Tag Archives: marzuki mohamad

Ratu Adil Adalah Kita

Menemani Jokowi menyapa relawan
Menemani Jokowi menyapa relawan

“Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan (lebih merupakan) pembunuhan terhormat” ~ George Owell

Yang abadi dalam politik hanyalah kepentingan. Aku tidak pernah percaya partai politik (parpol) dan belum pernah mencoblos (golput) pada pemilu-pemilu sebelumnya. Karena bagaimanapun tujuan politik adalah kekuasaan yang ditentukan oleh suara mayoritas, untuk itu parpol menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan praktik money politic yang telah menghancurkan mentalitas bangsa ini sejak pemilu “pasar bebas” digulirkan paska reformasi. Retorika kampanye dan iklan-iklan buatku tak lebih hanyalah “sampah” karena dibalik gemerlapnya adalah kebohongan. Itulah kenapa saya menulis lirik “why democrazy if accupied by oligarchy?” dalam lagu Song of Sabdtama.

Bulan Mei 2014 lalu, bersama teman-teman gerakan Jujur Barengan, saya terlibat membantu KPK untuk sebuah kampanye anti korupsi yang dicanangkan di Yogyakarta. Kedekatanku dengan teman-teman KPK menguatkan sudut pandangku tentang parpol. Dari teman-teman KPK aku mendengar bahwa sekitar 90% wakil rakyat yang terpilih saat ini melakukan praktek money politic untuk menang, sehingga bisa dipastikan seperti apa kwalitas dan integritas wakil-wakil rakyat kita yang akan menguasai Gedung DPR di Senayan lima tahun kedepan.

Masih segar dalam ingatanku, pada pemilu 2009, PDI-P adalah parpol yang pertama kali memberi ruang kepada Prabowo dan Gerindra untuk maju di panggung politik sebagai cawapres-nya Megawati. Artinya, PDI-P telah membantu Prabowo melewati ujian akan isu pelanggaran hak asasi manusia yang dituduhkan kepadanya. Apa yang dilakukan Megawati pada Pemilu 2009 setali tiga uang dengan Amin Rais saat ini, ketika paska reformasi ’98 menuntut untuk Prabowo diadili dan sekarang justru mendukung pencapresan Prabowo.

Jika frase “menolak lupa” sangat populer, aku pikir penyebabnya adalah bahwa politik Indonesia “menolak ingat” akan kata-kata, janji-janji, komitmen, yang menggambarkan betapa martabat mereka sangat rendah dan menunjukkan integritas yang buruk. Semakin menjijikkan ketika politik membawa nama agama dan Tuhan, karena para politisi sudah terbukti dibalik jubah agama tak segan menipu Tuhan. Kata “demi Allah” ketika didakwa korupsi menjadi hal yang biasa dan seolah tidak lagi ada nilainya. Terlalu banyak contoh buruk lain untuk dituliskan yang telah dan akan membuat ibu pertiwi menangis.

Lantas, di tengah demokrasi yang tersandra oleh partai-partai politik yang busuk ini, harapan dan cita-cita untuk lebih baik itu dititipkan kepada siapa? Jawabannya pertama adalah kepada diri kita sendiri, kepada peran kita dalam sebagai warga negara untuk membuatnya lebih baik. Tidak usah muluk-muluk, paling tidak beguna buat lingkungan sosial di sekitar kita. Jawaban kedua adalah, kepada orang-orang baik yang rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam sistem politik yang busuk tersebut untuk membawa cahaya perubahan ke arah yang lebih baik.

Nah, dalam hal kepemimpinan, orang baik menurutku bukanlah mereka yang pandai bicara, melainkan mereka yang lebih mampu “mendengar”. Karena pidato hanya retorika, janji sudah biasa tak ditepati, visi-misi sudah tiada arti, tapi “mendengar” adalah sifat alami. Kemampuan untuk “mendengar” sangat penting, sebab jika tidak, seorang pemimpin tidak akan bisa memahami persoalan-persoalan bangsa secara nyata. Seperti prinsip alm. Sri Sultan HB IX, “tahta untuk rakyat, di mana raja harus bercermin di kalbu rakyat” agar bisa melayani dan mengayomi. Esensi pemimpin dalam negara demokrasi modern adalah “pelayan” bagi warganya karena warga sibuk dengan kehidupan sehari-harinya, sebagaimana petani-petani di desaku. Nah, dalam hal ini, buatku Jokowi lebih punya kerendahan hati sebagai pemimpin alami yang mampu “mendengar”.

Kerendahan hati Jokowi adalah “harapan” akan perubahan itu. Citranya yang sederhana adalah kharisma yang telah membuat orang-orang baik yang aku kenal secara pribadi merapatkan dukungannya; Anies Baswedan, Nusron Wahid, dll. Masyarakat yang rindu pemimpin yang baik dan berharap akan perubahan, secara organik juga memberikan dukungan swadaya, bahkan patungan untuk memenangkan “harapan” itu. Bukan malah berharap dapat “serangan fajar”. Jokowi telah memangkas jarak antara rakyat dan pemimpinnya. Artinya, “harapan” itu adalah “harapan kita”, bukan hanya “harapan” Jokowi atau parpol-parpol yang mengusungnya. Konsep “ratu adil” dalam ramalan Jayabaya buatku adalah “kita”, warga negera dengan “harapan” dan martabat. Ratu adil tidak perlu dicari-cari karena adanya di dalam hati dan kerelaan untuk ikut turun tangan, bersama membentuk simpul dari energi-energi positif untuk perubahan yang lebih baik.

“Hanya karena kita tidak mengambil minat dalam politik tidak berarti politik tidak akan mengambil minat pada kita!” ~ Pericles.

Setelah sekian lama agenda reformasi tak jelas tujuannya, setelah sekian lama demokrasi tersandra, hanya satu yang patut kita perjuangkan, mengembalikan demokrasi pada esensi sesungguhnya, yaitu kedaulatan rakyat. Bukan kedaulatan yang dikuasai oleh modal, politisi busuk, mafia, agama, yang sudah terbukti menghisap darah tanah air dan menyengsarakan kehidupan rakyat.  Karena itu, untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa terpanggil untuk memberikan suara dalam pilpres ini kepada Jokowi, bukan yang lain.

Dalam demokrasi yang kita sepakati (kecuali kamu tidak sepakat), dukungan politik adalah hak setiap warga negara secara sah, sebagaimana golput. Apapun profesimu, kecuali alat negara (polisi dan tentara), tidak ada yang lebih keren antara memilih, berpihak, netral, golput. Tidak ada larangan seorang seniman ikut turun ambil bagian dan bukan berarti netral sama dengan suci.

Sapa tetanggamu dan kabarkan berita baik ini, bahwa “kita” adalah “ratu adil” yang ditunggu-tunggu itu.

Bersatu padu coblos nomor 2
Bersatu padu coblos nomor 2

Dan sebagi sumbangsih untuk kampanye pemenangan Jokowi for President, saya membuat lagu. Sebagaimana relawan, ini adalah patungan dariku tanpa bayaran. Lagu ini saya tulis bersama @jah_balance, seilahkan disebar seluas-luasnya untuk kepentingan kampanye, asal jangan dikomersialisasi (hak cipta dilindungi undang-undang).

Link download;

https://drive.google.com/file/d/0B2m8TLjXWqu4YmoySWRTdTROdms/edit?usp=sharing

 

Advertisements

Konser Amal: #GugurGunung untuk #Sinabung

GugurGunungSmall

Siaran Pers Konser Amal

#GugurGunung untuk #Sinabung

23 Januari 2014 | Jogja Nasional Museum | 19:00 – 23:00 |

Endank Soekamti, ShaggyDog, Jogja Hip Hop Foundation, Captain Jack, FSTVLST

‘Gugur Gunung’ dalam istilah Jawa berarti guyub-rukun dan bahu-membahu untuk bergotong-royong menyelesaikan persoalan atau masalah bersama. Istilah ini pernah kami gagas menjadi sebuah tema gerakan sosial para musisi di Yogyakarta untuk membantu korban bencana erupsi Merapi akhir tahun 2010, dengan bentuk konser amal. Hingga kemudian hash tag #GugurGunung terukir dalam satu set gamelan yang kami sumbangkan untuk menggantikan gamelan yang hancur diterjang erupsi Merapi di Kinahrejo.

Saat ini, Gunung Sinabung, di Karo, Sumatra Utara, yang sudah mengalami erupsi sejak September 2013 telah menimbulkan bencana bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Tercatat hingga pertengahan Januari 2014 sudah 26.000 warga yang terpaksa hidup menjadi pengungsi dengan bantuan minim, ditambah manajemen bencana yang sangat buruk karena peran negara yang tidak maksimal. Juga karena kalah highlight dengan berita politik yang memanas di 2014 atau banjir di ibu kota, sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat luas sangat tipis.

Setiap bencana alam pasti menimbulkan penderitaan, kami masyarakat di Yogyakarta sudah sangat berpengalaman dengan situasi itu, betapa pun pemerintah atau negara siap untuk menanganinya, tetap akan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang tertimpa bencana, apalagi jika peran negara tidak bisa diandalkan. Bencana alam bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan ketika negara dan warga semakin tidak peduli. Tidak akan pernah ada yang salah jika kita mengambil peran untuk membantu sesama.

Dengan alasan tersebut, manajemen Jogja Hip Hop Foundation, Endank Soekamti, dan Shaggydog, menginisiasi sebuah konser amal dengan titel #GugurGunung untuk #Sinabung pada 23 Januari 2014, di Jogja Nasional Museum, 19:00 s/d 23:00. Kemudian kami juga mengajak Captain Jack dan FSTVLST untuk bergabung dalam konser ini.

Donasi diwujudkan dengan pembelian tiket dengan harga minimal Rp.20.000,- dimana semua hasilnya akan disumbangkan untuk korban bencana #Sinabung. #GugurGunung juga membuka donasi terbuka bagi masyarakat luas yang hendak menitipkan donasi via rekening BCA 037 321 3290 a/n Aulia Anindita dan rekening MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki. Ini kesempatan sekaligus tantangan bagi masyarakat luas untuk membuktikan Yogyakarta memang istimewa bukan hanya karena daerahnya.

Konser amal #GugurGunung untuk #Sinabung ini zero budget alias tanpa biaya produksi karena semua yang terlibat patungan dan tidak dibayar, termasuk berbagai kalangan yang mendukung acara ini, seperti; event organizer dan berbagai vendor seperti sound, quipment, lighting, stage dll.

Fans bukan hanya angka atau jumlah, penting untuk mengedukasi fans dan bersama-sama dengan mereka untuk melakukan sebuah gerakan sosial dan memilih untuk turun tangan dengan mengambil peran dari pada hanya sekedar terus menghujat.

Lebih baik menyalakan api dari pada mengutuk kegelapan.

Juru Bicara #GugurGunung

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Kontak #GugurGunung

Inud +62 811 257599 / inudtz@yahoo.com

Dita +62 811 284632 / javahiphop@gmail.com

Zuki +62 811 2503066 / mrzooki@yahoo.com

Ritual Wiwitan

Sebuah minggu sore yang cerah di akhir September (2013), ketika saya dan kelompok tani muda di desa Kokosan, dua kilometer utara candi Prambanan, berduyun-duyun membelah sawah untuk menggelar upacara wiwitan. Juga hadir beberapa teman saya dari kota Yogyakarta yang ingin mengikuti upacara ini.

Wiwitan adalah ritual persembahan tradisional Jawa sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri (dewi padi) yang telah menumbuhkan padi yang ditanam sebelum panen. Disebut sebagai ‘wiwitan’ karena arti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, jadi memulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan.

Yang disebut bumi adalah sedulur sikep bagi orang Jawa karena bumi dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya untuk kehidupan. Dalam tradisi Jawa, konsep meminta kepada sedulur sikep tidak ada atau tidak sopan, kepada sedulur sikep kita harus memberi sekaligus menerima, bukan meminta. Jika hormat kita berkurang kepada bumi, atau kita tidak menjaga kelestarian alam, maka bumi akan memberi balasan dengan situasi yang buruk yang disebut pagebluk, ditandai dengan hasil panen yang buruk, kekeringan, cuaca tak menentu, dll.

Sebuah budi pekerti dan nilai-nilai yang luhur dari akar tradisi Jawa –dan saya yakin berbagai tradisi Nusantara mempunyai nilai-nilai yang sama dalam hal ini, jauh sebelum manusia modern tergopoh-gopoh dengan istilah go-green di abad milennium ini.

Konon tradisi wiwitan ini sudah ada sejak sebelum agama-agama masuk ke tanah Jawa dan orang Jawa kuno hanya mengenal animisme, tapi bukankah Dewi Sri sebagai dewi padi berasal dari tradisi Hinduisme (India)? Entahlah, yang pasti petani Jawa kini semakin jarang melakukan upacara wiwitan karena alasan kepraktisan dan digeser, atau berbenturan, dengan nilai-nilai agama impor. Menurut Islam (Arab) memberi sedekah atau persembahan kepada ‘yang lain’ selain Allah SWT disebut ‘syirik’ dan hukumnya haram.

Meskipun saya sholat dan kadang ke masjid, minggu sore yang cerah itu saya bersepakat menggelar wiwitan bersama pemuda-pemuda yang ikut kelompok tani yang saya bentuk. Sesungguhnya, disamping mengajarkan budi pekerti dan nilai-nilai tradisi kepada kelompok tani muda kami, muatan romantisme sangatlah besar untuk mengenang masa kanak-kanak ketika kami sering mengikuti upacara wiwitan. Tak ayal itu menjadi pemandangan aneh karena wiwitan sudah jarang dilakukan di desa kami. Akhirnya, di minggu sore yang cerah itu, banyak juga petani yang sedang menggarap sawahnya ikut bergabung.

Prosesi Wiwitan

merangkai sesaji

Kami menyiapkan hidangan yang tidak akan dijumpai sehari-hari; sego tumpeng, sambel gepeng, gereh pethek, tontho, kacang gleyor santen, pitik ingkung. Juga kembang setaman, banyu kendhi dadap sirep, janur dikepang, dan kemenyan.

Semuanya sesungguhnya mempunyai makna. Seperti nasi ‘tumpeng’ yang artinya tumekaning penggayuh, atau keinginan yang diraih. Saya tidak mampu menerangkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kemudian kami membawa sesaji dan hidangan itu ke tengah sawah untuk mengadakan kenduri, artinya adalah kekendelan kang diudari, atau keberanian yang disampaikan. Setelah semua ubo rampe (kelengkapan) ditata sedemikian rupa ditengah-tengah sawah, kami membaca mantra sebagai berikut;

membaca mantra wiwitan

Amit pasang paliman tabik,

Ilo-ilo dino linepatno saking siku Gusti kang hakaryo bhawono

Danyang Sri Semara Bumi kang mbaureksi sabin … (nama sawah atau desa)

Mbok Dewi Sri pepitu, Kang lumpuh gendongen, kang wuto tuntunen, kulo aturi nglempak saklebeting sabin, ingak sampun kulo ancer-anceri sak pucuking blarak.

Sak sampunipun nglempak, kulo caosi daharan ngabekti; sekul petak gandha arum, gereh pethek sambel gepeng, untub-untub lan sak panunggalanipun. Gandeng anggen kulo titip wiji gugut sewu, wonten ing tegal kabenteran sampun wancinipun sepuh, badhe kulo boyong wonten soko domas bale kencono.

Kaki markukuhan, Nyai markukuhan, kukuhana kang dadi rejekiku. Nyai pakeh lan kaki Pakeh, akehono kang dadi rejekiku, yen ana kekurangane, tukuo neng pasar dieng, lan seksenono ing dino … (nama hari) minggu legi punika.

*sekarang kalian tahu kenapa saya pinter nulis lirik rap :p

menyiram air kendhi dadap sirep

Setelah membaca mantra, saya menyiram air kendhi yang dimasuki daun dari pohon dadap sirep sebagi simbol untuk menenangkan hati dan pikiran setelah sekian lama berjuang menumbuhkan padi. Rep kedhep dadap sirep. Juga menyebar beberapa makanan ke tengah sawah. Kemudian membungkus empat bungkusan hidangan yang akan ditaruh di empat sudut sawah, itu adalah simbol kiblat papat siji pancer; kakang kawah, adi ari-ari, getih, lan puser, kang nyawiji dadi siji.

Duh, kalau semua diterangin gak akan ada habisnya. Googling please untuk kiblat papat limo pancer ini 😀

Setelah semua sudut selesai, saya memotong serumpun pohon padi kemudian dihias untuk dibawa pulang. Biasanya kemudian ditaruh diatas pintu. Tapi karena rumah saya masih di renovasi, rumpun padi itu aku taruh dipangkuan patung Budha yang terdapat di kamar mandi saya.

menyajikan hidangan yang langka

Terakhir, seharusnya saya melayani semua teman dan saudara tani yang hadir untuk bersantap, tapi karena saya terlalu males, maka semua yang hadir saya persilahkan untuk mengambil hidangan tersebut sendiri-sendiri.

Akhirnya kami bersuka-cita menikmati hidangan yang sudah puluhan tahun tidak kami nikmati tersebut. Pada bagian akhir, teman-teman dari kota membawakan beer dan kami bersendau gurau di sawah hingga maghrib tiba.

salam tani faaak yeah!!!

Sungguh sebuah minggu sore yang istimewa. Terima kasih untuk semua teman-teman yang hadir dan membantu terselenggaranya wiwitan ini.

Seminggu lagi saya panen; panggunggung ajining damen

Kill the DJ

Pisau Bermata Dua; Refleksi Tiga Tahun Lagu Jogja Istimewa

Akhir 2010, isu Keistimewaan Yogyakarta yang hendak diubah Jakarta (baca: pemerintah pusat) sedang panas-panasnya, lagu Jogja Istimewa hadir mengiringi langkah-langkah yang gagah dan berani, menyatukan semangat, dan menjadi soundtrack bagi seluruh rakyat Yogyakarta dalam memperjuangkan keistimewaan itu. Makna kehadirannya semakin terasa istimewa karena lagu itu juga menjadi penyebar semangat bagi warga Yogyakarta untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana erupsi Merapi.

Pada sebuah kesempatan, saya pernah menyampaikan bahwa lagu tersebut bagai Pisau Bermata Dua, yang bisa menjadi dukungan atas perjuangan Yogyakarta, tapi sekaligus bisa menjadi pengingat atau kritik bagi seluruh warga, pamong praja, para pemimpin dan penguasa di Yogyakarta, jika dalam mengemban amanatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kearifan dalam lagu tersebut.

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan “Membedah Lirik Jogja Istimewa”, lagu tersebut 90% liriknya bersumber dari realitas sejarah yang saya tulis ulang, mencerminkan nilai-nilai luhur yang telah tertanam sebagai tradisi dan identitas Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta sesungguhnya harus dimaknai bukan hanya sebatas namanya yang kembali dikukuhkan sebagai Daerah Istimewa, tapi bagaimana kita memaknai keistimewaan tersebut dalam praktik kehidupan sebagai warga Yogyakarta tak terkecuali siapa pun orang itu, warga biasa, maupun seorang walikota, bahkan raja.

“Tanah yang melahirkan tahta, tahta untuk rakyat, di mana rajanya bercermin di kalbu rakyat, di sanalah singgahsana bermartabat, berdiri kokoh mengayomi rakyat”. saya menulis dengan merinding kutipan lirik tersebut, karena membaca sejarah Kraton Yogyakarta dari jaman perjuangan kemerdekaan hingga reformasi yang selalu tercatat bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai kraton rakyat yang selalu mengayomi seperti nilai “memayu hayuning bhawana” yang diembannya. Seperti itulah seharusnya kekuasaan dalam berbagai level pemerintahan di Yogyakarta diemban.

Apakah saat ini Ngayogyokarto Hadiningrat dan berbagai institusi pemerintahan di Yogyakarta masih menjadi ‘kraton rakyat’ hingga sekarang? Semuanya kembali kepada akar rumput, warga biasa, di sanalah permasalahan-permasalahan riil secara gamblang terbaca, meskipun dalam sisi dan kasus yang sangat spesifik kita tetap boleh curiga kepentingan politis tertentu yang menggerakkan mereka. Apapun itu, persis seperti ketika perjuangan membela keistimewaan, saya adalah ‘kelas menengah ngehek’ yang berdiri dibalik wong cilik, akar rumput yang turun memenuhi jalan-jalan untuk mendukung keistimewaan pada waktu itu.

Ing Ngarso Sung Thulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani …

Saya, bersama teman-teman di Jogja Hip Hop Foundation akan selalu lantang menyanyikan lagu Jogja Istimewa untuk mengingatkan nilai-nilai luhur yang tertulis dalam lirik tersebut. Karena hanya dengan keberanian dan kelapangan hati untuk bisa mengkritik diri sendiri agar menjadi lebih baik, maka kita pantas menyebut ‘tetap istimewa’.

 

Kill the DJ

Penulis lagu Jogja Istimewa kelahiran Klaten

Catatan Perjalanan Center Stage US Tour 2012

Saya menulis buku berjudul “Java Beat in the Big Apple” untuk mendokumentasikan tour Jogja Hip Hop Foundation di USA from east coast to west coast tahun 2012. Tanpa perlu bicara panjang lebar berikut beberapa testimoni dari teman-teman saya;

“Dengan jernih dan mengalir, Marzuki bercerita kisah yang begitu hidup dan menginspirasi, tentang bagaimana “kaum agraris” Yogyakarta yang tergabung dalam JHF berhasil menjadi duta budaya Indonesia dan memukau publik hip-hop Amerika dengan modal kejujuran dan otentisitas. Buku ini dapat membuat kita merenungi ulang potensi luar biasa yang kita miliki sebagai bangsa, dan semoga memicu kita untuk berani mengolah dan menyajikannya pada dunia.” ~ @deelestari – Penulis dan Penyanyi

“Membaca jurnal Marzuki Mohammad atau Kill The DJ tentang perjalanan JHF ‘menaklukkan’ Amerika ini memberi saya banyak sudut pandang baru yang menarik. Gaya menulisnya terkesan santai dengan sikap kaki yang selalu menginjak bumi, namun ada presisi dan akurasi yang sudah ditakarkan sedemikian rupa agar nyawa dan tujuan tulisannya tetap terjaga. Keseruan cerita-cerita konser begitu imbang dengan kisah-kisah diluar konser yang berpotensi membuat anda semakin jatuh cinta kepada Kill The DJ. Sudut pandangnya lugas dan esensial, kisahnya terasa begitu jujur, berharga dan mendalam tanpa harus menjadi pretensius. Tanpa campur tangan pemerintah dan tanpa manipulasi media ala musisi mainstream Indonesia, JHF membuktikan dengan sangat gagah, jika cinta dan passion bisa membawa kemanapun mereka mau. Indonesia harusnya malu” ~ @JRX_SID – Superman is Dead, Aktivis

“Buku ini bukan hanya tentang perjalanan sebuah unit hip hop paling fenomenal asal Jogja ke Amerika, namun juga tentang cerita perjalanan anak-anak muda yang berjuang untuk mempertahankan identitasnya di era global yang karut-marut. Mereka tidak perlu berdandan bling-bling, cukup dengan baju batik, bahasa Jawa, dan dentuman beat hip hop yang unik, JHF dengan lantang menyerukan di jantung hip hop Amerika, bahwa; Jogja Istimewa!” ~ @GlennFredly ~ Musisi, Aktivis

Jika penasaran, silahkan beli bukunya di toko-toko buku Gramedia maupun online.

Berikut video singkat perjalanan JHF di USA: