Archive

Tag Archives: Kill the DJ’s Note

photo from @shaggydogjogja official

photo from @shaggydogjogja official

Akhirnya hajatan konser amal bertajuk #GugurGunung untuk #Sinabung selesai sudah digelar semalam, 23 Januari 2014. Dengan persiapan komplit yang hanya satu minggu, kita tidak bisa minta lebih dari apa yang terjadi semalam. Secara umum acara berjalan sukses, lancar, tertib, dan hampir tidak ada kendala yang berarti, kecuali bahwa kita menghentikan penjualan tiket di angka 2500 karena keterbatasan Jogja Nasional Museum, meskipun diluar masih banyak penonton yang ingin masuk. Jumlah total yang ada di dalam venue kurang lebih 3000 orang.

Jumlah sumbangan terkumpul dari penjualan tiket sebesar 48 juta, jika ditambah sumbangan via transfer bank 18 juta, total #GugurGunung menghasilkan donasi sebesar 66 juta untuk #Sinabung. Kemungkinan akan semakin bertambah karena donasi via transfer bank masih terus dibuka hingga 29 Januari.

Yang masih pengen nitip donasi via transfer bank, silahkan ke BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Rekening donasi ditutup tgl 29 Januari. Tim relawan akan berangkat tgl 31 Januari

Bahwa jumlah donasi penting, karena itu yang akan kita sumbangkan, tapi ada beberapa hal lain yang tak kalah penting dan patut kita rayakan bersama. Untuk itulah catatan sederhana ini aku tulis.

Banyak pertanyaan kenapa konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung? Kenapa bukan yang lain? Tanpa mengecilkan bencana yang lain yang banyak melanda negeri ini, #GugurGunung bekerjasama dengan tim relawan independen yang akan berangkat ke #Sinabung. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering bekerjasama bersama kami dan sangat berpengalaman dengan erupsi Merapi. Kita terpilih untuk memilih, dan kita memilih #Sinabung.

Konser Amal #GugurGunung juga berfungsi sebagai awareness bagi publik, bahwa erupsi #Sinabung yang sudah berlangsung sejak September 2013 itu kalah dengan berita-berita politik yang memanas di 2014 dan banjir ibu kota. Bahkan kalah heboh dengan berita instagram ibu Ani Yudhoyono. Kita masyarakat Jogja sudah sangat berpengalaman dengan bencana, setiap bencana adalah penderitaan buat korban, tapi setiap bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan jika negara lalai dan cenderung membiarkan. Praktis #Sinabung menjadi highlight berita karena Presiden SBY datang ke lokasi pengungsian.

Semboyan #GugurGunung “lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan” tergambar jelas. Kita telah bersatu padu dalam irama yang sama; semangat gotong-royong untuk membantu sesama dengan cara kita. Bukankah akhir-akhir ini, dengan media sosial sebagai generatornya, publik begitu gampang menghujat tanpa sumbangsih. Dengan #GugurGunung kita bergandengan tangan dan mengambil peran.

Kesediaan setiap kelompok fans masing-masing band yang bergantian di barisan terdepan untuk menikmati band favoritnya adalah bukti, bahwa kita bisa memberi ruang bagi “yang lain” dan “yang berbeda”. Sudah terlalu banyak contoh kasus diskriminasi kepada minoritas dan peristiwa-peritiwa anti toleransi yang mengingkari kebhinekaan di negeri ini. Salut dan hormat untuk semua kelompok fans masing-masing band; Kamtis, Doggies, Jackers, Festivalist, Sedulur, kalian telah menyalakan semangat positif untuk negeri ini. Fans bukan cuma angka dan jumlah, kalian adalah manusia-manusia hebat yang mampu membuat gerakan bersama.

Akhirnya, salut dan apresiasi tertinggi untuk semua yang terlibat di #GugurGunung, mulai dari para vendor untuk sound, lighting, equipment, panggung, venue, dll. Para staff organizer dan stage crew yang bekerja keras. Para donatur dan sponsor yang dalam diam menyumbang terselenggaranya acara ini. Semua media partner yang telah mengabarkan energy positif dari #GugurGunung. Tak ketinggalan semua tim security dan bapak-bapak polisi yang mengamanakan acara #GugurGunung tanpa bayaran.

Bahwa Jogja Istimewa bukan hanya karena daerahnya istimewa, tapi karena orang-ornagnya yang rela bahu-membahu untuk bergotong-royong demi kepentingan bersama. Peluk erat untuk Endank Soekamti, Shaggy Dog, Captain Jack, FSTVLST, Jogja Hip Hop Foundation.

Tentang Agama, Pahala, Surga, aku tidak tahu dan tidak peduli. Ukuran kualitas manusia adalah manfaat bagi manusia yang lain dan alam raya. Dengan ukuran norma tertentu, aku bukanlah manusia “mulia”, karena selesai acara, aku mabuk berat dan memarkirkan mobil untuk tidur di pinggir jalan karena tidak kuat lagi menyopir.

Urip kudu urup lan migunani tumraping liyan.

Kill the DJ

GugurGunungSmall

Siaran Pers Konser Amal

#GugurGunung untuk #Sinabung

23 Januari 2014 | Jogja Nasional Museum | 19:00 – 23:00 |

Endank Soekamti, ShaggyDog, Jogja Hip Hop Foundation, Captain Jack, FSTVLST

‘Gugur Gunung’ dalam istilah Jawa berarti guyub-rukun dan bahu-membahu untuk bergotong-royong menyelesaikan persoalan atau masalah bersama. Istilah ini pernah kami gagas menjadi sebuah tema gerakan sosial para musisi di Yogyakarta untuk membantu korban bencana erupsi Merapi akhir tahun 2010, dengan bentuk konser amal. Hingga kemudian hash tag #GugurGunung terukir dalam satu set gamelan yang kami sumbangkan untuk menggantikan gamelan yang hancur diterjang erupsi Merapi di Kinahrejo.

Saat ini, Gunung Sinabung, di Karo, Sumatra Utara, yang sudah mengalami erupsi sejak September 2013 telah menimbulkan bencana bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Tercatat hingga pertengahan Januari 2014 sudah 26.000 warga yang terpaksa hidup menjadi pengungsi dengan bantuan minim, ditambah manajemen bencana yang sangat buruk karena peran negara yang tidak maksimal. Juga karena kalah highlight dengan berita politik yang memanas di 2014 atau banjir di ibu kota, sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat luas sangat tipis.

Setiap bencana alam pasti menimbulkan penderitaan, kami masyarakat di Yogyakarta sudah sangat berpengalaman dengan situasi itu, betapa pun pemerintah atau negara siap untuk menanganinya, tetap akan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang tertimpa bencana, apalagi jika peran negara tidak bisa diandalkan. Bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan ketika negara dan warga semakin tidak peduli. Tidak akan pernah ada yang salah jika kita mengambil peran untuk membantu sesama.

Dengan alasan tersebut, manajemen Jogja Hip Hop Foundation, Endank Soekamti, dan Shaggydog, menginisiasi sebuah konser amal dengan titel #GugurGunung untuk #Sinabung pada 23 Januari 2014, di Jogja Nasional Museum, 19:00 s/d 23:00. Kemudian kami juga mengajak Captain Jack dan FSTVLST untuk bergabung dalam konser ini.

Donasi diwujudkan dengan pembelian tiket dengan harga minimal Rp.20.000,- dimana semua hasilnya akan disumbangkan untuk korban bencana #Sinabung. #GugurGunung juga membuka donasi terbuka bagi masyarakat luas yang hendak menitipkan donasi via rekening BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Ini kesempatan sekaligus tantangan bagi masyarakat luas untuk membuktikan Yogyakarta memang istimewa bukan hanya karena daerahnya.

Konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung ini zero budget alias tanpa biaya produksi karena semua yang terlibat patungan dan tidak dibayar, termasuk berbagai kalangan yang mendukung acara ini, seperti; event organizer dan berbagai vendor seperti sound, quipment, lighting, stage dll.

Fans bukan hanya angka atau jumlah, penting untuk mengedukasi fans dan bersama-sama dengan mereka untuk melakukan sebuah gerakan sosial dan memilih untuk turun tangan dengan mengambil peran dari pada hanya sekedar terus menghujat.

Lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan.

Juru Bicara #GugurGunung

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Kontak #GugurGunung

Inud +62 811 257599 / inudtz@yahoo.com

Dita +62 811 284632 / javahiphop@gmail.com

Zuki +62 811 2503066 / mrzooki@yahoo.com

Foto khas caleg :p

Sebuah minggu sore yang cerah di akhir September (2013), ketika saya dan kelompok tani muda di desa Kokosan, dua kilometer utara candi Prambanan, berduyun-duyun membelah sawah untuk menggelar upacara wiwitan. Juga hadir beberapa teman saya dari kota Yogyakarta yang ingin mengikuti upacara ini.

Wiwitan adalah ritual persembahan tradisional Jawa sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri (dewi padi) yang telah menumbuhkan padi yang ditanam sebelum panen. Disebut sebagai ‘wiwitan’ karena arti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, jadi memulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan.

Yang disebut bumi adalah sedulur sikep bagi orang Jawa karena bumi dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya untuk kehidupan. Dalam tradisi Jawa, konsep meminta kepada sedulur sikep tidak ada atau tidak sopan, kepada sedulur sikep kita harus memberi sekaligus menerima, bukan meminta. Jika hormat kita berkurang kepada bumi, atau kita tidak menjaga kelestarian alam, maka bumi akan memberi balasan dengan situasi yang buruk yang disebut pagebluk, ditandai dengan hasil panen yang buruk, kekeringan, cuaca tak menentu, dll.

Sebuah budi pekerti dan nilai-nilai yang luhur dari akar tradisi Jawa –dan saya yakin berbagai tradisi Nusantara mempunyai nilai-nilai yang sama dalam hal ini, jauh sebelum manusia modern tergopoh-gopoh dengan istilah go-green di abad milennium ini.

Konon tradisi wiwitan ini sudah ada sejak sebelum agama-agama masuk ke tanah Jawa dan orang Jawa kuno hanya mengenal animisme, tapi bukankah Dewi Sri sebagai dewi padi berasal dari tradisi Hinduisme (India)? Entahlah, yang pasti petani Jawa kini semakin jarang melakukan upacara wiwitan karena alasan kepraktisan dan digeser, atau berbenturan, dengan nilai-nilai agama impor. Menurut Islam (Arab) memberi sedekah atau persembahan kepada ‘yang lain’ selain Allah SWT disebut ‘syirik’ dan hukumnya haram.

Meskipun saya sholat dan kadang ke masjid, minggu sore yang cerah itu saya bersepakat menggelar wiwitan bersama pemuda-pemuda yang ikut kelompok tani yang saya bentuk. Sesungguhnya, disamping mengajarkan budi pekerti dan nilai-nilai tradisi kepada kelompok tani muda kami, muatan romantisme sangatlah besar untuk mengenang masa kanak-kanak ketika kami sering mengikuti upacara wiwitan. Tak ayal itu menjadi pemandangan aneh karena wiwitan sudah jarang dilakukan di desa kami. Akhirnya, di minggu sore yang cerah itu, banyak juga petani yang sedang menggarap sawahnya ikut bergabung.

Prosesi Wiwitan

merangkai sesaji

Kami menyiapkan hidangan yang tidak akan dijumpai sehari-hari; sego tumpeng, sambel gepeng, gereh pethek, tontho, kacang gleyor santen, pitik ingkung. Juga kembang setaman, banyu kendhi dadap sirep, janur dikepang, dan kemenyan.

Semuanya sesungguhnya mempunyai makna. Seperti nasi ‘tumpeng’ yang artinya tumekaning penggayuh, atau keinginan yang diraih. Saya tidak mampu menerangkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kemudian kami membawa sesaji dan hidangan itu ke tengah sawah untuk mengadakan kenduri, artinya adalah kekendelan kang diudari, atau keberanian yang disampaikan. Setelah semua ubo rampe (kelengkapan) ditata sedemikian rupa ditengah-tengah sawah, kami membaca mantra sebagai berikut;

membaca mantra wiwitan

Amit pasang paliman tabik,

Ilo-ilo dino linepatno saking siku Gusti kang hakaryo bhawono

Danyang Sri Semara Bumi kang mbaureksi sabin … (nama sawah atau desa)

Mbok Dewi Sri pepitu, Kang lumpuh gendongen, kang wuto tuntunen, kulo aturi nglempak saklebeting sabin, ingak sampun kulo ancer-anceri sak pucuking blarak.

Sak sampunipun nglempak, kulo caosi daharan ngabekti; sekul petak gandha arum, gereh pethek sambel gepeng, untub-untub lan sak panunggalanipun. Gandeng anggen kulo titip wiji gugut sewu, wonten ing tegal kabenteran sampun wancinipun sepuh, badhe kulo boyong wonten soko domas bale kencono.

Kaki markukuhan, Nyai markukuhan, kukuhana kang dadi rejekiku. Nyai pakeh lan kaki Pakeh, akehono kang dadi rejekiku, yen ana kekurangane, tukuo neng pasar dieng, lan seksenono ing dino … (nama hari) minggu legi punika.

*sekarang kalian tahu kenapa saya pinter nulis lirik rap :p

menyiram air kendhi dadap sirep

Setelah membaca mantra, saya menyiram air kendhi yang dimasuki daun dari pohon dadap sirep sebagi simbol untuk menenangkan hati dan pikiran setelah sekian lama berjuang menumbuhkan padi. Rep kedhep dadap sirep. Juga menyebar beberapa makanan ke tengah sawah. Kemudian membungkus empat bungkusan hidangan yang akan ditaruh di empat sudut sawah, itu adalah simbol kiblat papat siji pancer; kakang kawah, adi ari-ari, getih, lan puser, kang nyawiji dadi siji.

Duh, kalau semua diterangin gak akan ada habisnya. Googling please untuk kiblat papat limo pancer ini :D

Setelah semua sudut selesai, saya memotong serumpun pohon padi kemudian dihias untuk dibawa pulang. Biasanya kemudian ditaruh diatas pintu. Tapi karena rumah saya masih di renovasi, rumpun padi itu aku taruh dipangkuan patung Budha yang terdapat di kamar mandi saya.

menyajikan hidangan yang langka

Terakhir, seharusnya saya melayani semua teman dan saudara tani yang hadir untuk bersantap, tapi karena saya terlalu males, maka semua yang hadir saya persilahkan untuk mengambil hidangan tersebut sendiri-sendiri.

Akhirnya kami bersuka-cita menikmati hidangan yang sudah puluhan tahun tidak kami nikmati tersebut. Pada bagian akhir, teman-teman dari kota membawakan beer dan kami bersendau gurau di sawah hingga maghrib tiba.

salam tani faaak yeah!!!

Sungguh sebuah minggu sore yang istimewa. Terima kasih untuk semua teman-teman yang hadir dan membantu terselenggaranya wiwitan ini.

Seminggu lagi saya panen; panggunggung ajining damen

Kill the DJ

Petani yang nyambi nge-rap di unit hip hop agraris; Jogja Hip Hop Foundation.  

Jogja Hip Hop Foundation di Tugu - photo by @kristupa

Jogja Hip Hop Foundation di Tugu – photo by @kristupa

Akhir 2010, isu Keistimewaan Yogyakarta yang hendak diubah Jakarta (baca: pemerintah pusat) sedang panas-panasnya, lagu Jogja Istimewa hadir mengiringi langkah-langkah yang gagah dan berani, menyatukan semangat, dan menjadi soundtrack bagi seluruh rakyat Yogyakarta dalam memperjuangkan keistimewaan itu. Makna kehadirannya semakin terasa istimewa karena lagu itu juga menjadi penyebar semangat bagi warga Yogyakarta untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana erupsi Merapi.

Pada sebuah kesempatan, saya pernah menyampaikan bahwa lagu tersebut bagai Pisau Bermata Dua, yang bisa menjadi dukungan atas perjuangan Yogyakarta, tapi sekaligus bisa menjadi pengingat atau kritik bagi seluruh warga, pamong praja, para pemimpin dan penguasa di Yogyakarta, jika dalam mengemban amanatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kearifan dalam lagu tersebut.

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan “Membedah Lirik Jogja Istimewa”, lagu tersebut 90% liriknya bersumber dari realitas sejarah yang saya tulis ulang, mencerminkan nilai-nilai luhur yang telah tertanam sebagai tradisi dan identitas Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta sesungguhnya harus dimaknai bukan hanya sebatas namanya yang kembali dikukuhkan sebagai Daerah Istimewa, tapi bagaimana kita memaknai keistimewaan tersebut dalam praktik kehidupan sebagai warga Yogyakarta tak terkecuali siapa pun orang itu, warga biasa, maupun seorang walikota, bahkan raja.

“Tanah yang melahirkan tahta, tahta untuk rakyat, di mana rajanya bercermin di kalbu rakyat, di sanalah singgahsana bermartabat, berdiri kokoh mengayomi rakyat”. saya menulis dengan merinding kutipan lirik tersebut, karena membaca sejarah Kraton Yogyakarta dari jaman perjuangan kemerdekaan hingga reformasi yang selalu tercatat bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai kraton rakyat yang selalu mengayomi seperti nilai “memayu hayuning bhawana” yang diembannya. Seperti itulah seharusnya kekuasaan dalam berbagai level pemerintahan di Yogyakarta diemban.

Apakah saat ini Ngayogyokarto Hadiningrat dan berbagai institusi pemerintahan di Yogyakarta masih menjadi ‘kraton rakyat’ hingga sekarang? Semuanya kembali kepada akar rumput, warga biasa, di sanalah permasalahan-permasalahan riil secara gamblang terbaca, meskipun dalam sisi dan kasus yang sangat spesifik kita tetap boleh curiga kepentingan politis tertentu yang menggerakkan mereka. Apapun itu, persis seperti ketika perjuangan membela keistimewaan, saya adalah ‘kelas menengah ngehek’ yang berdiri dibalik wong cilik, akar rumput yang turun memenuhi jalan-jalan untuk mendukung keistimewaan pada waktu itu.

Ing Ngarso Sung Thulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani …

Saya, bersama teman-teman di Jogja Hip Hop Foundation akan selalu lantang menyanyikan lagu Jogja Istimewa untuk mengingatkan nilai-nilai luhur yang tertulis dalam lirik tersebut. Karena hanya dengan keberanian dan kelapangan hati untuk bisa mengkritik diri sendiri agar menjadi lebih baik, maka kita pantas menyebut ‘tetap istimewa’.

 

Kill the DJ

Penulis lagu Jogja Istimewa kelahiran Klaten

Saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) tahun 2003 dengan mimpi yang sederhana, membantu teman-teman raper berbahasa Jawa di Yogyakarta untuk lebih berkembang dan dikenal dalam konteks kesenian dan wacana yang pas, waktu itu saya masih bekerja sebagai perupa dan musisi electronic, tidak terbayang jika setahun kemudian akhirnya saya ikut nge-rap. Demikian juga ketika JHF yang awalnya adalah komunitas saat ini kemudian berkembang menjadi semacam kolektif group, band, atau crew dalam hip hop. Semua berjalan dengan natural. Apa yang kita capai sekarang adalah buah dari konsistensi pada jalur yang kita pilih; investasi komitmen dan integritas hampir satu dekade berkarya kolektif dalam jalur hip hop jawa.

Newyorkarto adalah konser restropeksi perjalanan kami, dari panggung-panggung kecil di kampung-kampung kota Jogja hingga ke panggung-panggung internasional yang prestisius dan menjadi group hip hop pertama dari Indonesia yang berkesampatan menggelar konsernya secara ekslusif di kota kelahiran hip hop; New York –yang kami sendiri sesungguhnya tidak pernah berani memimpikannya. Semua elemen baik musikal maupun artistik merepresentasikan background sosial dan cultural yang membentuk dan menginspirasi kami; gamelan, wayang, penari dll. Demikian juga orang-orang yang terlibat dalam konser Newyorkarto ini, mereka adalah teman setia yang menemani perjalanan kami selama ini. Sesungguhnya tradisi bukan sesuatu yang kaku layaknya post card pariwisata, tapi tradisi terus tumbuh dan bersinggungan dengan kekinian untuk membentuk dirinya.

Newyorkarto adalah nama yang kami temukan ketika kami hendak menggelar konser di New York. Undangan itu datang dengan alasan, bahwa energi dan spirit asli rap/hip hop ketika pertama kali muncul di New York, sesungguhnya bisa ditemui di kota Yogyakarta dalam bentuk yang lain. Kita akan mencoba menggelar sebuah dunia cerita bernama Newyorkarto layaknya cerita pewayangan dalam konser ini.

Akhirnya, saya dan teman-teman JHF mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua orang yang telibat dalam konser ini, kepada para sponsor dan donatur yang telah memungkinkan acara ini terwujud, dan tentu saja kehadiran teman-teman yang menonton konser ini.

Selamat menikmati.

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Founder Jogja Hip Hop Foundation

*diambil dari tulisan pengantar katalog pertunjukan

Teman-teman,

Berikut kami release secara sederhana kumpulan lagu-lagu ‘konyol’, ‘jelek’ dan ‘goblok’ dari Kill the DJ dan Soimah Pancawati yang tidak akan direlease secara resmi. Dulu rencananya kita mau mengumpulkan lagu-lagu ini dalam sebuah album berjudul “Semiotika Pantura”, itu kenapa irama dan liriknya ‘menye-menye’ nggak jelas dan tidak boleh dikritik, baik kualitas rekamannya maupun liriknya. Yang ngritik berarti ngajak berantem!!! Hahaha.

Sesungguhnya karena kesibukan masing-masing yang semakin padat, akhirnya proyek ini terbengkalai. Anyway, karena kita menyikapi proyek ini dengan santai juga, dari pada tersimpan gak jelas, yowis, proyek ini kita gratiskan alakadarnya buat kamu-kamu yang males mengeluarkan duit buat karya-karya musik Indonesia dan hobinya mengkonsumsi bajakan.

Kumpulan Semiotika Pantura sebenarnya terdiri dari banyak lagu, umurnya lagu-lagu tersebut sebenarnya sudah lebih dari empat tahun, tapi yang sudah rekaman di rumah (belum ke studio) baru empat lagu sebagai berikut;

  1. A-A-AKU
  2. Balada Orgen Tunggal
  3. Cinta Mati Cinta
  4. Jangan Ada Anarki di Antara Kita

Silahkan download secara gratis dan disebar secara membabi buta!!!

Link Download: http://www.mediafire.com/?had5iws823hdt5h

Salam Pantura !

Kill the DJ & Soimah

Tanggal 5 dan 6 November 2011 adalah hari yang sangat penting buatku.

Pada tanggal 5 November dini hari, bersama @masgufi @effort_creative @AndyKrebo, aku melakukan napak tilas peristiwa setahun yang lalu ketika membantu evakusi erupsi Merapi. Kami kembali mengenang dimana setahun yang lalu kami bahu-membahu tanpa rasa takut (entah apa yang membuat kami begitu berani) mencoba menolong warga dari terjangan awan dan material panas Merapi yang sedang marah. Malam itu kami duduk di pinggiran kali Gendol – Argomulyo, tepat setahun yang lalu kami berada di sana, di mana saat itu garis antara hidup dan mati begitu dekat. Ditemani beberapa botol beer kami berdoa dengan cara kami untuk mengenang apa yang sudah kami lakukan dan mengenang relawan-relawan yang terkubur di sana (selengkapnya bisa dibaca di My Evacuation Timeline).

Kami tirakatan dengan cara kami hingga pukul 5 dini hari, kemudian kami pulang. Peristiwa sesungguhnya, kami berada di lokasi itu hingga pukul 10:00. Oh iya, di malam tirakatan itu aku juga menulis sebuah surat penting untuk seseorang, mungkin suatu saat akan aku publikasikan seperti Every Single Night.

Kemudian aku bangun jam 11:00 dan mendadak ingat besok, tgl 6 November, adalah hari raya Idhul Adha atau Hari Raya Kurban. Mungkin karena masih dalam suasana romantis, tiba-tiba aku mencoba menelpon Mas Asih, putera mbah Maridjan yang sekarang menjadi juru kunci Merapi, bersama warga Kinahredjo dia masih tinggal di Shelter (hunian sementara) Ploso Kerep.

“Besok kambingnya sudah cukup, pak?” Tanyaku.

“Baru ada lima, tidak cukup untuk Shelter, kalau ada tambahan bagus, mas” Jawab Mas Asih lirih.

“Ok. Aku bawa satu besok” Timpalku tanpa berpikir panjang.

Masih teringat bahwa setahun yang lalu ton-tonan daging Kurban terkirim ke lereng Merapi untuk para pengungsi hingga bingung mengolahnya dan saat ini mereka kekurangan. Membantu memang trend!

Kemudian aku menelpon @ganisrumpoko; teman yang selalu bersamaku saat ini, mengajaknya untuk berbagi dan mengerjakannya bersama. Teknisnya dibantu mas @putraptot untuk mencari kambing terbaik dan mengangkutnya ke Shelter Ploso Kerep di lereng Merapi. Paginya, kami berangkat pukul 08:00, kambing yang kami beri nama Mohamad Didier Drogba itu kami angkut dengan mobilnya @TalkinAndy yang setahun yang lalu aku bawa untuk mengevakuasi  ratusan warga dan puluhan mayat.

Di tengah jalan kami berhenti untuk memotret spanduk ini;

Kurban Bukti Cinta. Lebay tapi memang benar adanya.

Sampai di Shelter Ploso Kerep, warga Kinahredjo bergembira menyambut kedatangan kami. Karena sejarah yang mengharu-biru sejak erupsi 2006, mereka selalu spesial buatku. Tapi mendadak @ganisrumpoko merasa tidak rela Mohamad Didier Drogba disembelih karena dia sangat ganteng. Dasar jomblo konyol! Tentu saja akhirnya tetap disembelih.

Tibalah moment yang paling special, ketika kami menunggu waktu pembagian daging kurban, sungguh aku sangat bersyukur dikaruniai kesempatan bermain gamelan #GugurGunung bareng anak-anak Kinah Redjo. Gamelan itu adalah hasil sumbangan sebuah konser amal musisi-musisi Jogja bernama #GugurGunung yang aku terlibat menginisiasi bersama @ErixSoekamti dkk.

#GugurGunung; hashtag twitter yang abadi karena terukir di seperangkat gamelan

Sebuah kebahagiaan yang sempurna. Setahun yang lalu aku ikut mengevakuasi anak-anak ini dari erupsi Merapi, tidak akan pernah membayangkan bahwa kemudian kami bisa punya kesempatan bermain gamelan bersama saat ini.

Tentang Kurban, #GugurGunung, dan segala apa yang telah aku lakukan bersama teman-teman di lereng Merapi, bukanlah tentang pahala dan surga. Ini adalah ekspresi kemanusiaan yang jujur, sebagai manusia aku sangat menikmati berbagi bersama mereka.

Terima kasih sudah berbagi bersamaku. Semoga cerita ini bermanfaat

@killthedj

download via mediafire; http://www.mediafire.com/?s9dpa9dagpi0mv6

RELEASE SINGLE (SEPUCUK SURAT)

NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA

Saya, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ, Founder Jogja Hip Hop Foundation (JHF), dengan segala kerendahan hati me-release sebuah single berjudul ‘Nagera dalam Keadaan Bahaya’. Secara singkat, lagu ini adalah semacam surat saya sebagai rakyat Indonesia untuk para penyelenggara negara agar benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyatnya. Terus terang saya lelah, dan kehilangan selera ngoceh perihal berbagai wacana dan isu besar melalui social media. Melalui lagu ini, saya kembali mengambil peran saya sebagai seniman, yaitu berbicara dengan karya.

Tema single ini meneruskan single-single sosial politik saya sebelumnya; ‘Cicak Nguntal Boyo’ dan ‘Busung Lapar di Lumbung Padi’, yang memang sengaja diciptakan untuk mendukung sebuah gerakan. Seperti juga saya menulis lirik ‘Jogja Istimewa’ yang kemudian menjadi soundtrack bagi berbagai gerakan rakyat Yogyakarta.

Dari sisi musikalitas, ini adalah proyek solo yang saya gunakan untuk sejenak beristirahat dan mengambil jarak dari berbagai proyek JHF yang selalu mengulik literatur Jawa dan musik hip hop bernuansa tradisional Jawa. Saya butuh sesuatu yang segar untuk bisa kembali suntuk dengan bahasa dan tradisi Jawa. Saya memilih energy old school hip hop yang didominasi suara real drum, string, dan piano dengan menghindari nada-nada pentatonis. Saya juga memilih refrain, bukan hook hip hop seperti biasanya.

Artinya, ijinkan saya sedikit menyanyi, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak mempunyai suara bagus untuk menyanyi. Semua liriknya juga berbahasa Indonesia, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya juga memilih menyusun kalimat yang sangat verbal, karena tanda-tanda dan symbol sudah sedemikian membosankan dalam tema sosial-politik.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa lagu untuk sebuah album solo dengan gaya dan tema seperti tersebut diatas, yang semula saya rencanakan untuk di-release akhir tahun 2011 ini, sebelum kembali sibuk dengan jadwal padat untuk berbagai proyek dan tour di luar negeri bersama JHF tahun depan. Tapi dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, saya merasa mendesak untuk segera merilis single ‘Negara dalam Keadaan Bahaya’ terlebih dahulu. Ini sudah menjadi resiko dari cara saya berkarya, karena hampir semua inspirasi diambil dari situasi sosial di lingkungan sekitar saya.

Semoga lagu yang saya ciptakan berguna.

Salam

Kill the DJ

LIRIK

NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA

Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu

HOOK:
Negara dalam keadaan bahaya
Penguasa lupa amanat rakyatnya
Menutup mata derita bangsanya
Pertiwi manangis merintih dan berdoa

Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena penguasa dan mafia bekerjasama
Demokrasi digadaikan dan tersandra
Di mimbar mengumbar janji
Janji bohong dan bohong lagi
Rakyat sudah lelah memaklumi
Mau dibawa kemana negeri ini?
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Politisi tan moral dan etika, pamer kebusukan di media, rakyat hanya bisa mengelus dada
Wakil miring di gedung rakyat
Bersatu padu dalam kongsi jahat
Musyawarah mufakat untuk menipu rakyat
Lupa siapa yang memberi amanat

HOOK:

Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan Bahaya
Karena penguasa lupa dasar negara
Di balik jubah agama menipu tuhan pun bisa
Minoritas beribadah dalam ancaman
Negara gagal memberi rasa aman
Bhineka Tunggal Ika mati di Jalanan
Inilah orde pembangunan jalan menuju kehancuran
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena tanah kaya bukan lagi milik rakyatnya
Mereka tersingkir dari tanah leluhurnya
Warga mendesak perubahan di Jakarta
Tapi di daerah ada yang ingin merdeka
NKRI adalah omong kosong belaka
Tanpa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

HOOK

Lagu ini adalah surat dari rakyat
Kepada para pemegang amanat
Cinta rakyat pada negeri ini tanpa syarat
Hingga badan dikandung hayat
Lihatlah rakyat terus bekerja
Susah payah terus memupuk asa
Bercerminlah di kalbu mereka
Maka akan kau pahami apa itu Indonesia

HOOK

Anak negeri yang mati di lumbung padi
Mengirim kabar pada pertiwi
Negara gagal melindungi kami
Masyarakat adil makmur hanya mimpi

 

SEJARAH KATA-KATA

Seperti dalam lagu Busung Lapar di Lumbung Padi, dalam lagu kali ini pun saya juga meminjam beberapa kalimat dari timeline twitter atau dari sumber lain yang pernah dipublikasikan oleh seseorang. Dan atas nama etika, saya selalu menyampaikan bahwa saya menggunakan kata-kata tersebut kepada yang bersangkutan.

Judul “Negara dalam Keadaan Bahaya” juga pernah digunakan oleh Melancholic Bitch ( @simelbi ) sebelumnya. Tapi masih berupa draft/demo. Saya pernah bertukar pikiran denga Ugoran Prasad ( vokalis @simelbi ) tentang hal ini sebelum Ugo akanmenulis lagu itu dan ketika saya menulis lagu versi saya. Sebenarnya reffrainnya saya meminta dia untuk mengisi, tapi karena mis-koordinasi, dia keburu pergi ke Amsterdam. Dalam hal lirik, dalam tema sosial-politik saya selalu memilih kalimat verbal dan frontal, bahkan hingga berusaha untuk menghindari istilah-istilah intelek, dengan tujuan agar bisa dipahami oleh orang awam sekali pun. Dalam hal ini Ugo memberikan dukungan sepenuhnya berkaitan dengan urgensi komunikasi.

Kalimat ini dari twit @lantip “Jangan bertanya apa yang negara berikan padamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu” pas seorang TKI dipancung di Arab Saudi

Kalimat ini dari @roysayur “Wakil miring di gedung rakyat” pas ramai-ramainya kasus Bank Century.

“Kongsi Jahat” itu nama semacam organizer underground dari kota Yogyakarta ( @dasojie @masgufi )

“Lihatlah rakyat terus bekerja, tiada kata putus asa, cintanya pada negeri tanpa syarat” itu dari tulisan @aniesbaswedan di harian Kompas (25 Juli 2011) berjudul ‘Peringatan Untuk Pemimpin’.

Link Media;

http://rollingstone.co.id/read/2011/09/06/175821/1716844/1093/kill-the-dj-tegur-pemerintah-lewat-lagu-negara-dalam-keadaan-bahaya

http://rollingstone.co.id/read/2011/09/07/181120/1717705/1093/kill-the-dj-segera-rilis-album-solo-dan-ingin-ajak-glenn-fredly

Ijinkan saya upload sebuah surat yang saya kirimkan ke teman-teman Maluku Hip Hop Community, yang ternyata kemudian dimuat di cover album Beta Maluku yang dilaunching bulan Mei 2011 kemarin. Berikut isi suratnya;

18 November 2010

Dear Maluku Hip Hop Community,

Nilai-nilai hip hop tidak penting lagi untuk dibicarakan, tapi apa yang bisa kita perbuat dengan hip hop untuk lingkungan sosial dan kebudayaan kita. Teruslah bekerja, lupakan negara, kita mulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita.

Yang muda, yang rukun, yang membangun, dan kelak memetik hasilnya…

Maximum Respect!

Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ

Hasil foto saya sebagai oleh-oleh dari Sydney

Logic takes you A to B. Imagination takes you everywhere (Albert Einstein)

Sungguh bahagia berada di tengah-tengah Jogja Hip Hop Foundation dengan energi kreasi yang luar biasa. Tanpa tendensi kesenimanan yang ndakik-ndakik, bertele-tele, atau kontemporer. Semuanya biasa saja, berjalan dengan menyenangkan, karena apa yang ingin kita kerjakan dilandasi dengan nilai kejujuran yang sungguh susah ditawar. Terkenal, atau jalan-jalan ke luar negeri, bukanlah tujuan, meskipun tentu saja kita senang dengan hal itu, karena berarti apa yang kita kerjakan mendapat apresiasi. Yang paling penting dari semuanya adalah kejujuran dalam berekspresi dan menikmatinya dengan hasrat.

Saya bukanlah orang yang begitu tertarik dengan dunia marketing dan promosi secara umum, karena saya sangat mengerti, bahwa setiap pilihan mempunyai resiko dan jalannya sendiri, dalam hal ini tentang Java hip hop yang sudah mendarah daging dan kami geluti lebih dari 8 tahun secara bersama-sama. Pada akhrinya waktu akan selalu memberikan jawaban kepada kita. Setelah dari Canberra dan Sydney, bersama teman-teman Jogja Hip Hop Foundation, saya akan berangkat ke New York pada tanggal 8 Mei 2011.

It’s not how good you are, but how good you want to be (Paul Arden)

Kill the DJ

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 161 other followers