Category Archives: Blog

Mantra-Mantra Jawa di New York

Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York.

Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011.

Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif ini kepada publik di New York, mengingat JHF menggunakan lirik dan musik hip hop yang berpijak pada akar tradisi Jawa.

Namun dengan komitmen yang tinggi dari Asia Society, sebuah institusi prestisius pertukaran seni dan budaya antara Asia – USA, akhirnya berhasil menghadirkan JHF di New York, sebuah group hip hop Indonesia pertama yang konser secara ekslusif di kota kelahiran musik hip hop.

New York bukanlah kota yang mudah untuk ditaklukkan. Namun New York juga kota yang sangat multikultur, dimana orang dari seluruh dunia ada di sana, dengan demikian New York bisa menerima dan menghargai perbedaan.

Rachel Cooper, sebagai direktur program seni pertunjukkan Asia Society, mengkonfirmasikan kepada saya seusai pentas;

“Awalnya saya sempat khawatir dengan publik Amerika yang skeptis terhadap program ini, Java Hip Hop? So what? Tapi setelah pertunjukan merasa lega, karena JHF sangat pandai mengikis perbedaan dengan komunikasi yang dibangun diatas panggung”.

Mendengar hal itu, saya kemudian melihat diri kami sendiri. Bagi kami, JHF adalah realitas, bukan sekedar produk yang diciptakan, kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami selalu percaya, bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukkan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa.

Seluruh penonton di auditorium itu menangkap energi yang kami berikan, hingga meninggalkan kursi dan berdiri untuk bergoyang mengikuti hentakan musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa. Seni selalu bisa menjebatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri.

Seperti halnya seniman tradisional yang agraris, kepada musik, kepada panggung, kami selalu percaya. Bukan kepada yang lain.

Seminggu di New York, adalah bingkai waktu yang spesial bagi kami, ini adalah kota dimana rap musik dan kultur hip hop lahir. Orang menyebutnya perjalanan ke New York adalah naik haji ala hip hop.

Seluruh crew JHF sangat senang bisa menghadiri block party di distrik Bronx, dimana rap musik lahir di sana, berfoto bersama legenda, dan menikmati attitude yang kasar khas distrik tersebut.

Selain itu kami juga menyempatkan diri membuat klip dengan mengambil lokasi di Time Square NYC, bernyanyi di tengah kerumunan dan mengundang perhatian publik. Kami benar-benar menguasai ruang publik itu. Sebuah komentar twitter saya pinjam untuk menggambarkan situasi ini;

“a Java Hip Hop Crew with Batik shirt, oversized pant, with no lots of jet leg, hit Time Square NYC”.

Pada dua hari terakhir, teman-teman berbelanja seperti orang gila. Membeli aneka cindera mata untuk orang-orang tersayang. Seolah tidak ada hari esok, seolah kami tidak akan bisa kembali lagi ke New York.

Namun oleh-oleh yang paling menggembirakan adalah proposal dari Center Stage US, sebuah program yang menawarkan proposal tour 10 kota untuk JHF tahun 2012.

Sepulang dari New York, kami merencanakan sebuah konser di tengah kampung dengan sound system seadanya, dari sana kami berasal.

Kill the DJ

Pemutaran Film HIPHOPDININGRAT

Pemutaran Film Dokumenter

HIPHOPDININGRAT

a film by Marzuki Mohamad & Chandra Hutagaol

Indonesia 2010 | Digital Color | 65 minutes | Java & Indonesia (with English Subtitle)

Hiphopdiningrat adalah potret perjalanan sederhana sebuah komunitas hip hop dari kota Yogyakarta, dimana mereka mencampurkan musik urban dengan tradisi akar mereka, termasuk bahasa Jawa, tanpa tendensi kontemporer. Jogja Hip Hop Foundation memulainya dengan pentas-pentas di Kampung hingga ke panggung Internasional. Film yang sudah mendapatkan banyak highlight dari berbagai media ini, adalah hasil ketekunan Kill the DJ, sebagai pendiri Jogja Hip Hop Foundation, yang rajin mendokumentasikan berbagai aktivitasnya sejak 2003, kemudian dibantu oleh temannya Chandra Hutagaol sebagai Co-Director untuk menyusunnya menjadi sebuah kisah yang layak untuk ditonton.

JADWAL PEMUTARAN:

JAKARTA
Teater Salihara Jakarta
Jl.Salihara No.16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

18 Maret 2011
Screening Reguler: 14:00 & 16:00 | HTM Rp.10.000,-

18 Maret 2011
Screening & Showcase: 19:00 | HTM Rp 50.000,- | Mahasiswa/Pelajar Rp 25.000,- (tempat terbatas) | Host by: Pandji

more info: www.salihara.org


YOGYAKARTA
Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta
Jl. Sagan No 3 Yogyakarta

22 & 23 Maret 2011
Pemutaran Reguler | Setiap jam 16:00 & 19:00 | Ticket Rp.10.000,-
Pembelian langsung ke Tiket Box Lembaga Indonesia Prancis (LIP) dibuka mulai tanggal 14 Maret 2011

21 Maret 2011 |Screening & Showcase (Invitation Only) | 19:00 | host by: Marie le Sourd


BANDUNG
23 Maret 2011 | Blitz Megaplex, Paris Van Java | Screening & Showcase: 19:00 (Invitation Only) | Host by: Gustaff

24 Maret 2011 | Lou Belle | Jl Setiabudi 56 Bandung | 19:00 | Gratis untuk umum

__________
http://www.hiphopdiningrat.com (will be accessible next March, 15, 2011)

HIPHOPDININGRAT (trailer)


Kill the DJ Dibacok

Koran Merapi – Jumat Kliwon – 11 February 2011

Sekali-kali masuk Koran Merapi yang berisi berita-berita kriminal dan sejenisnya. Isinya diambil dari kronologi yang saya sampaikan di timeline twitter dengan hastag #bacok. Sang wartawan menelpon dan saya minta copy – paste dari timeline tersebut. Hehe

Kronologi:

1. Baiklah saya coba cerita kejadian tadi dgn hastag #bacok

2. Pada waktu konser dgn glen dkk 4 feb, di backstage aku diceritain soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di daerah jogja selatan #bacok

3. Kata soimah pelakunya anak2 muda naik motor boncengan. Motifnya pemerasan. Aku waktu itu mendengarnya sambil lalu#bacok

4. Tdk mengira hari ini terjadi padaku jam19:30, tepat di jalan depan rumah, pas membuka pintu mobil, waktu akan berangkat interview. #bacok

5. Ketika sedang membuka pintu mobil, 2 orang boncengan motor menghampiriku, pura2 nanya arah alun2 utara, saya menunjukkan arahnya. #bacok

6. Tiba2 saya mendengar suara sajam dicabut dr arah belakang, pedang di sabetkan, seketika saya melompat ke depan. #bacok

7. Aku mengambil batu utk melawan, aku lempar gak kena, mereka lari memacu motor, aku ambil batu lagi dan melempar lagi. #bacok

8. Aku tidak sempat mengamati muka & plat nomor motornya. Setelah itu saya merasa punggung sakit. Ternyata sedikit kesabet.#bacok

9. Aku sempat menunggu 10mnt di lokasi. Pelaku tdk kembali. Kemudian kembali masuk rumah utk mengobati luka & ganti kaos yg robek. #bacok

10. Bersyukur lukanya sangat ringan. Kemudian aku pergi lagi utk janjian interview tadi. Tentunya aku datang terlambat. #bacok

11. Aku gak tahu motifnya apa, apakah ada hubungannya dgn cerita soimah tentang bbrp kejadian pembacokan di jogja selatan tadi? #bacok

12. Saat ini aku hanya percaya itu kriminal #biyasa. Demikian kronologi #bacok. Sekian.

13. Kejahatan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, kpd siapa saja, setiap kota menyimpan kemungkinannya. tak terkecuali jogja.

14. Aku berbagi cerita #bacok yg aku alami agar kita waspada … Semoga ketentraman selalu terjaga di Jogja.

15. Oh, ya, TKP di Jl Langenarjan Kidul. Sebelah timur Plengkung Gading. #bacok

Waspadalah.. Waspadalah..

Sekian. Terima Kasih.

Resensi: Membaca Tahta untuk Rakyat

Sebuah kerinduan akan figure pemimpin

“ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”
“setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”.
(Sultan HB 9)

Tahta untuk Rakyat; celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, adalah buku biografi pribadi Sultan HB 9, yang dihimpun oleh Mohamad Roem, Mochtar Lubis, dkk. dan disunting oleh Atmakusumah. Sewaktu SMA saya pernah sedikit membaca buku terbitan Gramedia (1982) ini, kemudian pertengahan tahun 2010 saya kembali membaca buku ini, sebagai bagian dari proses untuk membuat lagu rakyat Jogja Istimewa tersebut.

Melalui buku ini, kita akan mengetahui cerita-cerita tentang pribadi Sultan HB 9 yang mungkin sebelumnya hanya kita anggap sebagai mitos. Tak pelak, buku ini semakin menambah kekagumanku kepada pribadi Sultan HB 9.

Pemuda yang Naik Tahta

Sultan HB 9 diberi nama ayahnya Sultan HB 8 dengan nama Dorodjatun, sejak kecil banyak dididik diluar istana, juga lebih banyak tinggal dengan ibunya yang tidak tinggal di istana Kraton. Dorodjatun pernah sekolah di Semarang dan Bandung. Kemudian dikirim untuk sekolah ke Belanda. Sepertinya ayahnya sudah mempunyai firasat, bahwa kelak Dorodjatun lah yang digadang bisa melepaskan kekuasaan Kraton dari cengkraman Belanda.

Ketika ayahnya sakit, Dorodjatun yang sebentar lagi ujian sarjana di Belanda, diminta untuk pulang oleh ayahnya untuk menerima pusaka keris Djoko Piturun, sebuah simbol bahwa Sultan HB 8 menyerahkan kekuasaan kerajaan Ngayogyokarto Hadiningrat kepada penerusnya yang dipilih. Waktu itu usia Dorodjatun masih 28 tahun.

Tidak lama kemudian Sultan HB 8 wafat, dan kemudian Dorodjatun diangkat sebagai Sultan HB 9 oleh gubernur jendral Belanda, waktu itu kekuasaan kraton masih dibawah cengkraman Belanda.

Hingga empat bulan paska naik tahta, jendral residen Belanda di Yogyakarta gagal membujuk Sultan HB 9 untuk menandatangani kontrak kekuasaan dengan Belanda. Banyak poin-poin yang sebelumnya sudah menjadi kesepakatan antara Kraton Yogya dengan Belanda ditolak oleh Sultan HB 9. Intinya adalah bahwa Sultan HB 9 berkeinginan Kraton Yogya lebih mandiri dan peduli dengan rakyat. Pemerintah Belanda dibuat frustasi dengan pemuda berumur 28 tahun itu, yang setahun sebelumnya hanyalah seorang mahasiswa.

Mahasiswa Barat yang Percaya Wangsit

Hingga suatu saat, dalam buku ini, Sri Sultan menceritakan bahwa beliau mendapat wangsit dari leluhur ketika dalam keadaaan antara tidur dan terjaga, kira-kira bunyinya seperti ini;

“wis tekno wae le, mengko bakal lungo dewe” (biarkan saja anakku, nanti (Belanda) akan pergi sendiri.

Kemudian Sultan HB 9 bergegas menandatangani poin-poin kontrak kekuasaan begitu saja tanpa peduli isinya. Gubernur Jendral Belanda bingung akan hal itu, kenapa dia ngotot negosiasi marathon selama lebih dari empat bulan tapi tiba-tiba dia begitu saja menandatangani tanpa membaca isinya.

Setahun kemudian, Jepang datang ke Indonesia dan mengusir Belanda.

Selama penjajahan Jepang, rakyat Indonesia sangat menderita dengan kerja paksa dan tanam paksa. Tapi berkat wangsit yang diakui ‘mungkin’ dari leluhur juga, rakyat Jogja bisa diringankan penderitaannya. Begini bunyi wangsitnya;

“umure mung sak umur jagung” (umurnya hanya seumur pohon jagung)

Umur pohon jagung bisa dipanen selama 3,5 bulan, kemudian pohon jagung akan mati dengan sendirinya ketika berumur 3,5 tahun. Kemudian dengan wangsit itu Sri Sultan HB 9 menyusun strategi. Dia mendatangi jendral Jepang yang berkuasa di Jakarta untuk bernegosiasi. Diterangkannya bahwa Kraton Yogyakarta memiliki wilayah yang kecil dan miskin, tidak memiliki hasil panen yang memadai, Sultan HB 9 meminta kepada penjajah Jepang untuk mengganti program kerja paksa (rhomusa) bagi rakyat Yogyakarta dengan membangun saluran irigasi Selokan Mataram, agar hasil bumi wilayah Yogyakarta meningkat dan bisa memberi sumbangan kepada Jepang lebih banyak.

Perjanjian disetujui dan proyek Selokan Mataram dimulai dan dikerjakan secara gotong-royong oleh rakyat Yogyakarta. Proyek itu belum selesai ketika Jepang kalah oleh pasukan sekutu dan harus pergi dari Indonesia, tepat 3,5 tahun sesuai umur pohon Jagung.

Wangsit yang lain berkaitan dengan tokoh pewayangan Pandawa Lima. Diceritakan bahwa Sultan HB 3 membuat tokoh wayang Pandawa 5 yang ukirannya sangat halus dan warnanya indah. Wayang itu ada beberapa yang hilang. Wangsitnya adalah, bahwa jika kelima wayang itu bisa berkumpul kembali, maka Negeri Mataram (Yogyakarta) akan merdeka.

Wayang ke 4 dengan tokoh Arjuna kembali ketika agresi militer Belanda pertama. Dikembalikan oleh seorang warga dari Ambarawa yang seluruh kampungnya hangus terbakar oleh bom pesawat Belanda dalam mengejar para pejuang. Anehnya hanya rumah warga itu yang masih utuh. Warga itu percaya bahwa wayang dari Kraton itulah yang menyelamatkan. Dikembalikan wayang itu ke Kraton, tidak lama kemudian Sultan dikarunia anak dan diberi nama Herjuno (Sultan HB 10 sekarang).

“Kalau diberi nama Arjuna persis, takut kalo ternyata ketika besar dia tidak ngganteng” canda Sultan HB 9. Arjuna adalah tokoh kstaria dalam pewayangan yang terkenal ketampanannya.

Wayang ke 5 dengan tokoh Bima kembali beberapa saat sebelum perwakilan Indonesia melakukan konferensi meja Bundar bersama PBB, yang hasilnya adalah keputusan PBB bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat dan Belanda harus angkat kaki dari wilayah Indonesia.

“Ternyata arti kemerdekaan itu bukan hanya untuk Mataram, tapi untuk Indonesia” kenang Sultan HB 9.

Jaman Revolusi Kemerdekaan

Setelah proklamasi 1945, Belanda kembali datang ke Indonedia dengan membonceng kapal tentara NICA (sekutu) untuk kembali berkuasa di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota Republik yang masih bayi kembali dikuasai Belanda. Tahun 1946, Sultan mengundang Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran kabinetnya untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta, sebagai negeri yang berdaulat dan diakui oleh kerajaan Belanda.

Rombongan dari Jakarta tiba di Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946. Dua hari kemudian Yogyakarta diserang Belanda. Secara pribadi Sultan HB 9 tidak kenal dengan Soekarno sebelumnya, itu adalah pertemuan pertama mereka yang sangat bersejarah. Kelak perpisahannya pun sangat bersejarah bagi Indonesia.

Sebelum kota Yogyakarta sepenuhnya jatuh ke tentara Belanda, Sultan HB 9 meminta pejuang di bawah pimpinan Jendral Soedirman untuk menyingkir dari kota dan bergerilya. Dan melakukan penyerangan-penyerangan sporadis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa TNI masih ada. Ketika Belanda sudah bisa menguasai wilayah kota Yogyakarta sepenuhnya, para pemimpin diasingkan, Sultan HB 9 diisolasi di dalam wilayah kraton saja, tidak boleh keluar. Tapi Sultan HB 9 sudah menyusun strategi bahwa setiap pejuang dan para pegawai pemerintahan boleh masuk ke dalam Kraton dengan menyamar menggunakan pakaian abdi dalem (pegawai kraton). Termasuk salah satunya adalah Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua RI.

Sultan HB 9 juga berhubungan dengan Sjahrir untuk membuat RIS (pemerintahan sementara) di Padang. Juga aktif menggalakkan siaran-siaran radio internasional untuk membuka mata dunia, bahwa pemerintahan dan tentara Indonesia masih ada, semua hal ini dilakukan agar Indonesia sebagai negara diakui eksistensinya.

Pada waktu itu, oleh pemerintah Belanda, Sultan HB 9 ditawari kekuasaan seluruh pulau Jawa dan Madura, dengan syarat Belanda tetap boleh menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia. Sultan HB 9 waktu itu menolak. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya Indonesia jika saat itu Sultan HB 9 tergiur dengan penawaran itu.

Justru sebalinya, Sultan HB 9 sangat nasionalis, yang ada dipikirannya hanya berdirinya Indonesia yang merdeka. Maka beliau tidak segan menanggung seluruh biaya pemerintahan, termasuk gaji Soekarno-Hatta dan seluruh kabinetnya, juga operasional TNI, dan pengiriman-pengiriman delegasi Indonesia ke konferensi Internasional. Sultan HB 9 tidak mengakui berapa uang yang telah dikeluarkan oleh Kraton untuk itu semua, Mohamad Hatta mengatakan lebih dari 5 juta gulden.

Kemudian oleh PBB, Indonesia dinyatakan menang di Konferensi Meja Bundar, dan PBB memerintahkan Belanda angkat kaki dari Indonesia. Kemudian para pemimpin dan mentri-mentri kembali ke Yogyakarta dari pengasingan dan persembunyian. Soedirman dan pasukannya juga kembali ke kota, dan terjadilah proklamasi Indonesia yang kedua di Yogyakarta tahun 1949, ini cerita yang jarang diungkap.

Ketika Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran dan staff kabinet RI kembali pindah ke Jakarta pada 1949, Sultan HB 9 memberikan cek senilai 6 juta gulden kepada Soekarno-Hatta yang diharapkan bisa dijadikan modal membangun republik yang masih bayi tersebut. Pada saat upacara perpisahan dan memberikan cek itu, seorang raja Jawa, dalam pidato di muka umum, mengakui kemiskinannya seraya mengatakan bahwa, Yogyakarta tidak mempunyai apa-apa lagi. Beliau tidak mengatakan ‘saya’ atau ‘kraton’, tapi mengatakan ‘Yogyakarta’, sebuah cerminan ‘manunggaling kawula gusthi’ (bersatunya rakyat dan raja), penghargaan stinggi-tingginya terhadap rakyat jelata yang telah ikut berjuang.

Dalam suara yang bergetar dan uraian air mata, Soekarno berpidato pendek menanggapi hal tersebut; “Yogyakarta termasyhur karena jiwa-jiwa kemerdekaannya, hidupkanlah terus jiwa-jiwa kemerdekaan itu”

“Apa yang akan Terjadi dengan Republik jika tidak ada Hamengku Buwono IX?” judul artikel Mohammad Roem menerangkan peran Sultan HB 9 pada masa perjuangan kemerdekaan.

Cerita Rakyat

Untuk menutup pembacaan ini, saya akan menyampaikan cerita rakyat yang dulu, waktu saya SD, sangat popular. Sultan HB 9 selalu mengendarai mobilnya sendiri kemana pun ia pergi, seorang raja tanpa sopir dan pengawal. Bahkan dia memilih naik mobil untuk hilir mudik ke Jakarta ketika beliau menjabat sebagai mentri pertahanan dan mentri senior Republik Indonesia ketika presiden Soekarno berkuasa.

Suatu saat Sultan HB 9 pulang dari Kinahrejo, dusun Mbah Maridjan juru kunci Merapi, di tengah jalan, tepatnya di jalan Kaliurang, dia distop oleh ibu-ibu dengan beberapa karung dagangan yang akan pergi ke pasar Kranggan, utara Tugu, waktu itu angkutan masih sangat jarang. Sultan HB 9 pun menghentikan mobilnya, ikut membantu menaikkan barang-barang itu, kemudian dia mengantarkan ibu itu ke pasar Kranggan. Sesampainya di sana beliau ikut menurunkan dagangan. Orang-orang yang mengenal beliau sebagai raja takjub dengan pemandangan langka itu. Ketika beliau hendak pergi ibu yang menumpang tadi hendak membayar, tapi tentu saja Sultan HB 9 menolak dan pergi. Kemudian ibu itu ngomel-ngomel;

“dasar sopir aneh, mau dibayar tidak mau” begitu kira-kira.

Kemudian seorang polisi memberi tahu ibu itu, bahwa sopir tadi adalah Sultan HB 9, Raja Yogyakarta, mendadak ibu itu pingsan.

Begitulah, kita merindukan pemimpin seperti pribadi Sultan HB 9, yang sangat nasionalis, kerakyatan, tanpa meninggalkan identitas dan tradisi kebudayaannya.

Kill the DJ

Membedah Lirik Jogja Istimewa

Sejak diluncurkan secara resmi 9 November 2009, lagu Jogja Istimewa telah menjadi lagu rakyat Yogyakarta, diputar di rumah-rumah penduduk di pedesaan hingga di toko-toko tengah kota, menjadi hot request di radio-radio Jogja, menjelma sebagai soundtrack bagi kehidupan warga Jogja yang mencintai akar tradisi dan kebudyaannya, dan penyemangat perjuangan atas hak-hak mereka sebagai warga Jogja.

Lagu Jogja Istimewa juga hadir di acara-acara besar, mulai dari sidang rakyat Yogyakarta yang menentang Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah Pusat, 13 Desember 2010, hingga acara peringatan berpindahnya ibu kota Republik Indonesia, 4 Januari 2011 kemarin. Kawulo alit hingga raja bergoyang dan melambaikan tangan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bernyanyi bersama lagu Jogja Istimewa dalam hentakan irama march hip hop dengan groove tradisional yang terinspirasi marching band prajurit kraton itu.

Sungguh, kami Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanam, Rotra) yang tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, merasa sangat berbangga dan haru lagu tersebut telah bisa menjadi lagu rakyat Yogyakarta.

Namun sesungguhnya sedikit yang tahu, bagaimana lagu tersebut tercipta, terutama dari mana liriknya bersumber, meskipun sudah ada beberapa pemberitaan di media masa yang sudah menyampaikan sumber lirik lagu Jogja Istimewa tersebut. Melalui tulisan ini, saya akan menjelaskan secara rinci tentang bait demi bait. Sungguh menjadi kepentingan kami agar publik bisa membaca pemikiran dibalik lagu.

Membaca Sejarah
Pertengahan tahun 2010, saya menghabiskan tiga buku dalam waktu dua minggu;

1. Tahta untuk Rakyat
Biografi tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Sultan HB 9). Perjuangan untuk mendapatkan buku ini lebih dari tiga minggu, karena sudah tidak ada lagi cetakan baru, saya mendapatkannya di salah satu kios buku bekas di Shoping, Beringharjo, dengan harga Rp.150.000,-. Waktu SMA sebenarnya saya pernah membaca sekilas tentang buku ini, tapi mungkin waktu itu saya masih terlalu hijau untuk memahami isinya.

2. Kraton Yogyakarta; Sejarah, Nasionalisme, dan Teladan Perjuangan
Meskipun sangat berpihak pada kraton, buku ini unik karena banyak syair-syair tradisional yang menerangkan setiap peristiwa dengan otentik. Buku ini gampang didapatkan di toko-toko buku.

3. Perubahan Sosial di Yogyakarta
Sebuah buku yang dinobatkan sebagai babon antropologi sosial. Buku ini adalah desertasi Selo Sumardjan, mantan ajudan Sultan HB 9 semasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang kemudian menjadi guru besar antropologi Universitas Indonesia. Sebuah buku yang juga susah untuk didapatkan.

Buku biografi Sultan HB 9 Tahta untuk Rakyat yang paling berkesan, buku ini menerangkan secara gamblang kepribadian Sultan HB 9 yang mungkin sebelumnya hanya seperti cerita rakyat. Sebagai buku, tahta untuk rakyat berhasil menambah kekaguman dan hormatku terhadap pribadi Sultan HB 9, baik sebagai raja maupun manusia biasa.

Melalui ketiga buku diatas, saya menemukan banyak kalimat dari para tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang memberikan testimoni tentang Yogyakarta dan pribadi Sultan HB 9.

Lirik dalam Rima
Sesungguhnya, 70% lirik dalam Jogja Istimewa mengambil kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh seperti; Soekarno, Sultan HB 9, Ki Hadjar Dewantoro, RM Sosrokartono, dll. Selebihnya adalah hasil tulisan saya sendiri, meskipun harus saya akui, bahwa saya sangat terinspirasi oleh teks-teks tradisional Jawa. Saya merubah teks-teks itu ke dalam rima agar lebih enak di-rap-kan.

Mari kita telaah bait demi bait;

“Holopis Kuntul Baris…”
:: Ungkapan tradisional Jawa, sebuah ajakan untuk bekerja bersama-sama

“Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia”
:: Diucapkan Soekarno untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kraton dan rakyat Yogyakarta dalam perjuangan kemerdekaan

“Rungokna iki gatra saka ngayogyakarta
Nagari paling penak rasane koyo swarga
Ora peduli donya dadi neraka
Neng kene tansah edi peni lan merdika”
:: 100% saya menulisnya sendiri, teks ini juga digunakan untuk lagu Dubyouth feat. Ki Jarot Bombassu. Artinya; “dengarlah ini untaian kata dari Yogyakarta, Negeri paling nyaman seperti surga, tidak peduli dunia sudah jadi neraka, di sini kami selalu nyaman dan merdeka”

“Tanah lahirkan Tahta, Tahta untuk Rakyat
Dimana Rajanya Bercermin di kalbu Rakyat
Demikianlah singgasana bermartabat
Berdiri kokoh tuk mengayomi rakyat”
:: Semangat tahta Sultan HB 9 yang kemudian ditambahi oleh anaknya Sultan HB 10 dalam jumenengan (diangkat menjadi raja)

“Memayu hayuning bawana”
:: Visi Kraton Yogyakarta yang dicangangkan oleh HB I, artinya; membuat bumi menjadi indah, atau dalam Islam; Islam rahmatal lil alamin

“Saka jaman perjuangan nganthi mardhika
Jogja istimewa bukan hanya daerahnya
Tapi juga karena orang-orangnya”
:: Kembali merujuk ungkapan Soekarno

“Tambur wis ditabuh suling wis muni
Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Bareng para prajurit lan senopati
Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti”
:: Saya tulis sendiri, namun terpengaruh oleh teks-teks macapat tradisional kraton. Artinya seperti ini; “Tambur telah ditabuh, seruling sudah berbunyi, Bersatu padu menjadi satu, Bersama prajurit dan senopati, Mulia atau mati rakyat dan raja adalah satu”

“Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan”
:: Teks aslinya seperti ini: “Nlgurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa raja brana, sekti tanpa aji” ditulis oleh RM Sosrokartono menggambarkan pribadi Sultan HB 9

“Tenang bagai ombak gemuruh laksana Merapi”
:: Teks dari puisi WS Rendra

“Tradisi hidup di tengah modernisasi
Rakyate jajah deso milang kori
Nyebarake seni lan budi pekerti”
:: 100% saya tulis sendiri dengan mengambil pepatah Jawa; “Jajah desa milangkori” yang artinya berkelana kemana-mana.

“Elingo sabdane Sri Sultan Hamengkubuwono kaping sanga
Sak duwur-duwure sinau kudune dewe tetep wong Jawa
Diumpamakne kacang kang ora ninggal lanjaran
Marang bumi sing nglahirake dewe tansah kelingan”
:: Salah satu ungkapan yang sangat saya kagumi dari Sultan HB 9: “ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”, dalam bahasa Indonesia Sultan HB 9 menerangkan seperti ini; “setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”.

“Ing ngarso sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
Holopis kuntul baris ayo dadi siji”
:: Inilah konsepsi social movement Jawa yang dipopulerkan oleh bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara; “yang di depan meberi contoh, yang di tengah memberi dorongan, yang di belakang memberi semangat, jika inging mulia harus dengan usaha”

“Sepi ing pamrih rame ing nggawe”
:: Ungkapan Jawa untuk “perjuangan tak kenal pamrih, tapi bekerja secara nyata”

“Sejarah wus mbuktekake
Jogja istimewa bukan hanya untuk dirinya
Jogja istimewa untuk Indonesia”
:: kembali merujuk ungkapan Soekarno “sejarah sudah membuktikan”.

Dengan lirik semacam ini, saya hanya mencoba mengaktualisasikan sejarah, mengingatkan siapapun yang mendengar, sebagai pembela sekaligus kritik bagi warga Jogja, termasuk mengingatkan semangat dan nilai-nilai yang telah ditanamkan Kraton pada masa perjuangan kemerdekaan.

Demikian, semoga bisa dipahami bagi yang bisa berbahasa Jawa maupun tidak.

Kill the DJ

Gugur Gunung

Ayo kanca-kanca ngayahi karyaning praja
Kene, kene, gugur gunung tandang gawe
Sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning Negara
Siji (loro) telu (papat) maju papat papat
Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge
Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris

(tembang Gugur Gunung)

Pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 17:42, gunung Merapi, salah satu simbol spiritual bagi kraton dan rakyat Yogyakarta, kembali mengalami erupsi, memuntahkan awan material panas disertai wedhus gembel (awan panas) yang merenggut nyawa 15 orang, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, sosok yang menjadi panutan bagi rakyat Jogja dalam kesederhanaan, pengabdian, dan tanggung jawab.

Sontak Jogja berduka, puluhan ribu penduduk lereng Merapi meninggalkan desanya menjadi pengungsi, dan masih akan bertambah lebih banyak lagi jumlah pengungsi dan korbannya seiring dengan zona aman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang hingga saat ini mencapai radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Tapi disitulah keistimewaan Jogja kembali diuji. Seperti ungkapan Bung Karno “Jogja istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya yang rela berkorban untuk republik”, warga dari berbagai unsur masyarakat bahu-membahu untuk menolong para pengungsi dan korban. Meminjam istilah Jawa; ‘ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan’ (bukan sanak saudara, ketika mati, kita ikut kehilangan), para pengungsi diibaratkan sebagai ‘tamu’ yang harus dilayani, mulai dari gerakan nasi bungkus hingga membuka rumah mereka untuk menampung para pengungsi.

Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini, dalam istilah Jawa disebut dengan ‘gugur gunung’. Istilah inilah yang kemudian digunakan sebagai judul sebuah acara konser amal; sebuah undangan terbuka bagi seluruh insan musik di kota Jogja untuk terlibat dan mencoba memberi sumbangan kepada para korban dan pengungsi. Disepkati juga bahwa hasil dari konser amal Gugur Gunung tersebut akan disumbangkan bukan hanya untuk korban dan pengungsi Merapi, tapi juga untuk korban bencana tsunami di Mentawai, dan banjir di Wasior.

Acara konser Gugur Gunung mungkin tergolong aneh, karena diadakan di kota yang justru sedang dilanda bencana. Tapi hal seperti ini adalah dinamika tipikal kota Jogja, mirip dengan gempa bumi tahun 2006, dalam situasi bagaimana pun, kehidupan diupayakan untuk tetap normal oleh warga, aktivitas ekonomi tetap dijalankan, acara-acara kesenian, pameran, konser, tetap dilangsungkan. Mungkin hanya acara-acara yang dikerjakan oleh pihak dari luar Jogja yang kemudian dibatalkan.

Gugur Gunung hanya dipersiapkan dua hari, Erick Soekamti, front man band punk asal Jogja, Endank Soekamti, menjadi komandan untuk Gugur Gunung, sementara saya, Kill the DJ, founder Jogja Hip Hop Foundation, menjadi juru bicara dari gerakan ini, dibantu rekan-rekan dari event organizer dan para musisi yang lain, akhirnya acara pun berjalan selama tiga hari, 29 s/d 31 Oktober 2010.

Konser pertama, 29 Oktober, di lapangan Lembah UGM, mendapat ujian besar, ditengah acara hujan besar tanpa henti ketika baru empat band manggung dari 24 band yang direncanakan. Begitu pula acara hari kedua, 30 Oktober, di tempat yang sama, ujian kembali datang, kali ini bukan hujan air, tapi hujan abu vulkanik yang melanda wilayah Jogja dan sekitarnya pada malam sebelumnya, acara outdoor menjadi kurang diminati. Alhasil dari dua hari konser, yang melibatkan 48 band ini, hanya mampu mengumpulkan donasi kurang lebih 4 juta rupiah.

Tapi seluruh team Gugur Gunung tidak menyerah, masih ada hari ketiga yang diplot menjadi andalan acara konser amal ini. Di hari ketiga ini line up yang diplot adalah band-band dengan nama besar yang mempunyai fans base kuat di kota Jogja, seperti; ShaggyDog, Endank Soekamti, Sheila on 7, Letto, SKJ 94, Jogja Hip Hop Foundation, dan masih banyak lagi. Juga, pada acara ketiga yang digelar di Liquid Next Generation Club tersebut, diadakan lelang barang-barang milik artis yang disumbangkan, antara lain; Topi milik Anji Drive, Gitar milik Eet Syahrani, Microphone milik Tantri Kotak, dan masih banyak lagi.

Penampil demi penampil manggung, lelang demi lelang terjual, dipandu oleh MC Lokal Anang Batas, Gepenk Kesana-Kesini, Alit Jabang Bayi, dan Kunchunk, acara berlangsung penuh guyon, kocak, dan meriah khas dagelan Mataram, seperti tidak ada beban bahwa Merapi sedang bergejolak diujung kota.

Acara malam itu berhasil mengumpulkan donasi sebesar 40-an juta rupiah yang dihasilkan dari penjualan tiket dan lelang. Setelah dikumpulkan dengan donasi dari konser hari pertama dan kedua, juga lelang yang berlangsung hingga seminggu setelah acara, total Gugur Gunung berhasil menghimpun dana 50-an juta rupiah. Sesuai dengan kesepakatan awal, yang kemudian menjadi subtitle acara ini, ‘dari Jogja untuk Indonesia’, hasil ini akan dibagi untuk sumbangan bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Khusus untuk Merapi, rencana awalnya, uang tersebut akan digunakan untuk membangun ulang rumah gamelan di dusun Kinahrejo yang hancur diterjang material panas. Jika ada kekurangan uang akan ditambah dengan dana yang berhasil dikumpulkan oleh United of Nothing, sebuah komunitas tanggap bencana di Jogja yang saya dirikan sejak 2004. Cita-citanya rumah tersebut akan diberi nama Omah Gugur Gunung, sebagai monumen untuk mengenang semangat gotong royong dan pantang menyerah dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi bencana.

Yogyakarta, 5 November 2010
Kill the DJ

Tulisan ini dimuat di RollingStone Indonesia
http://www.rollingstone.co.id/read/2010/12/02/964/13/2/Gugur-Gunung