Dangdut Adalah Darah Kita

Bagi fans yang baru mengenalku karena Jogja Hip Hop Foundation (JHF), pasti saat ini sangat heran kenapa aku membuat unit elektronika bernama Libertaria dan tiba-tiba menghentak lewat single “Ora Minggir Tabrak” di film AADC 2. Aku jamin mereka akan semakin bertambah heran karena Libertaria sebentar lagi akan merilis album “Kewer-Kewer” dengan tagline “post dangdut elektronika”.

Dangdut? Iya!

Tahun 2004, sahabatku Ifa Isfansyah, sutradara film Garuda di Dadaku itu, mempertanyakan keputusanku kenapa banting strir ke hip-hop, saat itu publik mengenalku sebagai perupa dan musisi elektronika, apa tidak sayang dengan segala pencapaian-pencapaian yang sudah diraih? Jawabanku sederhana dan singkat, waktu akan menjawab dan membuktikan. Post dangdut elektronika adalah proyek musik yang aku impikan sekitar lima tahun lalu, akan tiba saatnya dimana aku akan meproduseri album dangdut. Tentu saja aku tidak bisa memaksakan konsep seperti ini kepada teman-teman JHF.

Setelah era Iwan Fals dengan lagu-lagu yang pedas mengkritik rezim Orde Baru dengan bahasa yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak ada lagi musisi yang mengambil peran itu. Generasi musik kritik yang muncul berikutnya mempunyai kelas intelektualitas yang berjarak dengan realitas sosialnya. Betapa pun aku suka dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca contohnya, tetanggaku di desa tidak paham dengan bahasa yang digunakan dan tidak bisa menikmati musiknya. Ketika aku nongkrong bersama pemuda di desa, mereka protes jika aku memutar lagu-lagu ERK dan segera digantikan lagu-lagu dangdut atau Koes Ploes-an

Kadang kita ingin menyuarakan berbagai persoalan di negeri ini tapi bahasa kita tidak terpahami. Komunikasi yang baik bukan tentang intelektualitas, bukan tentang gaya, bukan tentang seberapa banyak buku yang kita baca. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bisa dimengerti oleh pendengarnya. Tentu saja gaya bertutur dan ekspresi itu pilihan masing-masing yang tidak perlu diadili. Saat ini aku ingin berbicara dengan lapisan masyarakat terbawah dengan media yang diamini oleh mereka, media itu adalah dangdut, bukan yang lain.

artwork-LIBERTARIA

Kadang aku berpikir bahwa dangdut adalah solusi untuk berbagai persoalan di negeri ini. Lihat saja, dari kawinan hingga pemilu, rakyat bergoyang tanpa ragu, seharusnya dengan dangdut negara ini bisa maju. Mungkin motto pemerintahan Jokowi “kerja, kerja, kerja” itu lebih pas diganti dengan “dangdut, dangdut, dangdut”. Sebab melalui dangdut aku menemukan banyak frase menarik seperti; orang miskin dilarang mabuk, rakyat bergoyang tak bisa dikalahkan, goyanganmu goyanganku juga, dll.

Beberapa review album Kewer-Kewer yang paling menarik menurut saya:

Kehidupanku di desa membantuku memilih kata-kata yang sangat sederhana. Aku tidak bisa ngobrol dengan tetanggaku di desa sambil mengutip kata-kata intelek dari buku-buku yang aku baca. Seberapa pun berat dan rumit persoalan atau tema yang akan dinyanyikan, semua lirik lagu di album “Kewer-Kewer” aku tulis dengan bahasa yang paling gampang dipahami. Tentu saja itu sangat berbeda dengan cara berpikirku ketika aku menulis lirik rap seperti pada single “Ora Minggir Tabrak” contohnya, itu murni ekspresi tanpa peduli orang akan paham atau tidak.

Aku beruntung mempunyai teman-teman yang percaya dengan pemikiranku dan mau terlibat dalam proyek ini; mulai dari co-produserku Balance, Glenn Fredly, Heru (Shaggydog), Farid Stevy (FSTVLST), Riris Aristha (penyanyi orgen tunggal asli), hingga teman-teman gitaran nongkrong sambil menenggak anggur kolesom yang menjadi kolaborator. Aku sangat berterimakasih untuk semuanya, selebinya aku bersyukur masih dikaruniai keberanian untuk melakukan hal-hal gila ketika umurku sudah menginjak kepala empat ini.

Follow akun sosial media resmi Libertaria dan tengok libertaria.id untuk update tentang proyek ini !

Secara musikal, kami di Libertaria sangat senang dengan hasil album ini. Tapi sekali lagi, musik bagus saja tidak cukup, ada banyak turunan pekerjaan setelahnya hingga musik dan pesan yang ingin kita sampaikan bisa sampai kepada pendengar yang kita tuju. Ketika musik kita belum diapresiasi secara luas, pilihan paling gampang adalah bersikap arogan menyalahkan pasar, mengadili publik yang belum siap, padahal sikap itu hanya membuktikan bahwa kita kurang bekerja keras. Saat ini team Libertaria sedang bekerja agar album “Kewer-Kewer” sukses membuat Anda bergoyang dan mengamini bahwa “dangdut adalah darah kita”.

Prambanan, Mei 2016

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s