Nama Saya Hartati Asterix

“……the difference between the cultured person and the non-culture person is that the cultured person only picks her nose when nobody can see. The cultured persons don’t read comics when others see either of course. The only exception is that one can dare being seen with is Asterix…..” (Finn Bjorklid/Tegn Magz/Norwegia/4-1994)

Dengan kekayaan karakter-karakter, humor-humor yang cerdas, kebebasan repetisi adegan-adegan untuk kekhasan efek komik; seperti pesta di halaman terakhir dan bajak laut yang selalu karam, juga peristiwa-peristiwa di setiap seri dengan sangat orisinil nakalnya (meskipun kadang sangat chauvinistik-Prancis), ditambah kepandaian penggunaan balon kata, drawing yang sangat bersih tanpa tersendat, Asterix telah mengambil hati pembacanya di seluruh dunia.

Sebenarnya komik Asterix yang ditulis oleh Goscinny dan digambar oleh Uderzo ini, memulai kiprahnya di dunia komik dengan sangat lambat, di akhir 50-an hingga awal 60-an. Setelah dimuat seri mingguan di majalah ‘Pilote’ (Prancis), album pertama keluar tahun 1961 dan hanya dicetak 6000 kopi. Namun ketika tahun di mana album Le Serpe d’Or (Asterix dan Sabit Emas) muncul, oplahnya sudah mulai meningkat hingga 20.000 kopi. Pencapaian luar biasa terjadi pada tahun 1965, ketika kita sedang ribut dengan G-30 S/PKI, kedua orang Gaul itu (Asterix dan Obelix) pergi ke Mesir untuk menolong Cleopatra yang berhidung cantik. Setelah perjumpaannya dengan Cleopatra itu, oplah Asterix selalu mencapai lebih dari 1 juta kopi, dan menjadi komik terlaris di Prancis sepanjang masa. Sebagai komparasi, Asterix terjual lebih dari 22 juta kopi selama kurun waktu 1961 hingga 1974, di mana jumlah tersebut baru bisa dicapai oleh komik Tin-Tin dari tahun 1946 hingga 1972.

Setelah pencapaian-pencapaian itu Asterix berkeliling dunia dan saat ini telah diterjemahkan di lebih dari 75 negara, dan inilah saatnya benang kusut harus diurai dengan sangat pandai. Asterix sangat menonjolkan ‘permainan kata’ dan ‘banyolan-banyolan’ khas Prancis, dimana penerjemahan teks dalam balon-balon kata menjadi tahap yang sangat krusial agar komik tersebut bisa dinikmati oleh pembacanya. Seperti layaknya teks-teks humor orisinal Prancis yang sangat unik dan ‘intraduisible’ (Prancis), ‘untranslatable’, atau tak terjemahkan sama sekali, tak ada jalan lain bagi seorang penerjemah selain keharusan untuk mampu melakukan adaptasi dengan pintar ke dalam konteks kultur bahasa terjemahan. Percayalah, seseorang akan mendapat keuntungan lebih dengan terbahak dua kali lipat jika sedikit banyak memahami kultur humor orang Prancis; tidak terkecuali gaya ‘bahasa tubuh’ yang sangat kaya itu.

Dan betapa beruntungnya kita, Asterix di Indonesia memiliki penerjemah yang luar biasa, dialah ibu Rahartati. Di tangan ibu dua orang anak yang sekarang berumur 64 tahun itu, teks Asterix diolah sedemikian rupa sehingga rasa bahasa dan humornya lebih pas untuk konteks pembacanya di Indonesia. Seperti sifat humornya yang ‘intraduisible’ tadi, ibu Rahartati tidak saja menerjemahkan teks di dalam balon-balon kata, tapi kadang harus mengganti atau menulis ulang sama sekali teks-teks tersebut, termasuk mengganti nama-nama tokoh dalam komik itu dan menciptakan lagu-lagu baru, agar lebih masuk akal dibaca orang Indonesia. Kemampuan menerjemah dan mengadaptasi semacam itu, hanya mampu dilakukan oleh seseorang yang juga mempunyai kekuatan untuk menulis dan pengetahuan yang cukup tentang kultur Prancis sekaligus kultur Indonesia. Pendeknya, hasil kerjanya yang luar biasa untuk Asterix, membuat komik ini di Indonesia mampu bersaing dengan komik-komik impor dari negara lain seperti komik Amerika dan Jepang.

Selain Asterix, ibu yang masih aktif sebagai pengajar bahasa Prancis di beberapa institusi ini, juga telah menerjemahkan puluhan buku berbahasa Prancis dan Inggris untuk beberapa penerbit di Indonesia. Pengakuan keistimewaan kerjanya semakin nyata ketika lulusan Fakultas Sastra jurusan Sastra Roman, Universitas Indonesia Jakarta dan Sarjana Muda IKIP Diponegoro jurusan Bahasa Prancis ini memperoleh penghargaan dari Kementrian Kebudayaan Prancis. Selain menerjemahkan, Ibu Rahartati juga menulis buku-buku cerita untuk anak-anak dan telah menerbitkan dua novelettes. Untuk semua keistimewaan itu, Lebur sangat beruntung mendapatkan kesempatan melakukan interview dengan ibu yang memiliki nama lengkap Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo.


Siapa tokoh yang paling Anda sukai dalam kisah-kisah Asterik selain tentu saja Asterix dan Obelix?

Assurancetourix.

Alasannya?

Meskipun suaranya membuat semua orang merasa terganggu, tetapi berkat suaranya juga ia pernah berhasil menyelamatkan negeri Puteri Rahazade karena mendatangkan hujan.

 

(Catatan: Dalam komik Asterix, Assurancetourix adalah seorang penyanyi yang dideskripsikan sebagai berikut; ada dua macam pendapat mengenai bakatnya: Ia sendiri menganggap dirinya sangat berbakat, sedangkan yang lain sama sekali tidak menganggapnya. Namun ia dapat menjadi kawan yang menyenangkan dan disukai yaitu bila ia diam saja. Dalam edisi Puteri Rahazade itulah Assurencetourix mempunyai peran sangat penting, lengkingan nyanyiannya membuat hujan turun dari langit.

Siapa tokoh yang paling tidak disukai dalam komik Asterix?

Tidak ada. Semua tokoh menjadi pelengkap dan penyempurna cerita.

Kisah apa yang paling Anda sukai dari semua kisah-kisah Asterix?

Sang Penghasut. Penghasut hadir dan ada dalam keseharian manusia.

Apakah Anda merasa kasihan dengan para bajak laut yang selalu dihajar oleh Asterix dan Obelix?

Kasihan? Istilah yang lebih tepat mungkin geli, ya. Hahaha…

 

Bagaimana sejarahnya Anda sampai mendapat pekerjaan untuk menerjemahkan komik Asterix? Tahun berapa?

Waktu itu tahun 1984. Saya diminta membuat bukti terjemahan Asterix – beberapa lembar komik Negeri Dewa-dewa oleh Bapak Trim Sutidja yang saat itu bekerja di Pustaka Sinar Harapan. Buku pertama terjemahan saya adalah Perisai dari Arverna. Sejak itu – kecuali Asterix di Olympiade – terjemahan Asterix diserahkan kepada saya.

Apa langkah pertama yang Anda lakukan waktu itu? Apakah kemudian memperkaya pengetahuan tentang kebudayaan Perancis?

Sedikit banyak, ya, terutama segi kekonyolan orang Prancis. Sebelumnya saya tidak kenal Asterix. Saya mulai membaca seluruh bukunya, mencermati pesannya, mencari kata-kata sukar dalam berbagai kamus dan menanyakannya kepada penutur asli (Goscinny, pengarang Asterix-MM) bila padanan katanya tidak saya temukan dalam kamus, dan baru mulai menerjemahkan. Kesulitan terbesar adalah permainan kata. Pesan pengarang tidak akan tersampaikan bila penerjemah tidak menangkap amanatnya. Di sini saya sadar seorang penerjemah Asterix juga harus tahu dan menggali kemampuannya sebagai seorang penulis.

Sebuah kalimat mewakili kultur dari mana bahasa itu berasal. Menerjemahkan sebuah kalimat, apalagi kalimat tersebut merupakan ‘joke’ atau ‘kalimat puitis’, memerlukan pemahaman kultur asal bahasa teresebut.

Jika hanya mengambil kalimat tersebut secara harafiah, hasilnya akan lain. Seorang penerjemah, membutuhkan pemahaman kebudayaan asal bahasa tersebut, bagaimana kalimat tersebut ditulis atau diucapkan, dalam sebuah peristiwa semacam apa biasanya kalimat seperti itu muncul, untuk kemudian ditransformsikan ke dalam konteks kultur dan konteks sosial bahasa terjemahan.

Apakah hal yang paling sulit dari proses penerjemahan komik Asterix?

Seperti jawaban di atas, yang tersulit dalam proses penerjemahan Asterix adalah permainan kata. Saat melihat dalam gambar para prajurit Romawi mencuci di kali sambil menyanyi, saya tergerak mencari nyanyian dalam bahasa Indonesia yang cukup dikenal di Indonesia. Seandainya ‘lirik lagu’ dalam bahasa sumber saya terjemahkan secara harafiah, pembaca dalam bahasa Indonesia tidak menangkap kelucuannya. Saya lalu mengubah lirik lagu Marilah Kemari dari Titik Puspa menjadi “Marilah mencuci, ye ye ye ye … Nyuci sambil nyanyi, ye ye ye ye …”

Sejauh mana adaptasi itu dilakukan?

Saat pertama kali bertemu Albert Uderzo tahun 1995 di kantornya di Paris, dia sempat menanyakan, bagaimana saya menerjemahkan Asterix. Saya jawab, Asterix tidak mungkin diterjemahkan. Satu-satunya jalan adalah adaptasi. Dia langsung berteriak, ‘Bravo!’. Uderzo pasti sadar karyanya memang ‘intraduisible’.

Sedikit banyak, menerjemahkan sebuah buku dengan baik adalah proses mengadaptasi dan interpretasi teks ke dalam konteks kultur bahasa terjemahan. Kemudian apa jadinya bila kita membaca karya Jean Paul Sartre dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari bahasa Inggris, sementara teks aslinya adalah Prancis?!

Apakah Anda pernah mengubah konteks percakapan dalam balon-balon kata?

Sejauh tidak menyimpang dari amanat yang disampaikan oleh pengarang; ya.

Apakah semuanya murni adaptasi? Kadang juga tidak. Ada contoh kasus yang menarik, kadang sebuah ‘kata’ atau ‘kalimat’ terlalu sayang untuk diterjemahkan atau diadaptasi. Dalam buku ‘Nusa Jawa: Silang Budaya’ karya Danys Lombard, kita bisa menemukan bahwa penerjemah tidak mau menerjemahkan kata‘jardin’ yang dalam bahasa Perancis secara harafiah berarti ‘kebun’ diterjemahkan dengan ‘kebun’, penerjemah tetap menuliskan kata ‘jardin’ untuk kemudian diberi catatan kaki yang menjelasakan alasan penerjemah tetap menggunakan ‘jardin’.

Melihat hasil adaptasi yang Anda lakukan, saya curiga Anda seorang yang humoris, Apakah Anda merasa demikian?

Barangkali suasana di rumah – terutama rumah masa kecil – yang membuat saya begini. Dan saya menyukai suasana ini. Dari lirik lagu-lagu karangan ayah saya, C. Hardjasoebrata, pengarang lagu-lagu dolanan Jawa – di antaranya Gundul-Gundul Pacul, Menthok-Menthok – sudah tergambar betapa humorisnya beliau. Rasa-rasanya dari sanalah asal muasal kebenaran dugaan Anda, bahwa saya ini humoris.

Wah, saya suka sekali Menthok-Menthok… Apalagi menyanyikannya sambil menari, sangat satir. Hahaha…

Bagaimana nama-nama yang lucu-lucu itu bisa muncul?

Begitu saja. Spontan. Tetapi jangan mengira sayalah yang punya gagasan pertama memberikan akhiran ‘us’ dan ‘ix’ dalam Asterix. Saya hanya melanjutkan yang telah dilakukan oleh penerjemah sebelum saya. Saya hanya menyesuaikan kondisi fisik tokoh, seperti Kemayus, Tulibudeggus, atau yang berkaitan dengan profesi tokoh, seperti impresario Setiawanjodix, tukang jamu Jayasupranix, Airmancurix (dalam film-MM).

Maestria Yopilatula? Wardahiz Hafidhiz?

Hahaha…

Saya sendiri paling suka dengan istilah Setan Dugal (Seminar Tahunan Dukun Galia) hahaha…

Di mana itu? Saya malah lupa …. hahaha

Itu di ‘Sabit Emas’… Luar biasa cerdas!

Hahaha…

Oke, bagaimana Anda membandingkan tingkat kesuksesan penerjemahan komik Asterix dengan karya terjemahan Anda yang lain?

Tentu saja dari cetak ulangnya. Saya selalu memanfaatkan ‘gelar’ saya sebagai penerjemah Asterix  pada saat memperkenalkan diri, terutama dengan mereka yang seusia anak sulung saya, 40 tahunan. Mereka yang sangat mengenal saya, terutama teman dan mantan murid saya di CCF, bahkan memanggil saya Madame Asterix. Setiap kali saya mendengar sebutan itu, saya membayangkan jadi istri seorang ‘misogyne’;laki-laki yang malu-malu bahkan benci menghadapi wanita. Wah!

Hahaha…

Hahaha….

(wawancara oleh Moh. Marzuki, Performence Fucktory/Parkinsound/whatever Shop/Jogja Hip-hop Foundation/Lebur)

artikel ini diterbitkan pertama kali di Lèbur No.05/2006
http://lebur.or.id/2006/07/26/nama-saya-hartati-asterix/

 

Advertisements
Advertisements

A Private Blog of Marzuki "Kill the DJ" Mohamad