Tag Archives: Jokowi

Janji Jewer Jokowi

Jewer JokowiSetelah pilihan dan kemenangan

Kami akan mundur menarik dukungan

Membentuk barisan parlemen jalanan

Mengawasi amanah kekuasaan 

Akhir-akhir ini, berbarengan dengan kisruh KPK vs Polri, banyak orang mengejek saya di sosial media tentang dukungan saya kepada Jokowi di pilpres 2014, tentu saja kebanyakan dilakukan oleh “barisan sakit hati” yang masih tidak terima kekalahan Prabowo di pilpres lalu. Bahkan dalam sebuah aksi #SaveKPK yang saya ikuti di Polda DIY, apa yang saya orasikan di tengah massa dikutip media dengan judul heboh tanpa konteks waktu; “Kill the DJ menarik dukungan untuk Jokowi”.

Saya merasa tersanjung dengan semua usaha “sia-sia” kalian. Namun dengan legowo saya akan memberi ruang buat kalian dalam memenuhi nafsu mengejek. Mungkin hanya itulah “kemewahan” yang tersisa dalam hidup kalian.

Cuplikan bait terakhir lirik lagu “Bersatu Padu Coblos No. 2” di atas, yang saya sumbangkan untuk kampanye Jokowi selama pilpres 2014 lalu menjelaskan semuanya. Bahwa sebelum memutuskan menjadi relawan pun, saya sudah mempunyai komitmen untuk “menarik dukungan” begitu Jokowi menjadi presiden. Tidak ada lagi “Relawan Jokowi” yang harum namanya itu, karena Jokowi adalah presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. Janji tersebut bahkan sudah saya lunasi sejak sebelum pelantikan, dengan tidak pernah hadir di berbagai undangan acara sebelum pelantikan, juga tidak pernah memenuhi undangan untuk datang ke kantor transisi, bahkan saat pelantikan yang bersejarah itu pun justru saya menghindar karena saya sudah menduga akan terlalu banyak “banci tampil” menggendong kepentingan masing-masing.

Melalui tulisan ini dengan tegas saya katakan, bahwa saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari sejarah di Pilpres 2014 dengan mengalahkan Prabowo dan para pendukungnya. Alasan kenapa saya harus menghadang Prabowo bisa dibaca di tulisan-tulisan di blog ini sebelumnya.

Saya adalah seniman, bukan politisi, dan bukan simpastisan atau kader sebuah partai politik, karena saya tahu semua partai politik di Indonesia busuk, bahkan yang membawa nama agama pun. Begitu asas kepentingan lebih menguasai dari pada asas perjuangan, saya pasti akan mengundurkan diri. Integritas saya sebagai seniman tidak bisa ditukar oleh hal apapun, bahkan surga, apalagi hanya politik. Oleh karenanya saya tidak peduli dengan realitas politik yang dihadapi Jokowi sebagai presiden. Saya tidak pernah peduli bahwa PDI-P sebagai parpol pemenang pemilu tidak mampu membangun Koalisi Indonesia Hebat menguasai parlemen. Saya juga tidak mau tahu kerepotan Jokowi menghadapi tarik-menarik kepentingan antar elite parpol di seputar istana negara. Buat “barisan sakit hati” jangan jumawa, karena kalau Prabowo jadi presiden bagi-bagi kursi kekuasaan itu akan lancar tanpa hambatan. Meminjam kalimat kawan Pandji, beberapa kali “gegeran” di istana negara justru menunjukkan bahwa Jokowi berusaha bertahan dari berbagai gempuran “kepentingan-kepentingan” tersebut, bahkan oleh parpol pendukungnya sendiri.

Namun semua itu bukanlah urusan saya karena, sebagaimana rakyat yang lain, saya adalah rakyat yang sibuk membangun kehidupannya dengan segala kemandirian yang dimiliki. Semangat “teruslah bekerja, jangan berharap pada negara” tidak akan luntur hanya karena saya telah menjadi bagian dari kemenangan Jokowi. Tugas saya saat ini adalah memenuhi janji untuk “Menjewer Jokowi” sebagai bentuk kritik jika ada kebijakan-kebijakan yang mengingkari janjinya sebagai presiden; “Saya hanya akan tunduk kepada konstitusi dan kehendak rakyat Indonesia”.

Menjadi bagian “rakyat tidak jelas” yang mendukung #SaveKPK adalah perwujudan dari komitmen “Menjewer Jokowi” tersebut. Namun sebelum fenomena Jokowi muncul pun saya sudah melakukannya sejak “Cicak Nguntal Boyo” 2009. KPK dengan segala sumber daya yang minim dan serangan yang bertubi-tubi, tetaplah lembaga yang paling bisa diandalkan saat ini, oleh karenanya buat saya, KPK sangat layak untuk dibela. Benar, saya setuju banyak yang perlu dibenahi di KPK, tapi dengan tindakan kriminalisasi terus-menerus terhadap KPK hanya akan membuat semakin banyak “rakyat tidak jelas” dengan segala “cinta” untuk “Indonesia Raya” turun tangan membelanya. Cinta itulah yang membuat mereka bergerak, sebagaimana cinta menggerakkan mereka untuk mengantarkan Jokowi hingga istana negara.

Itu kenapa ketika kami menggelar konser #GropyokanKorupsi di Hari Anti Korupsi, 9 Desember 2014 lalu, kami memilih tema “Korupsi Adalah Kita” sebagai plesetan “Jokowi adalah Kita”, di mana banyak eks. relawan Jokowi memprotesnya, hahaha, semoga sekarang kalian bisa paham dan mampu mengejek diri sendiri. Korupsi memang ada di sekitar kita dan kita harus berperang! Pemberantasan korupsi di Indonesia tidak akan pernah berhasil tanpa komitmen kuat dari kepala negara, segala pernyataan normatif yang biasa-biasa saja dari Jokowi dalam kisruh Pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri yang berbuntut pada penangkapan Bambang Widjojanto dan penetapan sebagai tersangka itu sungguh sangat mengecewakan.

Janganlah menggali kuburanmu sendiri !

Advertisements

Jadilah Presiden Rakyat!

Jokowi mau mendengarkan saya berbicara
Kenangan ketika pertama kali kita bertemu mendengarkan draft lagu “Bersatu Padu Coblos No.2”  – 2 Juni 2014

Dear Bapak Jokowi, Aku menulis surat ini di atas pesawat yang membosankan dalam perjalananku ke konferensi Art Asia Council di Tokyo, Jepang, pasti bapak tidak membayangkan bahwa seorang “rapper kampung” sepertiku bisa diundang untuk perhelatan-perhelatan semacam ini. Perlu bapak mengerti, bahwa dalam kerja kesenianku, peran negara sangat minim, untuk tidak dibilang nihil, meskipun sudah ada Menparekraf dan Dana Keistimewaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tapi aku tidak akan mengeluh karena aku hidup di tengah patani-petani miskin di desaku yang selalu tersenyum dan tetap menanam meskipun gagal panen. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang hebat dan paham akan proses untuk menjadi Indonesia. Pertama-tama, aku mohon maaf karena tidak bisa menghadiri Pesta Rakyat pelantikan bapak di tanggal 20 Oktober nanti, meskipun teman-teman relawan banyak yang berharap aku hadir di sana. Tapi seperti janji di laguku buat bapak, bahwa “setelah pilihan dan kemenangan, kami akan mundur menarik dukungan, membentuk barisan parlemen jalanan, mengawasi amanah kekuasaan”, maka aku pikir bukan hal penting untuk harus hadir di sana, meskipun sejujurnya aku ingin berada di sana untuk ikut memproklamasikan kekuatan rakyat.

Setelah pilpres kemarin, banyak sekali undangan baik secara resmi atau tidak resmi, mulai dari Kantor Transisi, PDI-P, hingga halal bi halal relawan Jokowi, tidak ada satu pun yang aku hadiri kecuali launching buku di Solo. Ada dua alasan kenapa aku tidak mau menghadiri undangan-undangan itu. Pertama, aku memang ingin dan sudah sepantasnya untuk mengambil jarak karena aku tidak tertarik dengan politik. Kedua, terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk yang harus aku selesaikan setelah praktis aku tinggal untuk menjadi relawan Jokowi selama dua bulan masa pilpres 2014. Bahkan aku sampai harus mengundur launching buku Java Beat in the Big Apple (Cerita Perjalanan Java Hip Hop di USA) dan album Semar Mesem Romo Mendem karenanya. Itu kenapa begitu pilpres selesai aku jarang ngetwit, karena memang tidak cukup waktu untuk itu. Meskipun jika aku tetap bekerja sepanjang pilpres pun hasilnya pasti tidak akan maksimal. Karena selama pilpres setiap hari yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya Jokowi menang. Ketika bangun tidur aku langsung memikirkan Jokowi, sepenjang hari aku hanya mengerahkan segala daya-upayaku untuk kemenangan Jokowi, hingga ketika kembali tidur lagi aku masih memikirkan Jokowi, bahkan ketika tidur pun aku bermimpi bagaimana memenangkan Jokowi. Mungkin kedengaran lebay, tapi teman-teman dekatku pasti sangat tahu, aku sudah terbiasa melakukan hal itu karena sering menjadi relawan ketika terjadi bencana. Pilpres 2014 kemarin aku anggap sebagai bencana dan aku harus memenuhi “panggilan mulia” sebagai relawan itu apapun resikonya. Bencana karena aku ingin cita-cita reformasi kembali ke jalurnya, bencana karena aku ingin demokrasi tidak kembali tersandra.

Foto kenangan ketika menggelar acara Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK
Foto kenangan ketika menggelar acara Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK – Alun-alun Utara Jogja 24 Juni 2014

Aku punya prinsip bahwa aku tidak boleh hanya mengeluh pada keadaan tanpa memberikan andil (kontribusi) untuk membangun mimpi dan harapan akan perubahan itu. Luar biasanya, saat ini besarnya harapan akan perubahan itu tertumpu pada diri Jokowi. Aku yakin bapak sudah tidak ingat jawabanku ketika bapak menelponku setelah pilpres untuk mengucapkan terima kasih, melalui surat ini, ijinkan aku mengingatkannya; “aku tidak butuh ucapan terima kasih, menjadi relawan Jokowi buatku adalah membantu diriku sendiri karena Jokowi adalah simpul bagi energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia yang lebih baik”. Bapak Jokowi, malalui satu surat dari seorang yang pernah berjibaku menjadi relawanmu ini saja, tentu bapak sudah bisa membaca bahwa harapan yang dititipkan kepada Jokowi sangatlah besar. Aku yakin tentu bapak sudah sangat sadar, betapa besar harapan rakyat Indonesia itu. Aku juga yakin, bahwa bapak sudah tahu tidak akan mudah membenahi Indonesia, apalagi belum-belum bapak sudah dihadapkan pada realitas politik yang karut-marut. Tapi aku sangat yakin sebelumnya, bahwa dibalik tubuh kerempeng yang dibalut sopan-santun khas Jawa dan kerendahan hati itu, Jokowi adalah petarung sejati yang mengartikan kemenangan juga adalah penghormatan bagi mereka yang kalah. Bahwa bapak akan menghadapinya dengan “Cara Jokowi”; merangkul kawan dan lawan untuk bersama-sama berproses menjadi Indonesia.

Foto kenangan ketika mendadak harus membuka konser Salam Dua Jari - GBK 5 Juli
Foto kenangan ketika mendadak harus membuka konser Salam Dua Jari – GBK 5 Juli 2014

Pertemuan Jokowi dengan Prabowo membuktikan semuanya. Aku sangat bahagia dan bersyukur bahwa hal itu terjadi dan menghadirkan suka-cita yang hakiki bagi rakyat Indonesia. Semoga peristiwa itu menjadi tauladan untuk para pendukungmu, bahkan buat Megawati juga. Hihihi… Sebab kita memang harus bersama-sama bekerja untuk Indonesia. Terakhir, aku mengucapkan selamat atas pelantikan bapak sebagai presiden Indonesia, semoga bapak bisa mengemban tugas itu dengan baik, tetap amanah dan mendengar. Bapak tidak pandai pidato tidak apa-apa, karena Indonesia kekurangan pemimpin yang memiliki kemampuan mendengar dengan baik, dalam hal ini mendengar sanubari rakyatnya. Aku berjanji akan selalu turun tangan untuk memberi sumbangsih bagi Indonesia jika situasinya memanggil, tapi aku juga berjanji bahwa aku tidak akan segan “menjewer Jokowi” jika bapak tidak lagi mendengar suara rakyat.

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat, Jadilah Presiden Rakyat!

Tokyo, 19 Oktober 2014 Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Tetaplah Tersenyum dan Gembira

Kepada seluruh teman-teman relawan Jokowi-JK,

Satu hari sebelum tanggal 9 Juli 2014, dimana sejarah Indonesia akan kita tentukan bersama, ijinkanlah temanmu ini untuk menulis sebuah surat untuk semua teman-teman relawan Jokowi-JK di seluruh penjuru Nusantara.

Ingin rasanya aku mengenal kalian semua satu persatu, menjabat erat tangan-tangan kecil kalian yang telah rela bekerja keras tanpa pamrih, mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, uang, dan segala daya-upaya untuk memenangkan Jokowi-JK di Pilpres 2014 ini. Mungkin, dengan segala keterbatasan, pada akhirnya kita tidak saling bertatap muka, tapi sesungguhnya kita telah bersatu-padu dalam irama dan energi yang sama untuk sebuah nilai yang kita perjuangkan; bahwa demokrasi tidak boleh lagi tersandra dan kekuasaan harus dikembalikan kepada yang berhak, yaitu kedaulatan rakyat.

Dalam perjalanan waktu yang sesungguhnya sangat singkat, kita warga biasa yang sebagian besar tak perduli partai politik, atau bahkan jijik, telah melewati banyak hal yang jauh diluar perkiraan dan (mungkin) kemampuan kita, karena ternyata yang kita hadapi adalah kejahatan demokrasi yang canggih dengan segala strategi tingkat tinggi dan skenarionya. Kita kaget dengan berbagai macam fitnah dan adu domba, kita tidak paham apa itu istilah “operasi senyap”, kita terkejut dengan berbagai macam intimidasi dan provokasi. Benar ternyata, dalam meraih tujuan keterbatasan orang baik akan tetap menggunakan cara-cara baik, sementara orang jahat akan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Kita masih punya malu, harga diri, dan martabat. Sementara lawan kita, jangankan malu, bahkan mereka bisa melampaui kuasa Tuhan di bumi dengan segala fatwa dan cap.

Bahwa kegembiraan politik yang didengungkan Jokowi yang telah melahirkan gelombang kreatifitas dan aksi simpatik yang bergairah itu, ternyata harus dihadapkan dengan berbagai bentuk kejahatan demokrasi yang berlangsung terus menerus dan sistematis. Tentu kita berhak kecewa dengan proses hukum Obor Rakyat, tentu kita berhak gemas dengan berbagai laporan penyebaran politik uang di seluruh penjuru tanah air, tentu kita berhak sedih dengan berbagai laporan bahwa ada aparat dan pegawai institusi pemerintahan ikut terlibat. Yang paling tidak bisa kita terima, tentu kita berhak marah karena negara yang kita biayai dengan pajak kita hanya diam atas segala pelanggaran yang telah mencederai demokrasi itu. Masih banyak lagi berbagai kasus yang telah dan akan terus-menerus menguji mental kita untuk membuat benteng keteguhan kita bisa saja bobol kemudian terpancing. Belakangan, kita yang lugu ini, tersadar bahwa “terpancing” itulah yang diharapkan dari strategi mereka.

Kita hanyalah manusia-manusia biasa dengan segala keterbatasannya, juga bermacam-macam karakternya. Seberapa pun kuatnya kita menjunjung tinggi akal sehat dan hati nurani, ketika ujian datang bertubi-tubi, tetaplah kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan itu.  Ada yang tetap kalem dengan kampanye adem, ada yang menangis dan memanjatkan doa, ada yang membalas fitnah dengan mengungkapkan fakta-fakta negatif kubu Prabowo-Hatta, ada juga yang malah tersulut dan melampiaskan emosinya.

Kenyataan yang paling menyedihkan adalah bahwa berbagai macam fitnah dan adu domba itu telah memecah belah persaudaraan dan persatuan bangsa. Tentu saja itu bukan demokrasi sehat yang kita harapkan. Memang, harganya terlalu mahal jika sebuah kekuasaan harus diraih dengan cara-cara seperti itu. Tentu kita bersedih karena kita mencintai Indonesia. Tapi kita telah membuktikan bahwa kita tidak pernah menyerah karena kita adalah rakyat yang “turun gunung” untuk membersihkan politik yang kotor.

Meminjam kalimat maklumat Jokowi-JK di GBK 5 Juli lalu; kita telah dihantam berbagai macam fitnah, tapi kita tetap tidak tumbang, karena kita bekerja tulus untuk Indonesia, kita adalah penyala harapan, kita berdemokrasi untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. Saya sendiri datang dengan niat tulus dan kegembiraan, menulis lagu dengan sepenuh hati di mana bait-bait terakhir tertulis kalimat “menang tak jumawa, kalah lapang dada, salam damai untuk Indonesia”, tapi disaat bersamaan saya bukanlah seorang yang hanya akan tinggal diam jika kecurangan dan kejahatan demokrasi terus terjadi.

Teman-teman, tinggal selangkah lagi, mari kita amanahkan suara kita untuk “kemenangan rakyat” pada 9 Juli. Kita tongkrongi TPS seharian dan kita lawan segala bentuk kecurangan dan kejahatan. Kita buktikan kalimat populer “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” adalah benar adanya. Apapun yang terjadi, kita telah bersama dan akan selalu bersama menyuarakan kebenaran. Kita akan berjalan seiring dengan langkah kaki Jokowi yang gagah-berani dan kita pantas berbangga atas segala sumbangsih yang telah kita lakukan.

Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita membantu Jokowi, tapi kita membantu diri kita sendiri untuk cita-cita perubahan. Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita butuh ucapan terima kasih untuk semua jerih-payah yang sudah kita usahakan, justru kita harus berterima kasih kepada Jokowi karena rela menjadikan dirinya simpul dari energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia. Jokowi bukan Nabi (tapi Prabowo juga bukan macan), melainkan manusia biasa sama seperti kita. Jokowi adalah Kita karena Kita adalah satu kesatuan dalam wujud Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya rakyat dan pemimpinnya). Ratu adalah rakyat yang bersatu, bukan Raja yang memerintah, itulah konsep Ratu Adil sesungguhnya. Inilah kehendak jaman, karena betapapun kita berusaha mewujudkannya, segalanya tidak akan terjadi tanpa seijin alam raya.

Kita memang hanya relawan, yang tumbuh subur secara organik tanpa sebuah garis komando, karena kita memang bukan “tentara” bayaran. Tapi kita telah patungan untuk menciptakan gelombang yang sangat besar yang akan menjadi tsunami yang bisa menggulung dan menabrak apapun yang ada di depan kita. Teman-teman, meskipun tidak akan pernah ada yang sempurna, tapi kita telah berusaha hingga batas yang kita mampu, dan kita pantas berbangga untuk itu, sebuah alasan yang sangat cukup untuk kita tetap tersenyum dan gembira, karena apapun yang terjadi, sesungguhnya ibu pertiwi mengamini ketulusan dan kebersamaan kita.

Salam Dua Jari !

 

Prambanan, 8 Juli 2014

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Jangan Memilih Jokowi Karena Kill the DJ

jangan milih jokowi

Jangan Memilih Jokowi Karena Kill the DJ

Akhir-akhir ini banyak pertanyaan dari beberapa penggemar melalui twitter dan facebook, “kenapa mendukung Jokowi?”. Banyak penggemar berharap bahwa sebagai musisi atau seniman seharusnya aku netral. Tentu saja sebagian besar penggemar itu juga “sedulur” dan “bregada” dari Jogja Hip Hop Foundation yang selalu menemani kami dari panggung ke panggung. Karena tidak mungkin aku menjawab pertanyaan, melalui tulisan ini, ijinkan aku menyapa kalian semua dan menjelaskan alasan-alasan dengan bahasa yang paling sederhana agar kalian bisa memahami.

Bagi kalian yang berumur 30 tahun ke bawah, tentu tidak pernah benar-benar mengerti arti dari kebebasan berekspresi dan berpendapat, karena tidak merasakan susahnya jaman orde baru. Di jaman orde baru, kebebasan berekspresi dan berpendapat dikekang, jika kalian mengkritik negara atau pejabat, maka kalian akan dianggap subversif (pemberontak). Bahkan, jika kamu menjadi bagian dari aktivis yang memperjuangkan demokrasi, kamu bisa saja diculik atau mati dihilangkan. Sebuah unit yang dikenal dengan Tim Mawar dibawah asuhan Prabowo Subianto, yang saat ini maju menjadi calon presiden dibentuk untuk meredam para aktivis yang memperjuangkan demokrasi. Banyak teori konspirasi di belakang kasus ini, termasuk para atasan Prabowo yang dulu ikut menandatangani surat pemecatan dirinya. Aku memilih tidak mau berasumsi dan berspekulasi, tapi punya tuntutan yang jelas agar segala misteri berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia itu bagaimanapun harus diungkap untuk rasa keadilan, agar selamanya bangsa kita tidak dibangun dengan kebohongan demi kebohongan. Karena yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan (Gus Dur).

Sekarang, coba bandingkan dengan kenyamanan kita saat ini ketika menggunakan twitter atau facebook untuk sekedar berbagi, curhat, atau bahkan mengkritik negara, termasuk mention presiden kita @SBYudhoyono. Tapi yang harus kalian ingat, bahwa kebebasan kita hari ini diperjuangkan dengan darah dan nyawa oleh para aktivis mahasiswa. Sayangnya, setelah 16 tahun agenda reformasi, demokrasi kita tersandra oleh partai-partai politik busuk yang hanya peduli dengan kepentingan golongan mereka sendiri. Partai-partai politik yang sebagian besar lahir paska ’98 itu sudah tidak lagi peduli dengan cita-cita reformasi, juga sudah lupa dengan darah dan nyawa yang telah memperjuangkan demokrasi sehingga saat ini mereka bisa berpolitik secara bebas. Bahkan diktator Soeharto dihidupkan dari kubur dengan kalimat “isih penak jamanku to?” Omong kosong! Kebebasan itu seperti udara, kita baru terasa arti pentingnya ketika hal itu hilang dari kehidupan kita.

Dalam perjalanan Indonesia menjadi negara demokrasi sesungguhnya, di pemilihan presiden 2014 ini secara natural seleksi alam terjadi, mereka yang hanya mengamankan kepentingan kekuasaan berkumpul dalam satu koalisi bagi-bagi kursi yang mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa. Rekam jejak para elite partai-partai pendukungnya jauh dari kata bersih, tentu kalian masih ingat korupsi sapi PKS, lumpur Lapindo Bakrie Ketum Golkar itu, korupsi dana haji Surya Darma Ali, dan masih banyak lagi. Bahkan mereka menerima berbagai macam ormas keagamaan yang sering mencederai prinsip Bhineka Tunggal Ika dalam barisan koalisinya.

Sebagai pendukung Jokowi, aku tidak gelap mata, aku tahu eltie-elite partai di belakang Jokowi juga tidak sepenuhnya bersih. Bedanya hanya karena mereka menurut dengan cara bersih yang digunakan oleh Jokowi dan setuju untuk tidak bagi-bagi kekuasaan. Jokowi juga tidak mau disetir oleh parpol pendukungnya termasuk PDI-P yang mengusungnya menjadi calon presiden, itu kenapa Megawati menyerahkan semua keputusan koalisi dan cawapresnya kepada Jokowi.

Tidak ada yang sempurna dari semua kandidat calon presiden, Jokowi bukan nabi yang pantas didewakan, dia menempuh perjalanan sejengkal demi sejengkal untuk mengembalikan kedaulatan dan menyatukan sebuah tekad yang sama untuk Indonesia yang lebih baik. Jokowi adalah kehendak jaman, dan seperti biasa, pasti banyak kepentingan dan kuasa yang ingin mencegahnya dengan cara apa pun.

Seperti kita ketahui, di Indonesia politik uang sudah sedemikian dahsyat merusak demokrasi dan mentalitas warganya. Para politikus menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Biaya politi yang sangat mahal itu tidak akan sebanding dengan gajinya ketika menjabat, akibatnya korupsi membabi-buta mereka lakukan ketika menjabat agar bisa balik modal. Belum lagi cukong-cukong yang memodali kampanye minta dimuluskan semua proyek-proyeknya. Selamanya ekonomi kerakyatan, kedaulatan pangan dan energi, tidak akan tercipta dari kondisi semacam itu.

Bagiku Jokowi adalah pencerahan dan antitesis karena tidak mau terjebak ke dalam lingkarang setan itu. Sebagaimana praktek demokrasi di negara maju, Jokowi juga mengajak rakyat pendukungnya untuk menyumbang dana kampanye dan penggunaannya dilaporkan secara terbuka. Kenapa demikian? Dia ingin mengajak masyarakat pendukungnya untuk terlibat dalam “kegembiraan politik” yang dia kampanyekan dengan patungan biaya kampanye, sehingga ketika menjabat sebagai presiden, dia mengembalikan amanahnya untuk melayani rakyat. Karena inti dari demokrasi adalah kekuasaan di tangan rakyat. Apapun yang akan terjadi setelah pilpres, siapa pun yang menang, pasti banyak warga negara Indonesia yang akan bangga telah ikut memberikan sumbangsih bagi masa depan Indonesia yang lebih baik dengan berdiri di belakang Jokowi.

Aku berharap apapun pilihan kalian lakukanlah dengan cerdas dan mandiri, bukan karena citra, agama, partai, uang, dll. Citra? Selama 10 tahun kita pernah dipimpin oleh presiden yang dipilih karena citra ganteng, pandai bernyanyi, santun berpidato, dan kalian semua tahu apa hasilnya. Agama? Tidak ada hubungannya antara agama dan politik, karena agama mengajarkan kebaikkan dan cinta kasih, sementara politik mengajarkan sikap oportunis yang akan mengesampingkan nila-nilai agama. Partai? Semua partai busuk dan aku bukan simpatisan PDI-P, aku juga menghadang Prabowo ketika maju menjadi cawapres Megawati di pilpres 2009, bedanya saat itu media sosial belum seheboh sekarang ini. Uang? Politik uang adalah sumber dari segala sumber kejahatan penyelenggaraan negara sebagaimana sudah aku jelaskan di atas.

Jangan memilih Jokowi karena aku mendukungnya, tapi memilihlah karena kalian cerdas dan mau belajar sejarah bangsa ini. Jangan memilih Jokowi karena aku menjadi relawannya, tapi memilihlah karena kalian punya prinsip yang kuat dan tanpa rasa takut membela kebenaran! Jangan memilih Jokowi jika kalian ingin menjadi bagian dari fitnah, sebab fitnah adalah sikap yang tidak kstaria dan pecundang. Kecuali kalian rela menjadi bagian dari nilai-nilai yang busuk dan kotor itu. Sahabatku Anies Baswedan pasti setuju, karena jika kalian seorang muslim yang taat, kalian akan meneteskan air mata ketika diimami sholat oleh Jokowi dengan bacaan ayat-ayat Al Qur’an secara tartil. Bagaimana orang sebaik itu difitnah sedemikian rupa agar ketulusannya dibungkam.

Bagiku, jika dulu golput adalah perlawanan, sekarang golput adalah ketidak-pedulian, karena membiarkan kejahatan kembali berkuasa. Aku yang dulu golput permanen, kali ini dipaksa keadaan dan nurani untuk harus berpihak karena status negara dalam keadaan genting dan bahaya. Aku tidak mau demokrasi kembali tersandra oleh maling-maling dan aku dipaksa keadaan untuk turun tangan ikut memberikan andil menyelamatkannya.

Terakhir, dalam sebuah negara demokrasi yang kita sepakati (kecuali tidak sepakat), dukung-mendukung adalah hak setiap warga negara, sebagaimana golput juga hak yang dilindungi undang-undang. Tidak ada teori bahwa seorang seniman atau musisi harus netral atau golput, apalagi menganggap seniman netral sama dengan suci, itu omong kosong yang menggelikkan karena tidak ada orang suci di muka bumi ini. Pada pemilihan presiden di Amerika, Obama didukung oleh Jay-Z, Will-I-Am, Pearl Jam, Katty Perry, Tom Hanks, Steven Spielberg, dan masih banyak lagi. Mereka bukan hanya bernyanyi di panggung-panggung kampanye, tapi juga menyumbang dana dengan angka-angka yang fantastis, bukan seperti artis-artis Indonesia yang justru minta bayaran sangat tinggi ketika kampanye. Ironis ketika para musisi sering menuntut negara untuk melindungi industrinya tapi di saat bersamaan ikut merusak demokrasi itu sendiri.

Aku menjadi relawan Jokowi dan menyumbang lagu “Bersatu Padu Coblos No.2” secara sukarela tanpa bayaran. Sebab pada titik akhir, aku hanya ingin dikenang karena berkontribusi, bukan hanya pandai mengkritik. Pesanku, jadilah pemilih yang cerdas, mandiri, dan bermartabat.

Salam Revolusi Mental!

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Bersatu Padu Coblos No.2

Reff

Apa yang dibutuhkan Indonesia

Jujur, Sederhana, dan Bekerja

Ayo kawan dukung Jokowi-Kalla

Bersatu padu coblos nomor dua

 

Verse 1

Badannya kurus wajah kampungan

Namun hatinya tulus sinar harapan

Dengan kerja nyata kau jawab keraguan

Karena janji-janji sudah membosankan

 

Citramu sederhana apa adanya

Cerminan sikap dari nuraninya

Lambang cinta untuk rakyat Indonesia

Jokowi adalah kita

 

Ratu adil tak usah dicari

Coba tanyakan di dalam hati

Rekam jejaknya sudah pasti

Jawabannya adalah Jokowi

 

Reff

Verse 2

Jika suara rakyat suara Tuhan

Suara ini kami amanahkan

Dengan nurani tanpa bayaran

Demi martabat, demi kedaulatan

 

Relawan bergerak dengan suka rela

Bukan berarti tak ada harganya

Justru karena tak ternilai harganya

Tak akan ada yang sanggup membayarnya

 

Sekian lama reformasi hanya utopia

Sekian lama demokrasi tersandra

Pertiwi menangis berdoa

Jokowi jawabannya

 

Reff

Verse 3

Yang lebih penting dari politik, kawan

Adalah kemanusiaan

Guru bangsa mengajarkan

Kita saudara dalam kebhinekaan

 

Setelah pilihan dan kemenangan

Kami akan mundur menarik dukungan

Membentuk barisan parlemen jalanan

Mengawasi amanah kekuasaan

 

Menang tak jumawa, kalah lapang dada

Siapapun dia presiden indonesia

Menang tak jumawa, kalah lapang dada

Salam damai untuk Indonesia

Reff

Ratu Adil Adalah Kita

Menemani Jokowi menyapa relawan
Menemani Jokowi menyapa relawan

“Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan (lebih merupakan) pembunuhan terhormat” ~ George Owell

Yang abadi dalam politik hanyalah kepentingan. Aku tidak pernah percaya partai politik (parpol) dan belum pernah mencoblos (golput) pada pemilu-pemilu sebelumnya. Karena bagaimanapun tujuan politik adalah kekuasaan yang ditentukan oleh suara mayoritas, untuk itu parpol menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan praktik money politic yang telah menghancurkan mentalitas bangsa ini sejak pemilu “pasar bebas” digulirkan paska reformasi. Retorika kampanye dan iklan-iklan buatku tak lebih hanyalah “sampah” karena dibalik gemerlapnya adalah kebohongan. Itulah kenapa saya menulis lirik “why democrazy if accupied by oligarchy?” dalam lagu Song of Sabdtama.

Bulan Mei 2014 lalu, bersama teman-teman gerakan Jujur Barengan, saya terlibat membantu KPK untuk sebuah kampanye anti korupsi yang dicanangkan di Yogyakarta. Kedekatanku dengan teman-teman KPK menguatkan sudut pandangku tentang parpol. Dari teman-teman KPK aku mendengar bahwa sekitar 90% wakil rakyat yang terpilih saat ini melakukan praktek money politic untuk menang, sehingga bisa dipastikan seperti apa kwalitas dan integritas wakil-wakil rakyat kita yang akan menguasai Gedung DPR di Senayan lima tahun kedepan.

Masih segar dalam ingatanku, pada pemilu 2009, PDI-P adalah parpol yang pertama kali memberi ruang kepada Prabowo dan Gerindra untuk maju di panggung politik sebagai cawapres-nya Megawati. Artinya, PDI-P telah membantu Prabowo melewati ujian akan isu pelanggaran hak asasi manusia yang dituduhkan kepadanya. Apa yang dilakukan Megawati pada Pemilu 2009 setali tiga uang dengan Amin Rais saat ini, ketika paska reformasi ’98 menuntut untuk Prabowo diadili dan sekarang justru mendukung pencapresan Prabowo.

Jika frase “menolak lupa” sangat populer, aku pikir penyebabnya adalah bahwa politik Indonesia “menolak ingat” akan kata-kata, janji-janji, komitmen, yang menggambarkan betapa martabat mereka sangat rendah dan menunjukkan integritas yang buruk. Semakin menjijikkan ketika politik membawa nama agama dan Tuhan, karena para politisi sudah terbukti dibalik jubah agama tak segan menipu Tuhan. Kata “demi Allah” ketika didakwa korupsi menjadi hal yang biasa dan seolah tidak lagi ada nilainya. Terlalu banyak contoh buruk lain untuk dituliskan yang telah dan akan membuat ibu pertiwi menangis.

Lantas, di tengah demokrasi yang tersandra oleh partai-partai politik yang busuk ini, harapan dan cita-cita untuk lebih baik itu dititipkan kepada siapa? Jawabannya pertama adalah kepada diri kita sendiri, kepada peran kita dalam sebagai warga negara untuk membuatnya lebih baik. Tidak usah muluk-muluk, paling tidak beguna buat lingkungan sosial di sekitar kita. Jawaban kedua adalah, kepada orang-orang baik yang rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam sistem politik yang busuk tersebut untuk membawa cahaya perubahan ke arah yang lebih baik.

Nah, dalam hal kepemimpinan, orang baik menurutku bukanlah mereka yang pandai bicara, melainkan mereka yang lebih mampu “mendengar”. Karena pidato hanya retorika, janji sudah biasa tak ditepati, visi-misi sudah tiada arti, tapi “mendengar” adalah sifat alami. Kemampuan untuk “mendengar” sangat penting, sebab jika tidak, seorang pemimpin tidak akan bisa memahami persoalan-persoalan bangsa secara nyata. Seperti prinsip alm. Sri Sultan HB IX, “tahta untuk rakyat, di mana raja harus bercermin di kalbu rakyat” agar bisa melayani dan mengayomi. Esensi pemimpin dalam negara demokrasi modern adalah “pelayan” bagi warganya karena warga sibuk dengan kehidupan sehari-harinya, sebagaimana petani-petani di desaku. Nah, dalam hal ini, buatku Jokowi lebih punya kerendahan hati sebagai pemimpin alami yang mampu “mendengar”.

Kerendahan hati Jokowi adalah “harapan” akan perubahan itu. Citranya yang sederhana adalah kharisma yang telah membuat orang-orang baik yang aku kenal secara pribadi merapatkan dukungannya; Anies Baswedan, Nusron Wahid, dll. Masyarakat yang rindu pemimpin yang baik dan berharap akan perubahan, secara organik juga memberikan dukungan swadaya, bahkan patungan untuk memenangkan “harapan” itu. Bukan malah berharap dapat “serangan fajar”. Jokowi telah memangkas jarak antara rakyat dan pemimpinnya. Artinya, “harapan” itu adalah “harapan kita”, bukan hanya “harapan” Jokowi atau parpol-parpol yang mengusungnya. Konsep “ratu adil” dalam ramalan Jayabaya buatku adalah “kita”, warga negera dengan “harapan” dan martabat. Ratu adil tidak perlu dicari-cari karena adanya di dalam hati dan kerelaan untuk ikut turun tangan, bersama membentuk simpul dari energi-energi positif untuk perubahan yang lebih baik.

“Hanya karena kita tidak mengambil minat dalam politik tidak berarti politik tidak akan mengambil minat pada kita!” ~ Pericles.

Setelah sekian lama agenda reformasi tak jelas tujuannya, setelah sekian lama demokrasi tersandra, hanya satu yang patut kita perjuangkan, mengembalikan demokrasi pada esensi sesungguhnya, yaitu kedaulatan rakyat. Bukan kedaulatan yang dikuasai oleh modal, politisi busuk, mafia, agama, yang sudah terbukti menghisap darah tanah air dan menyengsarakan kehidupan rakyat.  Karena itu, untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa terpanggil untuk memberikan suara dalam pilpres ini kepada Jokowi, bukan yang lain.

Dalam demokrasi yang kita sepakati (kecuali kamu tidak sepakat), dukungan politik adalah hak setiap warga negara secara sah, sebagaimana golput. Apapun profesimu, kecuali alat negara (polisi dan tentara), tidak ada yang lebih keren antara memilih, berpihak, netral, golput. Tidak ada larangan seorang seniman ikut turun ambil bagian dan bukan berarti netral sama dengan suci.

Sapa tetanggamu dan kabarkan berita baik ini, bahwa “kita” adalah “ratu adil” yang ditunggu-tunggu itu.

Bersatu padu coblos nomor 2
Bersatu padu coblos nomor 2

Dan sebagi sumbangsih untuk kampanye pemenangan Jokowi for President, saya membuat lagu. Sebagaimana relawan, ini adalah patungan dariku tanpa bayaran. Lagu ini saya tulis bersama @jah_balance, seilahkan disebar seluas-luasnya untuk kepentingan kampanye, asal jangan dikomersialisasi (hak cipta dilindungi undang-undang).

Link download;

https://drive.google.com/file/d/0B2m8TLjXWqu4YmoySWRTdTROdms/edit?usp=sharing