Archive

Tag Archives: Kill the DJ’s Note

Saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) tahun 2003 dengan mimpi yang sederhana, membantu teman-teman raper berbahasa Jawa di Yogyakarta untuk lebih berkembang dan dikenal dalam konteks kesenian dan wacana yang pas, waktu itu saya masih bekerja sebagai perupa dan musisi electronic, tidak terbayang jika setahun kemudian akhirnya saya ikut nge-rap. Demikian juga ketika JHF yang awalnya adalah komunitas saat ini kemudian berkembang menjadi semacam kolektif group, band, atau crew dalam hip hop. Semua berjalan dengan natural. Apa yang kita capai sekarang adalah buah dari konsistensi pada jalur yang kita pilih; investasi komitmen dan integritas hampir satu dekade berkarya kolektif dalam jalur hip hop jawa.

Newyorkarto adalah konser restropeksi perjalanan kami, dari panggung-panggung kecil di kampung-kampung kota Jogja hingga ke panggung-panggung internasional yang prestisius dan menjadi group hip hop pertama dari Indonesia yang berkesampatan menggelar konsernya secara ekslusif di kota kelahiran hip hop; New York –yang kami sendiri sesungguhnya tidak pernah berani memimpikannya. Semua elemen baik musikal maupun artistik merepresentasikan background sosial dan cultural yang membentuk dan menginspirasi kami; gamelan, wayang, penari dll. Demikian juga orang-orang yang terlibat dalam konser Newyorkarto ini, mereka adalah teman setia yang menemani perjalanan kami selama ini. Sesungguhnya tradisi bukan sesuatu yang kaku layaknya post card pariwisata, tapi tradisi terus tumbuh dan bersinggungan dengan kekinian untuk membentuk dirinya.

Newyorkarto adalah nama yang kami temukan ketika kami hendak menggelar konser di New York. Undangan itu datang dengan alasan, bahwa energi dan spirit asli rap/hip hop ketika pertama kali muncul di New York, sesungguhnya bisa ditemui di kota Yogyakarta dalam bentuk yang lain. Kita akan mencoba menggelar sebuah dunia cerita bernama Newyorkarto layaknya cerita pewayangan dalam konser ini.

Akhirnya, saya dan teman-teman JHF mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua orang yang telibat dalam konser ini, kepada para sponsor dan donatur yang telah memungkinkan acara ini terwujud, dan tentu saja kehadiran teman-teman yang menonton konser ini.

Selamat menikmati.

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Founder Jogja Hip Hop Foundation

*diambil dari tulisan pengantar katalog pertunjukan

Teman-teman,

Berikut kami release secara sederhana kumpulan lagu-lagu ‘konyol’, ‘jelek’ dan ‘goblok’ dari Kill the DJ dan Soimah Pancawati yang tidak akan direlease secara resmi. Dulu rencananya kita mau mengumpulkan lagu-lagu ini dalam sebuah album berjudul “Semiotika Pantura”, itu kenapa irama dan liriknya ‘menye-menye’ nggak jelas dan tidak boleh dikritik, baik kualitas rekamannya maupun liriknya. Yang ngritik berarti ngajak berantem!!! Hahaha.

Sesungguhnya karena kesibukan masing-masing yang semakin padat, akhirnya proyek ini terbengkalai. Anyway, karena kita menyikapi proyek ini dengan santai juga, dari pada tersimpan gak jelas, yowis, proyek ini kita gratiskan alakadarnya buat kamu-kamu yang males mengeluarkan duit buat karya-karya musik Indonesia dan hobinya mengkonsumsi bajakan.

Kumpulan Semiotika Pantura sebenarnya terdiri dari banyak lagu, umurnya lagu-lagu tersebut sebenarnya sudah lebih dari empat tahun, tapi yang sudah rekaman di rumah (belum ke studio) baru empat lagu sebagai berikut;

  1. A-A-AKU
  2. Balada Orgen Tunggal
  3. Cinta Mati Cinta
  4. Jangan Ada Anarki di Antara Kita

Silahkan download secara gratis dan disebar secara membabi buta!!!

Link Download: http://www.mediafire.com/?had5iws823hdt5h

Salam Pantura !

Kill the DJ & Soimah

Tanggal 5 dan 6 November 2011 adalah hari yang sangat penting buatku.

Pada tanggal 5 November dini hari, bersama @masgufi @effort_creative @AndyKrebo, aku melakukan napak tilas peristiwa setahun yang lalu ketika membantu evakusi erupsi Merapi. Kami kembali mengenang dimana setahun yang lalu kami bahu-membahu tanpa rasa takut (entah apa yang membuat kami begitu berani) mencoba menolong warga dari terjangan awan dan material panas Merapi yang sedang marah. Malam itu kami duduk di pinggiran kali Gendol – Argomulyo, tepat setahun yang lalu kami berada di sana, di mana saat itu garis antara hidup dan mati begitu dekat. Ditemani beberapa botol beer kami berdoa dengan cara kami untuk mengenang apa yang sudah kami lakukan dan mengenang relawan-relawan yang terkubur di sana (selengkapnya bisa dibaca di My Evacuation Timeline).

Kami tirakatan dengan cara kami hingga pukul 5 dini hari, kemudian kami pulang. Peristiwa sesungguhnya, kami berada di lokasi itu hingga pukul 10:00. Oh iya, di malam tirakatan itu aku juga menulis sebuah surat penting untuk seseorang, mungkin suatu saat akan aku publikasikan seperti Every Single Night.

Kemudian aku bangun jam 11:00 dan mendadak ingat besok, tgl 6 November, adalah hari raya Idhul Adha atau Hari Raya Kurban. Mungkin karena masih dalam suasana romantis, tiba-tiba aku mencoba menelpon Mas Asih, putera mbah Maridjan yang sekarang menjadi juru kunci Merapi, bersama warga Kinahredjo dia masih tinggal di Shelter (hunian sementara) Ploso Kerep.

“Besok kambingnya sudah cukup, pak?” Tanyaku.

“Baru ada lima, tidak cukup untuk Shelter, kalau ada tambahan bagus, mas” Jawab Mas Asih lirih.

“Ok. Aku bawa satu besok” Timpalku tanpa berpikir panjang.

Masih teringat bahwa setahun yang lalu ton-tonan daging Kurban terkirim ke lereng Merapi untuk para pengungsi hingga bingung mengolahnya dan saat ini mereka kekurangan. Membantu memang trend!

Kemudian aku menelpon @ganisrumpoko; teman yang selalu bersamaku saat ini, mengajaknya untuk berbagi dan mengerjakannya bersama. Teknisnya dibantu mas @putraptot untuk mencari kambing terbaik dan mengangkutnya ke Shelter Ploso Kerep di lereng Merapi. Paginya, kami berangkat pukul 08:00, kambing yang kami beri nama Mohamad Didier Drogba itu kami angkut dengan mobilnya @TalkinAndy yang setahun yang lalu aku bawa untuk mengevakuasi  ratusan warga dan puluhan mayat.

Di tengah jalan kami berhenti untuk memotret spanduk ini;

Kurban Bukti Cinta. Lebay tapi memang benar adanya.

Sampai di Shelter Ploso Kerep, warga Kinahredjo bergembira menyambut kedatangan kami. Karena sejarah yang mengharu-biru sejak erupsi 2006, mereka selalu spesial buatku. Tapi mendadak @ganisrumpoko merasa tidak rela Mohamad Didier Drogba disembelih karena dia sangat ganteng. Dasar jomblo konyol! Tentu saja akhirnya tetap disembelih.

Tibalah moment yang paling special, ketika kami menunggu waktu pembagian daging kurban, sungguh aku sangat bersyukur dikaruniai kesempatan bermain gamelan #GugurGunung bareng anak-anak Kinah Redjo. Gamelan itu adalah hasil sumbangan sebuah konser amal musisi-musisi Jogja bernama #GugurGunung yang aku terlibat menginisiasi bersama @ErixSoekamti dkk.

#GugurGunung; hashtag twitter yang abadi karena terukir di seperangkat gamelan

Sebuah kebahagiaan yang sempurna. Setahun yang lalu aku ikut mengevakuasi anak-anak ini dari erupsi Merapi, tidak akan pernah membayangkan bahwa kemudian kami bisa punya kesempatan bermain gamelan bersama saat ini.

Tentang Kurban, #GugurGunung, dan segala apa yang telah aku lakukan bersama teman-teman di lereng Merapi, bukanlah tentang pahala dan surga. Ini adalah ekspresi kemanusiaan yang jujur, sebagai manusia aku sangat menikmati berbagi bersama mereka.

Terima kasih sudah berbagi bersamaku. Semoga cerita ini bermanfaat

@killthedj

download via mediafire; http://www.mediafire.com/?s9dpa9dagpi0mv6

RELEASE SINGLE (SEPUCUK SURAT)

NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA

Saya, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ, Founder Jogja Hip Hop Foundation (JHF), dengan segala kerendahan hati me-release sebuah single berjudul ‘Nagera dalam Keadaan Bahaya’. Secara singkat, lagu ini adalah semacam surat saya sebagai rakyat Indonesia untuk para penyelenggara negara agar benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyatnya. Terus terang saya lelah, dan kehilangan selera ngoceh perihal berbagai wacana dan isu besar melalui social media. Melalui lagu ini, saya kembali mengambil peran saya sebagai seniman, yaitu berbicara dengan karya.

Tema single ini meneruskan single-single sosial politik saya sebelumnya; ‘Cicak Nguntal Boyo’ dan ‘Busung Lapar di Lumbung Padi’, yang memang sengaja diciptakan untuk mendukung sebuah gerakan. Seperti juga saya menulis lirik ‘Jogja Istimewa’ yang kemudian menjadi soundtrack bagi berbagai gerakan rakyat Yogyakarta.

Dari sisi musikalitas, ini adalah proyek solo yang saya gunakan untuk sejenak beristirahat dan mengambil jarak dari berbagai proyek JHF yang selalu mengulik literatur Jawa dan musik hip hop bernuansa tradisional Jawa. Saya butuh sesuatu yang segar untuk bisa kembali suntuk dengan bahasa dan tradisi Jawa. Saya memilih energy old school hip hop yang didominasi suara real drum, string, dan piano dengan menghindari nada-nada pentatonis. Saya juga memilih refrain, bukan hook hip hop seperti biasanya.

Artinya, ijinkan saya sedikit menyanyi, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak mempunyai suara bagus untuk menyanyi. Semua liriknya juga berbahasa Indonesia, meskipun saya tahu, bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya juga memilih menyusun kalimat yang sangat verbal, karena tanda-tanda dan symbol sudah sedemikian membosankan dalam tema sosial-politik.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa lagu untuk sebuah album solo dengan gaya dan tema seperti tersebut diatas, yang semula saya rencanakan untuk di-release akhir tahun 2011 ini, sebelum kembali sibuk dengan jadwal padat untuk berbagai proyek dan tour di luar negeri bersama JHF tahun depan. Tapi dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, saya merasa mendesak untuk segera merilis single ‘Negara dalam Keadaan Bahaya’ terlebih dahulu. Ini sudah menjadi resiko dari cara saya berkarya, karena hampir semua inspirasi diambil dari situasi sosial di lingkungan sekitar saya.

Semoga lagu yang saya ciptakan berguna.

Salam

Kill the DJ

LIRIK

NEGARA DALAM KEADAAN BAHAYA

Jangan bertanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu

HOOK:
Negara dalam keadaan bahaya
Penguasa lupa amanat rakyatnya
Menutup mata derita bangsanya
Pertiwi manangis merintih dan berdoa

Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena penguasa dan mafia bekerjasama
Demokrasi digadaikan dan tersandra
Di mimbar mengumbar janji
Janji bohong dan bohong lagi
Rakyat sudah lelah memaklumi
Mau dibawa kemana negeri ini?
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Politisi tan moral dan etika, pamer kebusukan di media, rakyat hanya bisa mengelus dada
Wakil miring di gedung rakyat
Bersatu padu dalam kongsi jahat
Musyawarah mufakat untuk menipu rakyat
Lupa siapa yang memberi amanat

HOOK:

Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan Bahaya
Karena penguasa lupa dasar negara
Di balik jubah agama menipu tuhan pun bisa
Minoritas beribadah dalam ancaman
Negara gagal memberi rasa aman
Bhineka Tunggal Ika mati di Jalanan
Inilah orde pembangunan jalan menuju kehancuran
Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena tanah kaya bukan lagi milik rakyatnya
Mereka tersingkir dari tanah leluhurnya
Warga mendesak perubahan di Jakarta
Tapi di daerah ada yang ingin merdeka
NKRI adalah omong kosong belaka
Tanpa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

HOOK

Lagu ini adalah surat dari rakyat
Kepada para pemegang amanat
Cinta rakyat pada negeri ini tanpa syarat
Hingga badan dikandung hayat
Lihatlah rakyat terus bekerja
Susah payah terus memupuk asa
Bercerminlah di kalbu mereka
Maka akan kau pahami apa itu Indonesia

HOOK

Anak negeri yang mati di lumbung padi
Mengirim kabar pada pertiwi
Negara gagal melindungi kami
Masyarakat adil makmur hanya mimpi

 

SEJARAH KATA-KATA

Seperti dalam lagu Busung Lapar di Lumbung Padi, dalam lagu kali ini pun saya juga meminjam beberapa kalimat dari timeline twitter atau dari sumber lain yang pernah dipublikasikan oleh seseorang. Dan atas nama etika, saya selalu menyampaikan bahwa saya menggunakan kata-kata tersebut kepada yang bersangkutan.

Judul “Negara dalam Keadaan Bahaya” juga pernah digunakan oleh Melancholic Bitch ( @simelbi ) sebelumnya. Tapi masih berupa draft/demo. Saya pernah bertukar pikiran denga Ugoran Prasad ( vokalis @simelbi ) tentang hal ini sebelum Ugo akanmenulis lagu itu dan ketika saya menulis lagu versi saya. Sebenarnya reffrainnya saya meminta dia untuk mengisi, tapi karena mis-koordinasi, dia keburu pergi ke Amsterdam. Dalam hal lirik, dalam tema sosial-politik saya selalu memilih kalimat verbal dan frontal, bahkan hingga berusaha untuk menghindari istilah-istilah intelek, dengan tujuan agar bisa dipahami oleh orang awam sekali pun. Dalam hal ini Ugo memberikan dukungan sepenuhnya berkaitan dengan urgensi komunikasi.

Kalimat ini dari twit @lantip “Jangan bertanya apa yang negara berikan padamu, tapi kenapa tidak memberikan apa-apa dari dulu” pas seorang TKI dipancung di Arab Saudi

Kalimat ini dari @roysayur “Wakil miring di gedung rakyat” pas ramai-ramainya kasus Bank Century.

“Kongsi Jahat” itu nama semacam organizer underground dari kota Yogyakarta ( @dasojie @masgufi )

“Lihatlah rakyat terus bekerja, tiada kata putus asa, cintanya pada negeri tanpa syarat” itu dari tulisan @aniesbaswedan di harian Kompas (25 Juli 2011) berjudul ‘Peringatan Untuk Pemimpin’.

Link Media;

http://rollingstone.co.id/read/2011/09/06/175821/1716844/1093/kill-the-dj-tegur-pemerintah-lewat-lagu-negara-dalam-keadaan-bahaya

http://rollingstone.co.id/read/2011/09/07/181120/1717705/1093/kill-the-dj-segera-rilis-album-solo-dan-ingin-ajak-glenn-fredly

Ijinkan saya upload sebuah surat yang saya kirimkan ke teman-teman Maluku Hip Hop Community, yang ternyata kemudian dimuat di cover album Beta Maluku yang dilaunching bulan Mei 2011 kemarin. Berikut isi suratnya;

18 November 2010

Dear Maluku Hip Hop Community,

Nilai-nilai hip hop tidak penting lagi untuk dibicarakan, tapi apa yang bisa kita perbuat dengan hip hop untuk lingkungan sosial dan kebudayaan kita. Teruslah bekerja, lupakan negara, kita mulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita.

Yang muda, yang rukun, yang membangun, dan kelak memetik hasilnya…

Maximum Respect!

Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ

Hasil foto saya sebagai oleh-oleh dari Sydney

Logic takes you A to B. Imagination takes you everywhere (Albert Einstein)

Sungguh bahagia berada di tengah-tengah Jogja Hip Hop Foundation dengan energi kreasi yang luar biasa. Tanpa tendensi kesenimanan yang ndakik-ndakik, bertele-tele, atau kontemporer. Semuanya biasa saja, berjalan dengan menyenangkan, karena apa yang ingin kita kerjakan dilandasi dengan nilai kejujuran yang sungguh susah ditawar. Terkenal, atau jalan-jalan ke luar negeri, bukanlah tujuan, meskipun tentu saja kita senang dengan hal itu, karena berarti apa yang kita kerjakan mendapat apresiasi. Yang paling penting dari semuanya adalah kejujuran dalam berekspresi dan menikmatinya dengan hasrat.

Saya bukanlah orang yang begitu tertarik dengan dunia marketing dan promosi secara umum, karena saya sangat mengerti, bahwa setiap pilihan mempunyai resiko dan jalannya sendiri, dalam hal ini tentang Java hip hop yang sudah mendarah daging dan kami geluti lebih dari 8 tahun secara bersama-sama. Pada akhrinya waktu akan selalu memberikan jawaban kepada kita. Setelah dari Canberra dan Sydney, bersama teman-teman Jogja Hip Hop Foundation, saya akan berangkat ke New York pada tanggal 8 Mei 2011.

It’s not how good you are, but how good you want to be (Paul Arden)

Kill the DJ

Foto ketika saya menggambar graffiti terakhir tahun 2005

“saya bosan membicarakan perihal hip-hop, tapi saya tertarik dengan apa yang bisa kita kerjakan dengan hip hop”

Kalimat diatas pertama kali saya tulis tahun 2004, ketika bikin newsletter yang saya sebarkan di acara It’s Hip Hop Reunion, tepat setahun setelah saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation, dan itu mendasari semua pemikiran dan aktivitas saya dalam dunia hip hop di Yogyakarta khususnya dan di Indonesia.

Sebuah mimpi yang terlintas di benak saya ketika pertama kali mendirikan Jogja Hip Hop Foundation 2003, adalah bagaimana membantu aktivitas rapper-rapper berbahasa Jawa, mencoba membuka pikiran dan wawasan komunitas ini lebih luas, untuk semakin sadar tentang pilihan dan resiko, sekaligus benefit yang bisa diraih.

Saya jarang sekali ngobrol langsung tentang pemikiran-pemikiran ini dengan teman-teman di Jogja Hip Hop Foundation, tapi memilih menghadirkan pengalaman langsung dengan peristiwa-peristiwa kecil yang saya bangun. Puncaknya melalui acara Poetry Battle (2006 s/d 2009), teman-teman crew hip hop yang berdomisili di Jogja bersinggungan langsung dengan para penyair, seniman, dan budayawan. Hal-hal yang tentu saja jauh dari pemikiran mereka sebelumnya. Saya yakin, hanya dengan cara ini maka proses membuka pikiran dan wawasan terjadi dengan alami.

Poetry Battle adalah kampanye kecil tentang ‘cinta’ kepada ‘yang lain’. Sebuah usaha untuk menghargai perbedaan. Sesuatu yang akhir-akhir ini terasa berat untuk didiskusikan di negeri Bhineka Tunggal Ika.

Saya akan mengutip perbincangan Iqbal, seorang rapper asal Ambon yang sempat berdomisili di Jogja dan terlibat dalam proses Poetry Battle, sebauh kalimat mengharukan yang juga kami tampilkan dalam film documenter Hiphopdiningrat;

“Saya punya pengalaman getir perang antar agama di Ambon, ketika terlibat di Poetry Battle harus mengerjakan lirik puisi dari Hersri Setiawan yang berbicara tentang ‘perbedaan’, itu menjadi sangat bermakna, kita harus semakin bisa menghargai perbedaan-perbedaan”

Atau dari Balance dan M2MX (Jahanam);

“mungkin kami tidak begitu paham dengan bahasa-bahasa puisi, apalagi disitu ada beberapa mantra kuno, tapi setelah dikerjakan dengan hip hop, kami bisa memahami energi kata-kata itu”

Dua kutipan tersebut menggambarkan bagaimana peristiwa dan pengalaman akan berdampak lebih efektif dari pada jargon besar. Saya memang tidak suka jargon besar, saya selalu ingin terlibat dengan urusan-urusan kecil yang secara langsung berdampak efektif buat lingkungan (habitat) saya. Seandainya saya hanya bisa mempengaruhi 10 orang dari 100 orang yang terlibat secara langsung dengan Poetry Battle, maka saya akan menilai peran saya cukup berhasil.

Saya selalu menikmati dunia kecil yang saya cintai dan dirawat untuk tumbuh.

Tentang pilihan-pilihan ngerap dengan bahasa dan music Jawa itu pun akhirnya terjelaskan dengan sendirinya melalui proses. Bahwa setiap pilihan mempunyai batasan dan resikonya masing-masing, itu sangat saya sadari, tapi mungkin tidak sepenuhnya disadari oleh teman-teman yang lain di Jogja Hip Hop Foundation. Peran saya adalah menghadirkan peristiwa secara langsung dan strategi yang secara efektif akan membuka mata dunia tentang diri kita dan apa yang bisa kita kerjakan. Semuanya dengan proses yang sangat alami seperti Poetry Battle. Pilihan membuat film documenter Hiphopdiningrat, yang secara budget jauh lebih mahal dari pada video klip, juga bagian dari strategi itu. Film tersebut sekarang telah menjadi juru bicara yang paling efektif di dunia internasional, yang bisa menjelaskan siapa diri kita; sekelompok anak-anak nakal yang ngerap dengan bahasa Jawa.

Berkat film itu pula, sekarang undangan untuk pentas di luar negeri mulai berdatangan, dan akan semakin sering berdatangan. Tentu saya sangat berpikir tentang dunia internasional, karena saya sangat sadar sedari awal, bahwa dengan pilihan bahasa Jawa, anda akan sulit diterima di pasar atau industri musik Indonesia. Sesuatu yang bisa diraih oleh hip hop berbahasa Jawa namun akan sangat sulit diraih oleh rapper berbahasa Indonesia.

Dengan berbagai peristiwa tersebut, teman-teman di Jogja Hip Hop Foundation semakin paham, dimana seharusnya mereka berdiri dan bersikap.

Hari ini saya menengok kebelakang, melihat semua peritiwa-peristiwa, suka dan duka, selama 7 tahun perjalanan Jogja Hip Hop Foundation, dan melihat dimana sekarang saya dan teman-teman berdiri. Itu seperti mimpi saya sejak pertama kali berdiri, saya selalu mencoba membunuh arogansi dan nilai-nilai hip hop itu sendiri, juga ingin selalu dekat dengan lingkungan sosial dimana kami tumbuh. Sekarang setiap kami tampil dimanapun di Jogja, baik di kampung kumuh maupun di club, selalu dipenuhi ribuan penonton yang semuanya hafal lagu-lagu kami, meskipun diumumkan hanya dengan satu status facebook dan twitter. Pentas hip hop seperti pentas kesenian rakyat, semuanya begitu akrab, nyawiji siji mukti utawa mati (bersatu padu hidup atau mati).

Kill the DJ

REFLEKSI 2010

Seperti kebiasaan di penghujung tahun, kita mencoba melakukan refleksi atas apa yang telah kita kerjakan selama setahun, melihat kembali kualitas hidup kita, melakukan koreksi atas kekurangan untuk harapan yang lebih baik lagi di tahun berikutnya. Dalam melakukan refleksi, kadang kita juga menyesal atas apa yang sudah terjadi. Selalu ada yang kurang dan lebih, saya memilih untuk bersyukur dan berterima kasih untuk apa yang telah saya kerjakan selama tahun 2010.

Ada banyak kejadian-kejadian getir diantara keceriaan, seperti meninggalnya ayah saya tercinta di usia 79 tahun. Namun demikianlah hidup, kita tidak perlu alasan untuk terus berjalan dan menikmatinya.

Berikut adalah hal-hal besar yang telah saya kerjakan dan layak untuk dikenang sepanjang hidup saya;

  1. My Evacuation Timeline; adalah cerita saya waktu ikut evakuasi warga lereng Merapi ketika terjadi letusan besar tanggal 5 November 2010. Banyak sekali cerita dari duka bencana kali ini, tapi inilah yang paling layak dikenang secara pribadi. Selengkapnya baca di http://unitedofnothing.wordpress.com/2010/11/07/my-evacuation-timeline/
  2. Peluncuran album kompilasi Jogja Istimewa 2010; sebuah penanda jaman tentang dinamika scene music subkultur di kota Yogyakarta. Selain jadi produser, saya juga menyumbangkan sebuah lagu berjudul Jogja Istimewa yang kemudian menjadi lagu rakyat; sebuah soundtrack perjuangan rakyat Jogja. Selengkapnya baca di http://jogjaistimewa.tumblr.com/
  3. Release film Hiphopdiningrat; akhirnya Jogja Hip Hop Foundation berhasil merilis film documenter yang dikerjakan hampir 2 tahun. Sebuah potret sederhana perjalanan hip hop Jawa, dari pertama kali muncul hingga pentas-pentas  di luar negeri. Selengkapnya baca di http://killdblog.wordpress.com/2010/12/06/perlawanan-hip-hop-centhini/

Tentu saya harus mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua orang yang sudah mendukung saya selama ini, terutama kepada istri saya Grace Samboh. Tanpa sahabat dan teman dekat, saya tidak mungkin bisa membuat semua hal diatas menjadi nyata. Sesungguhnya lingkungan atau habitat adalah ruang yang memungkinkan kita untuk bisa berproses dan berkarya dengan baik.

Hal yang paling susah dalam melakukan refleksi adalah melihat diri sendiri. Keberhasilan nampak gemerlap, tapi kekurangan begitu pekat. Semoga tetap dikaruniai sikap rendah hati dan kesederhanaan.

RESOLUSI 2011

Saya tidak pernah muluk-muluk, karena saya selalu percaya dengan proses dan lingkungan. Saya hanya ingin meneruskan mimpi-mimpi saya sebelumnya dan semakin meningkatkan kualitasnya;

  1. Semakin mencintai istri saya, memberi ruang semakin luas dan semakin bisa mendengarkan dia.
  2. Semakin menghargai teman-teman dekat saya, karena mereka semua yang memungkinkan saya bisa berkarya.
  3. Membangun rumah tinggal dan rampung di pertengahan 2011
  4. Film Hiphopdiningrat bisa ditonton lebih banyak orang dan sering diundang ke festival film
  5. Tour Jogja Hip Hop Foundation ke Amerika yang tertunda terlaksana di tahun 2011 ini dengan baik

Demikian, Selamat tahun baru 2011 kepada teman-teman semua, semoga seluruh makhluk di dunia berbahagia.

Gegap-gempita Piala AFF telah usai, timnas Garuda yang bermain impresif dan menjadi tim terbaik sepanjang turnamen, memang tidak memperoleh piala, namun perjuangan mereka telah merebut hati rakyat Indonesia, dan menorehkan bukti bahwa sepak bola bisa menyatukan Indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

“aku rindu persaudaran di GBK, dimana tawa pemimpin kita dan pedagang asongan melebur jadi satu… sesuai semboyan bangsa.. bhineka tunggal ika…” @arifsuyono

Selesai pertandingan, kapten timnas Firman Utina memperoleh gelar pemain terbaik, namun tidak ada senyum ketika menerimanya, yang ada di pikiran setiap pemain adalah kemenangan untuk timnas Indonesia, bukan gelar pribadi. Perjuangan dan kebersamaan pemain dalam menang dan kalah adalah inspirasi bagi jutaan rakyat Indonesia.

“Buat timnas, kalian membuktikan #garudafightsback dan menyatukan banyak orang-orang Indonesia yang beragam. Bhinneka Tunggal Ika! :)@saykoji

Dalam olah raga, menang atau kalah adalah hal yang sangat wajar, sikap sportif mengajarkan kita untuk menerimanya dengan lapang dada. Nilai-nilai olah raga adalah murni dan karenanya rakyat bisa memberikan cintanya dengan sangat tulus. Alangkah indahnya jika nilai-nilai sportivitas yang luhur yang telah diajarkan para pemain timnas ini bisa menular dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena keagungan dan kemurnian nilainya, sepak bola juga bisa menguak borok-borok politikus negeri ini yang hendak memanfaatkan gempita dan euforia rakyat Indonesia untuk kepentingan politik kotor mereka.

Sesungguhnya sepak bola telah mengajarkan banyak hal kepada kita, persoalannya adalah, apakah kita bisa mengambil pelajaran yang telah diberikan oleh sepak bola?

Gugur Gunung
Konser Amal dari Jogja untuk Indonesia

Laporan oleh: Kill The DJ



Ayo kanca-kanca ngayahi karyaning praja
Kene, kene, gugur gunung tandang gawe
Sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning Negara
Siji (loro) telu (papat) maju papat papat
Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge
Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris

(tembang Gugur Gunung)

Pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 17:42, gunung Merapi, salah satu simbol spiritual bagi kraton dan rakyat Yogyakarta, kembali mengalami erupsi, memuntahkan awan material panas disertai wedhus gembel (awan panas) yang merenggut nyawa 15 orang, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, sosok yang menjadi panutan bagi rakyat Jogja dalam kesederhanaan, pengabdian, dan tanggung jawab.

Sontak Jogja berduka, puluhan ribu penduduk lereng Merapi meninggalkan desanya menjadi pengungsi, dan masih akan bertambah lebih banyak lagi jumlah pengungsi dan korbannya seiring dengan zona aman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang hingga saat ini mencapai radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Tapi disitulah keistimewaan Jogja kembali diuji. Seperti ungkapan Bung Karno “Jogja istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya yang rela berkorban untuk republik”, warga dari berbagai unsur masyarakat bahu-membahu untuk menolong para pengungsi dan korban. Meminjam istilah Jawa; ‘ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan’ (bukan sanak saudara, ketika mati, kita ikut kehilangan), para pengungsi diibaratkan sebagai ‘tamu’ yang harus dilayani, mulai dari gerakan nasi bungkus hingga membuka rumah mereka untuk menampung para pengungsi.

Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini, dalam istilah Jawa disebut dengan ‘gugur gunung’. Istilah inilah yang kemudian digunakan sebagai judul sebuah acara konser amal; sebuah undangan terbuka bagi seluruh insan musik di kota Jogja untuk terlibat dan mencoba memberi sumbangan kepada para korban dan pengungsi. Disepkati juga bahwa hasil dari konser amal Gugur Gunung tersebut akan disumbangkan bukan hanya untuk korban dan pengungsi Merapi, tapi juga untuk korban bencana tsunami di Mentawai, dan banjir di Wasior.

Acara konser Gugur Gunung mungkin tergolong aneh, karena diadakan di kota yang justru sedang dilanda bencana. Tapi hal seperti ini adalah dinamika tipikal kota Jogja, mirip dengan gempa bumi tahun 2006, dalam situasi bagaimana pun, kehidupan diupayakan untuk tetap normal oleh warga, aktivitas ekonomi tetap dijalankan, acara-acara kesenian, pameran, konser, tetap dilangsungkan. Mungkin hanya acara-acara yang dikerjakan oleh pihak dari luar Jogja yang kemudian dibatalkan.

Gugur Gunung hanya dipersiapkan dua hari, Erick Soekamti, front man band punk asal Jogja, Endank Soekamti, menjadi komandan untuk Gugur Gunung, sementara saya, Kill the DJ, founder Jogja Hip Hop Foundation, menjadi juru bicara dari gerakan ini, dibantu rekan-rekan dari event organizer dan para musisi yang lain, akhirnya acara pun berjalan selama tiga hari, 29 s/d 31 Oktober 2010.

Konser pertama, 29 Oktober, di lapangan Lembah UGM, mendapat ujian besar, ditengah acara hujan besar tanpa henti ketika baru empat band manggung dari 24 band yang direncanakan. Begitu pula acara hari kedua, 30 Oktober, di tempat yang sama, ujian kembali datang, kali ini bukan hujan air, tapi hujan abu vulkanik yang melanda wilayah Jogja dan sekitarnya pada malam sebelumnya, acara outdoor menjadi kurang diminati. Alhasil dari dua hari konser, yang melibatkan 48 band ini, hanya mampu mengumpulkan donasi kurang lebih 4 juta rupiah.

Tapi seluruh team Gugur Gunung tidak menyerah, masih ada hari ketiga yang diplot menjadi andalan acara konser amal ini. Di hari ketiga ini line up yang diplot adalah band-band dengan nama besar yang mempunyai fans base kuat di kota Jogja, seperti; ShaggyDog, Endank Soekamti, Sheila on 7, Letto, SKJ 94, Jogja Hip Hop Foundation, dan masih banyak lagi. Juga, pada acara ketiga yang digelar di Liquid Next Generation Club tersebut, diadakan lelang barang-barang milik artis yang disumbangkan, antara lain; Topi milik Anji Drive, Gitar milik Eet Syahrani, Microphone milik Tantri Kotak, dan masih banyak lagi.

Penampil demi penampil manggung, lelang demi lelang terjual, dipandu oleh MC Lokal Anang Batas, Gepenk Kesana-Kesini, Alit Jabang Bayi, dan Kunchunk, acara berlangsung penuh guyon, kocak, dan meriah khas dagelan Mataram, seperti tidak ada beban bahwa Merapi sedang bergejolak diujung kota.

Acara malam itu berhasil mengumpulkan donasi sebesar 40-an juta rupiah yang dihasilkan dari penjualan tiket dan lelang. Setelah dikumpulkan dengan donasi dari konser hari pertama dan kedua, juga lelang yang berlangsung hingga seminggu setelah acara, total Gugur Gunung berhasil menghimpun dana 50-an juta rupiah. Sesuai dengan kesepakatan awal, yang kemudian menjadi subtitle acara ini, ‘dari Jogja untuk Indonesia’, hasil ini akan dibagi untuk sumbangan bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Khusus untuk Merapi, rencana awalnya, uang tersebut akan digunakan untuk membangun ulang rumah gamelan di dusun Kinahrejo yang hancur diterjang material panas. Jika ada kekurangan uang akan ditambah dengan dana yang berhasil dikumpulkan oleh United of Nothing, sebuah komunitas tanggap bencana di Jogja yang saya dirikan sejak 2004. Cita-citanya rumah tersebut akan diberi nama Omah Gugur Gunung, sebagai monumen untuk mengenang semangat gotong royong dan pantang menyerah dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi bencana.

Yogyakarta, 5 November 2010
Kill the DJ

Tulisan ini dimuat di RollingStone Indonesia
http://www.rollingstone.co.id/read/2010/12/02/964/13/2/Gugur-Gunung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers