Drama suksesi Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat akhir-akhir ini, meskipun jauh-jauh hari sudah terprediksi, tetap saja sangat memprihatinkan. Sebagai penulis anthem Jogja Istimewa –yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan status keistimewaan, wajar jika kemudian banyak pihak yang meminta pendapat saya, namun saya menolak untuk berkomentar karena tidak tertarik untuk ikut campur.

Bersama teman-teman Jogja Hip Hop Foundation (JHF), sesungguhnya kami sedang menjalani laku tapa bisu (berdiam diri) dengan tidak menyanyikan lagu Jogja Istimewa, hingga batas waktu yang tidak ditentukan, sebagai wujud keprihatinan atas berbagai hal buruk yang terjadi di Yogyakarta. Bukan karena gegeran suksesi keraton, melainkan lebih kepada bentuk keprihatinan atas berbagai arah pembangunan di Yogyakarta yang tidak lagi memanusiakan manusianya dan menghormati sedulur sikep (alam raya adalah saudara manusia). Kami membutuhkan waktu lama untuk memutuskan dan harus berdebat sebagai resiko kolektif, karena bagaimanapun lagu tersebut yang membesarkan kami, juga banyak job manggung datang hanya untuk kami membawakan lagu itu.

Bagi saya tidak penting siapa raja Yogyakarta kelak, laki-laki atau perempuan, juga tidak penting apakah perlu menjaga paugeran keraton atau mengikuti sabda raja. Karena ada yang jauh lebih penting dari pada siapa yang akan jadi raja Yogyakarta, yaitu “rakyat”.

Mengambil pelajaran dari kisah pewayangan “Petruk Dadi Ratu”, dijelaskan bahwa siapapun yang berkuasa tidak akan bisa hidup dan menghidupi kekuasaan itu tanpa dipangku dan diemong oleh rakyatnya. Jaman selalu berubah, penguasa selalu berganti, kekuasaan tidak langgeng, yang selalu abadi adalah rakyat lengkap dengan segala daya kehidupannya. Kraton, negara, kekuasaan, tidak akan berarti tanpa rakyat yang bekerja untuk menjaga eksistensinya.

Pertanyaannya sekarang, apakah saat ini Keraton Yogyakarta masih masih dibutuhkan dalam kehidupan riil rakyat Yogyakarta? Apakah masih layak disebut sebagai “keraton rakyat” yang selalu mengayomi? Atau hanya sekedar simbol istana tempat tinggal keluarga darah biru tanpa ada peran berarti lagi bagi kehidupan rakyatnya?

Pada masa kemerdekaan Negeri Yogyakarta disebut sebagai “jantung Indonesia” karena menghidupi republik yang masih bayi dengan segala sumber daya yang dimilikinya, disamping kekayaan keraton, juga rakyatnya yang istimewa dan rela berkorban demi negerinya. Dalam berbagai peristiwa bersejarah rakyat sudah teruji kebesarannya; kemerdekaan, reformasi, gempa, merapi, keistimewaan, semuanya bisa terjadi karena kehendak rakyat yang bergerak. Seperti kalimat Soekarno ketika pamitan dari Yogyakarta sebagai ibu kota republik sementara saat itu; “Yogyakarta istimewa bukan hanya karena telah rela menjadi tuan rumah bagi republik, namun juga karena orang-orangnya yang rela berkorban”.

Pada sebuah kesempatan Sri Sultan HBX pernah menerangkan filosofi angka Jawa kepada saya, bahwa angka tertinggi di Jawa itu adalah 9, 10 itu sama dengan 0, maka beliau sebagai sultan ke 10 harus memulai hal baru, meletakkan pondasi baru untuk masa depan Yogyakarta. Tapi entah kenapa, saat itu justru saya berpikir bahwa 0 juga bisa bermakna “habis” atau “selesai”. Tergambar dalam imajinasi saya Kraton Yogyakarta akan bubar. 5 orang anak yang semuanya perempuan adalah pertanda dari alam.

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah paragraf dari buku saya Java Beat in the Big Apple;

“…di sisi lain, lagu Jogja Istimewa seperti pisau bermata dua, dia adalah dukungan untuk akar rumput yang sangat mencintai negerinya, sekaligus liriknya adalah pepiling (pengingat) akan nilai-nilai yang harus dijunjung oleh masyarakat dan pemimpinnya, tidak terkecuali bagi rajanya. Waktu akan membuktikan hal-hal, generasi akan berganti, dan semuanya akan berjalan dengan sendirinya secara alamiah. Karya trilogi yang menggambarkan kecintaan kami kepada Yogyakarta adalah penanda akan perubahan-perubahan jaman; Jogja Istimewa (2010), Song of Sabdatama (2012), Jogja Ora Didol (2014). Sudah seharusnya rasa cinta tidak membuat kita buta akan kekurangannya.”

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Penulis lagu Jogja Istimewa, lahir dan tinggal di Klaten

Setelah pilihan dan kemenangan

Kami akan mundur menarik dukungan

Membentuk barisan parlemen jalanan

Mengawasi amanah kekuasaan 

Akhir-akhir ini, berbarengan dengan kisruh KPK vs Polri, banyak orang mengejek saya di sosial media tentang dukungan saya kepada Jokowi di pilpres 2014, tentu saja kebanyakan dilakukan oleh “barisan sakit hati” yang masih tidak terima kekalahan Prabowo di pilpres lalu. Bahkan dalam sebuah aksi #SaveKPK yang saya ikuti di Polda DIY, apa yang saya orasikan di tengah massa dikutip media dengan judul heboh tanpa konteks waktu; “Kill the DJ menarik dukungan untuk Jokowi”.

Saya merasa tersanjung dengan semua usaha “sia-sia” kalian. Namun dengan legowo saya akan memberi ruang buat kalian dalam memenuhi nafsu mengejek. Mungkin hanya itulah “kemewahan” yang tersisa dalam hidup kalian.

Cuplikan bait terakhir lirik lagu “Bersatu Padu Coblos No. 2” di atas, yang saya sumbangkan untuk kampanye Jokowi selama pilpres 2014 lalu menjelaskan semuanya. Bahwa sebelum memutuskan menjadi relawan pun, saya sudah mempunyai komitmen untuk “menarik dukungan” begitu Jokowi menjadi presiden. Tidak ada lagi “Relawan Jokowi” yang harum namanya itu, karena Jokowi adalah presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. Janji tersebut bahkan sudah saya lunasi sejak sebelum pelantikan, dengan tidak pernah hadir di berbagai undangan acara sebelum pelantikan, juga tidak pernah memenuhi undangan untuk datang ke kantor transisi, bahkan saat pelantikan yang bersejarah itu pun justru saya menghindar karena saya sudah menduga akan terlalu banyak “banci tampil” menggendong kepentingan masing-masing.

Melalui tulisan ini dengan tegas saya katakan, bahwa saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari sejarah di Pilpres 2014 dengan mengalahkan Prabowo dan para pendukungnya. Alasan kenapa saya harus menghadang Prabowo bisa dibaca di tulisan-tulisan di blog ini sebelumnya.

Saya adalah seniman, bukan politisi, dan bukan simpastisan atau kader sebuah partai politik, karena saya tahu semua partai politik di Indonesia busuk, bahkan yang membawa nama agama pun. Begitu asas kepentingan lebih menguasai dari pada asas perjuangan, saya pasti akan mengundurkan diri. Integritas saya sebagai seniman tidak bisa ditukar oleh hal apapun, bahkan surga, apalagi hanya politik. Oleh karenanya saya tidak peduli dengan realitas politik yang dihadapi Jokowi sebagai presiden. Saya tidak pernah peduli bahwa PDI-P sebagai parpol pemenang pemilu tidak mampu membangun Koalisi Indonesia Hebat menguasai parlemen. Saya juga tidak mau tahu kerepotan Jokowi menghadapi tarik-menarik kepentingan antar elite parpol di seputar istana negara. Buat “barisan sakit hati” jangan jumawa, karena kalau Prabowo jadi presiden bagi-bagi kursi kekuasaan itu akan lancar tanpa hambatan. Meminjam kalimat kawan Pandji, beberapa kali “gegeran” di istana negara justru menunjukkan bahwa Jokowi berusaha bertahan dari berbagai gempuran “kepentingan-kepentingan” tersebut, bahkan oleh parpol pendukungnya sendiri.

Namun semua itu bukanlah urusan saya karena, sebagaimana rakyat yang lain, saya adalah rakyat yang sibuk membangun kehidupannya dengan segala kemandirian yang dimiliki. Semangat “teruslah bekerja, jangan berharap pada negara” tidak akan luntur hanya karena saya telah menjadi bagian dari kemenangan Jokowi. Tugas saya saat ini adalah memenuhi janji untuk “Menjewer Jokowi” sebagai bentuk kritik jika ada kebijakan-kebijakan yang mengingkari janjinya sebagai presiden; “Saya hanya akan tunduk kepada konstitusi dan kehendak rakyat Indonesia”.

Menjadi bagian “rakyat tidak jelas” yang mendukung #SaveKPK adalah perwujudan dari komitmen “Menjewer Jokowi” tersebut. Namun sebelum fenomena Jokowi muncul pun saya sudah melakukannya sejak “Cicak Nguntal Boyo” 2009. KPK dengan segala sumber daya yang minim dan serangan yang bertubi-tubi, tetaplah lembaga yang paling bisa diandalkan saat ini, oleh karenanya buat saya, KPK sangat layak untuk dibela. Benar, saya setuju banyak yang perlu dibenahi di KPK, tapi dengan tindakan kriminalisasi terus-menerus terhadap KPK hanya akan membuat semakin banyak “rakyat tidak jelas” dengan segala “cinta” untuk “Indonesia Raya” turun tangan membelanya. Cinta itulah yang membuat mereka bergerak, sebagaimana cinta menggerakkan mereka untuk mengantarkan Jokowi hingga istana negara.

Itu kenapa ketika kami menggelar konser #GropyokanKorupsi di Hari Anti Korupsi, 9 Desember 2014 lalu, kami memilih tema “Korupsi Adalah Kita” sebagai plesetan “Jokowi adalah Kita”, di mana banyak eks. relawan Jokowi memprotesnya, hahaha, semoga sekarang kalian bisa paham dan mampu mengejek diri sendiri. Korupsi memang ada di sekitar kita dan kita harus berperang! Pemberantasan korupsi di Indonesia tidak akan pernah berhasil tanpa komitmen kuat dari kepala negara, segala pernyataan normatif yang biasa-biasa saja dari Jokowi dalam kisruh Pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri yang berbuntut pada penangkapan Bambang Widjojanto dan penetapan sebagai tersangka itu sungguh sangat mengecewakan.

Janganlah menggali kuburanmu sendiri !

Jokowi mau mendengarkan saya berbicara

Kenangan ketika pertama kali kita bertemu mendengarkan draft lagu “Bersatu Padu Coblos No.2″  – 2 Juni 2014

Dear Bapak Jokowi, Aku menulis surat ini di atas pesawat yang membosankan dalam perjalananku ke konferensi Art Asia Council di Tokyo, Jepang, pasti bapak tidak membayangkan bahwa seorang “rapper kampung” sepertiku bisa diundang untuk perhelatan-perhelatan semacam ini. Perlu bapak mengerti, bahwa dalam kerja kesenianku, peran negara sangat minim, untuk tidak dibilang nihil, meskipun sudah ada Menparekraf dan Dana Keistimewaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tapi aku tidak akan mengeluh karena aku hidup di tengah patani-petani miskin di desaku yang selalu tersenyum dan tetap menanam meskipun gagal panen. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang hebat dan paham akan proses untuk menjadi Indonesia. Pertama-tama, aku mohon maaf karena tidak bisa menghadiri Pesta Rakyat pelantikan bapak di tanggal 20 Oktober nanti, meskipun teman-teman relawan banyak yang berharap aku hadir di sana. Tapi seperti janji di laguku buat bapak, bahwa “setelah pilihan dan kemenangan, kami akan mundur menarik dukungan, membentuk barisan parlemen jalanan, mengawasi amanah kekuasaan”, maka aku pikir bukan hal penting untuk harus hadir di sana, meskipun sejujurnya aku ingin berada di sana untuk ikut memproklamasikan kekuatan rakyat.

Setelah pilpres kemarin, banyak sekali undangan baik secara resmi atau tidak resmi, mulai dari Kantor Transisi, PDI-P, hingga halal bi halal relawan Jokowi, tidak ada satu pun yang aku hadiri kecuali launching buku di Solo. Ada dua alasan kenapa aku tidak mau menghadiri undangan-undangan itu. Pertama, aku memang ingin dan sudah sepantasnya untuk mengambil jarak karena aku tidak tertarik dengan politik. Kedua, terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk yang harus aku selesaikan setelah praktis aku tinggal untuk menjadi relawan Jokowi selama dua bulan masa pilpres 2014. Bahkan aku sampai harus mengundur launching buku Java Beat in the Big Apple (Cerita Perjalanan Java Hip Hop di USA) dan album Semar Mesem Romo Mendem karenanya. Itu kenapa begitu pilpres selesai aku jarang ngetwit, karena memang tidak cukup waktu untuk itu. Meskipun jika aku tetap bekerja sepanjang pilpres pun hasilnya pasti tidak akan maksimal. Karena selama pilpres setiap hari yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya Jokowi menang. Ketika bangun tidur aku langsung memikirkan Jokowi, sepenjang hari aku hanya mengerahkan segala daya-upayaku untuk kemenangan Jokowi, hingga ketika kembali tidur lagi aku masih memikirkan Jokowi, bahkan ketika tidur pun aku bermimpi bagaimana memenangkan Jokowi. Mungkin kedengaran lebay, tapi teman-teman dekatku pasti sangat tahu, aku sudah terbiasa melakukan hal itu karena sering menjadi relawan ketika terjadi bencana. Pilpres 2014 kemarin aku anggap sebagai bencana dan aku harus memenuhi “panggilan mulia” sebagai relawan itu apapun resikonya. Bencana karena aku ingin cita-cita reformasi kembali ke jalurnya, bencana karena aku ingin demokrasi tidak kembali tersandra.

Foto kenangan ketika menggelar acara Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK

Foto kenangan ketika menggelar acara Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK – Alun-alun Utara Jogja 24 Juni 2014

Aku punya prinsip bahwa aku tidak boleh hanya mengeluh pada keadaan tanpa memberikan andil (kontribusi) untuk membangun mimpi dan harapan akan perubahan itu. Luar biasanya, saat ini besarnya harapan akan perubahan itu tertumpu pada diri Jokowi. Aku yakin bapak sudah tidak ingat jawabanku ketika bapak menelponku setelah pilpres untuk mengucapkan terima kasih, melalui surat ini, ijinkan aku mengingatkannya; “aku tidak butuh ucapan terima kasih, menjadi relawan Jokowi buatku adalah membantu diriku sendiri karena Jokowi adalah simpul bagi energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia yang lebih baik”. Bapak Jokowi, malalui satu surat dari seorang yang pernah berjibaku menjadi relawanmu ini saja, tentu bapak sudah bisa membaca bahwa harapan yang dititipkan kepada Jokowi sangatlah besar. Aku yakin tentu bapak sudah sangat sadar, betapa besar harapan rakyat Indonesia itu. Aku juga yakin, bahwa bapak sudah tahu tidak akan mudah membenahi Indonesia, apalagi belum-belum bapak sudah dihadapkan pada realitas politik yang karut-marut. Tapi aku sangat yakin sebelumnya, bahwa dibalik tubuh kerempeng yang dibalut sopan-santun khas Jawa dan kerendahan hati itu, Jokowi adalah petarung sejati yang mengartikan kemenangan juga adalah penghormatan bagi mereka yang kalah. Bahwa bapak akan menghadapinya dengan “Cara Jokowi”; merangkul kawan dan lawan untuk bersama-sama berproses menjadi Indonesia.

Foto kenangan ketika mendadak harus membuka konser Salam Dua Jari - GBK 5 Juli

Foto kenangan ketika mendadak harus membuka konser Salam Dua Jari – GBK 5 Juli 2014

Pertemuan Jokowi dengan Prabowo membuktikan semuanya. Aku sangat bahagia dan bersyukur bahwa hal itu terjadi dan menghadirkan suka-cita yang hakiki bagi rakyat Indonesia. Semoga peristiwa itu menjadi tauladan untuk para pendukungmu, bahkan buat Megawati juga. Hihihi… Sebab kita memang harus bersama-sama bekerja untuk Indonesia. Terakhir, aku mengucapkan selamat atas pelantikan bapak sebagai presiden Indonesia, semoga bapak bisa mengemban tugas itu dengan baik, tetap amanah dan mendengar. Bapak tidak pandai pidato tidak apa-apa, karena Indonesia kekurangan pemimpin yang memiliki kemampuan mendengar dengan baik, dalam hal ini mendengar sanubari rakyatnya. Aku berjanji akan selalu turun tangan untuk memberi sumbangsih bagi Indonesia jika situasinya memanggil, tapi aku juga berjanji bahwa aku tidak akan segan “menjewer Jokowi” jika bapak tidak lagi mendengar suara rakyat.

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat, Jadilah Presiden Rakyat!

Tokyo, 19 Oktober 2014 Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Negara Dalam Keadaan Bahaya adalah lagu lawas tahun 2011, aku rekam ulang dengan energi yang lebih besar untuk membuat kuping para politikus busuk di negeri ini panas! Ini juga merupakan wujud empati dan perhatian saya untuk warga dan petani di Rembang yang menolak pendirian pabrik semen, juga untuk para petani di Karawang yang berjuang menolak eksekusi lahan mereka. Dulu waktu rekaman pertama aku belum punya studio bagus, masih studio rumah, gak enak sama tetangga kalo mau teriak-teriak. Kali ini diproduksi dan direkam bersama Ngilazbeat a.k.a Balance di studio Jogja Hip Hop Foundation. Selamat menikmati! Cocok buat nunggu hasil Pilpres 22 Juli!

download via mediafire; http://www.mediafire.com/listen/0fq6byr3ao2qkpz/Negara_Dalam_Keadaan_Bahaya_%5Bremake%5D.mp3

 

FreePalestineNowPoster

Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, yang telah terjadi hingga saat ini telah menyita perhatian dunia, meskipun hal itu terjadi di tengah Pilpres dan Piala Dunia Brazil, bahkan jumlah anak-anak tak berdosa yang telah tewas menjadi korban perang di Jalur Gaza angkanya lebih banyak dari keseluruhan jumlah gol yang tercipta di sepanjang piala dunia. Berita serangan Israel yang terus berlanjut hingga hari ini di Jalur Gaza semakin menimbulkan tragedi kemanusiaan, sudah seharusnya hal itu menggerakkan hati kita sebagai warga dunia untuk memberikan perhatian dan kepedulian.

Namun berisik saja tidak akan pernah cukup, kami kembali mengajak teman-teman untuk rela memberi sumbangsih sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita. Untuk itulah kami menggelar konser amal bertajuk Free Palestine Now sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan bagi saudara-saudara kita di Palestina tersebut. Seperti yang sudah biasa kami lakukan dengan berbagai konser amal sebelumnya, Free Palestine Now bersifat mandiri dan jauh dari kepentingan politik dan agama apapun. Kami sekali lagi mengajak seluruh penggemar dan siapa pun yang hadir untuk bergandengan tangan bersama dan kembali membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah universal.

Konser amal Free Palestine Now akan digelar pada tanggal 17 Juli 2014, Pukul 21:00 (selepas tarwih), bertempat di Jogja Nasional Museum, menampilkan Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation, dan FSTVLST. Kali ini kami juga mengundang berbagai organisasi untuk terlibat dan menyuarakan dukungan bersama, antara lain; Gerakan Pemuda Anshor, Gusdurian, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, dll. sebagai bentuk perwujudan dari solidaritas kemanusiaan yang universal tersebut.

Donasi sumbangan berbentuk tiket masuk sebesar (minimal) Rp.20.000,- atau lebih. Bagi yang berhalangan hadir bisa mengirim sumbangan via transfer bank ke BCA 037.321.3290 a/n Aulia Anindita. Dana yang terkumpul akan disumbangkan ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, yang dikelola oleh MER-C. Bangunan rumah sakitnya sudah jadi, tapi isinya belum ada. Kita bantu saudara-saudara kita sebangsa yang sedang berjuang untuk misi kemanusiaan di Palestina. Segala informasi tentang MER-C bisa dilihat di www.mer-c.org

Terima kasih. Salam!

Kepada seluruh teman-teman relawan Jokowi-JK,

Satu hari sebelum tanggal 9 Juli 2014, dimana sejarah Indonesia akan kita tentukan bersama, ijinkanlah temanmu ini untuk menulis sebuah surat untuk semua teman-teman relawan Jokowi-JK di seluruh penjuru Nusantara.

Ingin rasanya aku mengenal kalian semua satu persatu, menjabat erat tangan-tangan kecil kalian yang telah rela bekerja keras tanpa pamrih, mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, uang, dan segala daya-upaya untuk memenangkan Jokowi-JK di Pilpres 2014 ini. Mungkin, dengan segala keterbatasan, pada akhirnya kita tidak saling bertatap muka, tapi sesungguhnya kita telah bersatu-padu dalam irama dan energi yang sama untuk sebuah nilai yang kita perjuangkan; bahwa demokrasi tidak boleh lagi tersandra dan kekuasaan harus dikembalikan kepada yang berhak, yaitu kedaulatan rakyat.

Dalam perjalanan waktu yang sesungguhnya sangat singkat, kita warga biasa yang sebagian besar tak perduli partai politik, atau bahkan jijik, telah melewati banyak hal yang jauh diluar perkiraan dan (mungkin) kemampuan kita, karena ternyata yang kita hadapi adalah kejahatan demokrasi yang canggih dengan segala strategi tingkat tinggi dan skenarionya. Kita kaget dengan berbagai macam fitnah dan adu domba, kita tidak paham apa itu istilah “operasi senyap”, kita terkejut dengan berbagai macam intimidasi dan provokasi. Benar ternyata, dalam meraih tujuan keterbatasan orang baik akan tetap menggunakan cara-cara baik, sementara orang jahat akan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Kita masih punya malu, harga diri, dan martabat. Sementara lawan kita, jangankan malu, bahkan mereka bisa melampaui kuasa Tuhan di bumi dengan segala fatwa dan cap.

Bahwa kegembiraan politik yang didengungkan Jokowi yang telah melahirkan gelombang kreatifitas dan aksi simpatik yang bergairah itu, ternyata harus dihadapkan dengan berbagai bentuk kejahatan demokrasi yang berlangsung terus menerus dan sistematis. Tentu kita berhak kecewa dengan proses hukum Obor Rakyat, tentu kita berhak gemas dengan berbagai laporan penyebaran politik uang di seluruh penjuru tanah air, tentu kita berhak sedih dengan berbagai laporan bahwa ada aparat dan pegawai institusi pemerintahan ikut terlibat. Yang paling tidak bisa kita terima, tentu kita berhak marah karena negara yang kita biayai dengan pajak kita hanya diam atas segala pelanggaran yang telah mencederai demokrasi itu. Masih banyak lagi berbagai kasus yang telah dan akan terus-menerus menguji mental kita untuk membuat benteng keteguhan kita bisa saja bobol kemudian terpancing. Belakangan, kita yang lugu ini, tersadar bahwa “terpancing” itulah yang diharapkan dari strategi mereka.

Kita hanyalah manusia-manusia biasa dengan segala keterbatasannya, juga bermacam-macam karakternya. Seberapa pun kuatnya kita menjunjung tinggi akal sehat dan hati nurani, ketika ujian datang bertubi-tubi, tetaplah kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan itu.  Ada yang tetap kalem dengan kampanye adem, ada yang menangis dan memanjatkan doa, ada yang membalas fitnah dengan mengungkapkan fakta-fakta negatif kubu Prabowo-Hatta, ada juga yang malah tersulut dan melampiaskan emosinya.

Kenyataan yang paling menyedihkan adalah bahwa berbagai macam fitnah dan adu domba itu telah memecah belah persaudaraan dan persatuan bangsa. Tentu saja itu bukan demokrasi sehat yang kita harapkan. Memang, harganya terlalu mahal jika sebuah kekuasaan harus diraih dengan cara-cara seperti itu. Tentu kita bersedih karena kita mencintai Indonesia. Tapi kita telah membuktikan bahwa kita tidak pernah menyerah karena kita adalah rakyat yang “turun gunung” untuk membersihkan politik yang kotor.

Meminjam kalimat maklumat Jokowi-JK di GBK 5 Juli lalu; kita telah dihantam berbagai macam fitnah, tapi kita tetap tidak tumbang, karena kita bekerja tulus untuk Indonesia, kita adalah penyala harapan, kita berdemokrasi untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. Saya sendiri datang dengan niat tulus dan kegembiraan, menulis lagu dengan sepenuh hati di mana bait-bait terakhir tertulis kalimat “menang tak jumawa, kalah lapang dada, salam damai untuk Indonesia”, tapi disaat bersamaan saya bukanlah seorang yang hanya akan tinggal diam jika kecurangan dan kejahatan demokrasi terus terjadi.

Teman-teman, tinggal selangkah lagi, mari kita amanahkan suara kita untuk “kemenangan rakyat” pada 9 Juli. Kita tongkrongi TPS seharian dan kita lawan segala bentuk kecurangan dan kejahatan. Kita buktikan kalimat populer “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” adalah benar adanya. Apapun yang terjadi, kita telah bersama dan akan selalu bersama menyuarakan kebenaran. Kita akan berjalan seiring dengan langkah kaki Jokowi yang gagah-berani dan kita pantas berbangga atas segala sumbangsih yang telah kita lakukan.

Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita membantu Jokowi, tapi kita membantu diri kita sendiri untuk cita-cita perubahan. Menjadi relawan Jokowi bukan berarti kita butuh ucapan terima kasih untuk semua jerih-payah yang sudah kita usahakan, justru kita harus berterima kasih kepada Jokowi karena rela menjadikan dirinya simpul dari energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia. Jokowi bukan Nabi (tapi Prabowo juga bukan macan), melainkan manusia biasa sama seperti kita. Jokowi adalah Kita karena Kita adalah satu kesatuan dalam wujud Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya rakyat dan pemimpinnya). Ratu adalah rakyat yang bersatu, bukan Raja yang memerintah, itulah konsep Ratu Adil sesungguhnya. Inilah kehendak jaman, karena betapapun kita berusaha mewujudkannya, segalanya tidak akan terjadi tanpa seijin alam raya.

Kita memang hanya relawan, yang tumbuh subur secara organik tanpa sebuah garis komando, karena kita memang bukan “tentara” bayaran. Tapi kita telah patungan untuk menciptakan gelombang yang sangat besar yang akan menjadi tsunami yang bisa menggulung dan menabrak apapun yang ada di depan kita. Teman-teman, meskipun tidak akan pernah ada yang sempurna, tapi kita telah berusaha hingga batas yang kita mampu, dan kita pantas berbangga untuk itu, sebuah alasan yang sangat cukup untuk kita tetap tersenyum dan gembira, karena apapun yang terjadi, sesungguhnya ibu pertiwi mengamini ketulusan dan kebersamaan kita.

Salam Dua Jari !

 

Prambanan, 8 Juli 2014

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Marhaban Ya Ramadhan; Sebuah Masjid yang runtuh di lereng Sinabung. Juni 2014

Marhaban Ya Ramadhan; Sebuah Masjid yang runtuh di lereng Sinabung. Juni 2014

Setelah tiga hari safari keliling ke beberapa kota untuk menjadi relawan Jokowi. Semalam aku tiba di rumah hampir tengah malam. Di perjalanan, aku membaca beberapa berita tentang gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatra Utara, kembali mengalami erupsi dengan luncuran material dan awan panas. Ingatanku kembali ke Tanah Karo, di mana 4 bulan lalu aku pergi ke sana untuk membantu teman-teman relawan (bukan relawan capres) Karang Taruna Tanah Karo dalam mendampingi ribuan pengungsi melalui dana yang kami kumpulkan dalam konser amal #GugurGunung (Jogja) dan #HeartofSinabung (Bali). Selalu ada persahabatan yang tak akan lekang dimakan waktu setelah kerja-kerja kemanusiaan demikian. Maka, sesampainya di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba menelpon teman-teman relawan di Tanah Karo untuk mendapatkan detail erupsi, kabar, dan kemungkinan yang bisa aku lakukan. Tapi telponku tidak diangkat, mungkin karena mereka sedang sibuk-sibuknya membantu pengungsi.

Paginya, setalah bangun pukul 05:30, aku kembali mencoba telpon. Bakat Setiawan, pemuda asal Boyolali dan telah 10 bulan menjadi relawan di Sinabung, mengangkat telponku dan bercerita. Benar terjadi erupsi dan beberapa penduduk desa harus diungsikan dan tadi malam mereka terlibat mengawal proses pengungsian tersebut. Namun cerita yang lebih memprihatinkan adalah, setelah hampir setahun erupsi Sinabung, ribuan pengungsi masih belum mendapatkan kepastian, utamanya tentang relokasi karena desanya telah hancur terkubur oleh material vulkanik. Beberapa barak pengungsian kini malah dalam proses pembubaran dan pengungsi mendapat pesangon 2 s/d 3 juta rupiah dan pemerintah melepaskan diri tanggungjawab untuk kehidupan mereka. Terlebih sawah dan ladang mereka tetap belum bisa digarap. Akibatnya kemudian, mereka tidak menentu hidupnya, banyak pengungsi yang kemudian mendirikan tenda-tenda mandiri sebagai rumah tinggal di tepi-tepi jalan.

Di Sinabung, yang mayoritas beragama kristen, kami bekerja tanpa memandang agama atau pilihan presiden. Foto di atas diambil oleh teman relawan kristen, sebuah gambaran empati yang luar biasa karena ketika bulan suci ramadhan tiba, masjid yang 10 bulan lalu roboh masih tetap dalam kondisi hancur. Mereka tetap membantu penyelenggaraan ibadah puasa terutama lokasi tarawih untuk para pengungsi muslim. Sebuah contoh praktik nilai-nilai bhineka tunggal ika yang diajarkan oleh rakyat kecil di tengah lautan fitnah yang disebar oleh elite-elite politik dalam kampanye capres 2014 ini, dimana hal itu telah memecah belah dan mencederai persaudaraan bangsa.

Kondisi mereka sangat ironis jika dibandingkan dengan biaya kampanye dan uang trilyunan rupiah yang disebar di Pilpres 2014, saat ini jabatan dan kekuasaan memang lebih penting dari kemanusiaan. Saya kembali membuka rekening pribadi saya agar kembali bisa membantu saudara-saudara kita di Sinabung.

Merah Putih di Puncak Sinabung

Merah Putih di Puncak Sinabung, Maret 2014

Bantu kami Bantu Mereka; BCA KCU 0372216881 a/n Moh Marjuki – MANDIRI 900-00-1421586-8 a/n Moh Marjuki – Konfirmasi tranfes via mrzooki@yahoo.com, atau mention via twitter @killthedj

Prambanan, 30 Juni 2014

Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 249 other followers