Tag Archives: Blog

Tetaplah Tersenyum dan Gembira

Kepada seluruh teman-teman relawan Jokowi-JK,

Satu hari sebelum tanggal 9 Juli 2014, dimana sejarah Indonesia akan kita tentukan bersama, ijinkanlah temanmu ini untuk menulis sebuah surat untuk semua teman-teman relawan Jokowi-JK di seluruh penjuru Nusantara.

Ingin rasanya aku mengenal kalian semua satu persatu, menjabat erat tangan-tangan kecil kalian yang telah rela bekerja keras tanpa pamrih, mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, uang, dan segala daya-upaya untuk memenangkan Jokowi-JK di Pilpres 2014 ini. Mungkin, dengan segala keterbatasan, pada akhirnya kita tidak saling bertatap muka, tapi sesungguhnya kita telah bersatu-padu dalam irama dan energi yang sama untuk sebuah nilai yang kita perjuangkan; bahwa demokrasi tidak boleh lagi tersandra dan kekuasaan harus dikembalikan kepada yang berhak, yaitu kedaulatan rakyat.

Dalam perjalanan waktu yang sesungguhnya sangat singkat, kita warga biasa yang sebagian besar tak perduli partai politik, atau bahkan jijik, telah melewati banyak hal yang jauh diluar perkiraan dan (mungkin) kemampuan kita, karena ternyata yang kita hadapi adalah kejahatan demokrasi yang canggih dengan segala strategi tingkat tinggi dan skenarionya. Kita kaget dengan berbagai macam fitnah dan adu domba, kita tidak paham apa itu istilah “operasi senyap”, kita terkejut dengan berbagai macam intimidasi dan provokasi. Benar ternyata, dalam meraih tujuan keterbatasan orang baik akan tetap menggunakan cara-cara baik, sementara orang jahat akan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Kita masih punya malu, harga diri, dan martabat. Sementara lawan kita, jangankan malu, bahkan mereka bisa melampaui kuasa Tuhan di bumi dengan segala fatwa dan cap.

Bahwa kegembiraan politik yang didengungkan Jokowi yang telah melahirkan gelombang kreatifitas dan aksi simpatik yang bergairah itu, ternyata harus dihadapkan dengan berbagai bentuk kejahatan demokrasi yang berlangsung terus menerus dan sistematis. Tentu kita berhak kecewa dengan proses hukum Obor Rakyat, tentu kita berhak gemas dengan berbagai laporan penyebaran politik uang di seluruh penjuru tanah air, tentu kita berhak sedih dengan berbagai laporan bahwa ada aparat dan pegawai institusi pemerintahan ikut terlibat. Yang paling tidak bisa kita terima, tentu kita berhak marah karena negara yang kita biayai dengan pajak kita hanya diam atas segala pelanggaran yang telah mencederai demokrasi itu. Masih banyak lagi berbagai kasus yang telah dan akan terus-menerus menguji mental kita untuk membuat benteng keteguhan kita bisa saja bobol kemudian terpancing. Belakangan, kita yang lugu ini, tersadar bahwa “terpancing” itulah yang diharapkan dari strategi mereka.

Kita hanyalah manusia-manusia biasa dengan segala keterbatasannya, juga bermacam-macam karakternya. Seberapa pun kuatnya kita menjunjung tinggi akal sehat dan hati nurani, ketika ujian datang bertubi-tubi, tetaplah kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan itu.  Ada yang tetap kalem dengan kampanye adem, ada yang menangis dan memanjatkan doa, ada yang membalas fitnah dengan mengungkapkan fakta-fakta negatif kubu Prabowo-Hatta, ada juga yang malah tersulut dan melampiaskan emosinya.

Kenyataan yang paling menyedihkan adalah bahwa berbagai macam fitnah dan adu domba itu telah memecah belah persaudaraan dan persatuan bangsa. Tentu saja itu bukan demokrasi sehat yang kita harapkan. Memang, harganya terlalu mahal jika sebuah kekuasaan harus diraih dengan cara-cara seperti itu. Tentu kita bersedih karena kita mencintai Indonesia. Tapi kita telah membuktikan bahwa kita tidak pernah menyerah karena kita adalah rakyat yang “turun gunung” untuk membersihkan politik yang kotor.

Meminjam kalimat maklumat Jokowi-JK di GBK 5 Juli lalu; kita telah dihantam berbagai macam fitnah, tapi kita tetap tidak tumbang, karena kita bekerja tulus untuk Indonesia, kita adalah penyala harapan, kita berdemokrasi untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. Saya sendiri datang dengan niat tulus dan kegembiraan, menulis lagu dengan sepenuh hati di mana bait-bait terakhir tertulis kalimat “menang tak jumawa, kalah lapang dada, salam damai untuk Indonesia”, tapi disaat bersamaan saya bukanlah seorang yang hanya akan tinggal diam jika kecurangan dan kejahatan demokrasi terus terjadi.

Teman-teman, tinggal selangkah lagi, mari kita amanahkan suara kita untuk “kemenangan rakyat” pada 9 Juli. Kita tongkrongi TPS seharian dan kita lawan segala bentuk kecurangan dan kejahatan. Kita buktikan kalimat populer “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” adalah benar adanya. Apapun yang terjadi, kita telah bersama dan akan selalu bersama menyuarakan kebenaran. Kita akan berjalan seiring dengan langkah kaki Jokowi yang gagah-berani dan kita pantas berbangga atas segala sumbangsih yang telah kita lakukan.

Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita membantu Jokowi, tapi kita membantu diri kita sendiri untuk cita-cita perubahan. Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita butuh ucapan terima kasih untuk semua jerih-payah yang sudah kita usahakan, justru kita harus berterima kasih kepada Jokowi karena rela menjadikan dirinya simpul dari energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia. Jokowi bukan Nabi (tapi Prabowo juga bukan macan), melainkan manusia biasa sama seperti kita. Jokowi adalah Kita karena Kita adalah satu kesatuan dalam wujud Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya rakyat dan pemimpinnya). Ratu adalah rakyat yang bersatu, bukan Raja yang memerintah, itulah konsep Ratu Adil sesungguhnya. Inilah kehendak jaman, karena betapapun kita berusaha mewujudkannya, segalanya tidak akan terjadi tanpa seijin alam raya.

Kita memang hanya relawan, yang tumbuh subur secara organik tanpa sebuah garis komando, karena kita memang bukan “tentara” bayaran. Tapi kita telah patungan untuk menciptakan gelombang yang sangat besar yang akan menjadi tsunami yang bisa menggulung dan menabrak apapun yang ada di depan kita. Teman-teman, meskipun tidak akan pernah ada yang sempurna, tapi kita telah berusaha hingga batas yang kita mampu, dan kita pantas berbangga untuk itu, sebuah alasan yang sangat cukup untuk kita tetap tersenyum dan gembira, karena apapun yang terjadi, sesungguhnya ibu pertiwi mengamini ketulusan dan kebersamaan kita.

Salam Dua Jari !

 

Prambanan, 8 Juli 2014

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Catatan dari #GugurGunung untuk #Sinabung

Akhirnya hajatan konser amal bertajuk #GugurGunung untuk #Sinabung selesai sudah digelar semalam, 23 Januari 2014. Dengan persiapan komplit yang hanya satu minggu, kita tidak bisa minta lebih dari apa yang terjadi semalam. Secara umum acara berjalan sukses, lancar, tertib, dan hampir tidak ada kendala yang berarti, kecuali bahwa kita menghentikan penjualan tiket di angka 2500 karena keterbatasan Jogja Nasional Museum, meskipun diluar masih banyak penonton yang ingin masuk. Jumlah total yang ada di dalam venue kurang lebih 3000 orang.

Jumlah sumbangan terkumpul dari penjualan tiket sebesar 48 juta, jika ditambah sumbangan via transfer bank 18 juta, total #GugurGunung menghasilkan donasi sebesar 66 juta untuk #Sinabung. Kemungkinan akan semakin bertambah karena donasi via transfer bank masih terus dibuka hingga 29 Januari.

Yang masih pengen nitip donasi via transfer bank, silahkan ke BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Rekening donasi ditutup tgl 29 Januari. Tim relawan akan berangkat tgl 31 Januari

Bahwa jumlah donasi penting, karena itu yang akan kita sumbangkan, tapi ada beberapa hal lain yang tak kalah penting dan patut kita rayakan bersama. Untuk itulah catatan sederhana ini aku tulis.

Banyak pertanyaan kenapa konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung? Kenapa bukan yang lain? Tanpa mengecilkan bencana yang lain yang banyak melanda negeri ini, #GugurGunung bekerjasama dengan tim relawan independen yang akan berangkat ke #Sinabung. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering bekerjasama bersama kami dan sangat berpengalaman dengan erupsi Merapi. Kita terpilih untuk memilih, dan kita memilih #Sinabung.

Konser Amal #GugurGunung juga berfungsi sebagai awareness bagi publik, bahwa erupsi #Sinabung yang sudah berlangsung sejak September 2013 itu kalah dengan berita-berita politik yang memanas di 2014 dan banjir ibu kota. Bahkan kalah heboh dengan berita instagram ibu Ani Yudhoyono. Kita masyarakat Jogja sudah sangat berpengalaman dengan bencana, setiap bencana adalah penderitaan buat korban, tapi setiap bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan jika negara lalai dan cenderung membiarkan. Praktis #Sinabung menjadi highlight berita karena Presiden SBY datang ke lokasi pengungsian.

Semboyan #GugurGunung “lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan” tergambar jelas. Kita telah bersatu padu dalam irama yang sama; semangat gotong-royong untuk membantu sesama dengan cara kita. Bukankah akhir-akhir ini, dengan media sosial sebagai generatornya, publik begitu gampang menghujat tanpa sumbangsih. Dengan #GugurGunung kita bergandengan tangan dan mengambil peran.

Kesediaan setiap kelompok fans masing-masing band yang bergantian di barisan terdepan untuk menikmati band favoritnya adalah bukti, bahwa kita bisa memberi ruang bagi “yang lain” dan “yang berbeda”. Sudah terlalu banyak contoh kasus diskriminasi kepada minoritas dan peristiwa-peritiwa anti toleransi yang mengingkari kebhinekaan di negeri ini. Salut dan hormat untuk semua kelompok fans masing-masing band; Kamtis, Doggies, Jackers, Festivalist, Sedulur, kalian telah menyalakan semangat positif untuk negeri ini. Fans bukan cuma angka dan jumlah, kalian adalah manusia-manusia hebat yang mampu membuat gerakan bersama.

Akhirnya, salut dan apresiasi tertinggi untuk semua yang terlibat di #GugurGunung, mulai dari para vendor untuk sound, lighting, equipment, panggung, venue, dll. Para staff organizer dan stage crew yang bekerja keras. Para donatur dan sponsor yang dalam diam menyumbang terselenggaranya acara ini. Semua media partner yang telah mengabarkan energy positif dari #GugurGunung. Tak ketinggalan semua tim security dan bapak-bapak polisi yang mengamanakan acara #GugurGunung tanpa bayaran.

Bahwa Jogja Istimewa bukan hanya karena daerahnya istimewa, tapi karena orang-ornagnya yang rela bahu-membahu untuk bergotong-royong demi kepentingan bersama. Peluk erat untuk Endank Soekamti, Shaggy Dog, Captain Jack, FSTVLST, Jogja Hip Hop Foundation.

Tentang Agama, Pahala, Surga, aku tidak tahu dan tidak peduli. Ukuran kualitas manusia adalah manfaat bagi manusia yang lain dan alam raya. Dengan ukuran norma tertentu, aku bukanlah manusia “mulia”, karena selesai acara, aku mabuk berat dan memarkirkan mobil untuk tidur di pinggir jalan karena tidak kuat lagi menyopir.

Urip kudu urup lan migunani tumraping liyan.

Kill the DJ

Obituari: Srudak-Sruduk Si Kebo

Yang tak Terlupakan

5 November 2010, 02:00 dini hari, erupsi besar gunung Merapi mengguncang Jogja dan sekitarnya, ratusan ribu penduduk yang tinggal di sekitar lereng Merapi seketika berbondong-bondong mengungsi ke tempat yang relatif aman. Tapi malam itu aku memutuskan menantang bahaya dengan naik mengendarai mobil pick up, melawan arus pengungsi, menuju ke lereng Merapi untuk membantu evakuasi. Aku tidak tega membayangkan nasib saudara-sudara kita yang terjebak di desa-desa terpencil di lereng Merapi itu. Sekitar pukul 04:00 aku bertemu dengan Kebo, sapaan akrab Yoga Cahyadi alias Bobby Yoga, di depan kecamatan Pakem yang berubah menjadi kota mati. Kita menunggu fajar di sana untuk kembali menyisir kampung-kampung yang dilanda bencana.

Sekitar puku 05:00, Matahari belum terlihat tapi langit sudah semburat, kami menuju ke kali Gendol yang dari kejauhan nampak seperti garis bara api karena menjadi jalur utama muntahan material panas Merapi. Kami merangsek hingga kira-kira 100 meter dari kali itu. Bau belerang dan segala benda terbakar begitu menyengat. Bersama teman-teman SAR yang lain, kami menyisir rumah-rumah di sekitar bantaran sungai itu, desa Argomulyo tepatnya. Puluhan mayat kami angkat ke dalam mobil yang aku kendarai. Ketika sirine bahaya berbunyi dari radio yang kubawa, Kebo memintaku untuk tetap bertahan dan hanya bersiap di mobil, sementara yang lain mundur ke tempat yang lebih aman. “Tenang. Itu hanya angin lalu” katanya waktu itu.

Itu kenapa dia disapa Kebo (Kerbau, Jawa), disamping badannya relatif gemuk, dia laksana banteng yang ketika mengambil keputusan, tidak akan mundur sejengkal pun. Teman-temannya di Mapala Setrajana dan SAR tahu persis akan karakter ‘ngebo’ ini.

Puluhan mayat-mayat itu (saya tidak tahu persis jumlahnya) kami bawa ke RS Sardjito, kami bolak-balik naik-turun beberapa kali. Aktivitas berhenti karena aku harus berangkat ke Jakarta melalui perjalanan darat untuk taping di Metro TV hari berikutnya, waktu itu air port Yogyakarta ditutup oprasinya.

Setiap tahun di hari dan tanggal yang sama, Kebo selalu mengajakku untuk kembali ke bantaran kali Gendol untuk memperingati peristiwa itu. Kami nge-beer sambil ngobrol ngalor-ngidul mengenang akan hal-hal …

Cerita lengkap tentang peristiwa ini saya susun dalam tulisan; My Evacuation Timeline. Dan sekarang nama Kebo yang mempunyai akun twitter @effort_creative tercetak warna merah.

Masa Indah

Aku mengenal Kebo di Fisipol UGM tahun 1996, meskipun aku tidak pernah kuliah dan menjadi mahasiswa, aku selalu nongkrong di sana. Waktu itu, sebelum Soeharto lengser, Fisipol UGM adalah habitat yang penuh semangat dan pergesekan gagasan yang kuat lagi hangat. Bukan saja gerilya politik melawan orde baru, tapi juga dipenuhi oleh enerji-enerji kreatif yang luar biasa.

Kami mendirikan Forum Musik Fisipol (FMF) dan Kebo adalah salah satu inisiatornya, menjadi basis lahirnya legenda electronic music movement, Parkinsound (1998 – 2004). Bahkan pesta hip hop yang menggunakan nama Jogja Hip Hop Foundation (JHF) aku selenggarakn pertama kali di sana. Banyak band-band hebat yang lahir di sana, salah satu yang masih aktif hingga kini adalah Melancholic Bitch. Jangan lupa, teater Garasi yang moncer itu juga lahir dalam lingkungan ini. Juga ada Kunci Cultural Studies yang sangat penting untuk diakses wacananya hingga kini. Aku tidak bisa menyebutkan semua hal hebat yang lahir di Fisipol UGM di era itu, tapi tentu perlu menyebutkan Performance Fucktory, sebuah wadah di mana Jompet, Ugo, Yosi, Wulu, dan aku bergesekan melahirkan beberapa karya performance dan musik.

Tentu saja juga melahirkan cerita-cerita khas anak muda di jaman itu; ganja, alkohol, berantem dan kisah cinta.

Aku memang selalu mengkritik berbagai pemikiran dan keputusan Kebo sejak kita masih membangun FMF, bahkan Kebo dan beberapa teman pernah melabrak rumahku ketika berselisih pendapat tentang penyelenggaraan Parkinsound 4 (terakhir). Waktu itu aku memutuskan untuk menerapkan logika bisnis dengan tetap mengandalkan basis komunitas dalam penyelenggaraan setelah rugi hampir seratus juta di Parkinsound 3 (2001). Tapi rupanya itu tidak bisa diterima khalayak, aku menjadi musuh nomer satu di FMF waktu keputusan itu kuambil.

Hanya waktu yang bisa memberikan pelajaran dan jawaban akan hal-hal…

Ketika generasi Kebo banyak yang sudah lulus dan menjadi alumni, aku juga tidak setuju keterlibatan para alumni secara langsung di FMF. Alasanku, setiap generasi mempunyai gaya dan ekspresi khasnya sendiri sabagi penanda jaman. Itu kenapa aku kemudian memutuskan untuk tidak mau ikut campur FMF selama alumni masih terlibat secara langsung.

Quot dari kata-kata Kebo yang paling terkenal dan selalu terngiang di kepala teman-teman pun aku kritik; “piye carane kudu isa” (bagaimana caranya harus bisa), karena seharusnya “kudu isa piye carane” (harus bisa bagaimana caranya), dengan demikian kita masih bisa membuka diri untuk terus berkembang, belajar, dan menjadi murid seumur hidup.

Hingga kemudian dia mendirikan EO bernama Effort Creative, aku selalu merasa tidak sreg dan mengkritik cara, pemikiran, dan keputusan Kebo ketika menjadi promotor. Karena itu logika bisnis yang sunggung berbeda. EO hanya jasa penyelenggaraan event dan seharusnya tidak bisa rugi, sementara promotor adalah investasi. Hingga kemudian aku memutuskan untuk tidak mempunyai relasi bisnis dengannya agar pertemanan kita tidak hancur.

Ini semua hanya soal waktu …

Jebakan Gerakan Kebudayaan

Sebagai sebuah perusahaan event organizer, Effort Creative sebenarnya cukup menguntungkan, tapi Kebo selalu mempunyai semangat yang besar untuk menjadi promotor untuk memajukan musik independen di Yogyakarta. Generasi kami di Yogyakarta memang banyak terjebak dengan gagasan ‘gerakan kebudayaan’ dari pada sekedar event, termasuk Kebo. Berbagai acara untuk itu diciptakan, seperti; Youthfest, The Parade, Lockstock dll. Semua keuntungan sebagai EO bisa jadi dia curahkan sebagai promotor untuk membangun acara-acara itu yang kebanyakan sepi sponsor.

Dari semua acara-acara itu, Lockstock (akronim dari Local Stock) digadang-gadang oleh Kebo sebagai wadah yang mampu mendukung kemajuan skena musik independen di Yogyakarta. Dia bercita-cita menjadi “kaki” untuk teman-teman musisi Independen. Lockstock pertama digelar tahun 2009 dan berakhir dengan kegagalan secara bisnis. Mulai saat itulah Kebo mulai kelabakan gali lubang – tutup lubang. Menggunakan uang event yang akan datang untuk menutup event sebelumnya.

Ada beberapa nama yang diminta Kebo sebagai team penggagas Lockstock; Djaduk Ferianto (Kua Etnika), Aji Wartono (Warta Jazz), Wotowibowo (Yes No Wave), Andy Yulfan (Memet Dubyouth, ex. Manager Shaggydog dan sekarang Endank Soekamti), dan aku sendiri. Segala muatan tema dan band yang dipilih Kebo selalu berkonsultasi dan meminta rekomendasi kepada kami. Tapi secara bisnis orang-orang ini tidak ada keterlibatannya sama sekali.

Pada Lockstock pertama, berbagai rekomendasi kami sampaikan. Diantaranya, bahwa sebuah gerakan kebudayaan harus disepakati secara kolektif, event tidak perlu besar dan berbiaya tinggi tapi cukup menjadi penanda semangat zaman yang akan selalu dikenang. Saya sendiri tidak setuju dengan nama Lockstock yang kurang membumi dan mewakili ciri khas Yogyakarta. Tapi Kebo tetap mendirikan beberapa panggung dan selalu menaruhkan harapan menjadi festival yang besar pada Lockstock. Sudah bisa ditebak, dia akhirnya bangkrut.

Setelah 4 tahun berselang dengan diselingi berbagai event yang lain yang dipromotori oleh Effort Creative, seperti the Parade dan Youthfest, Kebo datang lagi dan menyampaikan niat untuk kembali menggelar Lockstock. Team penggagas ini kembali dikumpulkan sebatas memberikan rekomendasi muatan tema dan band-band yang dipilih. Yang jauh lebih penting, bahwa secara tegas, justru team ini menyarankan Kebo untuk berpikir ulang untuk menunda penyelenggaraan Lockstock 2 karena relatif hanya dipersiapkan selama satu bulan.

Aku sendiri belum pernah mengikuti rapat team penggagas atas prakarsa Kebo. Kebetulan saya selalu berhalangan karena jadwal manggung dan opname untuk oprasi usus buntu. Tapi sebelum itu, Kebo menemuiku secara personal dan menyampaikan niat untuk menggelar Lockstock 2.

“Aku ra iso mandeg, kudu mlaku terus, kudu tangi meneh (aku tidak bisa berhenti, harus terus berjalan, harus bagun lagi)” katanya waktu itu.

Saya tahu secara umum kondisi Effort Creative dan pribadi Kebo saat itu, disamping hutang yang menumpuk kepada beberapa vendor dan rental, Kebo juga ditinggal oleh hampir semua partner dan staffnya. Dia sendirian. Karenanya aku secara tegas menyampaikan tidak bisa mendukung jika Kebo tetap grusa-grusu dan tidak memperhitungkan semua logika bisnisnya.

Kira-kira waktu itu aku katakan kepadanya seperti ini; “Satu, aku tetap tidak suka nama Lockstock. Diganti saja yang lebih membumi. Dua, mempersiapkan acara sebesar cita-citamu terhadap format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan, itu namanya ‘bunuh diri’ secara bisnis”.

Sebulan setelah  pertemuan itu, aku baru sadar seminggu sebelum hari H, bahwa acara Lockstock 2 tetap diselenggarakan. Aku menelpon Kebo untuk meyakinkan hal itu dan berusaha menyarankan untuk membatalkannya.

Tapi itulah Kebo! Dan Lockstock 2 tetap diselenggarakn.

Hari pertama penyelenggaraan aku tidak hadir, aku memilih tinggal di rumahku di desa utara candi Prambanan sambil menikmati suasana perayaan Waisak di Candi Sewu yang relatif lebih nyaman dibandingkan dengan perayaan Waisak di Borobudur yang sudah terkomodifikasi secara banal itu. Tapi hujan besar yang mengguyur hampir seluruh wilayah Yogyakarta malam itu membuatku tak nyaman dan segera bergegas kembali ke rumah, kondisi ini juga membuatku bertanya-tanya bagaimana situasi hari pertama Lockstock 2.

Tak lama sesampainya di rumah, saya mendapatkan beberapa telpon dari teman-teman band luar kota yang komplain dalam hal administrasi dan penyelenggaraan Lockstock 2 yang semrawut. Kebanyakan dari mereka mundur dan membatalkan tampil karena fee belum terbayar. Beberapa menyangka bahwa aku terlibat secara langsung penyelenggaraan event ini dan namaku menjadi dasar mereka mau datang ke Jogja dengan fee yang murah. Mungkin hal ini juga dialami oleh Djaduk Ferianto, Aji Wartono, Wotowibowo, dan Memet.

Ketika membuka twitter, timeline dipenuhi dengan caci-maki atas penyelenggaraan Lockstock 2. Kemudian aku berusaha menelpon beberapa band luar kota untuk memastikan akomodasi dan hospitality mereka baik-baik. Paling tidak mereka bisa kembali ke kota masing-masing dengan nyaman. Aku juga berusaha menelpon beberapa teman yang ada di venue untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan.

“Hancur… Lockstock Hancur… ” Begitulah kira-kira secara umum komentar yang aku dapat dari teman-teman akan event yang diberi tagline ‘the biggest annual music movement’ itu.

Aku selelu berkomunikasi dengan manajerku di Jogja Hip Hop Foundation (JHF), memastikan hingga detik-detik terakhir apakah besok JHF jadi manggung di acara Lockstock 2. Aku menelpon Erick dari band Endank Soekamti yang besok rencananya manggung bersama JHF untuk menutup acara Lockstock 2. Erick menyampaikan ajakan yang sangat simpatik;

“Aku tidak peduli orang mau ngomong apa tentang Lockstock, Ayo kita menyelamatkan nama Jogja, kita harus manggung bareng besok! Mungkin kita akan rugi secara materiil, tapi secara moril kita akan bangga, juga untuk menyapa fans kita yang datang dari luar kota”.

Akhirnya JHF memutuskan membatalkan konser hari kedua setelah tahu dari beberapa teman di venue dini hari itu, bahwa acara hari kedua tidak mungkin lagi diselenggarakan.

Setelah itu, aku berusaha mencari Kebo dan gagal.

IMG_1798

Kabar Getir

26 Mei 2013, dulu kita begitu perkasa mengangkut puluhan mayat-mayat di lereng Merapi, tapi hari ini aku tidak mampu melihat jenazahmu yang ditemukan terberai dilindas kereta api. Tubuhku bergetar hingga aku tak kuasa mengendalikannya. Aku menjauhi meja dimana tubuhmu tergeletak.

Sejak mendengar kabar kamu hilang hingga dini hari dari acara Lockstock 2 yang kamu selenggarakan itu, aku berusaha mencarimu malam itu, Bajingan! Ketika membaca tweet terakhirmu pagi itu, aku disergap kepanikan yang dahsyat, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kabar, yang dalam doa yang jarang aku lakukan itu, aku berharap akan ada berita baik.

Aku sangat menyesal kenapa aku tidak cukup mampu mengendalikanmu untuk menunda acara itu hingga setelah lebaran. Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa, mempersiapkan acara sebesar format Lockstock tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu satu bulan. Iya, sebulan yang lalu aku mengatakan kepadamu bahwa itu ‘bunuh diri’ secara bisnis. Tapi bukan ‘bunuh diri’ seperti ini, Bo. Asu!

Tapi kamu memang Kebo! Sekali mengambil keputusan pantang mundur. Dengan cula nyali yang besar kamu selalu menyeruduk segala rintangan termasuk hitung-hitungan logis, apa pun resikonya itu.  Meskipun, karena semangat dan keberanianmu yang besar, aku tidak pernah membayangkan kamu akan ‘bunuh diri’ meninggalkan keluarga dan sahabat yang menyayangimu.

Di sisi gundukan tanah kuburmu, di seberang istri, anakmu, ayah, ibu, dua adikmu, dan keluarga besarmu yang terguncang hebat, aku meletakkan telapak tanganku ke tanah yang masih basah itu, tubuhku bergetar dan air mata deras mengalir, aku membisikkan kepadamu;

“Bajingan Asu! Kowe ngrepoti! Ning kowe cen Kebo! Angel dikandani, masiyo ngono kowe tetep kancaku. Aku mung isa ndereke sugeng tindak, sikiko, dipenake, aku isih sabar, mengko aku yo nyusul ngancani kowe”.

(Bajingan Asu! Kamu membikin repot! Tapi kamu memang Kebo! Susah diomongin, meskipun demikian kamu akan selalu menjadi temanku. Aku cuma bisa mengucapkan selamat jalan, silahkan kamu duluan, buatlah nyaman, aku masih sabar koq, nanti juga akan menyusulmu dan menemanimu).

Perjalanan Kecil di Taman

Berbagai teori dan dugaan muncul di banyak berita kematian tragis Kebo. Yang menjadi highlight adalah caci-maki di media sosial yang membuat Kebo memutuskan untuk bunuh diri. Kemudian terkenal dengan hashtag #cyberbullying yang di-mention ke akun twitter Kebo, @effort_creative. Apalagi jika kemudian khalayak membaca tweet terakhirnya..

“Terima kasih atas sgala caci maki @lockstockfest2.. ini gerakan.. gerakan menuju Tuhan.. Salam..” Status pamitan juga bisa ditemukan di Facebook-nya.

Aku sendiri mencoba berpikir jernih, bahwa seseorang boleh komplain dan marah ketika hak-haknya tidak terpenuhi. Aku membayangkan ketika diriku bersama JHF tour ke luar kota dan tiba-tiba tidak ada pembayaran dan eventnya berantakan. Dari sisi profesionalitas, kita punya hak untuk komplain dan menuntut penyelenggara. Juga berhak menyampaikan akar permasalahan ke publik, terutama kepada para fans kita, apalagi mereka yang datang dari luar kota hanya untuk menonton konser kita. Tapi aku juga sadar, bahwa industri musik di Indonesia sudah sangat busuk, hampir semua musisi kebanyakan bersandar pada fee manggung di mana para promotor dan EO bekerja keras untuk para musisi. Demikianlah kiranya kita juga harus bijak menyampaikan tuntutan dan gugatan itu.

Karena twitter, dan segala jenis media sosial yang lain, sesungguhnya adalah ruang publik. Itu bisa menjadi seperti podium orasi atau panflet mutakhir yang bisa membakar amarah publik untuk turut campur menghujat tanpa tahu akar permasalahannya. Bahkan beberapa publik figur yang aku anggap cukup bijak bisa terbawa arus ikut campur menghujat Lockstock 2 malam itu, meskipun mungkin dilakukan dari Jakarta dan tanpa konfirmasi. Okelah, kemudian kita bisa menghapus apa yang sudah di-publish di timeline, tapi bola panas telah digulirkan.

Aku perlu menjelaskan bahwa pemegang admin @JHFcrew harus menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak offensive. Pun ketika komplain dengan panitia penyelenggara atau membatalkan manggung. Kami perlu menekankan moral agar tidak menyulut amarah terutama kepada fans kami. Hal serupa aku yakini berlaku pada akun @ShaggydogJogja yang ngetweet pembatalan secara formal tanpa ditambahi amunisi yang membakar amarah publik; “Mohon maaf, dengan berat hati, kami terpaksa membatalkan show di Lockstock fest. YK malam ini, dikarenakan terjadinya miskomunikasi dengan panitia”.

Perlu diketahui, sesungguhnya Kebo tidak melarikan uang seperti banyak dituduhkan di twitter, karena sesungguhnya memang tidak ada uangnya. Kebo menggunakan uang dari event Astra Honda di tgl 28 Mei untuk menutupi event Lockstock yang digadang-gadang oleh Kebo mampu menjadi representasi dan penanda pergerakan musik independen di Yogyakarta pada tgl 25 dan 26 Mei itu. Tapi uang itu tidak cukup, juga running penjualan tiket tidak seperti yang diharapkan karena hujan deras mengguyur venue semalaman. Dua panggung utama tidak bisa beroprasi. Penotnon tidak seperti yang diharapkan. Selanjutnya bisa ditebak

Akhirnya dia pergi meninggalkan venue karena kelabakan mencari hutangan untuk menutupi kekurangan di hari itu. Sesungguhnya tidak ada sponsor yang masuk. Ketika seminggu sebelum hari H aku telpon dan masih berusaha menyarankan dia untuk menunda penyelenggaraan, Kebo menyampaikan sudah mendapatkan uang untuk menggelar Lockstock 2. Juga tidak ada lagi teman yang bisa menalangi atau memberikan hutang kepadanya. Mungkin pintu-pintu memang sudah tertutup untuknya malam itu.

Dan sekali lagi, dia memang Kebo! Sekali melangkah tidak akan mundur…

Aku sendiri tidak yakin bahwa dia memutuskan bunuh diri hanya karena dicaci-maki di media sosial. Kiranya dia sudah membuat perhitungan dan janjian sendiri dengan Tuhannya atas segala masalah-masalah yang dihadapinya malam itu atau pun masalah-masalah sebelumnya. Aku hanya bisa menyarankan kita untuk ikhlas melepas kepergiannya dan legawa atas segala keruwetan yang ditimbulkannya berkaitan dengan penyelenggaraan Lockstock 2 maupun event-event sebelumnya.

Aku sungguh sangat berbangga, bahwa kita teman-teman dekatnya, tetap bergotong-royong untuk menyelesaikan hutang event terakhirnya atas Astra Honda yang menampilkan Cherry Belle dua hari setelah kepergiannya. Aku kembali meneteskan air mata, ketika teman-teman menyampaikan Gwen, anak satu-satunya datang bersama Arini istrinya, menari-nari mengikuti lagu “kamu cantik, cantik, dari hatimuuuu..”

Kita berteman sudah lama dan akan selalu seperti itu

Kebo, bagaimana pun kamu telah menorehkan sejarah, menjadi kaki yang menyokong perkembangan industri kreatif dan musik independen di Yogyakarta seperti cita-citamu, meskipun belum tuntas dan akhirnya jalan yang kau pilih adalah meninggalkan semua goresan yang telah kamu buat secara tragis.

Aku dan teman-teman yang kau tinggal akan mengambil pelajaran atas semua rangkaian peristiwa ini. Terima kasih untuk semua hal yang sudah kita lalui bersama. Baik, buruk, aku tidak peduli karena bagaimana pun kamu adalah temanku. Pun jika kamu memang benar-benar bunuh diri dan memilih sirna karena ‘malu’, kamu mengajarkan hal yang saat ini tidak dimiliki bangsa ini.

Lalu, adakah yang lebih penting dari semua pencapaian dan gemuruh tepuk tangan dari pada sebuah perjalanan kecil sore hari di taman?

Selamat jalan Bo!

Prambanan, 29 Mei 2013

Kill the DJ

*kiranya aku perlu menambahkan capture foto ini, bacalah dari bawah..