Category Archives: Charity

Bagaikan Air

Saya menyumbangkan seluruh hasil dari kontrak iklan ini untuk membiayai aktivitas kelompok tani muda di desaku, terutama untuk beasiswa pertanian terpadu yang saya gagas dua tahun ini.

Kill the DJ

Advertisements

Free Palestine Now !

FreePalestineNowPoster

Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, yang telah terjadi hingga saat ini telah menyita perhatian dunia, meskipun hal itu terjadi di tengah Pilpres dan Piala Dunia Brazil, bahkan jumlah anak-anak tak berdosa yang telah tewas menjadi korban perang di Jalur Gaza angkanya lebih banyak dari keseluruhan jumlah gol yang tercipta di sepanjang piala dunia. Berita serangan Israel yang terus berlanjut hingga hari ini di Jalur Gaza semakin menimbulkan tragedi kemanusiaan, sudah seharusnya hal itu menggerakkan hati kita sebagai warga dunia untuk memberikan perhatian dan kepedulian.

Namun berisik saja tidak akan pernah cukup, kami kembali mengajak teman-teman untuk rela memberi sumbangsih sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita. Untuk itulah kami menggelar konser amal bertajuk Free Palestine Now sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan bagi saudara-saudara kita di Palestina tersebut. Seperti yang sudah biasa kami lakukan dengan berbagai konser amal sebelumnya, Free Palestine Now bersifat mandiri dan jauh dari kepentingan politik dan agama apapun. Kami sekali lagi mengajak seluruh penggemar dan siapa pun yang hadir untuk bergandengan tangan bersama dan kembali membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah universal.

Konser amal Free Palestine Now akan digelar pada tanggal 17 Juli 2014, Pukul 21:00 (selepas tarwih), bertempat di Jogja Nasional Museum, menampilkan Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation, dan FSTVLST. Kali ini kami juga mengundang berbagai organisasi untuk terlibat dan menyuarakan dukungan bersama, antara lain; Gerakan Pemuda Anshor, Gusdurian, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, dll. sebagai bentuk perwujudan dari solidaritas kemanusiaan yang universal tersebut.

Donasi sumbangan berbentuk tiket masuk sebesar (minimal) Rp.20.000,- atau lebih. Bagi yang berhalangan hadir bisa mengirim sumbangan via transfer bank ke BCA 037.321.3290 a/n Aulia Anindita. Dana yang terkumpul akan disumbangkan ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, yang dikelola oleh MER-C. Bangunan rumah sakitnya sudah jadi, tapi isinya belum ada. Kita bantu saudara-saudara kita sebangsa yang sedang berjuang untuk misi kemanusiaan di Palestina. Segala informasi tentang MER-C bisa dilihat di www.mer-c.org

Terima kasih. Salam!

Pengungsi Sinabung dan Pilpres

Marhaban Ya Ramadhan; Sebuah Masjid yang runtuh di lereng Sinabung. Juni 2014
Marhaban Ya Ramadhan; Sebuah Masjid yang runtuh di lereng Sinabung. Juni 2014

Setelah tiga hari safari keliling ke beberapa kota untuk menjadi relawan Jokowi. Semalam aku tiba di rumah hampir tengah malam. Di perjalanan, aku membaca beberapa berita tentang gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatra Utara, kembali mengalami erupsi dengan luncuran material dan awan panas. Ingatanku kembali ke Tanah Karo, di mana 4 bulan lalu aku pergi ke sana untuk membantu teman-teman relawan (bukan relawan capres) Karang Taruna Tanah Karo dalam mendampingi ribuan pengungsi melalui dana yang kami kumpulkan dalam konser amal #GugurGunung (Jogja) dan #HeartofSinabung (Bali). Selalu ada persahabatan yang tak akan lekang dimakan waktu setelah kerja-kerja kemanusiaan demikian. Maka, sesampainya di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba menelpon teman-teman relawan di Tanah Karo untuk mendapatkan detail erupsi, kabar, dan kemungkinan yang bisa aku lakukan. Tapi telponku tidak diangkat, mungkin karena mereka sedang sibuk-sibuknya membantu pengungsi.

Paginya, setalah bangun pukul 05:30, aku kembali mencoba telpon. Bakat Setiawan, pemuda asal Boyolali dan telah 10 bulan menjadi relawan di Sinabung, mengangkat telponku dan bercerita. Benar terjadi erupsi dan beberapa penduduk desa harus diungsikan dan tadi malam mereka terlibat mengawal proses pengungsian tersebut. Namun cerita yang lebih memprihatinkan adalah, setelah hampir setahun erupsi Sinabung, ribuan pengungsi masih belum mendapatkan kepastian, utamanya tentang relokasi karena desanya telah hancur terkubur oleh material vulkanik. Beberapa barak pengungsian kini malah dalam proses pembubaran dan pengungsi mendapat pesangon 2 s/d 3 juta rupiah dan pemerintah melepaskan diri tanggungjawab untuk kehidupan mereka. Terlebih sawah dan ladang mereka tetap belum bisa digarap. Akibatnya kemudian, mereka tidak menentu hidupnya, banyak pengungsi yang kemudian mendirikan tenda-tenda mandiri sebagai rumah tinggal di tepi-tepi jalan.

Di Sinabung, yang mayoritas beragama kristen, kami bekerja tanpa memandang agama atau pilihan presiden. Foto di atas diambil oleh teman relawan kristen, sebuah gambaran empati yang luar biasa karena ketika bulan suci ramadhan tiba, masjid yang 10 bulan lalu roboh masih tetap dalam kondisi hancur. Mereka tetap membantu penyelenggaraan ibadah puasa terutama lokasi tarawih untuk para pengungsi muslim. Sebuah contoh praktik nilai-nilai bhineka tunggal ika yang diajarkan oleh rakyat kecil di tengah lautan fitnah yang disebar oleh elite-elite politik dalam kampanye capres 2014 ini, dimana hal itu telah memecah belah dan mencederai persaudaraan bangsa.

Kondisi mereka sangat ironis jika dibandingkan dengan biaya kampanye dan uang trilyunan rupiah yang disebar di Pilpres 2014, saat ini jabatan dan kekuasaan memang lebih penting dari kemanusiaan. Saya kembali membuka rekening pribadi saya agar kembali bisa membantu saudara-saudara kita di Sinabung.

Merah Putih di Puncak Sinabung
Merah Putih di Puncak Sinabung, Maret 2014

Bantu kami Bantu Mereka; BCA KCU 0372216881 a/n Moh Marjuki – MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki – Konfirmasi tranfes via mrzooki@yahoo.com, atau mention via twitter @killthedj

Prambanan, 30 Juni 2014

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Catatan dari #GugurGunung untuk #Sinabung

Akhirnya hajatan konser amal bertajuk #GugurGunung untuk #Sinabung selesai sudah digelar semalam, 23 Januari 2014. Dengan persiapan komplit yang hanya satu minggu, kita tidak bisa minta lebih dari apa yang terjadi semalam. Secara umum acara berjalan sukses, lancar, tertib, dan hampir tidak ada kendala yang berarti, kecuali bahwa kita menghentikan penjualan tiket di angka 2500 karena keterbatasan Jogja Nasional Museum, meskipun diluar masih banyak penonton yang ingin masuk. Jumlah total yang ada di dalam venue kurang lebih 3000 orang.

Jumlah sumbangan terkumpul dari penjualan tiket sebesar 48 juta, jika ditambah sumbangan via transfer bank 18 juta, total #GugurGunung menghasilkan donasi sebesar 66 juta untuk #Sinabung. Kemungkinan akan semakin bertambah karena donasi via transfer bank masih terus dibuka hingga 29 Januari.

Yang masih pengen nitip donasi via transfer bank, silahkan ke BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Rekening donasi ditutup tgl 29 Januari. Tim relawan akan berangkat tgl 31 Januari

Bahwa jumlah donasi penting, karena itu yang akan kita sumbangkan, tapi ada beberapa hal lain yang tak kalah penting dan patut kita rayakan bersama. Untuk itulah catatan sederhana ini aku tulis.

Banyak pertanyaan kenapa konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung? Kenapa bukan yang lain? Tanpa mengecilkan bencana yang lain yang banyak melanda negeri ini, #GugurGunung bekerjasama dengan tim relawan independen yang akan berangkat ke #Sinabung. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering bekerjasama bersama kami dan sangat berpengalaman dengan erupsi Merapi. Kita terpilih untuk memilih, dan kita memilih #Sinabung.

Konser Amal #GugurGunung juga berfungsi sebagai awareness bagi publik, bahwa erupsi #Sinabung yang sudah berlangsung sejak September 2013 itu kalah dengan berita-berita politik yang memanas di 2014 dan banjir ibu kota. Bahkan kalah heboh dengan berita instagram ibu Ani Yudhoyono. Kita masyarakat Jogja sudah sangat berpengalaman dengan bencana, setiap bencana adalah penderitaan buat korban, tapi setiap bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan jika negara lalai dan cenderung membiarkan. Praktis #Sinabung menjadi highlight berita karena Presiden SBY datang ke lokasi pengungsian.

Semboyan #GugurGunung “lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan” tergambar jelas. Kita telah bersatu padu dalam irama yang sama; semangat gotong-royong untuk membantu sesama dengan cara kita. Bukankah akhir-akhir ini, dengan media sosial sebagai generatornya, publik begitu gampang menghujat tanpa sumbangsih. Dengan #GugurGunung kita bergandengan tangan dan mengambil peran.

Kesediaan setiap kelompok fans masing-masing band yang bergantian di barisan terdepan untuk menikmati band favoritnya adalah bukti, bahwa kita bisa memberi ruang bagi “yang lain” dan “yang berbeda”. Sudah terlalu banyak contoh kasus diskriminasi kepada minoritas dan peristiwa-peritiwa anti toleransi yang mengingkari kebhinekaan di negeri ini. Salut dan hormat untuk semua kelompok fans masing-masing band; Kamtis, Doggies, Jackers, Festivalist, Sedulur, kalian telah menyalakan semangat positif untuk negeri ini. Fans bukan cuma angka dan jumlah, kalian adalah manusia-manusia hebat yang mampu membuat gerakan bersama.

Akhirnya, salut dan apresiasi tertinggi untuk semua yang terlibat di #GugurGunung, mulai dari para vendor untuk sound, lighting, equipment, panggung, venue, dll. Para staff organizer dan stage crew yang bekerja keras. Para donatur dan sponsor yang dalam diam menyumbang terselenggaranya acara ini. Semua media partner yang telah mengabarkan energy positif dari #GugurGunung. Tak ketinggalan semua tim security dan bapak-bapak polisi yang mengamanakan acara #GugurGunung tanpa bayaran.

Bahwa Jogja Istimewa bukan hanya karena daerahnya istimewa, tapi karena orang-ornagnya yang rela bahu-membahu untuk bergotong-royong demi kepentingan bersama. Peluk erat untuk Endank Soekamti, Shaggy Dog, Captain Jack, FSTVLST, Jogja Hip Hop Foundation.

Tentang Agama, Pahala, Surga, aku tidak tahu dan tidak peduli. Ukuran kualitas manusia adalah manfaat bagi manusia yang lain dan alam raya. Dengan ukuran norma tertentu, aku bukanlah manusia “mulia”, karena selesai acara, aku mabuk berat dan memarkirkan mobil untuk tidur di pinggir jalan karena tidak kuat lagi menyopir.

Urip kudu urup lan migunani tumraping liyan.

Kill the DJ

Konser Amal: #GugurGunung untuk #Sinabung

GugurGunungSmall

Siaran Pers Konser Amal

#GugurGunung untuk #Sinabung

23 Januari 2014 | Jogja Nasional Museum | 19:00 – 23:00 |

Endank Soekamti, ShaggyDog, Jogja Hip Hop Foundation, Captain Jack, FSTVLST

‘Gugur Gunung’ dalam istilah Jawa berarti guyub-rukun dan bahu-membahu untuk bergotong-royong menyelesaikan persoalan atau masalah bersama. Istilah ini pernah kami gagas menjadi sebuah tema gerakan sosial para musisi di Yogyakarta untuk membantu korban bencana erupsi Merapi akhir tahun 2010, dengan bentuk konser amal. Hingga kemudian hash tag #GugurGunung terukir dalam satu set gamelan yang kami sumbangkan untuk menggantikan gamelan yang hancur diterjang erupsi Merapi di Kinahrejo.

Saat ini, Gunung Sinabung, di Karo, Sumatra Utara, yang sudah mengalami erupsi sejak September 2013 telah menimbulkan bencana bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Tercatat hingga pertengahan Januari 2014 sudah 26.000 warga yang terpaksa hidup menjadi pengungsi dengan bantuan minim, ditambah manajemen bencana yang sangat buruk karena peran negara yang tidak maksimal. Juga karena kalah highlight dengan berita politik yang memanas di 2014 atau banjir di ibu kota, sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat luas sangat tipis.

Setiap bencana alam pasti menimbulkan penderitaan, kami masyarakat di Yogyakarta sudah sangat berpengalaman dengan situasi itu, betapa pun pemerintah atau negara siap untuk menanganinya, tetap akan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang tertimpa bencana, apalagi jika peran negara tidak bisa diandalkan. Bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan ketika negara dan warga semakin tidak peduli. Tidak akan pernah ada yang salah jika kita mengambil peran untuk membantu sesama.

Dengan alasan tersebut, manajemen Jogja Hip Hop Foundation, Endank Soekamti, dan Shaggydog, menginisiasi sebuah konser amal dengan titel #GugurGunung untuk #Sinabung pada 23 Januari 2014, di Jogja Nasional Museum, 19:00 s/d 23:00. Kemudian kami juga mengajak Captain Jack dan FSTVLST untuk bergabung dalam konser ini.

Donasi diwujudkan dengan pembelian tiket dengan harga minimal Rp.20.000,- dimana semua hasilnya akan disumbangkan untuk korban bencana #Sinabung. #GugurGunung juga membuka donasi terbuka bagi masyarakat luas yang hendak menitipkan donasi via rekening BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Ini kesempatan sekaligus tantangan bagi masyarakat luas untuk membuktikan Yogyakarta memang istimewa bukan hanya karena daerahnya.

Konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung ini zero budget alias tanpa biaya produksi karena semua yang terlibat patungan dan tidak dibayar, termasuk berbagai kalangan yang mendukung acara ini, seperti; event organizer dan berbagai vendor seperti sound, quipment, lighting, stage dll.

Fans bukan hanya angka atau jumlah, penting untuk mengedukasi fans dan bersama-sama dengan mereka untuk melakukan sebuah gerakan sosial dan memilih untuk turun tangan dengan mengambil peran dari pada hanya sekedar terus menghujat.

Lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan.

Juru Bicara #GugurGunung

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Kontak #GugurGunung

Inud +62 811 257599 / inudtz@yahoo.com

Dita +62 811 284632 / javahiphop@gmail.com

Zuki +62 811 2503066 / mrzooki@yahoo.com

Gugur Gunung

Ayo kanca-kanca ngayahi karyaning praja
Kene, kene, gugur gunung tandang gawe
Sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning Negara
Siji (loro) telu (papat) maju papat papat
Diulung-ulungake mesthi enggal rampunge
Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris

(tembang Gugur Gunung)

Pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 17:42, gunung Merapi, salah satu simbol spiritual bagi kraton dan rakyat Yogyakarta, kembali mengalami erupsi, memuntahkan awan material panas disertai wedhus gembel (awan panas) yang merenggut nyawa 15 orang, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, sosok yang menjadi panutan bagi rakyat Jogja dalam kesederhanaan, pengabdian, dan tanggung jawab.

Sontak Jogja berduka, puluhan ribu penduduk lereng Merapi meninggalkan desanya menjadi pengungsi, dan masih akan bertambah lebih banyak lagi jumlah pengungsi dan korbannya seiring dengan zona aman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang hingga saat ini mencapai radius 20 kilometer dari puncak Merapi.

Tapi disitulah keistimewaan Jogja kembali diuji. Seperti ungkapan Bung Karno “Jogja istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya yang rela berkorban untuk republik”, warga dari berbagai unsur masyarakat bahu-membahu untuk menolong para pengungsi dan korban. Meminjam istilah Jawa; ‘ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan’ (bukan sanak saudara, ketika mati, kita ikut kehilangan), para pengungsi diibaratkan sebagai ‘tamu’ yang harus dilayani, mulai dari gerakan nasi bungkus hingga membuka rumah mereka untuk menampung para pengungsi.

Semangat gotong royong begitu kental, tidak memandang status sosial dan agama. Partisipasi warga yang guyub-rukun dan bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan sepert ini, dalam istilah Jawa disebut dengan ‘gugur gunung’. Istilah inilah yang kemudian digunakan sebagai judul sebuah acara konser amal; sebuah undangan terbuka bagi seluruh insan musik di kota Jogja untuk terlibat dan mencoba memberi sumbangan kepada para korban dan pengungsi. Disepkati juga bahwa hasil dari konser amal Gugur Gunung tersebut akan disumbangkan bukan hanya untuk korban dan pengungsi Merapi, tapi juga untuk korban bencana tsunami di Mentawai, dan banjir di Wasior.

Acara konser Gugur Gunung mungkin tergolong aneh, karena diadakan di kota yang justru sedang dilanda bencana. Tapi hal seperti ini adalah dinamika tipikal kota Jogja, mirip dengan gempa bumi tahun 2006, dalam situasi bagaimana pun, kehidupan diupayakan untuk tetap normal oleh warga, aktivitas ekonomi tetap dijalankan, acara-acara kesenian, pameran, konser, tetap dilangsungkan. Mungkin hanya acara-acara yang dikerjakan oleh pihak dari luar Jogja yang kemudian dibatalkan.

Gugur Gunung hanya dipersiapkan dua hari, Erick Soekamti, front man band punk asal Jogja, Endank Soekamti, menjadi komandan untuk Gugur Gunung, sementara saya, Kill the DJ, founder Jogja Hip Hop Foundation, menjadi juru bicara dari gerakan ini, dibantu rekan-rekan dari event organizer dan para musisi yang lain, akhirnya acara pun berjalan selama tiga hari, 29 s/d 31 Oktober 2010.

Konser pertama, 29 Oktober, di lapangan Lembah UGM, mendapat ujian besar, ditengah acara hujan besar tanpa henti ketika baru empat band manggung dari 24 band yang direncanakan. Begitu pula acara hari kedua, 30 Oktober, di tempat yang sama, ujian kembali datang, kali ini bukan hujan air, tapi hujan abu vulkanik yang melanda wilayah Jogja dan sekitarnya pada malam sebelumnya, acara outdoor menjadi kurang diminati. Alhasil dari dua hari konser, yang melibatkan 48 band ini, hanya mampu mengumpulkan donasi kurang lebih 4 juta rupiah.

Tapi seluruh team Gugur Gunung tidak menyerah, masih ada hari ketiga yang diplot menjadi andalan acara konser amal ini. Di hari ketiga ini line up yang diplot adalah band-band dengan nama besar yang mempunyai fans base kuat di kota Jogja, seperti; ShaggyDog, Endank Soekamti, Sheila on 7, Letto, SKJ 94, Jogja Hip Hop Foundation, dan masih banyak lagi. Juga, pada acara ketiga yang digelar di Liquid Next Generation Club tersebut, diadakan lelang barang-barang milik artis yang disumbangkan, antara lain; Topi milik Anji Drive, Gitar milik Eet Syahrani, Microphone milik Tantri Kotak, dan masih banyak lagi.

Penampil demi penampil manggung, lelang demi lelang terjual, dipandu oleh MC Lokal Anang Batas, Gepenk Kesana-Kesini, Alit Jabang Bayi, dan Kunchunk, acara berlangsung penuh guyon, kocak, dan meriah khas dagelan Mataram, seperti tidak ada beban bahwa Merapi sedang bergejolak diujung kota.

Acara malam itu berhasil mengumpulkan donasi sebesar 40-an juta rupiah yang dihasilkan dari penjualan tiket dan lelang. Setelah dikumpulkan dengan donasi dari konser hari pertama dan kedua, juga lelang yang berlangsung hingga seminggu setelah acara, total Gugur Gunung berhasil menghimpun dana 50-an juta rupiah. Sesuai dengan kesepakatan awal, yang kemudian menjadi subtitle acara ini, ‘dari Jogja untuk Indonesia’, hasil ini akan dibagi untuk sumbangan bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Khusus untuk Merapi, rencana awalnya, uang tersebut akan digunakan untuk membangun ulang rumah gamelan di dusun Kinahrejo yang hancur diterjang material panas. Jika ada kekurangan uang akan ditambah dengan dana yang berhasil dikumpulkan oleh United of Nothing, sebuah komunitas tanggap bencana di Jogja yang saya dirikan sejak 2004. Cita-citanya rumah tersebut akan diberi nama Omah Gugur Gunung, sebagai monumen untuk mengenang semangat gotong royong dan pantang menyerah dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi bencana.

Yogyakarta, 5 November 2010
Kill the DJ

Tulisan ini dimuat di RollingStone Indonesia
http://www.rollingstone.co.id/read/2010/12/02/964/13/2/Gugur-Gunung

My Evacuation Timeline

Tulisan ini saya susun berdasarkan timeline twitter saya @killthedj, ketika saya membantu team Search and Rescue (SAR) DIY melakukan evakuasi tepat ketika Merapi meletus tanggal 5 November 2010 dini hari. Bagi saya, sudah beberapa kali diminta bantuan team SAR sejak bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006. Namun inilah pengalaman terberat melakukan evakuasi, karena juga berkejaran dengan waktu dan situasi yang sangat bahaya sebab muntahan-muntahan material panas dan awan panas dari Merapi. Waktu itu saya ditemani @masgufi, manager artist Frau, juga line producer saya untuk Album Kompilasi Jogja Istimewa, ini adalah pengalaman pertama bagi dirinya terlibat dalam evakuasi, tentu akan menjadi pengalaman berharga sepanjang hidupnya.

Keterlibatan saya di SAR dimulai dengan kepedulian, karena 80% yang terlibat membantu evakuasi adalah sukarelawan mahasiswa-mahasiswa pecinta alam. Waktu itu di hari ketiga evakuasi Gempa Bumi Yogyakarta 2006, mereka sudah tidak punya duit untuk operasional, kemudian saya menawarkan bantuan untuk mencarikan dana operasional.

Baiklah, cerita kita mulai…

Sebelumnya harus saya sampaikan, untuk membuatnya menjadi cerita runut, saya perlu menyusun ulang timeline tersebut, karena kadang ada situasi dimana saya benar-benar tidak bisa nge-twitt, atau karena battery Blackberry saya tiris, maka saya mengambil beberapa tweet setelah saya turun dari lereng Merapi. Beberapa bagian juga seperti cerita terpotong karena saya tidak sempat menyimpannya, saya membiarkannya demikian. Beberapa twittphoto baru bisa saya kerjakan ketika beranjak terang, karena Blackberry saya tidak ada lampu flash-nya, dan saya menghindari mempublikasikan foto-foto korban yang mengerikan.

OPENING

(2:12 AM Nov 5th) Mungkin ini letusan terburuk sejak aku lahir, tp saat ini kita membuktikan, bahwa warga Jogja & sekitarnya istimewa; rela membantu sesama!

FLASHBACK

(Sun Nov 07 2010 13:10:41) Dini hari itu, saya memang tdk punya persiapan evakuasi, tiba2 teman SAR nelpon utk naik membantu menurunkan puluhan ribu pengungsi

(Sun Nov 07 2010 13:14:16) Melihat gelombang arus turun pengungsi, saya kemudian sadar, ini bisa lebih melelahkan dari gempa bumi 2006

(Sun Nov 07 2010 13:16:38) Waktu gempa 2006, kita dihantam sekali, lalu mengerti langkah demi langkah utk membantu; logistik, recovery, rekonstruksi

(Sun Nov 07 2010 13:19:33) Saat ini, kita seperti harus mengulangi setiap hari dari nol langkah demi langkah tersebut, krn setiap saat bisa terjadi relokasi barak

(Sun Nov 07 2010 13:29:05) Gempa 2006 kita msh bs melihat, penduduk desa memanen padi ditengah desanya yg hancur. Skrg hal demikian tidak mungkin.

(Fri Nov 05 2010 18:07:27) Ringankan tangan, langkahkan kaki, kita bantu saudara2 kita yg turun mengungsi ke kota. Buktikan kita bisa!!!

(Fri Nov 05 2010 18:02:56) Keistimewaan warga Jogja & sekitarnya diuji. Mari bergandengan tangan utk membuktikan bahwa kita memang istimewa!

(Sun Nov 07 2010 13:37:00) Senang mendengar bahwa warga kota Jogja mengibaratkan para pengungsi lereng Merapi sbg tamu. Saya bangga menjadi bagian dr kebersamaan ini

MANTRA

(5:41 PM Nov 5th) Mukti utawa mati tetep dadi siji (mulia atau mati tetap bersatu)

(5:41 PM Nov 5th) Ora sanak, ora kadang, yen mati melu kelangan (bukan sanak saudara, kalau mati ikut kehilangan)

EVAKUASI

(2:54 AM Nov 5th) @jalinmerapi Alhamdulillah. Target 30 org terjebak di Wukirsari sdh diatasi truk TNI, standby brsama @masgufi di St.Carolus u/ info lanjutan

(3:35 AM Nov 5th) Pesantren Al Qodir Wukirsari 30an org tidak mau turun selama kyai nya tdk turun cc @jalinmerapi

(3:37 AM Nov 5th) Di timur Al Qodir msh ad 50an org yg tdk mau dievakuasi cc @jalinmerapi

(3:41 AM Nov 5th) Byk warga laki2 bertahan di wukirsari. Tdk mau di evakuasi tp mrk sedia mtr. cc @jalinmerapi

(3:54 AM Nov 5th) Kembali bersama pemilik akun aseli. Td saya nyopir. Pesantren Al Qodir sdh kami laporkan ke aparat. Sbg relawan kami tdk bs memaksa.

(3:57 AM Nov 5th) @jalinmerapi Al Qodir & tanjung laki2, perempuan, anak2. Total 70 org tdk mau dievakuasi. Kami serahkan k aparat & langsung ditindaklanjuti

(4:32 AM Nov 5th) Kami standby di Pakem yg berubah menjadi kota mati. Teman2 SAR menyisir dgn motor ke perkampungan. #UN

mulai detik ini saya bertemu dengan @effort_creative dan @AndyKrebo –juga teman-teman akrab di SAR yang lain; Asep dan Badak, untuk selanjutnya bekerja bersama mereka membantu evakuasi.

(4:58 AM Nov 5th) Kami pindah ke Desa Argomulyo bersama teman2 SAR.

ARGOMULYO, BANTARAN SUNGAI GENDOL

(5:36 AM Nov 5th) Kesibukan kami di Argomulyo hingga sekarang. 10km dari Merapi. Semoga menjadi pelajaran warga yg lain

(6:15 AM Nov 5th) Banyak rumah tertimbun dan hangus.. Mohon para warga bantu kami utk mau dievakuasi 20km dr #merapi..

(8:19 AM Nov 5th) Pandangan dr forerider. Menuju RS Sarjito. Manusia tugasnya berusaha..

(6:12 AM Nov 5th) Akhirnyaaaaa!!! Sampe RS sardjito. Asu forider kami gak ngerti jalan.

(6:23 AM Nov 5th) Kami sdh berada di Sarjito, tp harus naik lg, msh banyak pekerjaan. Yg dibawah sudilah membantu pengungsi, bikin nasi bungkus semampunya

(8:06 AM Nov 5th) Batre tiris. Gak bs update lagi dr atas. Msh ada satu pekerjaan sblm turun. #UN

PENUTUP

(18:42 PM Nov 5th) saya berangkat ke Jakarta dgn perjalanan darat krn airport tutup, besok taping di MetroTV bersama @masbutet@saykoji

(10:47 AM Nov 5th) terima kasih buat @masgufi yg tlh memutuskan utk menemaniku membantu evakuasi. pasti akan mnjadi pengalaman berharga utk hidupmu, nak.

(10:55 AM Nov 5th) Tadi seorang prajurit nangis & curhat ke @masgufi ‘kmarin sore saya ajak turun tidak mau, hari ini saya mengevakuasinya tanpa nyawa’

(4:29 AM Nov 5th) Terima kasih kepada @TalkingAndy utk mobil pick-up nya yg trendy.

Sehari setelah itu, saya koar-koar di timeline twitter untuk meminta sumbangan kepada follower saya untuk membantu operasional dan perlengkapan team SAR DIY, karena banyak sepatu, kaus tangan, goggles dan masker mereka yang rusak, meleleh kepanasan. Dalam tiga hari terkumpul dalam bentuk uang dan barang kurang lebih senilai 40 juta, termasuk bantuan barang dari PT. Kawan Lama / Ace Hardware yang diprovokasi @masbutet setelah mendengar keluhan saya saat shooting di Metro TV. Terima kasih untuk semua followerku yang hebat!!!

(10:43 PM Nov 6th) Sinta-Jojo mau ikut aku pulang ke Jogja tweeps! Mau ikutan mbagi nasi bungkus katanya!

Sekian

Kill the DJ

republished from United of Nothing Blog