Lebaran by Libertaria

Dalam video ini, kami menampilkan semua teman-teman yang biasa bekerja membantu di balik layar atau panggung berbagai proyek Libertaria, sebuah pesan bahwa lebaran bukan hanya perayaan agama, melainkan sudah menjadi tradisi, sebagaimana mudik; mulih dhisik atau pulang dulu. Kami ingin mengenang kembali masa kanak-kanak kami ketika lebaran menjadi perayaan milik siapa saja apapun agamanya.

Lirik lagu ini mengeksplorasi filosofi makanan kupat (ketupat) dalam tradisi Jawa sebagai simbol hari lebaran. “Kupat” adalah akronim “kula lepat” yang berarti “aku mengaku salah”. “Kupat” juga berarti “laku papat” yang berarti “empat perkara”, yaitu; 1) Lebaran: bulan puasa sudah lebar atau selesai 2) Leburan: semua salah dan dosa dilebur atau diampuni 3) Luberan: berbagi rejeki berlimpah 4) Laburan: labur adalah cat kapur berwarna putih, perlambang hati yang bersih.

lebaranoutknow

Selamat mudik, selamat berkumpul dengan orang-orang tersayang, selamat lebaran, mari kita jadikan lebaran sebagai sebuah perayaan bersama dan berbagi kegembiraan kepada sesama.

Ana kupat kecemplung neng njero santen, menawi lepat kawula nyuwun ngapunten.

Mohon maaf lahir dan batin.

Terima kasih & Salam

Libertaria & Kill the DJ

Dangdut Adalah Darah Kita

Bagi fans yang baru mengenalku karena Jogja Hip Hop Foundation (JHF), pasti saat ini sangat heran kenapa aku membuat unit elektronika bernama Libertaria dan tiba-tiba menghentak lewat single “Ora Minggir Tabrak” di film AADC 2. Aku jamin mereka akan semakin bertambah heran karena Libertaria sebentar lagi akan merilis album “Kewer-Kewer” dengan tagline “post dangdut elektronika”.

Dangdut? Iya!

Tahun 2004, sahabatku Ifa Isfansyah, sutradara film Garuda di Dadaku itu, mempertanyakan keputusanku kenapa banting strir ke hip-hop, saat itu publik mengenalku sebagai perupa dan musisi elektronika, apa tidak sayang dengan segala pencapaian-pencapaian yang sudah diraih? Jawabanku sederhana dan singkat, waktu akan menjawab dan membuktikan. Post dangdut elektronika adalah proyek musik yang aku impikan sekitar lima tahun lalu, akan tiba saatnya dimana aku akan meproduseri album dangdut. Tentu saja aku tidak bisa memaksakan konsep seperti ini kepada teman-teman JHF.

Setelah era Iwan Fals dengan lagu-lagu yang pedas mengkritik rezim Orde Baru dengan bahasa yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak ada lagi musisi yang mengambil peran itu. Generasi musik kritik yang muncul berikutnya mempunyai kelas intelektualitas yang berjarak dengan realitas sosialnya. Betapa pun aku suka dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca contohnya, tetanggaku di desa tidak paham dengan bahasa yang digunakan dan tidak bisa menikmati musiknya. Ketika aku nongkrong bersama pemuda di desa, mereka protes jika aku memutar lagu-lagu ERK dan segera digantikan lagu-lagu dangdut atau Koes Ploes-an

Kadang kita ingin menyuarakan berbagai persoalan di negeri ini tapi bahasa kita tidak terpahami. Komunikasi yang baik bukan tentang intelektualitas, bukan tentang gaya, bukan tentang seberapa banyak buku yang kita baca. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bisa dimengerti oleh pendengarnya. Tentu saja gaya bertutur dan ekspresi itu pilihan masing-masing yang tidak perlu diadili. Saat ini aku ingin berbicara dengan lapisan masyarakat terbawah dengan media yang diamini oleh mereka, media itu adalah dangdut, bukan yang lain.

artwork-LIBERTARIA

Kadang aku berpikir bahwa dangdut adalah solusi untuk berbagai persoalan di negeri ini. Lihat saja, dari kawinan hingga pemilu, rakyat bergoyang tanpa ragu, seharusnya dengan dangdut negara ini bisa maju. Mungkin motto pemerintahan Jokowi “kerja, kerja, kerja” itu lebih pas diganti dengan “dangdut, dangdut, dangdut”. Sebab melalui dangdut aku menemukan banyak frase menarik seperti; orang miskin dilarang mabuk, rakyat bergoyang tak bisa dikalahkan, goyanganmu goyanganku juga, dll.

Beberapa review album Kewer-Kewer yang paling menarik menurut saya:

Kehidupanku di desa membantuku memilih kata-kata yang sangat sederhana. Aku tidak bisa ngobrol dengan tetanggaku di desa sambil mengutip kata-kata intelek dari buku-buku yang aku baca. Seberapa pun berat dan rumit persoalan atau tema yang akan dinyanyikan, semua lirik lagu di album “Kewer-Kewer” aku tulis dengan bahasa yang paling gampang dipahami. Tentu saja itu sangat berbeda dengan cara berpikirku ketika aku menulis lirik rap seperti pada single “Ora Minggir Tabrak” contohnya, itu murni ekspresi tanpa peduli orang akan paham atau tidak.

Aku beruntung mempunyai teman-teman yang percaya dengan pemikiranku dan mau terlibat dalam proyek ini; mulai dari co-produserku Balance, Glenn Fredly, Heru (Shaggydog), Farid Stevy (FSTVLST), Riris Aristha (penyanyi orgen tunggal asli), hingga teman-teman gitaran nongkrong sambil menenggak anggur kolesom yang menjadi kolaborator. Aku sangat berterimakasih untuk semuanya, selebinya aku bersyukur masih dikaruniai keberanian untuk melakukan hal-hal gila ketika umurku sudah menginjak kepala empat ini.

Follow akun sosial media resmi Libertaria dan tengok libertaria.id untuk update tentang proyek ini !

Secara musikal, kami di Libertaria sangat senang dengan hasil album ini. Tapi sekali lagi, musik bagus saja tidak cukup, ada banyak turunan pekerjaan setelahnya hingga musik dan pesan yang ingin kita sampaikan bisa sampai kepada pendengar yang kita tuju. Ketika musik kita belum diapresiasi secara luas, pilihan paling gampang adalah bersikap arogan menyalahkan pasar, mengadili publik yang belum siap, padahal sikap itu hanya membuktikan bahwa kita kurang bekerja keras. Saat ini team Libertaria sedang bekerja agar album “Kewer-Kewer” sukses membuat Anda bergoyang dan mengamini bahwa “dangdut adalah darah kita”.

Prambanan, Mei 2016

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

 

 

Ora Minggir Tabrak (Kill the DJ x Libertaria)

Songs Credit

An AADC2 film self release soundtrack | produced by Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ & Balance | video music by Achong Panuju & X-Code film | distributed by DoggyHouse Records | (c) 2016

Video Klip

Audio

 

[Lirik] Ora Minggir Tabrak

Nggir Ra Minggir Tabrak 

Kalo tidak minggir akan ketabrak

Mijil-tuwuh, urip-urup, muksa-pati

Lahir-Tumbuh, Hidup-Menghidupi, Hilang-Mati

Esuk-awan, surup-sirep, rina-wengi

Pagi-Siang, Senja-Menghilang, Datanglah Malam

Saiki, neng kene, ngene, dilakoni

Sekarang, di sini, begini, dijalani

Semeleh, kudu gelem, lan nggelemi

Ikhlas, harus mau, dan memang mau

Wiji wutuh, wutah pecah, pecah tuwuh, wiji maneh

Biji utuh, jatuh pecah, pecah tumbuh, kembali menjadi biji

Laku, lakon, dilakoni kanthi semeleh

Laku, perjalanan, dijalani dengan ikhlas

Obah mamah, mingset nggeget, nyikut nggrawut, ngglethak penak

Bergerak makan, mengecil menggigit, sikutan cakaran, rebah berbaring

Nggir ra minggir tabrak wong urip kudhu tumindak

Kalau tidak minggir akan ketabrak, hidup harus dijalani

[Inggris Klaten]

Seconds, minutes, hours, to a day

Born to life, getting old, die anyway

Time never stops, the past always locked

Face it, Bravely, Be Crazy, Be Hungry

Right here, Right now,

And what will happen tomorrow?

We never know, so let it flow, let it grow

 

 

Hidup itu Harus, Mati itu Pasti !!!

.IMG_1077

Aku menulis lirik untuk soundtrack AADC2, yang sebentar lagi track tersebut akan self-release dan bisa kalian unduh bebas, seperti ini:

seconds, minutes, hours, to a day / born to life, getting old, die anyway / time never stop, the past always locked / face it bravely, be crazy, be happy, be hungry / right here, right know, coz what will happen tomorrow we never know / let it flow, let it grow

Di verse sebelumnya ada paragraf bahasa Jawa yang lebih panjang dan aku merasa energetic karena menggunakan bahasa ibu ku tidak seperti verse Inggris-ku yang berlogat Klaten itu, berikut petikannya:

saiki, neng kene, ngene, dilakoni / semeleh kudhu gelem lan nggelemi (sekarang, di sini, begini, dijalani / pasrah, harus mau, dan mau melakukannya

Teman-teman, hari ini aku menulis blog ini tepat di hari di mana aku genap berusia 40 tahun. Kata orang “life begins at forty” dan sesungguhnya aku masih bingung dengan konsepsi itu. Tapi seberapa pun besar usaha kita untuk menolak menjadi tua, umur kita akan selalu bertambah dan menjadi tua adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Yang selalu aku harapkan adalah bahwa aku tidak akan pernah takut menjadi tua, aku hanya takut menjadi mlempem dan tidak bersemangat, takut menjadi mapan dan tidak mau lagi mencoba hal-hal baru, terutama dalam berkreatifitas untuk mewujudkan karya demi karya sesuai dengan passion-ku.

IMG_4106
foto ketika kami tidur di barak pengungsian

Ngomong-ngomong tentang ulang tahun, sebetulnya aku bingung, sebab aku tidak memiliki tradisi perayaan ulang tahun, bapak-ibuku yang Jawa-Islam tidak pernah merayakan ulang tahunku sama sekali, mungkin karena keluarga kami miskin dan menganggap ulang tahun tidak penting untuk dirayakan. Aku tidak pernah menyesal atau pun kecewa karena keluargaku tidak pernah merayakan ulang tahunku. Barangkali benar adanya bahwa perayaan ulang tahun itu memang tidak penting, toh itu hanya membuat kita tersadar bahwa kita semakin bertambah tua dan cepat atau lambat akan mati.

Aku mulai merasakan perayaan ulang tahun sejak memiliki pacar sungguhan, tepatnya ketika kelas 1 SMU, sebelumnya aku tidak peduli sama sekali dengan hari ulang tahunku. Setelahnya, semua perayaan ulang tahunku terjadi karena pacar demi pacar. Tidak ada yang perlu diperbandingkan karena semuanya sangat berkesan, sebab cinta tidak pernah salah dan bohong, semua pacarku baik. Setelah itu aku baru bisa merasakan makna perayaan ulang tahun, yaitu hanya bertambah tua dan semakin tidak berguna untuk digantikan dengan generasi yang lebih muda lagi brilian :-p

Ijinkan aku sedikit bercerita perayaan ulang tahun dua tahun lalu (2014), waktu itu aku merayakan ulang tahun bersama ribuan pengungsi eruspi Gunung Kelud di barak pengungsian Kota Batu. Sungguh, aku tidak peduli bahwa bapaknya pacaraku, Eddy Rumpoko dengan nama besarnya tidak lain adalah walikota Batu, waktu itu aku hanya peduli kepada nasib ribuan pengungsi, kemudian ketika pacarku Ganis Rumpoko menanyakan kepadaku tentang perayaan ulang tahun, aku menjawabnya dengan sederhana; tidak ada perayaan ulang tahun yang lebih hebat dari pada kita berguna bagi sesama manusia, mari kita rayakan dengan melayani para pengungsi.

SONY DSC
Foto ketika aku mengajak anak-anak pengungsi Kelud menggambar. Asalkan jujur dan tanpa pretensi semua gambar adalah bagus buatku.

Waktu itu aku meminta Ganis untuk membeli puluhan seperangkat buku dan alat gambar, kemudian kami mengajak anak-anak menggambar bersama, gambar yang bercerita tentang segala hal tentang diri mereka, bukan tentang diriku yang sedang ulang tahun. Kemudian gambar-gambar itu kami pamerkan di posko pengungsian agar semua pengungsi dan pengunjung melihat, dengan harapan mereka paham persepsi anak-anak yang sangat jujur menyikapi bencana. Aku selalu berharap kelak bisa menceritakan semua persepsi jujur anak-anak tentang bencana dalam sebuah buku. Hingga saat ini aku masih menyimpan gambar-gambar itu, sebagaimana aku menyimpan rapi semua dokumen dari Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Erupsi Merapi, Sinabung, dll.

Sebagai orang yang sedari kecil dididik dengan ajaran Islam, ternyata saat ini aku tidak mau ambil pusing tentang kebenaran menurut agama –bahkan mungkin hingga orientasi seksual. Terserah masing-masing, yang paling penting kita bisa berguna bagi sesama. Aku tidak peduli kepada konsep surga dan neraka, sebagaimana Budha yang kamanungsan, aku hanya bisa selalu berharap semoga semua makhluk berbahagia, termasuk diriku sendiri dan semua mantan pacarku tentu saja :-p

Hidup itu harus, mati itu pasti !!!

Prambanan, 21 Februari 2016

Kill the DJ

Berselancar Bersama Zaman

 

berselancar bersama zaman

Anak muda dengan fashion hip hop, naik motor matic sambil kepalanya manggut-manggut menikmati musik old skool via ear phone, sesekali mulutnya menggumam kecil f*ck the police. Tapi begitu kena razia kendaraan bermotor, mendadak berubah jadi culun dan nyogok pak polisi karena tidak punya SIM atau STNK.

Begitulah gambaran hip hop di Indonesia secara umum, terjebak pada fashion namun minim pembuktian. Bukan berarti tidak ada, tapi masih sangat kurang. Diskusi-diskusi di forum internet paling tidak masih menggambarkan hal itu. Hip hop harus begini harus begitu. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Meskipun perdebatan ideologi selalu penting, tapi buat saya tidak perlu sampai menghakimi.

Sebagaimana genre lain, hip hop berkembang seiring zaman dan bersinggungan dengan disiplin lainnya. Sementara Lil Wayne sudah bekerja bareng Diplo, kita masih terjebak pada perdebatan halal dan haram. Tentu setiap orang punya pilihan dan itu hak masing-masing, boleh selamanya old skool dan memuja real hip hop, boleh juga berlanggam keroncong atau goyang dangdut. Tapi percayalah, yang menentukan hidup dan matinya hip hop bukan kita. Hip hop tidak perlu dibela.

Sayang, dalam sejarahnya di Indonesia, sesungguhnya banyak praktisi hip hop yang hanya cukup puas berkutat di komunitasnya saja, sangat elitis dan sombong, namun kurang pede untuk keluar dari lingkarannya untuk menantang dunia yang lebih luas. Itu bukan masalah musik bagus, tapi mentalitas dan cara pandang. Hasilnyaya gitu-gitu saja. Panas di dalam komunitasnya tapi dunia sebenarnya tidak tahu bahwa mereka ada.

Sebagaimana sering saya sampaikan, musik bagus saja tidak cukup. Berhentilah mengadili pasar yang tidak paham akan musikmu, berhenti mengadili industri yang ogah-ogahan melirik musikmu. Ganti dengan kerja keras, ciptakan pasarmu sendiri, ciptakan industrimu sendiri, bernafas panjang dan konsisten. Kalau musikmu masih belum didengar banyak orang, berarti kamu masih kurang bekerja keras. Itu saja.

Zaman berkembang, kehadiran internet mengubah paradigma industri musik, sekarang ini seorang musisi lebih mudah secara independen menyebarkan karyanya. Peradaban itu dinamis, tidak statis, begitu juga hip hop. Kita semua hanya punya pilihan: lentur atau meratap. Berselancar bersama zaman dengan riang gembira, atau terpajang di museum bersama kapak batu. Tentu ini bukan berarti sejarah tidak penting.

Akhir tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan rapper-rapper dari 34 provinsi di Indonesia dengan gaya masing-masing yang unik. Sangat potensial dan cerah. Saya dibuat percaya bahwa generasi baru hip hop Indonesia itu ada dan lebih rileks mewakili semangat zamannya. Mereka akan muncul dan menulis sejarahnya dengan caranya sendiri tanpa terbebani doktrin-doktrin para sesepuh.

Prambanan, 2 Januari 2016

Marzuki “Kill the DJ” Mohamad

Berbeda itu Biasa

berbeda itu biasa

Akhir Agustus lalu saya menghadiri konser perayaan 20 tahun Superman is Dead (SID) dengan titel “Home Town Riot” di Hard Rock Café Bali. Tujuannya sih bukan melulu untuk nonton konsernya karena sudah terlalu sering bertemu dengan SID, melainkan untuk mengenang peristiwa-peristiwa kecil yang bersinggungan dengan diri saya sendiri sekitar 15 tahun yang lalu, terutama kangen-kangenan dengan Rudolf Dethu, manajer pertama SID, yang juga sedang merilis buku tulisannya, biografi 20 tahun SID berjudul “Rasis, Pengkhianat, Miskin Moral”.

Saat itu awal 2003, mungkin bulan Februari, saya lupa persisnya, saya juga lupa nama café di daerah Legian itu, di mana saya terlibat diskusi ‘panas’ bersama Rudolf Dethu dan Anton Kurniawan (ex manajer Sheila on 7) tentang kemungkinan SID menerima tawaran kontrak dari Sony Music. Kebetulan Sheila on 7 yang saat itu sedang moncer-moncer-nya juga dibawah label Sony Music sehingga Dethu butuh banyak masukan, terutama dari Anton.

Sebagaimana saya, Dethu mengaku lupa detail percakapannya, sebab kami berdua melakukannya sambil minum beberapa shot tequila, mungkin Anton yang bukan peminum miras itu masih ingat detailnya. Tapi secara garis besar pembicaraan mengarah pada, bahwa SID needs more stages dan itu baik untuk mereka dan Bali di masa depan. Saya tidak tahu apa yang didiskusikan Dethu bersama Jerinx, Bobby, dan Eka, setelah itu. Namun pada akhirnya kita tahu bahwa SID memutuskan untuk bergabung dengan Sony Music. Tentu saja setiap pilihan punya resiko dan peluangnya masing-masing. Termasuk cap pengkhianat atau lonthe dari para penjaga ideologi dan aqidah punk-rock di Indonesia yang mengikutinya paska kontrak itu.

Ada suatu waktu di masa-masa itu, saya menemani SID di hotel mereka paska konser di GOR UPN Yogyakarta yang berujung dengan keributan karena diserang oleh penonton gara-gara plintiran isu ‘fuck java’ dan ‘pengkhianat punk’. Hadir juga di sana beberapa teman yang lain, seingat saya ada Heru Shagydog, Erix Soekamti, Gufi, dan masih banyak lagi yang saya lupa. Kita ada di tempat itu untuk memberi pesan damai dan ketenangan bagi rombongan SID, bahwa kita ada bersama mereka.

Segala kasus yang timbul setelah pemukulan terhadap Boby di UPN itu terselesaikan dengan sendirinya, waktu memberikan jawaban akan hal-hal, beberapa teman yang belakangan teridentifikasi melakukan pengeroyokan mengaku malu, pun para personil SID mengaku tidak punya dendam sama sekali akan peristiwa-peristiwa kekerasan semacam itu, yang juga terjadi di beberapa kota lainnya. Sebaliknya, justru menjadi bagian penting dari perjalanan terbentuknya identitas SID dan membuat mereka semakin kuat.

Jika kita melihat SID sekarang yang menjelma menjadi ‘gerakan sosial’, bukan sekedar band, terutama dalam gerakan Bali Tolak Reklamasi, sepertinya tuduhan-tuduhan miring yang dialamatkan kepada mereka ketika memutuskan begabung dengan major label hilang dengan sendirinya melalui pembuktian demi pembuktian. Meskipun sudah menjadi hukum alam, bahwa seiring dengan naiknya popularitas pasti dibarengi dengan lahirnya pembenci-pembenci (haters) berikutnya. Apalagi Jerinx adalah si mulut besar yang gampang terpancing amarahnya. Haha… Tapi saya yakin, jika SID tidak bergabung dengan Sony Music, yang nota bene adalah representasi industri musik mainstream, amplifikasi gerakan sosialnya tidak akan bisa semasif sekarang ini.

Berbicara tentang industri musik dihadapkan dengan idealisme dan ideologi berkarya, sepertinya di Indonesia memang tidak bisa menghakimi hal-hal secara hitam-putih. Ketika sebuah band tampil di sebuah event dengan sponsor perusahaan kretek multinasional, apakah musisi itu serta-merta sedang mempromosikan agar penggemarnya merokok kretek? Di sisi lain, sejarah telah membuktikan bahwa di Indonesia industri kretek lah yang paling konsisten membuat musisi-musisi tampil dari panggung ke panggung hingga ke kota-kota kabupaten.

Apakah dengan kondisi semacam itu kemudian dengan mudah kita bisa menghakimi musisi-musisi itu sebagai hipokrit karena mungkin bertentangan dengan prinsip-prinsip yang sering disuarakannya? Lalu apakah kita bisa memberikan solusi lain agar jantung industri musik tetap berdenyut ketika menghakiminya? Sama halnya dengan sebuah renungan kecil seperti ini: apa yang terjadi jika aktivis anti-rokok datang dan memberikan sosialisasi kepada para petani tembakau untuk tidak menanam tembakau di desaku? Ketoke malah isa dipacul cangkeme.

Ada sebuah cerita lain yang menarik, konon di tahun 70-an Harian Kompas diundang ke istana untuk manandatangani surat perjanjian di depan presiden Soeharto, isinya salah satunya Kompas tidak boleh lagi menulis berita-berita seputar bisnis keluarga Soeharto, atau akan dibredel jika tetap melakukannya. Sungguh sebuah pilihan yang sangat sulit; menentang tapi padam atau berkompromi dengan situasi sulit kemudian merawat dan menumbuhkan api perlawanan diam-diam. Menurut cerita, awak redaksi di dalam Kompas sendiri waktu itu tegang dalam perdebatan. Memilih mengambil peran dan berada di dalam sebuah sistem yang busuk untuk mengubahnya sedikit demi sedikit sama susahnya dengan melawannya dari luar. Meskipun citra yang dihasilkan bisa jadi sangat-sangat berbeda. Tapi kalau semua orang baik sama dengan harus selalu menjadi aktivis, maka tidak akan ada orang baik yang mau jadi birokrat.

Mempunyai tujuan yang diyakini baik dan benar tapi di saat bersamaan harus berkompromi dengan berbagai situasi dan pilihan sulit adalah lumrah. Segala sesuatu kadang tidak harus dijelaskan serta-merta saat itu juga. Kadang kita kecewa, lelah dan merasa kalah. Tapi hidup memang bukan melulu tentang kemenangan. Selama kita yakin bahwa tujuan kita baik dan dipegang teguh, waktu akan membuktikan hal-hal. Penting untuk tetap berbuat adil sejak dalam pikiran dan selalu menjaga akal sehat agar bisa menghormati setiap pilihan-pilihan dan prinsip berbeda yang diambil oleh orang lain.

Duta Sheila on 7 pernah membuat saya kagum lewat sebuah batu sebesar kepalan yang dilemparkan penonton ke arahnya, justru kemudian dibingkai indah di rumahnya: “Saya akan membuktikan bahwa saya tidak akan dendam dan kalah dengan batu ini.”

Berbeda itu biasa.

Prambanan, 16 September 2015

Kill the DJ

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 266 other followers