said, “These are all simple processes. The movie is an effort to shoot a document of what we have done. We let the movie speak, not ourselves.”

Kill the DJ can also be followed on Twitter at http://www.twitter.com/KILDDJ.

*) At a Glimpse is all about the local music scene. Give us a shout at sundayglimpse@gmail.com. Or friend us athttp://www.facebook.com/sundayglimpse and follow us on Twitter at twitter.com/sundayglimpse.

Hip Hop Jawa Juga Istimewa

Lahir dari jalanan, musik hip hop berbahasa Jawa terus berkembang. Saat ini, jenis musik itu menjadi bagian keistimewaan Yogyakarta. Lagu mereka, ”Jogja Istimewa” berkumandang di hadapan puluhan ribu rakyat Yogyakarta untuk meneguhkan dukungan terhadap keistimewaan Yogyakarta.

Holobis kuntul baris, Jogja tetap istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja istimewa untuk Indonesia,” demikian syair pembuka ”Jogja Istimewa” mengumandang dari panggung di depan Gedung DPRD DIY, Senin lalu.

Lagu rap itu dinyanyikan kelompok musik hip hop Jawa Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) untuk mendorong DPRD DIY mendukung penetapan Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Senin siang itu, ”Jogja Istimewa” mengalun di radio-radio di Yogyakarta. Lagu itu dinilai pas mewakili perasaan warga Yogyakarta di tengah polemik pemilihan-penetapan kepala daerah DIY.

Meski dinyanyikan selengekan, lagu itu mengandung filosofi kuat. Sepenggal liriknya, ”Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan,”. Lirik itu ajaran kerendahhatian.

Ki Jarot adalah kelompok musik gabungan penyanyi hip hop Jawa Marzuki Mohammad alias Kill The DJ alias Chebolang, Jahanam, dan Rotra. Mereka konsisten menyanyikan lagu rap dengan lirik berbahasa Jawa. Mereka mempertemukan musik afro-amerika dengan tradisi Jawa. Lagu Jahanam berjudul ”Tumini” sempat diputar berulang di televisi nasional.

”Hiphopdiningrat”

Perjalanan komunitas direkam pada film dokumenter ”Hiphopdiningrat”. Film berbahasa Jawa itu diputar pertama pada Festival Film Dokumenter (FFD) 2010, pekan lalu.

Film karya Marzuki dan Chandra Hutagaol tersebut merupakan kumpulan dokumentasi kegiatan komunitas Jogja Hip Hop Foundation 2003-2009. Isinya, perjalanan komunitas anak muda Yogyakarta yang bertahan dengan identitas ndesonya di tengah kuatnya pengaruh budaya Barat.

Hip hop bahasa Jawa muncul tahun 90-an dengan salah satu pentolannya, G-Stripe. Tahun 2003, Marzuki membentuk komunitas Jogja Hip Hop Foundation mewadahi kelompok musik hip hop Jawa itu. Ia menggandeng sinden terkenal Soimah, mempertebal sentuhan tradisi Jawa pada lagu-lagu mereka.

Saat menyanyi, gaya mereka khas penyanyi rap. Kacamata hitam, sepatu kets, dan topi terbalik. Namun, mereka selalu berbaju batik sebagai identitas. Musik hip hop itu pun sarat petuah dan filosofi Jawa. Bukan sumpah serapah.

Komunitas mereka khas. Sebagian besar anggota komunitas datang dari perkampungan dan teman nongkrong di jalanan. Lahirnya hip hop Jawa pun alami dan sederhana. ”Tak ada tendensi apa-apa saat menyanyi hip hop Jawa ini. Hanya ingin ngerap, tapi dengan bahasa yang kami kenal sehari-hari, bahasa Jawa,” kata Marzuki.

Poetry Battle

Eksistensi hip hop Jawa ditandai hajatan Poetry Battle (2006 dan 2009) yang diadakan Jogja Hip Hop Foundation. Peserta ditantang menyanyikan puisi-puisi Indonesia dalam musik rap. Kegiatan itu menggerakkan generasi muda menggeluti puisi-puisi yang lama terasing dari publiknya sendiri.

”Ini luar biasa, anak-anak muda ini berpuisi, menggali sastra yang lama terasing dari masyarakatnya sendiri, tanpa mereka sendiri menyadarinya,” kata Landung Simatupang, budayawan yang juga narasumber film ”Hiphopdiningrat”.

Lalu, lahirlah lagu ”Ngelmu Pring” yang liriknya diambil dari puisi Sindhunata. Bait-bait Serat Chentini pun lahir kembali.

Kini, pengaruh komunitas hip hop Jawa itu berkembang. Anggotanya dari anak SD sampai anak kuliahan. Tak sedikit dari kalangan tak mampu.

Muhammad Setiawan (15), anggota kelompok musik hip hop di Kampung Sayidan, mengatakan, di kampungnya ada dua kelompok beranggota belasan orang. ”Kami pada mulanya teman nongkrong, akhirnya jadi kelompok rap karena suka,” kata anak pedagang gorengan itu.

Di kancah internasional, hip hop Jawa kian dikenal. Pada 2009, Ki Jarot tampil di Singapura. Januari 2011, ia diundang tampil di Amerika Serikat.

Menurut budayawan Sindhunata, fenomena hip hop bahasa Jawa ini wujud kerinduan generasi muda kembali ke akar budayanya.

”Selama ini ada kekosongan di sini. Hip hop Jawa merupakan cara anak-anak muda menjawab kekosongan ini,” katanya.

Penulis dan peneliti budaya Elizabeth Inandiak mengatakan, komunitas itu salah satu keistimewaan Yogyakarta. Dari komunitas anak-anak muda, hip hop Jawa menyatukan Yogyakarta dalam Jogja Istimewa.(IRENE SARWINDANINGRUM)

06 Desember 2010 | Majalah Tempo

Perlawanan Hip Hop Centhini

Ono cicak nguntal boyo
Boyo coklat nyekel godo

Ojo seneng nguntal negoro

Mundak rakyatmu dadi sengsoro

DATANGLAH ke kampung-kampung di Yogya. Di sepanjang bantaran Kali Code atau Nitiprayan, tanyakan kepada anak-anak tentang lagu hip- hop yang menyumpah-serapahi Anggodo ini. Pasti mereka hafal.

“Bahasa Jawa punya potensi hip- hop. Suluk Jawa, yang penuh aliterasi, persamaan bunyi di akhir kalimat, cocok untuk rap.” Pendapat Elizabeth Nandiak, seorang perempuan Prancis peneliti Serat Centhini yang dahulu peneliti hip- hop dalam film dokumenter Hiphopdiningrat, dapat sedikit-banyak menjelaskan fenomena ini.

Inilah salah satu film paling bagus yang disajikan Jiffest 2010. Film ini bercerita tentang pengalaman Marzuki, pendiri Jogja Hip Hop Foundation, bersama teman-temannya memelopori rap berbahasa Jawa. Film ini bisa mengingatkan kita akan film Wim Wender: Buena Vista, yang mereportasekan jazz Kuba.

Sementara Wender memperlihatkan bagaimana jazz Kuba sesungguhnya mencerminkan penderitaan sosial Kuba, Marzuki, yang tersohor dengan nama samaran Kill The DJ atau The Cebolang, juga bisa memperlihatkan bagaimana gerakan hip-hop-nya memiliki akar kultural Yogya.

“Awal hip-hop Jawa adalah kelompok G Tribe. Hitnya adalah: Jelangkung dan Menek Jambe,” kata Marzuki. “Kemudian kelompok Jahanam pada 2003 yang melahirkan Tumini. Laku 20 ribu kopi di Yogya.”

Selama 65 menit, kita disuguhi perjalanan kelompok-kelompok hip-hop Jawa antara 2003 dan 2009, dari manggung di ajang lokal Angkringan Hip Hop sampai Poetry Battle di Taman Ismail Marzuki. Dan kemudian di Esplanade, Singapura. Marzuki menekankan lahirnya hip-hop Jawa bukan semacam eksperimen kontemporer yang disengaja tapi apa adanya, alamiah.

“Sederhana saja. Kami merasa lebih bebas bila nge-rap dalam bahasa Jawa,” ujar Marzuki. Ia mengaku tidak belajar gaya atau teknik rap ala Amerika. “Tidak pas di mulut.” Bahkan sering bahasa Indonesia, menurut Marzuki, kurang nyaman di-hip-hop-kan. Ia berpendapat ada bunyi-bunyi dalam bahasa Jawa yang tidak ada dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, misalnya, sering membuat bunyi sehari-hari menjadi kata. Bunyi orang membuka pintu mak regedeg…, misalnya, bisa jadi kata. Dalam bahasa Jawa juga sering sebuah kata tidak bermakna satu.

Apalagi tradisi suluk Jawa menyediakan irama-irama yang luar biasa. Marzuki rajin mengumpulkan kitab atau serat Jawa seperti Centhini, Gatholoco, Darmogandul, dan Babad Tanah Jawi. Dari situ ia belajar bunyi. Di rumahnya ia mengoleksi “serat aneh-aneh”. Dia pernah berkeliling Jawa. Di setiap kota ia menyambangi masjid, gereja, dan kelenteng untuk mencari babad setempat. “Di Ponorogo, misalnya, di sebuah kelenteng saya menemukan babad Ponorogo versi Cina,” katanya. Berbagai babad itu menginformasikan bahwa pembentukan Jawa itu sesungguhnya sangat pluralis.

Adapun bagian Centhini yang kerap di-hip-hop-kan adalah ketika tokoh-tokoh secara khusus menembang. Tatkala Among Raga bersanggama, agar Gusti Allah hadir dalam persetubuhan, ia menembang. Sewaktu Cebolang mengembara, setiap diundang siapa saja ia menembang. “Semua tembang di Centhini, baik yang religi maupun yang erotik, saya kumpulkan,” kata Marzuki.

Menurut Marzuki, khazanah Jawa juga banyak memiliki mantra, dari mantra menidurkan orang, mantra memelet perempuan, sampai mantra anak hilang yang dicuri wewe gombel. “Semua itu, menurut saya, mengandung unsur rap,” katanya.

Yang membuat film ini tak membosankan adalah banyaknya footage pertunjukan yang disajikan. Para penyanyi rap Jawa yang diwawancarai juga lucu. Obrolan mereka jujur dan tak dibuat-buat. Kita bisa tersenyum, misalnya, manakala menyaksikan adegan bagaimana awak komunitas rap Jahanam dan anggota kelompok Hip Hop Rotra membeli pakaian bekas dan batik yang murah meriah di Pasar Beringharjo untuk keperluan pentas.

***

Elizabeth bahkan melihat gerakan Marzuki bersama Jogja Hip-Hop Foundation persis seperti yang dilakukan orang-orang Bronx. Hip hop Yogya berjuang untuk bahasa Jawa yang dimarginalkan negara karena diganti bahasa Indonesia. Kesamaan lainnya dengan Bronx, seiring dengan tumbuhnya hip-hop Jawa, subur pula seni mural di Yogya.

Mengamati gerakan Marzuki, ingatan Elizabeth melayang ke tahun 1981, ketika dirinya berusia 19 tahun dikirim Actuel-majalah musik terkemuka di Prancis-ke New York. Ia ditugasi melihat perkembangan musik dan sosial setelah gerakan antirasial yang dipimpin muslim Afro-Amerika, Malcolm X., dan gerakan Black Panther.

Elizabeth ingat ia berjumpa dengan Fab 5 Freddy, lelaki kulit hitam yang menciptakan lagu buat Blondie, penyanyi cewek kulit putih yang populer saat itu. Keduanya menciptakan klip video Rapture, yang merupakan karya kolaborasi kulit hitam dan kulit putih pertama di Amerika. Karya itu merupakan hit paling melegenda dalam sejarah musik hip-hop, menjadi tonggak rekonsiliasi masyarakat yang terbelah. “Rapture adalah jembatan kulit putih dan hitam,” tutur Elizabeth kepada Tempo.

Masih segar dalam kenangan Elizabeth bagaimana Freddy mengajaknya ke jantung Bronx. Dinding Kota Bronx tak ada yang luput dari goresan kuas dan cat semprot warna-warni. Mereka menyeberang sungai, menuju bangunan kumuh penuh orang menceracau: menyanyi seperti membaca mantra. Tak ada alat musik apa pun. Mereka menabuh kaleng dan senjata, mulut mereka komat-kamit, sumpah-serapah. “Itulah cikal bakal hip-hop.”

Elizabeth juga bertemu Afrika Bambata, salah satu god father penyanyi rap di Bronx. Di kawasan kelam penuh kekerasan, perang antargeng, dan perang narkoba itu, Bambata disegani para jawara kriminal.

Menjelang 1990, Elizabeth berkunjung ke Indonesia. Ketika berjalan-jalan di Solo, ia melewati pergelaran wayang kulit: kakinya terpaku. Ia seperti terhipnotis, mendengar suluk sang dalang. “Saya seperti terlempar ke sudut Kota Bronx. Itu benar-benar hip-hop,” kata Elizabeth kepada Tempo.

Sejak saat itu Elizabeth seolah tak berdaya untuk meninggalkan tanah Jawa. Ia kemudian memilih Yogyakarta sebagai tempat bermukim, tempat dia berkenalan dengan Serat Centhini dan membuat adaptasi dalam buku berjudul Centhini-Les chants de l’ile a dormir debout. Ia banyak membantu Marzuki memilih bagian mana dari tembang Centhini yang enak di-hip-hop-kan.

***

Adanya akar kultural dan sosial itulah yang agaknya juga menggerakkan hati rohaniwan Sindhunata,SJ, secara khusus menciptakan lirik-lirik Jawa untuk di-rap-kan Marzuki dan kawan-kawan. Lirik-lirik Romo berupa karangan sendiri dan syair-syair tradisional Jawa yang dihadirkan kembali oleh Romo.

Bagian yang paling mengesankan dari film adalah saat menyaksikan bagaimana saat para rapper Jawa ini manggung di kampung-kampung dan pesta perkawinan, para penonton tua- muda berebutan menyanyikan salah satu puisi garapan Romo Sindhu, Suro Gambleh. Pring-pring petung, Anjang-anjang peli buntung, Ojo menggok ojo noleh, Ono turuk gomblah-gambleh.

“Itu sesungguhnya tembang tolak bala, meredam berahi,” kata Marzuki. Menurut Marzuki,-sampai sekarang lagu ini ditolak di radio-radio karena agak erotis. Namun lagu ini dikampung-kampung Yogya sangat terkenal dan banyak yang hafal.

Tembang ciptaan Romo Sindhu lain yang berbau sosial seperti Ngelmu Pring, Ora Cucul Ora Ngebul juga sekarang dikenal luas. Ada lirik Romo Sindhu yang isinya menyindir kehidupan perupa Yogya yang kini demikian kaya raya. Judulnya Jula-juli Lolipop. Jula-juli adalah tembang dari tradisi ludruk Jawa Timur. Tembang ini kini juga sangat dikenal luas di kampung-kampung Yogya.

Ngemut permen, permen Lolipop, bunder tur gepheng, kepengin beken, kepengin dadi ngetop, karyane laris, senine mati.

Sementara di kota lain rap sepenuhnya urban, di Yogyakarta rap menjadi senyawa antara global dan lokal. “Hip- hop Jawa menyajikan bagaimana Jawa yang membuka diri terhadap pergaulan dunia, tapi juga Jawa yang memberi.” Kalimat budayawan Landung Simatupang dalam film itu terasa tepat.

Jawa dalam sejarah ibarat spons besar. Ia menyerap tradisi-tradisi agama besar dunia dan menjadikan tradisi itu berbeda dengan tanah asalnya. Demikian juga hip-hop di Yogyakarta. Keunikan hip-hop Jawa itu diakui misalnya oleh pionir hip-hop di Indonesia: Iwa K. “Di Yogya, hip-hop tumbuh dengan benih sendiri,” katanya.

Undangan ke Esplanade, Singapura, adalah bentuk apresiasi orang luar atas keunikan itu. Pada Januari 2011 Jogja Hip Hop Foundation mendapat kesempatan manggung di New York dan San Francisco, Amerika Serikat. “Di New York kami akan pentas di Asia Society dan di San Francisco di kompleks seni Yerba Buena,” kata Marzuki.

Seno Joko Suyono & Dwidjo Maksum

republished from Tempo Magazine

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/06/FL/mbm.20101206.FL135261.id.html


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/06/FL/mbm.20101206.FL135260.id.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers