Mantra-Mantra Jawa di New York

Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York.

Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011.

Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif ini kepada publik di New York, mengingat JHF menggunakan lirik dan musik hip hop yang berpijak pada akar tradisi Jawa.

Namun dengan komitmen yang tinggi dari Asia Society, sebuah institusi prestisius pertukaran seni dan budaya antara Asia – USA, akhirnya berhasil menghadirkan JHF di New York, sebuah group hip hop Indonesia pertama yang konser secara ekslusif di kota kelahiran musik hip hop.

New York bukanlah kota yang mudah untuk ditaklukkan. Namun New York juga kota yang sangat multikultur, dimana orang dari seluruh dunia ada di sana, dengan demikian New York bisa menerima dan menghargai perbedaan.

Rachel Cooper, sebagai direktur program seni pertunjukkan Asia Society, mengkonfirmasikan kepada saya seusai pentas;

“Awalnya saya sempat khawatir dengan publik Amerika yang skeptis terhadap program ini, Java Hip Hop? So what? Tapi setelah pertunjukan merasa lega, karena JHF sangat pandai mengikis perbedaan dengan komunikasi yang dibangun diatas panggung”.

Mendengar hal itu, saya kemudian melihat diri kami sendiri. Bagi kami, JHF adalah realitas, bukan sekedar produk yang diciptakan, kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami selalu percaya, bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukkan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa.

Seluruh penonton di auditorium itu menangkap energi yang kami berikan, hingga meninggalkan kursi dan berdiri untuk bergoyang mengikuti hentakan musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa. Seni selalu bisa menjebatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri.

Seperti halnya seniman tradisional yang agraris, kepada musik, kepada panggung, kami selalu percaya. Bukan kepada yang lain.

Seminggu di New York, adalah bingkai waktu yang spesial bagi kami, ini adalah kota dimana rap musik dan kultur hip hop lahir. Orang menyebutnya perjalanan ke New York adalah naik haji ala hip hop.

Seluruh crew JHF sangat senang bisa menghadiri block party di distrik Bronx, dimana rap musik lahir di sana, berfoto bersama legenda, dan menikmati attitude yang kasar khas distrik tersebut.

Selain itu kami juga menyempatkan diri membuat klip dengan mengambil lokasi di Time Square NYC, bernyanyi di tengah kerumunan dan mengundang perhatian publik. Kami benar-benar menguasai ruang publik itu. Sebuah komentar twitter saya pinjam untuk menggambarkan situasi ini;

“a Java Hip Hop Crew with Batik shirt, oversized pant, with no lots of jet leg, hit Time Square NYC”.

Pada dua hari terakhir, teman-teman berbelanja seperti orang gila. Membeli aneka cindera mata untuk orang-orang tersayang. Seolah tidak ada hari esok, seolah kami tidak akan bisa kembali lagi ke New York.

Namun oleh-oleh yang paling menggembirakan adalah proposal dari Center Stage US, sebuah program yang menawarkan proposal tour 10 kota untuk JHF tahun 2012.

Sepulang dari New York, kami merencanakan sebuah konser di tengah kampung dengan sound system seadanya, dari sana kami berasal.

Kill the DJ

Advertisements

7 thoughts on “Mantra-Mantra Jawa di New York”

  1. Kalian bilang datang dari kota istimewa tapi kenyataanya ga ada yg spesial dari lirik2 yang kalian bikin
    kalau ternyata definisi hiphop dari kalian cuma semacam gabungan lagu2nya 50 ama campur sari
    ini pesan buat para pseudo m.c yang berlindung dibalik kemeja batik, gending, ama logo organisasi hirarkis
    pergi ke N.Y ga usah disamaiin kaya naek haji, kaya dengan pergi ke mekkah ga otomatis bikin orang jadi suci
    atau kalian pikir dengan nambahin embel2 haji di depan nama soeharto lantas bikin dia berenti korupsi?
    jadi ga usah berbangga hati nyambangin bronx, brooklyn kalo ga bisa bikin kalian nge-flow kaya Parker, Lawrence Kris!
    mendingan tutup mulut kalo mc itu ga bisa baca situasi
    logo yg kalian representasi itu punya orang-orang berdarah biru yg berkata monggo, JMI silahkan berkespansi
    keruk wae itu pasir besi, para petani kulon progo nanti sama-sama kita habisi
    gua yakin para audiens disana ga tau tentang ini,
    kalo sadar, apa mereka tetap berdiri dari kursi lalu berdansa dansi,
    atau pergi ramai-ramai pasang muka jijik,
    sambil bilang ” I don’t dig this!”

    1. jangan terlalu banyak omong bung……buktikan lah omonganmu, kalo banyak omong nanti tititmu diisep bencong

  2. payah…
    bisanya cuma mencela…
    buktikan kalo kamu mampu bukan hanya omong kosong…
    pake nick palsu lagi…
    MOneyBurnz apa MAri Nabung nech…

    1. BUSUK
      apa itu bisanya cuma kritk doang
      JHF kan juga bisa mempromosikkan kebudayaan bangsa
      harusnya bangga dong
      dari jogja bisa mangung di NY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s